Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Wajah Aurora yang Tercermin dari Sang Putri


__ADS_3

Kerajaan Aurora, tiga puluh menit setelah keberangkatan pasukan ekspedisi yang terdiri dari gabungan Crescent Void, salah satu putri kerajaannya, juga tiga orang Elf, sedang kedatangan tamu tak diundang yang berasal dari Seiryuu.


Kubah transparan, dengan pola segi delapan di keseluruhan kubahnya, mendadak muncul melindungi sekerajaan. Kubah itu pun bertuliskan Rune Elhaz. Itu artinya, terjadi serangan besar yang memaksa Rune-nya aktif.



...Rune Elhaz...


Dan serangan itu terjadi di gerbang timur, dimana wilayahnya dikuasai oleh Count Porte Ophenlis VIII. Warga lokal di sana langsung berhamburan panik, mendengar dan melihat daya ledaknya yang teramat besar.


Porte yang sedang berada di kediamannya juga ikut keluar, melihat apa yang terjadi. Begitu dia keluar, seorang prajuritnya melapor padanya.


“Pak!” seru Si Prajurit, “musuh berjumlah dua dan bukanlah Phantasmal.”


“Apa?” Porte mengernyit. “Apa mereka menggunakan sihir?”


“Ka-kami tidak tahu tepatnya, tetapi mereka hanya memakai tangan kosong.”


Porte langsung menangkap siapa tamu tak diundang ini. “Sudahkah kalian laporkan pada istana?”


“Sudah. Grand Duke Albert telah menurunkan bantuan!”


Tetapi tepat setelah Si Prajurit mengatakannya, ledakan-ledakan terjadi beruntun meski dayanya tidak sebesar sebelumnya.


“Perintah Anda, Pak?”


“Putriku sedang dalam misi yang bersangkutan dengan orang-orang ini...,” batin Porte, “selain itu, aku juga sudah mendengar kabar bahwa Putri Zeeta juga sedang menginterogasi Putra Mahkota mereka yang menyusup dengan terang-terangan.


“Lantas, apa tujuan mereka hanyalah Putra Mahkota? Jika serangan dadakan ini ditujukan untuknya, maka....”


Baru ingin mengungkapkan perintahnya, Porte melihat Zeeta, Ashley, dan seorang lelaki terbang menuju gerbang timur. Merasa ada yang tak beres, perintahnya pun berubah. “Bersiaga dan jaga jarak aman dengan target. Tunggulah perintah lanjutan dari Putri.”


“Siap, laksanakan!” Si Prajurit langsung menyebar perintah Porte pada rekan-rekannya.


“Aku akan menyusul Putri, kalian lindungilah warga. Tidak perlu Labirin Cremlyn.”


“Siap, Pak!”


......................


Zeeta, Ashley, dan Arata—Putra Mahkota Kekaisaran Seiryuu, tiba di tempat kejadian perkara. Mereka melihat beberapa prajurit terluka, ada pula yang tewas dengan luka ledakan dan noda hitam di tubuhnya. Zeeta melihat Arata sedang mengernyit, lalu ia mengikuti arah mata itu memandang, dan mendapati sosok dua manusia yang dilaporkan prajurit pada Albert.


“Apa kau mengenal mereka?” tanya Zeeta.


“Ya, aku mengenalnya,” jawab Arata, “tapi....” Ia kemudian turun menghampiri keduanya.


Ketika Arata turun menghampiri dua manusia dari kekaisaran, Nanashi dan Asuka, mereka terkejut. “Ya-Yang Mulia...?!” mereka segera bertekuk lutut. “Kami tak menduga Anda berada di sini....”


“Aku pun tidak menduga kalian datang ke sini.


“Lalu, atas perintah siapa kalian lakukan ini?”


Nanashi dan Asuka saling menatap satu sama lain. Kemudian, Nanashi, pria berambut kuning dengan kain merah terikat di keningnya, menjawab pertanyaan Arata. “Kami datang atas perintah Paduka Zero, Yang Mulia.


“Jika Anda tidak keberatan, apa kami juga boleh tahu tujuan Anda berada di sini?”


“Hm. Ayahku, kah....


“Aku sedang dalam urusanku sendiri di sini.


“Lalu, apa ayahku mengizinkanku untuk tahu apa perintahnya pada kalian?”


