Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Penyihir Harapan dan Penyihir Bintang


__ADS_3

Cynthia merenungi ucapan Zeeta yang telah bertekad bulat demi menanggung tanggung jawabnya. “Putri Zeeta,” ujarnya, “sebelum waktuku habis, tolonglah beritahu aku, dari mana datangnya semua informasi tentang dirimu yang harus membuka portal Jormungand dengan Batu Jiwa-nya?”


Zeeta tersenyum. Ia hendak menjawabnya dengan perlahan-lahan menaikkan tangannya untuk memegang anting bulannya. Tetapi, disaat dirinya hampir menyentuhnya....


“Soal itu, sudah jelas, Putri Duyung.” Suara seorang gadis terdengar dari belakang Zeeta.


“Si-siapa itu?!” Cynthia kepanikan.


“Suara ini...?” Zeeta membatin, “sepertinya aku pernah dengar suara ini....” Zeetapun menoleh ke belakangnya.


“Hai, salam kenal. Ini kali pertamanya kita bertemu langsung ya, Zeeta.” Gadis tersebut memiliki rambut hitam panjang. Dia berjalan beriringan dengan seorang pelayan.


Melihat adanya pelayan yang bersamanya, membuatnya segera mengingat kesaksian yang diceritakan Azure. Zeeta lantas segera paham siapa identitas gadis tersebut. “Jadi kaulah ... Hitomi Reiko, Benih Yggdrasil yang ketiga....”


Hitomi tersenyum. Ia kemudian memberikan tepuk tangan yang santai. “Benar sekali. Aku jadi repot-repot turun langsung seperti ini karena bintang telah memerlihatkanku tentang keputusan mendadakmu.”


“Apa maumu ke sini...?” Zeeta mulai waspada. Luna juga ikut membelakangi Wadahnya tersebut.


“Santai saja. Hanya bicara denganmu. Tapi, sebelum itu....” Hitomi melirik ke arah Cynthia. “Sebuah halangan harus disingkirkan terlebih dahulu.”


Zeeta mengernyit, pun dengan Cynthia.


‘KLIK!’


Hitomi menjentikkan jemarinya. Kedua gadis yang ada di tempat sama itu melihat jatuhnya cahaya lurus dari langit. Cahaya tersebut terlihat tipis, namun ketika itu mengenai sesuatu, entah itu tanah atau objek lainnya, langit sore kala itu mendadak berubah gelap untuk beberapa detik.


“Apa yang kau—“ tatkala Cynthia bertanya, kabutnya menghilang, dirinya pun ikut tertarik keluar dari sana.


Saat ini, hanya ada Zeeta dan Hitomi yang berdiri berhadapan dengan masing-masing Roh Yggdrasil-nya. Perasaan tidak nyaman mulai menyerang gadis berambut perak.


“Sekarang, Zeeta, aku ingin kau bernegosiasi denganku,” ujar Hitomi.


“Apa maumu?”


“Julukanku adalah Penyihir Bintang, sementara julukanmu adalah Penyihir Harapan. Apa yang barusan kulakukan adalah bukti bahwa aku sedang serius.


“Salah satu kekuatan yang dimiliki lautan dan sedang membantu Putri Duyung tadi, sudah kulenyapkan dengan kekuatan bintang.”


Zeeta terbelalak. “Le-lenyap?! Apa maksudmu?!”


“Kautahu, lautan itu luas, bahkan lebih luas dari daratan ini, ‘kan? Oleh karenanya, kemampuan laut pasti lebih kuat daripada daratan.


“Maksudku, bila daratan ini memiliki banyak makhluk hidup serta makhluk sihir, seperti apa bayanganmu jika itu di dalam lautan? Tentu saja ada lebih banyak lagi. Dan yang menjadi pemimpin dari semua lautan itu adalah Putri Duyung tersebut dan Roh Kuno yang belum pernah mewujudkan dirinya lagi sejak ribuan tahun lalu, Undine.


“Ini hanyalah langkah awal sebelum Ragnarok terjadi. Kau tidak ingin Ragnarok menjadi lebih parah karena keterlibatan lautan, bukan?


“Ragnarok sudah cukup parah dengan dunia yang terancam oleh perang sihir antara ras-ras besar di dunia, yaitu Naga, Raksasa, dan Manusia. Bila ditambah dengan lautan, mana mungkin kaubisa menghentikan Ragnarok sendirian.”


“Zeeta!” seru Luna, “jangan dengarkan apapun ucapannya! Tetaplah lurus pada—“


“Xenna, bungkam dia.”


