
Sementara Zeeta, Scarlet, dan Porte berada di Hutan Peri untuk mencari jalan mengakses Tanah Kematian, di suatu reruntuhan yang diterangi oleh pencahayaan obor, terdapat seorang pria yang seakan-akan menjadi penonton—mengikuti bagaimana jalannya perebutan Batu Jiwa antara Seiryuu dengan Aurora.
Pria itu duduk di sebuah kursi, dimana di hadapannya terdapat meja yang diatasnya ada bola yang memperlihatkan nasib Azure dan Mellynda. Dia menyeringai, seraya mengatakan, “Akhirnya... giliranku sudah tiba....
“Sudah saatnya bagimu untuk mati ... Aurora...! Kuhahahaha!”
......................
Alicia, sebagaimana mestinya seorang Ratu kerajaan, tetap bersiaga di ruang singgasana, bersama sang suami. Ditambah dengan kondisi Aurora yang sedang tidak begitu baik, meski belum ada satupun rakyat yang mengetahui kabar tentang Putri kerajaan mereka—Azure—keduanya tetap terjaga, mengantisipasi apapun yang terjadi selanjutnya. Baik jika itu informasi, serangan, dan lainnya.
Kala itulah, Alicia merinding secara tiba-tiba. Merinding yang terasa menusuk tubuh. Ia bahkan sampai dibuat bergetar sesaat hingga menimbulkan tanda tanya bagi Hazell. “Ada apa?” tanyanya.
Sambil mengeratkan jubahnya, Alicia menjawab, “Firasatku tidak enak.”
“Hei hei... yang benar saja...?” Hazell berwajah suram. “Kapanpun kau berfirasat tentang sesuatu, itu selalu benar!”
“Aku tahu itu!” jerit Alicia, “tapi ... ini bukanlah firasat buruk terhadap Zeeta, Azure, atau mereka yang sedang dalam misinya, namun....”
Hazell merasa paham. “Ke sini, ya?” tanyanya memastikan.
“Uhm.” Alicia mengangguk.
......................
Novalius, Marcus, dan Mintia—ketiga orang ini sekarang masih berada di wilayah bersalju yang sama. Hanya saja, mereka menemukan tempat berlindung yang lebih pantas, yaitu sebuah gua yang memiliki panjang cukup dalam, dimana di sekitarnya terdapat banyak sekali kristal berwarna merah terang—bahkan hingga bisa digunakan sebagai pertambangan.
Di sana, mereka menyulut api unggun dan berposisi melingkar. Sambil menghangatkan diri, mereka bertukar kata.
“Apa-apaan makhluk di sini ini...? Mereka seperti Raksasa, tapi tidak bertindak seperti Raksasa...,” ujar Novalius, membuka pembicaraan.
“Kau benar," balas Marcus, "walau mirip seperti Raksasa, mereka pun tidak begitu tinggi, tetapi tetap saja ... satu dari makhluk itu mampu memukul mundur kita. Kita tidak diuntungkan karena mereka sangat tahu wilayah ini.
"Kau sendiri, apa kau mengetahui sesuatu dengan kemampuanmu, Mintia?”
“Yang sudah pasti, mereka adalah Phantasmal—dan jauh di belakang mereka, terdapat pemukiman,” jawab Mintia.
“Pemukiman? Makhluk sebesar itu? Bermukim?” Novalius seakan tak percaya.
“Tidak tahu. Aku hanya merasakan banyak titik-titik mana di satu tempat dan tak bergerak—menunggu kita untuk menjauh.”
Marcus kemudian telentang dan melipat kedua tangan di belakang kepala sebagai alas. “Kita harus segera mencari rencana agar bisa menyelesaikan semua yang terjadi ini....
“Terlebih....” Marcus menyinggung soal Azure dan Mellynda.
“....” Tiada yang merespon Marcus, sampai beberapa saat kemudian, Novalius memberi usul.
“Kurasa sebaiknya kita melaporkan masalah kita kepada kerajaan,” usul Novalius.
“Tidak.” Marcus menjawabnya cepat.
“Kenapa?! Jika kita berlama-lama di sini, maka—“
“Pikirkanlah secara keseluruhannya, Nova.
“Yang merasakan hilangnya mana dik Azure dan Mellynda bukanlah hanya kita. Kerajaan juga pasti sudah menerima laporan dari tim lain. Mereka pasti sudah bergerak melakukan sesuatu terhadap keduanya.
