Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Kegelapan yang Menerangi


__ADS_3

Baru beberapa hari setelah Galdurheim diguncang oleh "Malam Neraka" atau "Melodi Neraka", penduduknya di segala penjuru memang masih waspada dengan kejadian serupa dengannya, namun tidak seperti ini.


Fajar baru saja menunjukkan wajahnya dan hendak menghangatkan galaksi termasuk Bumi, namun nyatanya, penduduknya justru disambut oleh sesuatu yang amat gila. Langit dipenuhi oleh lingkaran sihir yang ingin memuntahkan meteor, sudah seperti ingin menghancurkan Bumi beserta isinya.


Kendati demikian, mereka yang hanya bisa menonton dari tanah, bisa melihat bahwa ada beberapa orang atau makhluk sihir yang berusaha untuk menghancurkan lingkaran sihirnya atau meteornya. Beberapa diantara mereka adalah Riruko dan Saitou, para prajurit kerajaan Aurora, serta para Elf. Namun, bagaimana dengan belahan dunia lain?


.


.


.


.


"Ini adalah waktunya kita semua bergerak!" seekor makhluk sihir berpidato di hadapan banyak makhluk sihir lain dan Phantasmal yang ada di kubah sihirnya. Makhluk sihir tersebut adalah Roh Kuno Angin, Zephyr. Mereka yang menjadi pemirsanya menatapnya serius.


"Aku sudah melihat dan mendengarnya dengan anginku. Kunci dari Ragnarok kali ini, adalah seseorang yang benar-benar menginginkan kedamaian terlepas dari apa yang akan terjadi kepadanya. Tentunya, jika ingin mewujudkan kedamaian tersebut, dia tidak bisa melakukannya sendirian.


"Kita sudah melihatnya sendiri di atas kepala kita. Ini adalah waktunya kita bergerak dan berubah.


"Keputusanku untuk melindungi dan menyembunyikan kalian sejak Ragnarok yang terakhir, adalah bentuk keraguanku pada keturunan mereka. Pada kala itu, aku berpikir bila waskita Yggdrasil benar, maka kalian tidak harus terlibat dalam pertempuran yang dipicunya. Namun, sekarang jawabannya sudah jelas. Kalian semua sudah kuberitahu melalui anginku siapa musuh utama kita.


"Demi menjawab keinginan kita yang sama dengannya, demi mewujudkan kedamaian yang sudah lama kita semua dambakan....


"AYO KITA BANTU ZEETA AURORA XXI!"


"YAAAAA!!"


Begitu para makhluk sihir dan Phantasmal menjawab, mereka segera menyebarkan diri untuk membantu menghancurkan lingkaran sihir bermeteor tersebut.


......................


[Kembali pada pertempuran Arata vs. Surtr....]

__ADS_1


Arata telah saat ini berdiri seorang diri di salah satu tembok kekaisaran yang utuh tetapi rusak. Ia tidak ingin bergerak lebih dahulu, karena ia pun paham Surtr memiliki kekuatan yang tidak bisa diremehkan. Namun, hal itu tidak berlangsung lama sebab Surtr memerintahkan para pengikut Vulkannya untuk mengepung dari dua arah Seiryuu.


Arata mengernyit. Tidak mungkin ia tinggal diam. Ia berkuda-kuda dengan awalan berjongkok. Ia menarik kaki kiri ke belakang dan dua tangan di depan dadanya.


"Akan kuberikan kekuatanku, pakailah."


Arata mendengar suara Fafnir, juga merasakan kehadirannya dari dalam tubuh. Beberapa saat kemudian, kaki kirinya berselimutkan api biru hingga ke betisnya. Dia lalu melakukan gerakan memutar sembari melompat dengan menggunakan kaki kanan sebagai tolakan.


'BWASSHHH!'


Api menjalar memutar hingga mencapai para Vulkan. Mereka segera terbakar, namun Surtr langsung menanggapinya dengan Rune yang segera memadamkannya. Arata tidak menduganya dan segera dibuat emosi.


"Percuma saja melawanku, meski sebanyak apapun Naga di dalam tubuhmu, Manusia. Selama ribuan tahun ini, kaupikir aku tetap seperti yang dulu, Naga-Naga Bajingan?!"


