
Zeeta, seorang diri di pulau layang Nebula yang kini hanya menjadi puing-puing yang melayang. Akibat pertempuran yang terjadi, bisa dibilang, Nebula sangat merugi atas kehancurannya. Tetapi untungnya, bangunan yang bak tongkat sihir—tempat dimana titik kekuatan Nebula berada—baik-baik saja. Bagian atasnya yang menyala seperti lampu pun, atau yang disebut sebagai Vanadust, masih terang seperti biasa.
Saat ini, Zeeta tidak lagi duduk, tetapi berdiri di atas sebuah lingkaran sihir berwarna-warni. Bagian perut dan atas kepalanya juga terdapat lingkaran sihir namun dengan pola Rune yang berbeda. Ketiga lingkaran sihir berpola Rune di tengahnya itu berputar—dua diantaranya searah jarum jam—sementara satu di perut sebaliknya. Ia memegang tongkat sihir Catastrophe Seal-nya seperti sebuah penyanggah badan. Ia menarik napas dalam, lalu menghelanya perlahan.
“Kak Azure....” Ia merasakan mana Azure sambil memejamkan matanya. “Pemecah batas.... seperti itulah sihir yang sekarang kaugunakan. Kau memompa seluruh bagian di dalam tubuh dan sirkuit sihirmu untuk melepaskan kekuatannya dengan paksa sehingga membuatmu tampak berurat seperti itu.
“Memang, itu cara yang efektif untuk mengatasi masalah perbedaan kapasitas mana saat bertarung, tetapi jika dibiarkan terlalu lama....”
Zeeta mengakhiri batinnya dengan mencengkeram tongkatnya. "Sudah waktunya Rune-Rune yang kutulis pada mereka hilang efek."
......................
Azure terus menerus saling membalas sihir besar maupun sederhana dengan Marianna. Dentuman sihir, tanah yang hancur, ataupun pohon dan bebatuan yang berterbangan menjadi awal hari yang tidak begitu menyenangkan untuk sebagian orang yang menyaksikan mereka—ditambah dengan langit cerah pagi yang mendadak menggelap kemana pun mereka mengarah. Dentuman-dentuman sihir kegelapan mereka mendatangkan petir. Petir kali ini berbeda dengan petir semalam yang diakibatkan oleh Ashley.
Petir-petir yang kini muncul daya hancurnya lebih sedikit, tetapi muncul dengan cepat dan kilat yang membawa jumpscare. Orang dewasa memeluk anak-anaknya yang ketakutan dengan erat dan berharap agar apapun yang terjadi saat ini segera berakhir.
Pertarungan guru dan murid yang telah sampai ke Aurora menjadi pusat mata. Sebagian besar dari mereka tahu siapa gadis berambut hitam—tetapi mereka lebih bertanya-tanya apa yang sudah terjadi padanya dan siapa yang sedang dilawannya itu.
Dua Crescent Void yang kebetulan masih berada di tengah keramaian rakyat—yaitu Marcus dan Danny—menyaksikannya dan langsung menimbulkan pertanyaan di benak mereka. “Apa maksud dari semua tindakan gadis berambut hitam-biru itu sebelum ini pada mereka?” dan “apa tujuannya?”
Mereka paham bahwa menebak-nebak saja takkan membuahkan hasil jika mereka tidak tahu pasti apa jawabannya. Tetapi, itu tidak berlangsung lama. Seorang pria tua berkacamata, berambut panjang dengan beberapa uban sudah timbul, serta berjaket klinis, datang dari belakang mereka seraya bertanya, “Jadi, gadis itulah yang menyebabkan rumah sakitku dipenuhi kuman, darah, dan erangan sakit?” ia membakar sepuntung rokok di mulutnya, menghisap, lalu meniupnya. “Seorang anak angkat yang baru menjadi tuan putri, berlagak seperti seorang bangsawan yang rela melakukan apapun demi melindungi hal berharga baginya.
"Tidakkah kalian pikir itu sebuah ironi? 'Bangsawan' yang sangat dibencinya, justru menjadi bagian dari kehidupannya."
“Mohon maaf sebelumnya,” ujar Marcus yang tidak begitu terima dengan ucapan pria itu, mengingat dia tahu seperti Azure. “Bolehkah kami tahu siapa Anda?”
Pun dengan Danny. Dia tidak senang mendengarnya.
