Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Kekuatan yang Hanya Dimiliki Manusia


__ADS_3

[Kerajaan Aurora, masa kini.]


Jam menunjukkan pukul sembilan malam. Zeeta, Selen, dan Hellen masih dalam acara kecil-kecilan mereka.


Di sana, Zeeta terlihat gundah. Ia tak lagi terlihat bersemangat setelah mendengar cerita bahwa ibu dan gurunya jatuh terkapar. Semengerikan itukah, lawan yang mungkin akan ia hadapi suatu hari nanti?


"Nona Hellen... apa aku boleh tanya?" tanya Zeeta. Tampak jelas sekali di wajahnya, bahwa ia sedang gundah. Ia bahkan tidak menatap mata Hellen.


"Ya, Tuan Putri," jawab Hellen, "silakan, tanyakan apapun pada saya." Ia merasakan kegundahan anak kecil delapan tahun ini.


"Apa yang kaupikirkan saat mengetahui ibu dan guru Ashley tak berdaya?"


Hellen terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang terbaik yang bisa diterima Tuan Putri-nya saat ini. "Jujur, Tuan Putri... aku takut," jawabnya, "jika Ratu Alicia dan Nyonya Ashley saat itu tak bisa mengatasi Erigona, aku tak tahu lagi apa yang bisa kuperbuat. Semuanya terasa gelap." Kemudian ia melanjutkan ceritanya kembali.


......................


Arthur berkuda-kuda, kemudian ia merentangkan tangan. Aura putihnya membesar dan menjulang tinggi, setelah itu ia menggertakkan giginya lalu ia menepuk tangannya. "HUAAAAGHHH!!" setelah ia berteriak, hidungnya segera mimisan.


"Apa yang ia coba lakukan?!" batin Hellen, yang menjatuhkan peluh dari pelipisnya.


Tanpa butuh menunggu waktu lama, pertanyaan Hellen langsung terjawab. Tanah bergemuruh hingga membuat burung di sekitar sana berterbangan. Sebuah pelindung berwarna putih kecokelatan muncul secara perlahan dari sana.


Sadar bahwa mereka akan diperangkap, Erigona mempercepat kecepatan terbangnya. Mereka melesat secepat yang mereka bisa. Tak sedikit dari mereka yang berhasil lolos, tetapi tetap banyak juga yang terperangkap. Sekarang masalahnya, bagaimana Arthur dan yang masih berdiri di sana mengatasi jumlah Erigona yang berkali-kali lipat dari mereka itu?


Arthur jatuh tertelungkup. Tangannya bergemetar. Ia kehabisan cukup banyak mana. Melihat pria kesayangannya jatuh, Hellen segera melesat menolong Arthur.


"Arthur!" pekik Hellen cemas, "kau tak apa?" ia segera menidurkan kepala Arthur di pahanya yang berlapis stocking putih dan menelentangkan badannya.


"Ya ... aku tak apa." Arthur melihat segerombolan Erigona menukik tajam ke arah mereka. "Cepat, teleportasilah ke tempat guru Willmurd berada!"


"Ba-baik!" Hellen segera berteleportasu ke tempat di mana Willmurd dan Alicia berada.


'FWIIPP!'


Ketika mereka sampai, Willmurd terkejut. "Arthur, Hellen!" serunya.


"Guru Willmurd...," kata Arthur, "apa Tuan Putri baik-baik saja?"


"Ya. Dia semakin membaik, seharusnya sebentar lagi ia siuman," jawab Willmurd.


"Ini... sudah berakhir," kata Hellen, yang hampir menitikkan air mata. "Kita pasti akan mati di sini!"


Arthur merasa tidak senang atas ucapan itu. "Hei, Guru Willmurd...," panggilnya.


"Hmm?" balas Willmurd.


"Apa yang Tuan Putri katakan sebelum ia jatuh seperti itu?"


Willmurd tersentak. Ia mengingatnya. "Beliau bilang, keluargaku lebih penting darinya." Willmurd melihat Alicia yang pucat pasi.


"Kalau begitu...." Arthur bangun dari paha Hellen. "Anda tak bisa mengkhianati keinginan Tuan Putri, bukan? Untuk saat ini, tinggalkan Tuan Putri dan ayo buat Beliau bangga terhadap kita!"


