Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Sumbu dari Sebuah Legenda


__ADS_3

Sejak ratusan tahun yang lalu, sebuah pertemanan sudah terjalin antara Ozy dan Aria. Hubungan mereka, jika diumpamakan dengan hubungan antar manusia, mereka sudah jadi sahabat dekat. Mereka akan saling curhat tentang masalah mereka.


Ketika pertama kali bertemu, Aria menemukan Ozy yang meringkuk di kedalaman hutan seorang diri. Tanpa teman, tanpa berbicara, dan bahkan tanpa tahu makhluk yang hidup selain dirinya dan hewan di sekitarnya. Sejak saat itu, Aria memperkenalkan dunia yang luas kepada Ozy dan terus mengajarinya berbagai macam hal hingga mereka bersahabat dekat. Namun, suatu hari, Aria menyadari gelagat Ozy yang aneh. Ia tak mau sedikitpun berbicara kepadanya atau bahkan untuk menghabisi waktu bersamanya saja seakan mustahil dilakukan. Tetapi tiba-tiba, setelah ratusan tahun berpisah, Ozy datang kembali ke hadapan Aria yang sedang bersama Zeeta di kerajaan Aurora.


......................


Sebelum para Hollow dirasakan oleh Ozy dan Aria, mereka sedang bermain air di bawah air terjun. Setelah sekitar dua puluh tujuh tahun tidak bermandikan air-- kecuali ketika hujan, Ozy membasuh dirinya agar bersih dari lumut di sekitar bahunya dengan bantuan Aria.


"Kau masih tidak mau mengatakan padaku, kenapa kau pergi dari hadapanku begitu saja? Bahkan mana-mu tak kurasakan sedikitpun. Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Aria.


"Jawaban itu ... akan datang saat ... waktunya telah tiba," jawab Ozy.


"Oh."


"Apa Aria ... benci Ozy?"


"Entahlah."


Ozy melihat pantulan bayangannya di air. Ia membisu sesaat.


"Ozy hanya ... melakukan apa yang harus ... Ozy lakukan." Suaranya terdengar sedih.


Perasaan geram muncul di benak Aria. Sambil menginjak-injak bahu Ozy, ia pun kemudian berteriak, "Ah! Bikin kesal saja! Jika kau ini bisa seukuranku, aku ingin memukul wajahmu! Kau tidak bisa meninggalkan temanmu begitu saja tanpa bilang apapun!"


"Maaf ... Aria."


Aria duduk di bahu Ozy, kemudian tersenyum kecil. "Tidak akan kumaafkan. Lagipula, kau pasti akan mengulanginya lagi, bukan? Kau memiliki sesuatu yang belum pernah kauceritakan padaku."


Ozy kembali membisu.


"Ozy, kau adalah teman pertamaku. Aku tidak ingin kau terlibat dalam masalah besar atau bahkan mengancam nyawamu. Aku tidak ingin kehilanganmu. Bisakah kau berjanji agar tidak meninggalkanku sendirian, meskipun kau akan kembali pergi jauh dariku?"


Ozy memejamkan matanya kemudian menjawab, "Aku akan kembali."


Lalu, tak lama setelah itu, mereka merasakan mana dari Hollow.


......................


Hollow semakin mendekati gerbang Wilayah Timur. Tengkorak-tengkorak yang berserakan, menunjukkan betapa tak berdayanya manusia di hadapan mereka. Apa yang sebenarnya dilakukan bangsawan utama itu sehingga meninggalkan korban? Apa yang terjadi dengan Porte?


Sementara itu, Albert telah mengungsikan hampir semua rakyat Aurora di kedalaman bawah tanah kerajaan, yang hampir keseluruhan bangunannya terbuat dari kristal dengan pencahayaan terang dari bahan yang sama dengan sedikit "sentuhan akhir" agar bisa menyala.