“Tentu saja. Anda adalah putra kebanggaannya, tidak mungkin beliau menyembunyikan sesuatu dari Anda.


“Kami diperintah untuk menyerbu Aurora. Beliau berkata, kerajaan ini adalah ancaman terbesar untuk kebesaran Seiryuu.”


“Menyerbu? Hanya dengan kalian berdua?”


“Ya!” Nanashi menjawabnya dengan semangat. “Kami pasti bisa menembus Aurora, tapi ... kubah pertahanan itu tidak bisa kami tembus entah seberapa kuat kami kerahkan ki. Te-tenang saja, Yang Mulia, nama Seiryuu pasti akan harum oleh kami!”


“Begitu....”


Nanashi merasa ada yang aneh dari jawaban Putra Mahkotanya. Iapun mengernyit dan bolak-balik melihat ke arah darimana Arata datang dan ekspresi yang diberikannya saat ini. “Hei, Gendut!” panggilnya pada Asuka, “bersiaplah. Posisi sepuluh!”


Asuka terkejut mendengarnya, tetapi karena itu datang dari Nanashi, ia langsung bergerak.


Keduanya memberi kuda-kuda yang berbeda. Asuka, tidak hanya berkuda-kuda, ia juga mengepalkan kedua tangan dan menariknya ke belakang. Sementara itu, Nanashi kini bersembunyi dibalik Asuka dan berkuda-kuda—kaki kanan ke depan, kaki kiri ke belakang. Tangan kanan ke depan, kiri ke belakang dengan telapak yang ditutup.


Tak lama kemudian, kedua orang Seiryuu tersebut mengeluarkan aura yang berbeda—yang juga disambut oleh ledakan besar yang datang dari Arata—hingga melontarkan bebatuan bahkan jasad-jasad prajurit yang berada di luar kubah tak tentu arah.

__ADS_1


Kala itulah, Porte tiba di samping Ashley, melihat jasad-jasad yang terhempas tak tentu arah itu dihentikan oleh Zeeta dengan gerakan tangannya—melindungi tubuh mereka dengan semacam perisai untuk tidak terluka lebih banyak.


“A-apa yang terjadi di sini...?” tanya Porte.


Mengabaikan Porte, Zeeta berkata, “Aku akan mengusir mereka.”


“Apa kauyakin?” tanya Ashley.


“Putra Mahkota itu memiliki masalah dengan internal kekasiarannya. Jika dia menyeret kita, tidak hanya akan menyulitkan misi ekspedisi, tetapi juga akan merepotkan bagi kita untuk melangkahkan kaki mendekat pada Hitomi Reiko.”


“Usirlah dengan bijak.”


“Aku tahu.”


......................


“Yang Mulia Arata!” seru Nanashi, “apa yang Anda lakukan tiba-tiba?!”


Asuka yang sebelumnya berkuda-kuda di depan Nanashi, tergeletak tak berdaya setelah menjadi perisainya.


“Aku sudah bilang,” jawab Arata, “aku memiliki urusanku sendiri di sini.


“Dan kalia—“


“Mengertilah posisi kalian, orang-orang tidak beradab.” Zeeta menghampiri mereka dengan sihir terbangnya.


“Ka-kau...?!” Nanashi terkejut dengan kedatangannya.


“Aku sudah mendengar semuanya. Pria bernama Nanashi, aku dengar dari mulutmu sendiri jika kalian hendak menyerbu Aurora?”


“Ji-jika kau memang mendengarnya, untuk apa kau bertanya?!”


“Apa kalian meremehkan kami, Seiryuu?”


‘BWMM!!’


Mendadak, Nanashi dipaksa jatuh ke tanah, begitu juga dengan Arata. Keduanya terbelalak, tak menduga sekaligus bingung mengapa mereka mendadak jatuh. Ketika mereka mendapati siapa dalang dibaliknya, mereka menyaksikan mata biru yang menyala—membuat mereka seakan merasakan teror yang sangat menekan.


“Kaisar kalian tampaknya benar-benar meremehkan kami hanya karena kalian memiliki kekuatan Naga, ya,” ujar Zeeta, sambil berdiri tegak menyilangkan kedua tangannya. “Katakanlah padaku, pria bernama Nanashi.