Segerombolan Erigona datang mengincar mereka. Willmurd tersenyum, kemudian menggelengkan kepala. Berbeda dengan tekad dua pria itu, Hellen hanya bisa terpatung. Ia tak habis pikir, dengan jumlah Erigona berbentuk sempurna sebanyak itu, dengan mana yang terkuras banyak meski ia rakyat jelata, mengapa Arthur tak putus asa? Mengapa gurunya tidak menghentikannya?


"Apa yang kaupikirkan sampai nekat memancing mereka ke sini?" tanya Willmurd, "tidakkah kau takut akan tekanan mana dari mereka?" kemudian Willmurd mengeluarkan pedang rapier-nya.


"Takut? Bukankah aku belajar di Akademi Dormant, yang mewajibkan seluruh pelajarnya tangkas dan berani?" Jawaban Arthur kembali membuat Willmurd tersenyum.


"Apa yang bisa kaulakukan dengan mana-mu yang sudah terkuras itu?" Willmurd berkuda-kuda. Ia memundurkan satu langkah kaki kirinya, kemudian mengangkat rapier-nya dengan kedua tangan searah dengan bahu kanannya.


"Kombinasi. Nona Hellen juga akan membantu." Arthur mengeluarkan Buku Sihirnya.


"Sial, aku telah kalah oleh muridku sendiri. Tidak seharusnya muridku yang mengajakku agar berdiri dan melindungi Tuan Putri...."


"Apa maksudmu, Guru? Aku hanya hebat dalam hal pantang menyerah. Karena itulah aku di sini sekarang." Arthur tersenyum.


"Hei!" Hellen berdiri di sebelah Arthur. "Jangan berbicara seolah aku tak ada! Kalian butuh bantuan aku, bukan?" Hellen ikut mengeluarkan Buku Sihirnya.


"Tolong kerja samanya, Nona!" Arthur melempar senyumnya pada Hellen dan ia sukses membuat Hellen kembali merona.

__ADS_1


"Se-serahkan padaku!" Hellen berusaha menahan senyum bahagianya. Ia sangat senang hari ini meskipun banyak bahaya dan ia hampir putus asa.


"Kau dengar itu, Hazell? Sekarang, cepatlah sadarkan Grand Duchess dan hancurkan Erigona yang asli!" Arthur berbicara melewati telepati.


Hazell yang mendengar semua itu, sekarang sedang berhadapan dengan Erigona yang asli—mencari cara agar ia bisa mendekati Ashley.


"Aku tahu, aku sedang berusaha!" jawabnya melewati telepati.


......................


[Kerajaan Aurora, masa kini....]


"Heee... ternyata ayah keren ya...," ujar Zeeta. Ia senyum-senyum sendiri.


"Aku sudah bilang, 'kan, Arthur itu memang keren!" Hellen meliuk-liukkan tubuhnya sambil memegangi pipinya.


"Yah... di desa dia juga dianggap keren, sih. Bahkan kedainya sangat terkenal hingga desa tetangga. Tidak hanya wanita saja, pria juga!"


"E-eh? Pria...?" Hellen merasa syok mendengarnya.


"Uhm! Mereka sangat suka masakan ayah!"


"Owalah... aku kira.... Jangan buat aku panik dong, Tuan Putri!"


"Hmm? Panik...? Kenapa?" Zeeta memiringkan kepalanya. Ia masihlah polos.


"Ti-tidak! Bukan apa-apa! Ehehehe...." Hellen berusaha untuk tetap menjaga kepolosan Zeeta.


"Ngomong-ngomong, Kak...." Selen menimbrung. "Bicara tentang 'ayah', apa Tuan Putri sudah tahu siapa ayah kandungnya?"


"Ah!" Hellen dan Zeeta baru ngeh.


"Eh? Serius? Setelah selama ini...?" Selen tak habis pikir.


"Apa kalian tahu siapa ayahku?" tanya Zeeta.


"Tentu saja..., tapi itu sebaiknya Anda tanyakan pada Grand Duchess. Beliaulah yang lebih berhak memberitahu Anda," jawab Hellen.


"Ya, Adikku. Kuharap, Anda memahaminya, Yang Mulia."


"Hmmm.... Kalau begitu katakan padaku, apa ayahku sama-sama murid Akademi Dormant?"


"Ya. Itu benar."


"Begitu, ya. Baiklah, kalau begitu lanjutkan ceritanya! Aku jadi ingin tahu bagaimana akhir dari kisahmu!"


"Dengan senang hati, Yang Mulia!" Hellen kembali menceritakannya.


......................