Albert yang me-visual-kan dirinya melalui sihir seperti hologram untuk masing-masing orang yang sudah berada di tempat teratur, sebelum pergi menyusul Grand Duchess, mengatakan, "Apapun yang terjadi, jangan keluar dari Labirin Cremlyn ini. Di sini sudah ada toilet dan dapur, tersedia juga kamar di berbagai lorong. Labirin ini sudah ada sejak Aurora kesembilan dan berhasil bertahan untuk dijadikan pengungsian teraman sekerajaan. Ingat, apapun yang terjadi, jangan keluar dari sini!" kemudian Albert memakai teleportasinya.


Beberapa saat setelah Albert mengangkat kaki dari sana, labirin pengungsian tersebut, bagian lantai dan atapnya menyala redup. Sementara, di antara orang-orangnya, terdapat Mellynda dan Illia.


"Bu, apa ayah akan baik-baik saja?" tanya Mellynda. Ia menggenggam erat tangan ibunya.


Merasakan kecemasan anaknya, Illia segera mendekap Mellynda dan membalas, "Tentu saja, Nak, tentu saja."


......................


Di luar Labirin Cremlyn—disaat bersamaan ketika Albert sedang mengungsikan rakyat kerajaan bersama dengan pasukannya, Zeeta melakukan sesuatu. Ia sedang berdiri di tengah-tengah kerajaan, tepatnya di alun-alun ibu kota.

__ADS_1


Ia mengeratkan kedua tangannya, menutup mata, sambil melakukan sebuah sihir. Aura biru dengan lapisan putih di luarnya, menunjukkan ia akan menyihir dalam jumlah besar. Beberapa saat kemudian, butiran mana dari alam yang berwarna-warni mengumpul di hadapannya dalam ukuran bola sepak. Setelah itu, ia membuka mata dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Mana yang berasal dari dirinya serta alam itu, berubah menjadi seperti kertas dan "membelah" diri menjadi empat lapis. Kemudian, empat lapis kertas itu berubah menjadi besar dan menjadi pelindung yang cukup untuk menyelimuti seisi kerajaan dengan warna cokelat, biru, putih, dan ungu.


"Dengan begini ... kuharap rakyatku bisa terlindungi," batin Zeeta. Kemudian ia menyihir tubuhnya agar terbang dan menuju gerbang Wilayah Timur.


Hollow yang menyaksikan empat lapis pelindung muncul tiba-tiba mengelilingi kerajaan sampai ke desa-desa, membuat mereka berhenti bergerak."Dia datang," batinnya.


Sementara itu, di kediaman Alexandrita, di ruang kerja Ashley, selain Lowèn yang membawa anak-anaknya untuk mengungsi dan Porte yang sedang berada di suatu tempat, Levant, Cloxzar, serta Dormant sedang menghadap kepada sang Grand Duchess.


"Tuan Karim, segera katakan apa yang kauketahui tentang makhluk yang mengancam kita saat ini. Buat itu ringkas, tak ada waktu," perintah Ashley.


Hellen, Willmurd, dan Agatha menatap Karim. Kemudian, Karim pun menjawab, "Menurut catatan keluarga Levant, mereka disebut sebagai Hollow, sebuah Phantasmal—atau makhluk sihir yang berbeda level dengan Peri atau Raksasa, bahkan Naga sekalipun. Mereka telah ada sejak ribuan tahun, bahkan ketika Yggdrasil masih ada di dunia ini, sama dengan tiga makhluk sihir itu."


Ketiga bangsawan utama itu terkejut, banyak yang ingin mereka gali dari Karim. Apalagi dari Willmurd dan Hellen yang belum mengetahui apa itu Yggdrasil.


"Apa yang membuatnya berbeda?" tanya Ashley.


"Phantasmal adalah makhluk yang terbuat langsung dari Yggdrasil itu sendiri. Katakan saja itu seperti 'buah dari pohonnya'. Phantasmal juga tidak akan mungkin diatasi oleh manusia, mau sebesar apapun mana yang dimiliki.