“Apalagi untuk putri Zeeta, dik Azure yang sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri, juga Mellynda sebagai teman bangsawan pertamanya, dia adalah yang paling tertekan.
“Masalah di sini, biar kita yang urus. Lagi pula, bukanlah Crescent Void jika hanya karena jalan buntu saja sudah menyerah.”
Novalius merenung. Ia merasa Marcus memang ada benarnya.
“Marcus,” panggil Mintia. Ia tampak terganggu akan sesuatu.
“Ya?”
“Aku tahu ini sedikit melenceng dari suasananya, tapi... apa hubunganmu dengan Colette?”
Marcus bangun dari telentangnya. “Kami berdua … adalah tunangan.” Marcus menjawabnya dengan senyum sumringah. “Kami telah sepakat jika semua masalah yang terjadi di sekitar putri Zeeta melandai, kami akan menikah.”
“Cih!” Novalius tidak bahagia mendengarnya. “Enak sekali, ya, punya tunangan!”
Marcus yang tidak merasakan “iri”-nya Novalius, malah semakin melebarkan sumringahnya. “Ka-kau mengerti...? Hehehe....”
“Tunggu dulu! Ini bukan waktunya senyum-senyum!” jerit Mintia. Dia bertanya bukan untuk mencairkan suasana.
“E-eh...?” sumringah Marcus mendadak lenyap. Novalius yang niatnya tidak bahagia atas kebahagiaan rekannya sendiri, menjadi panik.
“Kautahu jika Colette satu tim dengan Lloyd, bukan?
“Aku, Jourgan, dan Serina bisa terus berkomunikasi dengan Elf lainnya walau sejauh apapun jarak memisahkan.... I-intinya seperti itu!
“Tapi, kami tidak mendengar apapun kabar dari Lloyd lagi bahkan setelah mana Azure dan Mellynda hilang!”
“....” Marcus terdiam. Berusaha untuk mencerna baik-baik apa yang baru didengarnya. “Ka... kau bercanda, bukan....?” Marcus bergemetar.
__ADS_1
Tak ada jawaban dari Mintia.
.
.
.
.
“Katakanlah bahwa itu candaan, Mintia!
“Tolonglah!”
“Ma-maaf....” Hanya itu yang terucap Mintia.
Novalius merasa harus melakukan sesuatu. Iapun akhirnya bertanya. “Apa maksudmu kalian benar-benar tidak bisa berkomunikasi dengan Lloyd saat ini?”
“Uhm.” Mintia mengangguk pelan.
“Lalu, jika begitu, apa kautahu kondisi Jourgan dan Serina?”
“Tentu. Serina yang bersama Gerda sedang bermalam di suatu desa, dimana sebuah Batu Jiwa pernah dijaga oleh seorang Raksasa. Tampaknya, Raksasa itu menyamar—tidak—lebih tepatnya memakai Rune untuk mengubah wujudnya menjadi manusia. Tetapi sayangnya, Raksasa itu tewas ditangan seorang Seiryuu.”
“Lalu... bagaimana dengan Jourgan?”
“Di-dia... dia juga sedang kesulitan membantu Danny melawan mantan Benih Yggdrasil lima ratus tahun yang lalu.....”
“Ma-mantan Benih Yggdrasil?!”
“Itu benar....”
“Marcus... seperti itulah.” Novalius menatap Marcus.
“....” Sulit bagi Marcus untuk langsung berkeputusan.
Novalius menatap Mintia. “Kami akan membiarkanmu dulu untuk sendiri. Pikirkanlah gerakan yang harus kita ambil selanjutnya. Aku dan Mintia akan melihat-lihat sekitar, siapa tahu ada sesuatu yang bisa kita gunakan untuk menangkal Phantasmal itu.” Ia berdiri menghadap sisi gelap gua. Mintia kemudian menyusul ke sebelahnya. “Dengar, Marcus. Kita berdua adalah rakyat Aurora, begitu juga dengan Colette.” Lalu, mereka meninggalkan Marcus sendiri.
“Colette...," batin Marcus, yang kemudian meringkuk.
Perlahan, kilas balik yang terjadi antaranya dengan Colette terlintas di kepala Marcus.
......................
[Tujuh belas tahun yang lalu....]
Sorak-sorai mereka semakin meriah begitu salah seorang prajurit penjaga gerbang berteriak, “Grand Duchess Ashley Alexandrita, telah kembali dengan selamat!”
Ashley masuk ke kerajaan dengan posisi ditengah-tengah pasukannya. Ia menunggangi makhluk sihir singa bersayap. Di bagian paling depan prajurit-prajuritnya, ada Albert.