"Teruskan saja seranganmu dan ikuti instruksi kami." Fafnir melanjutkan.


Arata kemudian melemaskan seluruh persendiannya agar memudahkannya bergerak. Ia lalu mengambil napas panjang, kemudian melompat untuk menghantam tanah di depan tembok. Tanah tersebut segera melontarkannya lurus pada Surtr.


"Dia tidak memiliki mana, namun bisa mengendalikan alam?" batin Surtr bertanya-tanya. "Tidak, itu bukanlah berasal dari mana, tetapi dari para Naga yang ada di dalam tubuhnya!"


"Aku sudah menduganya!"


Surtr terkesiap dengan ucapan itu.


Arata memindahkan jalur bola apinya dengan gerakan tangan gemulai seperti ombak dan mengarahkannya ke langit. Segera saja, banyak lingkaran sihir yang hancur setelahnya bersamaan dengan ledakan yang sangat dahsyat dan menyebabkan angin kencang. Tindakannya memaksa para Vulkan berhenti sejenak dan itu memberi waktu bagi Riruko dan Saitou untuk mereformasi pasukan agar mampu menghadapi para Raksasa yang semakin mendekat.


"Naga-Naga Bajingan ... kalian mengetahui Rune dari pertarungan lama kalian dan sengaja melakukan ini...."


"Ya. Itu benar. Walau aku memang terlihat remeh dimatamu, namun aku memiliki keuntungan dari para Naga.


"Mereka memberitahuku bahwa lingkaran sihir di langit itu memiliki aliran Rune, jika di hancurkan dengan kekuatan Rune yang serupa, maka itu akan saling menghancurkan."


"Kalau begitu...." Surtr mengepalkan tangannya erat. "TIDAK PERLU MENAHAN DIRI! HANCURKAN SAJA SEMUA YANG KALIAN LIHAT!" bersamaan dengan jeritannya, area di sekitar dirinya dan para Vulkan segera memerah karena panas yang ekstrim.

__ADS_1


"Tsk." Arata mendecit, tidak senang dengan tindakan mereka. Ia bergegas untuk kembali ke Seiryuu, namun....


"TETAPLAH DI SANA, ARATA!" Saitou menjerit, yang perlahan mengubah bentuknya menjadi Naga. Ia bersisik hitam dan kuning gelap. Bentuknya mirip seperti ular raksasa dengan kaki yang pendek. Tubuh bersisiknya memiliki "cabang" atau lebih mirip seperti "duri" tajam nan keras yang menambah kesan bahwa ia adalah Naga yang berbahaya. Sayapnya terbuka lebar untuk membawanya ke angkasa, target mata bersinar putihnya adalah para Vulkan.


Riruko yang melihatnya dari jarak dekat, demikian pula dengan para sukarelawan. Mereka terkejut setengah mati. Mereka pun sama sekali tidak menyangka bahwa Saitou adalah Naga dan Arata mengetahui tentangnya.


Para Raksasa yang berada di luar medan pelindung bersiaga dengan kedatangan Saitou—Nidhogg—yang mampu menembus pelindungnya dari dalam. Mereka mengacungkan senjata yang dibawa masing-masing untuk segera menyerang bila Nidhogg sudah mendekat.


Nidhogg teringat dengan pertempuran Ragnarok yang melibatkannya juga ribuan tahun silam. Bagaimana banyaknya jumlah korban jiwa dan itu akan terulang lagi kali ini. Namun, situasi saat ini berbeda. Alasan para Manusia yang dikenalnya bertarung, termasuk dirinya sendiri bukanlah demi keegoisan atau keinginan sementara, tetapi untuk kedamaian abadi bagi semua ras di Bumi.


Nidhogg dahulu bersarang dekat Omega dan anak-anaknya, tepatnya di dasar Yggdrasil—sebut saja akarnya. Kala itu, ia menyaksikan seperti apa Omega dan anak-anaknya "tewas oleh Manusia", namun jika Yggdrasil tidak bertindak, maka ia pun akan diam saja, entah sepenting apa kebenarannya. Ia lalu berubah semenjak Carlou mengajaknya masuk ke kubunya. Segala pandangannya "dicuci" oleh Carlou. Lalu sebenarnya Naga seperti apa Nidhogg itu?