“Oh?” pria itu menyeringai. “Kautak tahu siapa aku meski berada di kerajaan yang sama, Bocah?” ia meniup asap rokoknya pada Marcus. “Aku adalah dokter yang sudah menyelamatkan kalian.”
Marcus mengibas asap rokok sebelum bertanya, “Dokter? Perokok seperti Anda?”
“Pfft.” Pria itu merasa geli. “Apakah salah jika seorang dokter merokok?
“Yah, kesampingkan soal itu, setiap luka yang disebabkannya memang fatal. Meskipun begitu, ketika dia menyerang kalian yang berada di gerbang timur—ia juga menambahkan sihir penyembuh di serangannya.”
Keduanya terbelalak. “Apa?!”
“Dilihat dari bagaimana pertarungan ini, atribut sihirnya pastilah kegelapan—sebuah atribut yang mustahil memiliki sihir seperti itu, entah serajin apa penyihirnya berlatih.”
“Tetapi... Mar—orang yang dilawannya,” ucap Danny, “tampak sembuh setelah menerima serangannya. Seolah takkan ada akhir dari pertarungan mereka....”
“’Sembuh’, katamu?” tanya Si Dokter.
“Eh? Aku salah?”
“Bodoh. Dia itu beregenerasi.”
Danny dibuat mengernyit atasnya. “Anu ... memang apa perbedaannya?”
“Jika diibaratkan seperti ini, Danny,” sela Marcus, “bila seseorang terluka parah hingga membuat tulangnya hancur bahkan seperti debu, regenerasi bisa membuat debu dari tulang itu terbentuk kembali dan menutup luka pada kulitnya seperti tak terjadi apa-apa.
“Namun, jika itu sebuah sihir penyembuh, bahkan jika luka yang diterima sudah ditutup, masih akan menanggalkan bekas luka.”
“Bocah itu benar,” timpal Si Dokter, “tetapi itu regenerasi yang sudah berbeda level. Sihir regenerasi, bahkan kalian dan rakyat pun bisa melakukannya jika itu memungkinkan untuk kapasitas mana kalian.
“Tetapi wanita bertangan absurd itu, seolah tak memiliki batas. Luka yang diterimanya berkali-kali cukuplah fatal. Dari kedatangan mereka ke sini, sudah kuhitung dia beregenerasi selama dua puluh delapan kali dalam waktu yang sesingkat ini.”
“Se-segila itu?!” Danny berkeringat. “Tapi ... bukankah Tuan Putri Zeeta pernah menyembuhkan bibinya yang isunya sudah akan mati... apa Anda bisa mengetahuinya?”
“Putri Zeeta?!” teriakannya mengundang mata rakyat mengarah padanya. “Beliau adalah pemilik atribut cahaya, bangsawan, sekaligus Aurora! Sihir penyembuhannya berbeda level dengan kita, apa kau bercanda?!” Dokter itu bicara dengan sangat cepat.
“O... ouh....” Danny menanggapinya pelan karena perbedaan sikapnya yang mendadak tajam.
“Ah!” para rakyat mulai menghampiri ketiganya. “Dokter, apa seluruh pasiennya sudah disembuhkan?”
“Terima kasih atas kerja kerasnya, Dokter!”
__ADS_1
“Beristirahatlah yang cukup setelah ini, Dokter!”
Keduanya yang sama sekali tidak tahu siapa sebenarnya identitas pria itu sampai dielu-elukan seperti ini, meninggalkan wajah yang mudah ditebak. “Tak ada pilihan lain.” Si Dokter mengibaskan jaket klinisnya. “Dengarlah baik-baik, Bocah-Bocah yang Tak Sayang Nyawa!
“Namaku adalah Charlie, Kepala Rumah Sakit dan penerus Guinerva yang kedelapan belas!” ia mengakhirinya dengan pose menekan kacamata dengan jari tengah dan meniup asap rokoknya.
“Yo!” seorang rakyat bertepuk tangan.
“Keren sekaliii, Dokter!”
“Ciuut ciuut!”
Danny dan Marcus tak menyangka sebuah gap dari dokter tua itu yang masih bisa percaya diri meski diusianya yang sudah... layu.
“Ho-hore untuk semangat masa muda....” Danny terpaksa mengikuti alur.
“Ye-yeeey....” Marcus juga. Meski terpaksa, ia mengangkat tangannya.