“Kyaaa! Nyonya Ashley sangat menawaaan!” jerit Rakyat Wanita A.
“Astaga... kenapa Nyonya Ashley begitu gagah walau kami sama-sama wanita...? Andai Beliau adalah pria... sudah pasti...,” ujar Rakyat Wanita B.
“Lihat! Itu adalah hasil ekspedisi sihir Alexandrita kali ini! Apa gerangan itu sebenarnya?” tanya Rakyat Pria A.
“Pasti itu adalah makhluk sihir yang nanti akan berguna untuk kerajaan! Seperti Verlion yang ditunggangi Nyonya Ashley!” balas Rakyat Pria B.
Diantara rakyat-rakyat itu, terdapat Colette yang berusia sembilan tahun dan Marcus yang sepuluh tahun. Keduanya tampak sangat berbeda dengan mereka yang sudah dewasa, dimana keduanya bertubuh kurus dan seperti "gembel".
Tidak seperti lelaki yang disukainya, Colette tidak memandang Ashley se-mengagumkan itu. Dia hanya melihat Ashley sebagai bangsawan yang tidak amat berbeda dengan bangsawan lain. Sebaik apapun Ashley dipandang orang lain, baginya, jika Ashley tidak memerhatikan rakyat jelata sepertinya dan Marcus, tidak perlu didamba-dambakan.
“Sungguh, aku tidak mengerti kenapa kau begitu mengagumi bangsawan itu, Marcus. Lihatlah! Dengan sombongnya dia masuk kerajaan dan memamerkan ini dan itu!” umpat Colette.
“Sombong?!” Marcus mendadak emosi dan melotot pada Colette. “Apa kaubuta?! Itu bukanlah kesombongan, tetapi karisma!
“Jika beliau sombong, dari mulutnya itu sudah keluar sepatah dua patah kata! Tetapi tidak! Beliau hanya melambaikan tangan pada kita dan melemparkan senyumnya!”
Colette segera cemberut begitu sikap Marcus berbeda seratus delapan puluh derajat begitu dia menyinggung Ashley. “Tapi dia juga tak pernah memerhatikan kita! Apa bedanya dia dengan bangsawan lain?! Kalau dia memang berbeda, dan saaangat kaudambakan, kenapa dia tidak pernah menyadari kondisi sebenarnya rakyat jelata seperti kita dan melakukan sesuatu terhadapnya?!
“Kita bisa di sini sekarang, memandangi kesombongannya ini, karena bangsawan yang kita layani tunduk padanya. Setelah ini? Kita akan kembali ke mereka dan lagi-lagi dipaksa kerja, kerja, kerja, dan TERUS kerja hanya untuk makan dan minum!”
“A-aku tahu itu... tapi....
“Nyonya Ashley itu berbeda, Colette. Karena Beliaulah, aku masih ingin hidup.... Kau pun tahu aku ada di sini bersamamu juga karenanya.” Colette merasa semakin kesal. Ia lantas pergi dari hadapan Marcus. “He-hei, Colette? Mau kemana kau?!”
Kemeriahan sorakan rakyat yang menggema ke seluruh kerajaan mendadak senyap begitu seorang anak-anak menghadang pasukan Alexandrita dengan meregangkan lengannya.
“He-hei, apa-apaan anak itu?!” rakyat langsung mempertanyakan maksud gadis yang menghadang itu—Colette.
Pasukan Alexandrita, meresponnya dengan bersiaga—bersiap mengacungkan senjatanya begitu Colette melakukan hal mencurigakan. Namun, Albert mengangkat tangan kanannya. “Dasar bodoh. Untuk apa kalian waspada pada rakyat kita sendiri?” ucapan darinya membuat pasukan di belakangnya langsung melandai.
“Apa maumu, Nona?” tanya Albert.
Colette menarik napasnya dalam-dalam.
__ADS_1
“Colette... apa yang ingin kaulakukan...?” batin Marcus yang masih berada di dalam kerumunan massa.
Begitu dadanya sudah membusung karena tarikan napasnya, ia menepuk dadanya dengan tangan kirinya, seraya berteriak, “AKU!
“SANGAT MEMBENCI ALEXANDRITA!
“WALAU APAPUN YANG DIKATAKAN RAKYAT, KALIAN TETAP TIDAK BISA MELINDUNGI RAKYAT DARI DALAM!"
Jeritannya membuat kaget semua yang berada di penyambutan kepulangan Alexandrita itu, termasuk Albert dan Ashley sendiri.