......................


[POV Nidhogg.]


Aku adalah sosok penyeimbang bagi dunia. Di dunia ini ada cahaya maupun kegelapan, ada kebaikan maupun keburukan. Meski aku berada di sisi kegelapan, bukan berarti aku melakukan keburukan. Demikian pula sebaliknya. Yggdrasil menghidupi semuanya seimbang dan aku menjaga keseimbangan itu. Siapapun yang mengancam keberadaan Yggdrasil, akulah lawan mereka dan jangan harap untuk bisa pulang hidup-hidup.


Di satu sisi, apa yang kulakukan tak bisa dimaafkan, tetapi itu untuk mereka yang telah mengancam keberadaan Yggdrasil. Aku hanya melakukan tugasku sebagai penyeimbang.


Kekuatanku mampu memberi "mimpi buruk" bagi lawan. Mimpi itu akan mengambil nyawanya cepat atau lambat. Kekuatanku mirip dengan ilusi, tetapi lebih kuat daripadanya. Jika ilusi hanya bersifat sementara, aku tidak. Aku akan memberikan mereka "mimpi buruk" yang paling tidak ingin mereka lihat hingga merusak mental yang pada akhirnya memojokkannya untuk bunuh diri.


Kendati demikian, tidak berarti aku tidak kuat dari segi fisik. Selama bersarang di akar Yggdrasil, aku pun mendapatkan kekuatan yang besar pula. Seharusnya Omega dan yang lain bisa hidup jika mereka mau, sebab mereka pun tinggal di dekatnya. Intensitas mana di bawah Yggdrasil sangatlah kuat, yang sangat tidak memungkinkan bagi Peri ataupun Manusia bisa membunuh Raksasa. Aku tidak tahu alasan apa yang menyebabkan Omega seperti itu, aku pun tidak peduli, sebab aku tahu ia memiliki alasannya sendiri.


Pandanganku terhadap "tidak perlu melakukan apapun selama tidak ada yang mendekati Yggdrasil" dipatahkan setelah Carlou menceritakan dan memerlihatkanku sendiri seperti apa para pemilik kekuatan Bulan dan Matahari, sejarah, dan kondisi mereka saat ini.


Mereka jauh lebih kuat dari Naga, tetapi hanya untuk mereka yang benar-benar terpilih oleh Bulan dan Matahari. Sisanya memang kuat, tetapi jarang dari mereka yang mampu menggunakannya secara maksimal.


Aku keluar dari Yggdrasil untuk melenyapkan "ketidakseimbangan" itu, tetapi keputusanku adalah salah, namun aku takkan menyesalinya.


Mataku dibukakan lagi tidak hanya ketakutanku lada Jormundgand, tetapi seorang lelaki Manusia yang telah membunuh rekan sebangsa sekaligus rekan satu kubuku, Sephiroth. Tidak akan pernah lupakan namanya ... Orion Aurora.


Dia telah kehilangan segalanya. Wanita yang sangat dicintainya, Artemis, dia juga kehilangan banyak rekan seperjuangannya. Pada malam Bulan Darah itu, segala yang dilakukannya pada Ragnarok mengubah tatanan dunia. Dari mataku, ia menghancurkan Yggdrasil, tetapi setelah mengembara di Galdurheim bertahun-tahun, aku mendapatkan jawaban pastinya.

__ADS_1


Ini persis dengan yang diceritakan Carlou padaku, tentang Aurora pertama, Gala. Ia pasti bersepakat dengan Yggdrasil dan Spirit dari bulan, Seele. Entah apa isi kesepakatan itu, tetapi aku yakin ini ada hubungannya dengan dunia sihir yang semakin kacau balau.


Dengan demikian, hanya ada satu jawabanku untuk segala yang terjadi. Seperti kataku di awal, berada di sisi kegelapan, bukan berarti adalah jahat. Di kehidupanku yang semakin tua ini, aku akan membantu Ragnarok selesai dan membawa akhir yang bahagia untuk semuanya!


__ADS_2