“Fufufu... kalian pun mengerti. Bagus bagus." Charlie menyilangkan tangan lalu mengangguk-angguk. “Baiklah! Perkenalan dan berlebihannya sampai disini saja!
“Raja dan beberapa penjaga istana telah memintaku untuk hadir dalam pertemuan mereka, tetapi melihat kondisi ini, sebaiknya kutolak.
“Crescent Void. Ingatlah peringatanku.
“Disaat genting, janganlah meregenerasi sebuah luka parah, membuat sihirnya secara individu ataupun bersamaan!
“Nyawa tidak bisa dimain-mainkan dengan hanya sebatas imajinasi. Aneh jika kubilang ini di dunia yang segalanya mungkin dengan sihir, tetapi....
“Jika imajinasi itu tidak dibarengi dengan mana yang cukup... apa yang ingin diperbaiki justru semakin rusak.
“Camkanlah itu, Bocah-Bocah!”
Seorang remaja dan seorang lelaki dewasa ini langsung merasakan karisma dari Charlie. Meski kepribadiannya cukup aneh, mereka tahu bahwa ia adalah dokter yang hebat, yang bisa diandalkan.
“Nah, sekarang, pergilah. Kalian termasuk penjaga kerajaan. Tak seharusnya kalian berlama-lama di sini—apalagi menunda panggilan Raja.
“Crescent Void yang lain akan kami beritahu setelah mereka siuman.”
Tak lama setelahnya, senyuman itu segera larut menjadi wajah serius. “Baiklah.... Bisakah kalian bantu aku untuk melakukan sesuatu? Aku merasa firasat buruk akan terjadi pada rumah sakit ini.”
......................
Marianna muak dengan seringnya dirinya menerima luka fatal dari Azure. Iapun melakukan serangan lanjutan. Dengan memutar-mutar tubuhnya layaknya seperti bola, ia juga membuat sabit dengan gagang yang lentur seperti tentakel. Sabit itu bahkan dua kali lebih besar darinya. Kaget dengan gerakan dadakan yang dibuat Marianna, Azure menghentakkan kakinya untuk mundur.
Namun sayang... Rune Algiz yang memperkuat pertahanannya hilang dan ia terbelalak. Detak jantungnya mendadak berpacu begitu cepat, ia juga kehilangan napas. "Brffgh!" ia memuntahkan darah begitu saja. Setelah itu, ia kehilangan kesadaran dan jatuh.
Tidak menyianyiakan kesempatan, Marianna lekas menyerangnya dengan sabit yang siap mencabik-cabik—membalas perbuatannya.
'BRSSZHT!'
Darah memandikan sabit dan tumpah layaknya air ke tanah. Rakyat Aurora yang kebetulan menjadi penonton lari begitu tahu darah akan jatuh. Mereka berhamburan layaknya semut menjauhi sarangnya. Marcus dan Danny yang masih dalam perjalanan menuju istana terbelalak dan menganga. Betapa banyak darah yang ditumpahkan tidak hanya dari mulut tetapi juga dari bagian depan tubuhnya yang berlubang akibat sabit.
Charlie mengernyit. Ia mengaktifkan sebuah sihir dari telinga. "Segera siapkan ruang operasi dan sterilkan! Persiapkan juga pasokan darah sebanyak-banyaknya untuk ditransfusi!"
"Apa yang terjadi? Dia seperti kehilangan kekuatannya secara instan!"
Marianna tidak berhenti. Walau ia melihat Azure telah terkapar di tanah bersimbah darah, ia mengangkat tangan kanan monsternya. Ia sesaat melihatnya, lalu menyeringai selebar-lebarnya. Ia tahu tak ada lagi kekuatan aneh yang mengekang tangannya.
Charlie yang melihat seringai itu langsung bergidik. Seperti melihat sebuah iblis yang senang akan kebebasannya, seringai itu menunjukkan gigi tajam. Kepala yang dilihat kedua matanya dimiringkan beberapa derajat, menambah kengerian.
'ZZZMMM!'
Gravitasi mendadak semakin berat bagi seluruh Aurora, hingga memecahkan kaca dan beberapa bangunan. Gravitasi itu juga menurunkan pulau layang dengan paksa.
"A-apa yang terjadi?!"
Seluruh rakyat menjadi panik serentak. Marcus dan Danny juga jatuh terpelanting ke tanah.
__ADS_1
"Tubuhku ... tak bisa digerakkan!" seru Danny, berusaha melawan.
