Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Permintaan Roh Kuno Air


__ADS_3

Bon Si Kura-Kura Kolosal adalah salah satu contoh makhluk di Bumi ini yang menjadi saksi seperti apa penuaannya berjalan dan terus mengalami perubahan dari zaman ke zaman. Kendati posisinya memang sebagai salah satu makhluk yang sama-sama hidup bersama dengan eksistensi yang lain, tidak berarti keberadaannya yang sangat besar itu, dimana tempurungnya sudah berubah ibarat pulau, tidak layak untuk ditinggali bermacam hewan daratan, ataupun makhluk lainnya, baik itu makhluk sihir dan yang bukan.


“Bon, aku takkan membiarkanmu mati begitu saja. Lautan masih membutuhkan dirimu untuk kehidupan yang akan segera berubah,” ujar Cynthia.


Dengan trisula yang digenggamnya saat ini dan tubuh Bon yang berada di dalam bola air, Cynthia menyembuhkan luka fatal yang menyerang tempurungnya. Darah-darah yang telah mengalir ke dalam lautan pun, dikendalikannya melalui trisula untuk dipisah dari air, lalu menguapkannya secara total.


Luka yang berhasil menembus tempurungnya dan menghancurkan beberapa kehidupan di atasnya, mengecualikan tumbuhan dan hewan yang menjadi korban, semuanya kembali seperti sedia kala. Air-air yang mengelilingi Bon seakan menyelimuti dirinya yang sedang sakit. Dirinya yang mengerang kesakitan dan wajahnya yang terlihat menderita, perlahan-lahan mereda hingga akhirnya tersenyum—bagaikan seorang anak kecil yang telah nyaman dalam lelapnya.


Menyadari penyembuhannya berhasil dilakukan, Cynthia melepas Bon dari dalam lingkaran dan mengapungkannya. Tentu saja, Si Penyu yang melihat semuuuanya dengan matanya sendiri, mengira hal gila akan berhenti, namun keberuntungan tidak dalam siripnya.


“Qyu, jagalah Bon selama dia tak sadarkan diri.” Begitulah ucapan perpisahan Cynthia pada makhluk laut yang telah berenang cukup lama untuk mengantarkannya kepada Bon. Gadis Duyung tersebut—yang masih di atas pusaran air—pergi meninggalkannya ke arah mereka datang. Ia hendak pergi ke Orsfangr.


“Pu-Putri Cynthia...?!” Qyu bahkan tidak sempat untuk bertanya. Kecepatannya di atas pusaran air itu sangatlah kencang dan memaksanya untuk harus bisa menyeimbangkan tubuh agar tidak terbalik.


Disaat Cynthia masih dalam perjalanannya, ia terhenti sebab merasa ada mana kuat yang menghampirinya. Lantas, dirinya menengok ke sumber arahnya. “Mana ini...?”


Tidak lama kemudian, Xennaville tiba. “Selamat malam, Undine.”


“Roh Yggdrasil, kah?”


“Benar sekali.”


“Ingin apa dariku? Menjaga keseimbangan alam? Aku selalu melakukannya sejak terakhir kali kutampakkan diri.”


“Tidak, kali ini, seorang manusia butuh pertolonganmu.”


“Manu... sia...?” Cynthia mengernyitkan alis. “Oh, maksudmu, manusia yang telah kalian waskitakan akan menghancurkan dunia? Berarti waktunya sudah tiba?”


“Aku senang tidak perlu memotong waktu hanya untuk menjelaskan apa yang terjadi padamu.”


Cynthia menyeringai. “Kaupikir siapa aku ini? Sama denganmu, aku adalah makhluk yang ada sejak Bumi ini eksis. Kita bersama menghidupi dunia.


“Air adalah wujud yang tak terbatas, air bisa melakukan apapun, dan tanpa air, makhluk di Bumi mustahil hidup.


“Mengerti maksudku?”


Xennaville mengerutkan dahi. “Manusia itu sudah membulatkan tekadnya. Apa yang ingin kaulakukan?”


“Kalau begitu diam dan ikuti sajalah aku. Tenang saja, pada akhirnya aku akan tetap membantu. Namun, kehancuran dunia adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari dan kelak PASTI akan terjadi. Kehancuran kali ini mungkin saja hanyalah yang sementara, bisa juga benar-benar abadi.

__ADS_1


“Dan untuk memastikan dunia ini hancur dengan perjuangan yang tepat, lautan memiliki caranya sendiri.”


......................


[Istana Orsfangr, beberapa belas menit setelahnya....]


Jourgan dan Danny yang lukanya telah diobati Sugar, mendadak mengacungkan senjata mereka, disaat ketiganya sedang termangu memikirkan apa yang sedang terjadi. Dua makhluk daratan tersebut merasakan datangnya dua mana yang sangat besar sekali. Sementara Sugar, yang notabenenya hanyalah Putri Kedua dan tidak memiliki kecakapan dalam bertarung, hanya bisa waspada dengan yang akan terjadi.


“Apa...? Ada apa...?!” tanya Sugar.


“Putri tetaplah di belakang kami,” balas Danny, “meskipun kami bukanlah makhluk lautan, tetapi jika lautan terancam seperti ini, kami takkan tinggal diam. Iya, ‘kan, Kak Jour?” Danny menyeringai.


“Kuingatkan saja, mana ini jauh lebih besar daripada Mantan Benih Yggdrasil yang kau lawan, lo!” Jourgan pun ikut menyeringai. Dia merasa tergerak dengan ucapan rekan setimnya itu.