“Kau memiliki kekuatan Naga dan pria di depanku ini juga, ‘kan?


“Mengapa kalian yang memiliki kekuatan ras terkuat di dunia sihir ini ... bisa jatuh ke tanah?


“KATAKAN PADAKU!”


“Tu... Tuan Putri Zeeta ... apa yang kau...?!” Arata bingung sendiri. Mengapa mendadak Zeeta bersikap seolah dirinya orang asing layaknya Nanashi—sekaligus musuh?


“Aku sedang bertanya, jangan alihkan pertanyaanku!” bentak Zeeta, yang secara bersamaan membuat keduanya semakin jatuh ke dalam tanah.


“A-apa-apaan ini?!” batin Nanashi, “siapa sebenarnya gadis ini?!


“Aku tahu dia Putri kerajaan ini, tapi... ini lebih gila dari apa yang diperkirakan Paduka Zero!


“Apa... apa beliau ... salah kalkulasi?!”


“Tidak ... apa beliau hanya ingin menumbalkan kami hanya sebagai contoh seberapa berbahayanya Aurora terhadap Seiryuu?!


“Ya!


“Pasti itu alasannya!


“Jika begitu, mati pun—“


“Aku takkan merenggut nyawa seolah aku bermain-main dengannya. Aku BUKANLAH pembunuh seperti kalian.”


Nanashi kaget Zeeta bisa tahu apa yang dipikirkannya.


“Aku akan membiarkan kalian pulang dan menganggap tidak ada yang terjadi... dengan satu syarat sederhana. Beritahulah Kaisar kalian pesanku.


“Katakanlah padanya bahwa, ‘kami tidak akan mengetuk pintu kalian, apabila kalian tidak mengganggu kami. Tetapi, kami akan mendobraknya jika kalian melangkah lebih dekat pada kami.


“Dunia sudah pada garisnya yang benar. Jika kalian hendak mengubahnya, kami akan menghentikannya.


“Namun, mengertilah satu hal.


“Aku adalah Benih Yggdrasil.


“Tujuanku adalah menumbuhkan kembali Yggdrasil, sebagaimana Roh Yggdrasil-lah yang memintaku melakukannya. Sadarilah jika kalian melanggar apa yang kukatakan, maka kalian sedang melawan Yggdrasil.

__ADS_1


“Aku tahu kalian pun memiliki Benih Yggdrasil kalian sendiri dan dia sedang melakukan apa yang menurut dia benar. Namun, ada satu hal yang harus dia ketahui sebelum semuanya terlambat.


“Raksasa ... bukanlah contoh yang pantas untuk memperbaiki manusia.


“Untuk selamanya, manusia akan menjadi makhluk yang bodoh, kejam, biadab, dan tidak memiliki nurani.


“Tetapi disaat yang sama, manusia juga makhluk yang penyayang, peduli, juga berhati besar.'”


Setelah Zeeta mengucapkan semuanya, ia melepaskan kekangan yang membuat Arata dan Nanashi jatuh ke tanah. Matanya kembali seperti biasa, teror yang menekan Nanashi dan Arata pun turut senyap. “Pulanglah,” tutupnya.


Sementara Arata berkecamuk dengan semua yang baru saja dikatakan Zeeta, Nanashi langsung membopong Asuka, dan pergi dengan wajah yang sama sekali tidak puas.


Zeeta menatap heran Arata. “Apa lagi yang kautunggu? Pulanglah.”


“Apa itu berarti....” Arata menduga-duga.


“Tidakkah kau mengerti, Putra Mahkota?!” Ashley berteriak.


Zeeta kemudian pergi meninggalkan Arata begitu saja, membelakanginya.


“Zeeta bilang, ‘pulang’!”


Perlu beberapa saat bagi Arata untuk menyadarinya. “Ah...!”


Setelah mengerti maksudnya, Arata pun ikut mengangkat kaki dari Aurora.


......................


Zeeta menghampiri Porte di atas gerbang. “Ada berapa jumlah tewas?” tanyanya.


“Genap dua puluh orang,” balas Porte.


“Haaah....” Zeeta menghela napas panjang sambil menekan keningnya. “Lagi-lagi....”