“Apanya yang gagah?
“Apanya yang berani?
“Apanya yang berbeda?
“Dimataku, kalian sama saja dengan bangsawan-bangsawan TAHI yang memperlakukanku, serta rakyat jelata lainnya seperti tidak ada nilai!
“KAMI ... ADALAH MANUSIA!
“Katakanlah padaku sekarang juga! Apa jasa yang telah Alexandrita lakukan pada kalian, rakyat jelata? Melindungi dari serangan musuh? Makhluk sihir? Itu saja! Bangsawan lain pun pasti bisa melakukannya juga.
“Lalu? Apa yang dilakukannya pada kita, hah?!
“TIDAK ADA!
“Karena itulah ....” Colette melihat Ashley turun dari tunggangannya. Dia mendadak berkeringat, sedikit takut apa yang akan dilakukan Ashley padanya.
Begitu Ashley berada di hadapannya, ia menelan ludah, sementara ia merasa tertekan oleh tinggi dan tatapan matanya yang tajam.
“Siapa namamu?” tanya Ashley.
“Co-Colette...."
Ashley kemudian langsung merangkul Colette. Hal ini cukup mengejutkan Colette karena dia lusuh, dan lengket setelah bermandikan keringat.
“Wahai rakyat Aurora yang kucintai!" seru Ashley, dengan riangnya. Semua penduduk di sana diam membisu, mendengarkan Ashley baik-baik.
"Hari ini adalah hari yang paling menyenangkan setelah kepenatan yang kuterima dari beban Ratu kita, Scarlet!
“Jika Ratu itu bisa sedikit saja bersantai, aku ingin berkunjung ke sebuah kedai di Wilayah Selatan, yang sudah sering kudengar dari kalian bahwa hidangan di sana teramatlah sedap!
“Tetapi, kewajiban adalah kewajiban, dan aku adalah penyangga kerajaan ini....
“Kupikir, hari ini aku akan langsung membersihkan tubuh dan merilekskan kepalaku. Namun, gadis cilik pemberani bernama Colette ini datang dan menyuarakan isi hatinya di depan ratusan—tidak— ribuan rakyat Aurora!
“Tidak hanya gadis ini, kuyakin diantara kalian juga merasakan apa yang Colette rasakan.
“Tetapi, ketahuilah ini, Colette. Kalian juga, rakyat Aurora!
“Status kita memang berbeda, tempat tinggal kita pun berbeda. Aku adalah bangsawan dan kau adalah rakyat jelata. Tetapi, ada satu hal yang semua manusia miliki. Apa kautahu itu?”
Colette menggeleng.
“Potensi.”
Colette mendengarnya langsung terbelalak.
“Kuakui, aku memanglah orang yang kuat, yang mampu melindungi kalian dengan sihirku yang besar dari segala yang mengancam kerajaan. Namun, hanya itulah kelebihanku, yang bisa kulakukan untuk kalian, untuk apa yang kusebut rumah bagiku dan juga kalian.
“Ratu ... pernah mengatakan ini padaku, juga pada bangsawan utama lainnya. ‘Aku malu pada diriku sendiri, ketika rakyat yang kulindungi justru merasa tidak dilindungi. Aku ingin mereka sadar, bahwa mereka pun bisa melakukan apa yang kulakukan.’
“Artinya, setiap dari kalian memiliki potensi menjadi kami. Menjadi orang yang kuat—yang mampu melindungi yang lemah, atau menjadi apapun yang kalian impikan.
“Masing-masing dari kalian memiliki sayap yang pasti akan membawa kalian terbang menuju esok yang diimpikan. Jika kalian tidak menggerakkan sayap itu sendiri, bagaimana bisa kalian menuju esok itu?
“Bergeraklah demi diri sendiri, tanpa perlu menunggu orang lain mengubahnya! Aurora adalah kerajaan yang kuat, begitu pula dengan rakyatnya!
“Jika ingin adanya perubahan, maka mulailah dari diri sendiri!
“Kita semua memiliki potensi untuk melakukan apapun! Janganlah terkekang oleh keadaan!”
.
.
.
.
Kala itulah, Marcus melihat dengan jelas.
Apa yang dilihatnya tentang Ashley, juga dilihat oleh Colette. Disitu, ia juga sadar, bahwa keberanian Colette di hari itulah, yang memantik banyak perubahan di Aurora—walau orangnya sendiri tidak menyadarinya.
......................
__ADS_1
“Colette… kuharap kau baik-baik saja…!”