“Baik, Nona.” Xennaville segera muncul ke hadapan Luna, kemudian menendangnya dengan tendangan berputar sembilan puluh derajat dengan kaki kirinya. Akibatnya, Luna terhempas jauh ke belakang dan menembus beberapa pepohonan dan segera membuat panik seisi desa.


“LUNA!” jerit Zeeta.


Hitomi kemudian muncul ke depan Zeeta, kemudian memegang bahu kanannya. Sambil berwajah serius, ia berkata lagi. “Saat ini kau tidak bisa bersihir. Di situasi ini, hanya kaulah yang bisa menghadapiku.”


Disaat yang sama, Arthur dan Hellenia keluar kedai, dan mendapati Zeeta sendirian di hadapan dua orang tak dikenalnya.


“ZEETA!” jerit kedua orang dewasa tersebut, yang segera berlari menghampirinya.


“Bagaimana ... Zeeta?” tanya Hitomi.

__ADS_1


Dengan mata yang membola sesaat, akhirnya Zeeta memejamkannya. “Aku akan mendengarkanmu dulu.”


Hitomi tersenyum. “Keputusan yang bijak.” Dirinya kemudian menghilang bersama Zeeta setelah menjentikkan jemarinya lagi.


“ZEETAAAA!” jerit Arthur, yang melompat untuk menangkap Zeeta, tetapi terlambat dan akhirnya hanya membuat dagunya terluka karena terseret tanah. “Sial! Apa lagi yang dihadapi oleh putriku?!” geram Arthur yang kemudian memukul keras tanah dengan kedua tangannya.


......................


Hitomi dan membawa tamunya ke dimensi yang serupa ketika Hitomi membawa Sang Penguasa Kekelaman a.k.a Zeeta Dunia Lain.


“Tempat apa ini...?” tanya Zeeta.


“Hanya sebuah dimensi yang memungkinkanku bicara dengan bintang.”


“Bicara...?”


“Ya. Membaca takdir, keberuntungan, kesialan, dan lain-lain. Dengan kata lain, horoskop.”


“Apa ... menjadi Penyihir Bintang juga memiliki Spirit?”


Hitomi melirik. “Permisi? Apa kaulupa tujuanku membawamu ke sini?”


“Yah, maksudku, kaubisa membunuhku sekarang, atau bahkan tadi, kalau kau mau.”


Hitomi mengernyit. “Kau ... meledekku?”


“Tidak tidak. Seperti ucapanmu, aku tidak bisa bersihir sekarang. Tapi, aku berpikir kau takkan segegabah itu untuk melakukannya. Karena bagaimanapun juga, tujuanmu mengumpulkan Batu Jiwa adalah untuk mengubah dunia ini.


“Dunia yang ideal bagimu, adalah untuk mengulang semua tatanan manusia dari awal, dengan membinasakan semua Manusia dengan terbukanya Jötunnheim. Satu-satunya cara agar dunia tersebut hadir untukmu adalah adanya aku di dalamnya.”


“Kalau kau sudah memahaminya, maka penjelasanku akan semakin singkat.”


Zeeta menyimak baik-baik apa yang hendak dinegosiasikan Hitomi.


Zeeta sama sekali tidak mengerti apa maksudnya.


“Sebelum aku mendatangimu, aku sempat berseteru dengan dirimu yang lain. Dia berhasil membuatku patuh padanya dengan suatu Rune yang sama sekali tidak kumengerti. Dia juga bahkan berhasil membuat Xenna dan Tuan Carlou—Naga Sepuh di kekaisaranku untuk bersujud di depannya.


“Dia ingin aku dan kakakku membunuhmu—“


“Soal itu aku sudah tahu! Dia menyerang Aurora dengan pasukan Hollow, dengan membawa seorang dari masa lalu yang sangat jauh bernama Keenai agar memungkinkannya untuk mengumpulkan dan menciptakan Hollow!


“Aku ingin tahu, apa maksudnya dengan kaubisa menyelamatkan temanku?! Siapa dia?!”


Hitomi mengernyit. “Gerda. Gerda Bloomy.”


Jantung seakan melompat, Zeeta tak memercayainya. “A... apa maksudnya...? Apa yang terjadi dengannya?!”


“Kau... maksudku, dirimu yang lain, telah membakar hangus tubuhnya hingga hanya meninggalkan abu.”


“Ti-tidak mungkin....” Zeeta meneteskan air matanya. “Katakan jika itu hanyalah kebohongan!”


“Ck.” Hitomi mendecitkan mulutnya. “Oh, bintang! Berikanlah apa yang ingin dilihat gadis ini!”