“Terancam? A-apa maksudnya? Mungkin apa yang sedang kalian rasakan sekarang ini berasal dari Undine! Dia pasti—“


“Ooohh...?” sebuah suara menggema di dalam ruang tersebut—dimana tidak ada air yang mengisi.


‘BYURRR!’


Air mendadak mengisi seluruh ruangan, menghempaskan jasad seorang manusia dari Seiryuu—Aira—yang sudah tertutup kain. Hal yang tidak diduga tersebut juga tak diperhitungkan oleh Jourgan dan Danny. Mereka ikut terhempas, tentu saja dengan Sugar. Namun, berbeda dengan Sugar yang tidak bisa menahan gerusan air yang tiba-tiba masuk, si Dark Elf dan anggota Crescent Void itu masih bisa bertahan, dengan mengandalkan mana yang ditekankan pada kaki dan tubuh belakang mereka.


Walaupun begitu, “serangan dadakan” ini menyulitkan mereka. Memang, mereka mendapatkan “izin” agar bisa bernapas di dalam air, namun siapapun juga bila tiba-tiba air datang menyergap, maka napas secara natural akan jadi sulit. Sehingga, keduanya pun menggertak gigi dan berusaha menahan napas mereka selama mungkin.


“Cy-Cynthia...?!” seru Sugar, yang ternyata berhasil bertahan dari hempasan air dengan ekornya.


Danny dan Jourgan memberikan respon yang sama. Keduanya terkesiap. Di sebelah Cynthia, juga ada seseorang yang pernah diceritakan Azure.


“Hei, Danny,” panggil Jourgan pelan, “apa wanita di sebelah Cynthia itu adalah...?”


“Mungkin saja.”


“Kalau begitu, ini gawat.”


“Saaangat gawat.”


Cynthia yang telah menancapkan trisulanya menyeringai. Setelah itu, tubuhnya mendadak lemas, dan disaat yang bersamaan, makhluk air keluar dari dalam tubuhnya. Dia adalah Undine—Roh Kuno Air—yang memiliki paras serupa dengan Duyung. Rambutnya panjang bergelombang. Bila dilihat secara sekilas, rambut itu mirip seperti bentuk rumput laut, bagian atas tubuhnya ditutupi oleh kulit kerang. Warna sirip dan rambutnya ialah hijau tosca, sementara warna matanya adalah hijau gelap.


“Undine Yang Agung!” Sugar segera bertekuk lutut.

__ADS_1


Mengacuhkan sesaat Sugar, Undine memasukkan Cynthia ke dalam gelembung yang mengapung di belakangnya.


“Sugar Vazquez Orsfangr, kuhargai penghormatanmu, namun aku memiliki perlu pada dua makhluk darat ini. Tinggalkanlah kami.”


Sugar agak terkejut dengan permintaannya, tetapi ia tetap menjalankannya.


......................


“Nah, sekarang....” Undine memegang trisulanya. “Lautan adalah sumber kehidupan, lautan adalah nyawa dari Bumi. Tanpa lautan, dunia ini pun bisa hancur.”


Jourgan dan Danny tak mengerti apa yang dibicarakan Roh Kuno itu. Mereka tetap bersiaga dengan senjata di masing-masing tangan.


“Setelah adanya kehancuran, selalu ada kehidupan.


“Dibalik kesengsaraan, ada harapan terang.


“Apa yang ada di dalam kegelapan lautan? Tidak terbatas.


“Apa yang ada di balik terangnya cahaya daratan? Tak terbatas.


“Semua itu adalah bentuk dari masa depan yang tidak pasti. Semuanya adalah bentuk bahwa kita sedang hidup. Namun, adakah artinya? Adakah arti mengapa masing-masing tubuh yang ada di dunia ini memiliki jiwa?


“Takkan ada yang tahu, bahkan diri sendiri, kecuali kita meninggalkan sesuatu pada generasi penerus dan generasi tersebut melanjutkannya pada penerus yang lain.


“Kita tidak hidup semata-mata untuk terus tumbuh, mencari kebahagiaan, dan hal lainnya, tetapi untuk mencari arti hidup dan mengukir masa depan untuk diri sendiri.


“Semua makhluk pada dasarnya sama. Begitu pula dengan seorang gadis Duyung dan seorang gadis Manusia.”


Dark Elf dan Crescent Void itu terkesiap. Keduanya mulai mengerti arah bicara Si Roh Kuno.


“Mereka memiliki kekuatan besar di tangannya dan mereka paham apa yang harus dilakukan pada kekuatan itu. Namun, mereka masih dalam perjalanannya.


“Daratan dan lautan. Sekilas, lautan memang tampak lebih mendominasi, namun lautan pun tak bisa eksis tanpa daratan.


“Lautan ini memiliki kehidupan yang sama-sama bergantung pada daratan. Tempat tinggal para ikan, tumbuhnya rumput laut, karang, dan masih banyak lagi.


“Sehingga, kesimpulannya, SEMUA ... makhluk di dunia ini ada untuk saling melengkapi.


“Aku, Roh Kuno Air, Undine, meminta pada kalian.” Undine mencabut trisulanya.

__ADS_1


Merespon Undine, keduanya juga berkuda-kuda.


“Demi masa depan dunia ini, bantulah Duyung ini memakai dan mengembalikan kekuatannya lagi!”


__ADS_2