Hazell sedang berhadapan satu lawan satu dengan Erigona yang asli. Ia sedang memikirkan cara bagaimana ia bisa mendekati Ashley.


"Sebagai calon penerus Levant, aku tak bisa tumbang oleh makhluk seperti dia. Meskipun aku hanya bisa mengulur waktu sekitar dua puluh detik, aku harus menyadarkan Grand Duchess!" Hazell mengatur napasnya kemudian mencengkeram kedua tangannya.


"Kenapa kalian tidak menyerah?" tanya Erigona. Ia menggertakkan giginya karena kesal. "Mana milik Tuan Putri kalian sudah kuserap dan wanita yang hampir berhasil mengalahkanku juga sudah kutumbangkan! Kenapa kalian masih belum menyerah? Aku ini kuat!"


Hazell tersenyum. "Sayangnya, tidak menyerah adalah kekuatan murni milik manusia bahkan sejak sebelum sihir ada. Apa kautahu seberapa hebatnya manusia ketika tidak menyerah?" Hazell tiba-tiba menghilang dari hadapan Erigona.


"A-apa?! Dimana dia?!" Erigona melirik kesana dan kemari mencari dimana Hazell akan muncul.


"Mereka bisa melakukan ini tahu." Seketika, Hazell muncul di atas kepala Erigona kemudian meraih dua tanduk di kepalanya lalu melukai wajahnya dengan pukulan dari kedua lutut.


Tidak berhenti, Hazell segera mengangkat tubuh Erigona itu melalui tanduknya kemudian membantingnya ke tanah. Setelah itu, ia menyiku perut Erigona hingga tubuhnya tampak seperti huruf "v", lalu ia melemparnya menjauhi mereka.


"Bagaimana bisa dia mengeluarkan kekuatan sekuat itu? Seolah kekuatannya seimbang dengan wanita tadi!" batin Erigona dikala ia terpental di langit.


"Grand Duchess!" pekik Hazell kencang. Setelah itu dirinya masuk ke dalam lubang dimana Ashley berada. Ketika ia masuk, ia mendapati Ashley sudah berdiri dan sedang menyembuhkan luka di kepalanya.


"Astaga... kau dan Arthur benar-benar sesuatu, Nak Zell!" ujar Ashley menyeringai.

__ADS_1


"G-Grand Duchess, apa Anda tidak apa?" tanya Hazell.


"Ya, sebelumnya aku kurang waspada. Kebiasaan burukku ketika aku tahu aku akan menang. Tapi... itu takkan terjadi lagi!" Ashley mengeluarkan aura merah kejinggaannya lagi.


"Kau pergilah bersama yang lain dan bergabunglah dengan Ratu. Aku akan mengalahkan mereka semua sekaligus." Ashley melemaskan tulang jemari dan lehernya. "Aku akan BENAR-BENAR serius!"


"Pastikan Anda selamat, Grand Duchess. Jika tidak, Alicia akan sangat sedih!" Hazell mundur dari sana.


"Heh. Masih cepat seratus tahun untukmu mengkhawatirkan keselamatanku!" Ashley membesarkan aura merah kejinggaannya.


......................


Disaat yang sama ketika Hazell memulai pertarungan, Willmurd dan dua muridnya bekerja sama mengatasi sekitar enam puluhan Erigona.


"Agak aneh ketika Anda menyuruhku memimpin, Guru..., tapi jangan mengeluh bila aku benar-benar mampu mengatasi mereka, ya!" Arthur berlari kemudian memasangi kedua lengan dan kakinya dengan zirah berbentuk batu. Zirah itu bukanlah untuk melindunginya, namun itu sedikit melayang di dekat tubuhnya.


"Nona Hellen, setelah aku menghajar mereka, tangkap mereka dengan sihir Anda sekaligus. Guru, setelah itu giliran Anda dengan ilmu pedang itu!" teriak Arthur yang sedikit lagi berhadapan dengan Erigona.


Dengan sihir zirah berbentuk batunya, ia membesarkan ukuran sihir itu lalu memukul Erigona-Erigona yang ada di hadapannya sampai mereka terpelanting tak berdaya. Kecepatannya memukul tidaklah seberapa, namun kekuatannya tidak bisa diremehkan. Kemudian, untuk mengantisipasi kedatangan Erigona lain, ia melempar Erigona yang telah tergeletak tak berdaya ke langit dengan tangan kirinya, lalu ia memecah tanah menjadi bentuk kepingan dan melempar tanah itu ke Erigona yang ada di dekatnya.