Zeeta segera melihat kilas balik yang seakan-akan sengaja dipertontonkan.


......................


‘BWHAAAMMM!’


Tanah di sekitar halaman desa yang baru dibangun ulang oleh Gerda, Serina, dan para penduduk desa, seperti terjadi ledakan yang dahsyat.


“Sudah datang, kah?” Gerda bersiaga. “Baiklah.... saatnya untuk serius!” ia lalu bersihir kepada tanah untuk memastikan lokasi musuhnya dengan berjongkok dan memegang tanahnya sambil memejamkan mata. Tapi....

__ADS_1


“Hmm?” Gerda merasakan kejanggalan. “A-aku tidak bisa merasakan mana-nya!”


Tiba-tiba....


“Kau mencariku...?”


“Apa yang—?!” begitu Gerda membuka mata, lehernya sudah dicekik dan kakinya sudah ada di atas tanah.


Gerda terbelalak kala melihat wajah yang menyerangnya secara mendadak itu. Namun, lehernya terlalu sesak dan sakit untuk mengucapkan sepatah kata. Tapi, dengan Rune-nya, Penguasa Kekelaman bisa mendengar batin lawannya. “Sudah kuduga.... Zeeta, kau benar-benar sendirian.... Maafkan aku karena tidak bisa menjadi teman yang bisa selalu ada di sisimu...." Tangis kemudian mencucur deras.


Penguasa Kekelaman terlihat goyah sesaat dengan menundukkan wajah dan menggertakkan gigi, tetapi....


“Ini salahmu karena sudah menghalangiku.”


‘BWUSSHH!’


Melalui tangan kanan yang mencekik Gerda, Penguasa Kekelaman tak segan membakarnya dengan api hitam kekelabuan. Abu segera berjatuhan di tanah, kemudian dirinya pergi begitu saja seolah tak ada yang terjadi.


.


.


.


.


“AAAAAAAA!!!” jerit Zeeta yang berada di sebelah Hitomi, sampai mengejutkannya. Dia tidak menyangka dengan jeritan lantang tersebut.


“LAGI-LAGI!


“LAGI-LAGI SEPERTI INI!


“JIKA KEHADIRANKU HANYALAH UNTUK KEHANCURAN, LANTAS KENAPA AKU HARUS BERJUANG?!


“Penyihir Bintang!


“Maafkan aku, tetapi aku benar-benar tidak mampu.... Kekuatanku ... kekuatanku hanyalah membawa kehancuran bagi siapapun yang berhubungan denganku, dan aku tidak ingin melukai siapapun lagi.... Aku tidak bisa menyelamatkan kekaisaranmu....”


Zeeta tersungkur. Ia kemudian perlahan-lahan meringkukkan badan dalam tengah-tengahnya menangis sesenggukan.


Hitomi justru menanggapinya bukan dengan tersentuh atau hendak menenangkannya, namun sebagai suatu kejanggalan. Ia membatin, “Baru kali ini bintang yang telah kubaca salah....


“Zeeta ... dirimu benar, tapi melenceng disaat yang sama.


“Kau yang ada di hadapanku saat ini memanglah gadis yang naif sampai benar-benar memutuskan hal yang sama seperti yang kauambil dari duniamu—membiarkan musuh mengumpulkan Batu Jiwa.


“Tapi, selalu ada hal yang hanya orang lain lihat menyala terang di dalam dirinya, disaat dirinya sendiri menganggapnya itu hanyalah kegelapan yang menakutkan.


“Dirimu yang satu ini ... tidaklah menghadapi dunia dengan pandangan yang benar-benar sama denganmu.


“Dirimu yang memrediksi dia takkan datang menyelamatkan Seiryuu, akan kujamin hal itu adalah salah.”


Hitomi berjongkok ke hadapan Zeeta. “Lihatlah aku!” perintahnya. Dengan pipi yang sembab, hidung yang beringus, dan mata yang berlinang, Zeeta mendongak.


‘PLARRR!’


Hitomi menampar keras Zeeta hingga pipinya memerah dan dirinya terjatuh. “Jangan kecewakan aku, Zeeta!


“Kau adalah Benih Yggdrasil seperti aku! Kaupikir kaubisa menyelamatkan kekaisaranku seorang diri?


“Jika kaubisa, maka aku pun bisa! Aku ini sama sepertimu, seorang Benih Yggdrasil! Pun dengan laki-laki yang bernama Klutzie itu!


“Bila kita bersama, Naga, ataupun dirimu sendiri itu, pasti bisa kita hadapi!”

__ADS_1


__ADS_2