"Apa ini ... sihir...? Gravitasinya ... mendadak...," kata Marcus.
.
.
.
.
Tidak hanya rakyat, Marcus dan Danny, tetapi semua yang adabdj istana juga. Tetapi, tidak seperti Zacht, Aria, Eizen, juga semua yang berada di dimensi penyembuhan, Alicia dan Scarlet masih bisa menahan dengan tubuhnya saja yang membungkuk.
"MARIANNA!" jerit Alicia yang marah, "dia telah melukai putriku! Aku harus segera ke sana!"
"Jangan gegabah, Alicia! Jika kau juga jadi korban, entah apa yang terjadi pada kerajaan!" Scarlet mencengkeram pergelangan tangan putrinya.
"Tapi bukan berarti aku tidak melakukan apapun! Aku tidak ingin lagi tidak hadir ketika putriku sedang disituasi seperti ini sendirian!"
"Sudah kubilang, jangan gegabah!
"Biar aku saja yang menyelamatkannya!"
Di bagian lain kerajaan, Raja Hazell dan beberapa penjaga istana yang mengekorinya juga mengalami hal yang sama. Namun, sama seperti Alicia dan Scarlet, Hazell pun menjadi pengecualian. Tidak ada di bagian kerajaan ini selain ketiga orang itu yang bisa menahan gravitasi yang mendadak sangat berat itu.
Tidak lama setelahnya, mereka yang dipaksa tunduk ke tanah merasakan gemuruh. Awan gelap yang menutupi, perlahan menunjukkan apa yang menjadi gemuruh.
Takut....
Panik....
Putus asa....
Berapa kalikah Aurora mengalami hal seperti ini?
Melihat ekspresi rakyat yang seperti itu, membawa kepuasan bagi Marianna. Ia tersenyum puas.
Sepuluh kali lipat lebih besar dan panjang dari meteor yang pernah didatangkan Ozy, Marianna menjatuhkannya.
Para Elf yang berada di Grandtopia pun bernasib sama seperti Aurora. Tak banyak hal yang bisa dilakukan selain berusaha untuk menggerakkan setidaknya satu jari saja.
Sementara Ozy....
Ia berdiri seperti tidak terpengaruh dan mendongakkan kepalanya. Tatapan matanya serius. Meskipun ia berdiri, tanah dibawahnya sudah berlubang dan semakin dalam bersama waktu.
......................
Melalui jendela pecah ruang singgasana, Scarlet berkuda-kuda dengan tambahan sihir di kakinya untuk menjadi pelontar. Tetapi, begitu dia siap untuk meluncur....
Ozy, disaat yang sama tersenyum. Ia menurunkan kepala kemudian duduk silang meski terus ditekan ke dalam tanah.
Scarlet yang berada tepat di jendela, melihat kedatangan seorang gadis dengan rambut perak panjang dengan santainya bersama dengan tongkat sihir yang diterbangkan ke arah meteor yang jatuh. Tidak ada yang berbeda sejak terakhir ia bertemu dengannya, tetapi entah mengapa, ia merasa ada sesuatu yang berbeda darinya. Bukan penampilan, tetapi itu mungkin auranya.
Masyarakat yang melihat kedatangan gadis itu dengan santai, tersenyum, menangis, atau bahkan bersorak. Sementara itu Marianna ... ia sangat tidak menyukainya.
"Jangan melibatkan orang tak bersalah, dong, Mary," ujar gadis berambut perak—yang tak lain dan tak bukan adalah Zeeta.
Zeeta turun dari tongkat sihirnya, kemudian mengubahnya menjadi perisai. Setelah itu perisainya diposisikan ke atas masyarakat. Mereka yang di bawah bingung apa yang akan dilakukannya. Pun dengan Marianna.
"Ini adalah masalah kita, bukan?"
Zeeta menulis Rune Uruz pada meteor itu dengan bantuan sebatang kayu.
Kemudian....
'KRAAKK....
__ADS_1
'DDWWUUUMMM!!'
Dari bawah ke atas, meteor itu retak, kemudian hancur berkeping-keping dengan membawa dampak angin sangat kencang. Angin tersebut kemudian terserap oleh perisai yang telah siap di bawahnya. Perbedaan ukuran tidak menjadi masalah bagi Catastrophe Seal dan Zeeta. Apa yang dilakukannya barusan, disambut oleh kagetnya semua yang bisa menyaksikan Zeeta dari dekat.