Menangkap apa yang dimaksud Arthur, Hellen memerangkap Erigona yang ada di langit itu dengan sihir berwarna hijaunya. Setelah itu, Willmurd melompat tinggi mendekati Erigona itu kemudian melakukan serangan yang tampak seperti tiga buah tusukan—dimana pedang itu tampak menyala biru. Namun setelah ia mendarat di tanah...


'ZRRAAATT!'


Willmurd membersihkan butiran sihir berwarna merah dari rapier-nya dengan gerakan ayunan ke belakang pada tangan kanannya. Semua Eriogona dan sihir Hellen hancur berkeping-keping. Kombinasi sihir mereka dapat berjalan dengan mulus, sampai ketika....


"CUKUP SUDAH!"


Seluruh Erigona yang tersisa—sekitar tiga puluh dari mereka, meledakkan mana mereka dalam jumlah besar hingga mementalkan tiga manusia itu ke belakang.


"Sial... padahal setengah dari mereka sudah...," gumam Arthur yang kini benar-benar terlihat sudah di ambang batasnya. Ia benar-benar pucat dan kehabisan napas.


"Jika saja jangkauan seranganku lebih lebar, kita bisa menyelesaikan ini... lebih cepat...." Sama dengan Arthur, Willmurd juga tampak sangat kelelahan.


"Tapi... aku senang kita mampu mengalahkan setengah dari mereka. Ini semua berkat keahlianmu, Arthur." Senada dengan pria lainnya, Hellen juga terengah.


"Inilah akhir dari kalian!" ketika Erigona-Erigona itu akan menyerang tiga manusia di hadapan mereka dengan serangan sihir, ledakan mana besar terasa di tempat Ashley berada. Mereka tersentak dan terhenti.


Dan di saat itulah, Hazell datang menolong Alicia terlebih dahulu.


"Mana ini...," gumam Erigona, yang merasakan keberadaan Ashley.


Senang bahwa mangsa sedapnya kembali muncul, dengan senang hati mereka mengubah incaran mereka ke Ashley. Seperti yang mereka lakukan sebelumnya ketika akan terbang, mereka mengubah batang runcing di punggung mereka menjadi sayap. Namun, ketika mereka baru akan melesat untuk memangsa....


"Hei." Hazell menghalangi mereka. "Kalian pikir mau kemana, setelah membuat Alicia seperti itu?" Ia melayang dengan sihirnya.


"Gawat, Hazell sudah serius, bagaimana ini...?" gumam Arthur melihat Hazell yang tertunduk dan mengeluarkan asap putih dari tubuhnya.


Tiba-tiba dari tanah, bongkahan kristal yang dibentuk seperti peti, melindungi empat manusia, termasuk Alicia.


"Sihir ini...," batin Arthur. "Cih, kalau selamat bantu kami dari tadi, dong, Porte sialan!" Arthur bernapas lega.


......................


"Kalian... menyukai mana yang kuat, bukan?" tanya Hazell. Ia masih tertunduk.


"Untuk apa kautanyakan itu lagi?! Memangnya dari tadi apa yang kausaksikan, dasar bodoh!?" jawab salah satu dari Erigona.


"Ah benar juga. Kalau begitu... apa kalian bisa menyerap mana milikku?"


Semua Erigona di hadapannya tersenyum lebar.


"Baiklah...." Asap yang keluar dari tubuhnya berubah menjadi merah seakan menjadi aura. Tanpa mengubah posisi kepala dan posisi badannya, ia menarik tangan kanannya ke belakang.


"Tadi, aku bilang, pantang menyerah adalah kekuatan murni milik manusia. Biar kutambahkan satu lagi."


Lingkaran sihir yang sangat besar—yang di tengahnya terdapat emblem berbentuk matahari, muncul di depan tangan kanan Hazell.


"Amarah manusia ... sangat mengerikan, tahu."

__ADS_1


'BBUUUMMMM!!'


Sebuah ledakan yang teramat sangat besar-- layaknya laser yang ditembak, menghancurkan semua Erigona di hadapannya. Tanah dan pepohonan yang ada di bawahnya, serta pelindung milik Arthur, juga ikut menjadi korban kebengisan sihirnya Hazell. Jika Porte tidak melindungi Arthur, Hellen, Willmurd, dan Alicia, mereka pasti akan mati seketika.


__ADS_2