Porte menatap dalam Zeeta yang tertekan atas tewasnya para prajurit penjaga gerbang. Ia kemudian menepuk bahunya. “Sebaiknya jangan seperti itu, Nak.” Porte bicara bukan sebagai bawahannya, melainkan sebagai orang tua.


“Eh...?” ucapan Porte membuat Zeeta tersentak. Ia melihat mata pria paruh baya di depannya.


“Prajurit-prajurit itu tewas demi melindungi Aurora—yang juga berarti melindungimu dan semua yang ada di dalamnya. Jika kau bersikap seperti ini, itu berarti kau menghina jasa mereka.”


“....” Zeeta menunduk lagi. “Aku ... mengerti itu. Tapi ... hanya saja ... aku tidak pernah bisa terbiasa. Dengan kekuatan yang sebesar ini, aku masih sa—“


“Hentikan itu,” tukas Porte, “jika kau terbiasa, kau bukanlah manusia lagi. Menangislah untuk mereka, menyesallah terhadap kepergian mereka, tetapi jangan bersikap seolah-olah kepergian mereka adalah salahmu.


“Mereka mengorbankan jiwa dan raga karena itu sudah jadi keputusan mereka.


“Angkatlah dagumu, tegakkanlah dada, dan pandanglah lurus ke depan. Ada sesuatu yang harus kauraih, hingga membuatmu masih ingin terus berjuang, bukan?”


Zeeta tersenyum tipis. “Uhm.... Kau benar. Terima kasih, Tuan Porte, rasanya hatiku sudah lebih baik....”


“Ya!” Porte menyuguhkan senyum lima jarinya. “Ingatlah, jangan terlalu memaksakan dirimu, atau kau akan membuat banyak orang sedih, terutama putriku! Soalnya dia selalu terpaku padamu, bukan? Hahahaha!”


“Hehehe. Itu benar.” Zeeta melebarkan lagi senyumnya. “Melly ... adalah teman bangsawan pertamaku.... Sikapnya yang tidak pernah ingin kalah, rasanya membuatku juga ingin menirunya!”


“Begitu, kah?


“Aku turut senang jika kau pun bahagia. Tapi sepertinya, sudah saatnya kita kembali ke tugas kita masing-masing.”


Zeeta menarik napas dalam-dalam, lalu menghelanya. “Sip! Aku sudah fully charged! Aku harus kembali ke istana dan melaporkan kejadian ini. Terima kasih banyak, Tuan Porte! Kuserahkan sisanya padamu!” Zeeta berteriak selagi menjauh dengan sihir terbangnya.


Matahari terbenam, menemani Ashley dan Porte yang ditinggal Zeeta sendiri di sana


“Zeeta adalah gadis biasa pada umumnya. Bukankah begitu, Nyonya?” tanya Porte, sambil tersenyum.


“Kenapa kau bertanya? Tentu saja jawabannya sudah jelas,” jawab Ashley yang ikut tersenyum.


“Aurora sungguh diberkahi. Walaupun banyak rintangan berat, rasanya, jika gadis itu tersenyum, semua rintangan yang sudah ataupun akan dilalui terasa ringan.”


“Hahahaha. Sungguh. Tak kupercaya kaubisa mengatakannya.


“Seberapa ragunya kau dulu untuk meninggalkannya sendirian? Sekarang kau justru mengandalkannya.”


“Anda benar. Aku sangat mengkhawatirkan nasibnya kala dia dijebak oleh Rowing, tetapi sejak saat itu, dia tumbuh menjadi gadis yang seperti ini. Tidakkah Anda merasa bangga, memiliki murid seperti dia?”


“Bangga? Lagi-lagi... apa kau harus menanyakan hal sekecil itu? Tidakkah kau paham dari raut wajahku ini?


“Tapi, aku tetaplah mengkhawatirkannya. Meskipun dia bisa diandalkan, kapanpun dia merasa kacau di dalam hatinya, dia langsung murung. Untuk dirinya juga, kita pun tidak bisa memaksakan diri kita terlalu keras, hingga membuatnya kembali berwajah seperti tadi.


“Lagi pula, anak itu sudah merasa ikatan yang erat dengan kita. Saaangat erat.”

__ADS_1


“Ya. Sangat erat,” pungkas Porte, masih dalam senyumnya.


__ADS_2