"Sayangnya, Phantasmal yang kita hadapi saat ini, Hollow, tidak seperti Phantasmal lain, mereka tidak memiliki hati. Mereka akan segera melenyapkan siapapun yang mereka anggap menghalangi. Bisa dikatakan, mereka terbentuk dari residu emosi buruk makhluk-makhluk di dunia. Aku ragu kita akan selamat dari mereka." Kening Karim bermandikan keringat.


Hening sempat terjadi beberapa saat sebelum Hellen bertanya, "Jadi ... tak ada yang bisa kita lakukan?"


"Ada," sahut Ashley. Ia menjawabnya dengan cepat.


"Eh?" Karim dan Agatha bertanda tanya. Apa yang ada di dalam kepala Grand Duchess ini?


"Tak bisa dikalahkan mau sebesar apapun mana yang dimiliki? Hah. Kaukira siapa aku?! Akulah yang paling cocok untuk menandingi mereka!" Ashley bangun dari duduknya.


"Kau benar. Aku mempelajari kekuatan ini dari negeri seberang, yang disebut Ki. Berbeda dengan sihir yang butuh mana dan imajinasi, Ki akan terbentuk dari tenaga dalam yang memungkinkan penggunanya menghasilkan kekuatan yang tak kalah luar biasa."


Karim tampak tidak menemukan secercah harapan. "Hollow tidaklah pantas untuk Anda remehkan, Grand Duchess," katanya, "Hollow, Phantasmal yang bersumber dari Yggdrasil dan emosi buruk makhluk dunia, tidak mungkin bisa dikalahkan hanya dengan kekuatan dari Manusia seperti kita."


Ashley cemberut, tak senang atas apa yang baru dikatakan pria tua itu. Lantas, ia pun mendekati Karim, kemudian menepuk bahunya. "Erigona adalah tumbuhan yang juga bersumber dari Yggdrasil. Jangan anggap remeh kekuatan Manusia, Tuan Karim. Ayo berangkat, Zeeta sudah sampai di gerbang Timur." Ashley memakai teleportasinya, disusul oleh Hellen dan Willmurd.


Karim menggertakkan giginya. "Jika Hollow itu bisa dikalahkan seperti yang Anda katakan, leluhurku takkan menulis catatan keluarga itu!" kemudian ia membanting meja Ashley. "Nyawa cucuku sedang dipertaruhkan di sini! Apa yang bisa dia lakukan?!"


Agatha berusaha menenangkan Karim dengan menepuk bahu kirinya pelan-pelan. "Kita hanya bisa percaya padanya," kata Agatha.


......................


Di kediaman Ophenlis, Porte sedang berada di dalam ruang bawah tanah. Ruang tersebut berbentuk persegi panjang dan terbuat dari kristal. Selain dirinya yang duduk di kursi berbahan sama dengan mata yang terpejam, tak ada apapun yang dapat menarik mata.


Di ruang ini, Porte mengalirkan kekuatannya untuk mengaktifkan efek pelindung dari Labirin Cremlyn agar tak mudah ditembus baik dari dalam atau luar. Tampaknya, ia tak bisa keluar—bahkan berdiri dari kursi itu agar efek pelindungnya bisa terus aktif.


Sedangkan Zeeta, yang memakai sihir terbang dan sudah akan mendarat di dekat Hollow, melihat tengkorak-tengkorak yang berserakan di sekitar Hollow serta rerumputan, bunga, bahkan pohon yang berubah abu dan tumbang dari tegapnya.


"Masih ada yang belum mengungsi...? Lalu, alamnya...," batin Zeeta. Ia pun kemudian akan mendaratkan kakinya di tanah. Namun, Hollow-Hollow itu segera menyerang Zeeta dengan memanjangkan bagian tubuh mereka layaknya tentakel sampai membuat Zeeta terpelanting ke tembok dan menghasilkan lubang seukuran tubuhnya di sana.


"Uaghk!!" erang Zeeta. Ia memuncratkan darah dari mulutnya. Anting bulannya bersinar biru, seperti melindunginya agar tidak terlahap dan menjadi tengkorak.


"A-apa yang terjadi? Mereka cepat sekali!" batin Zeeta. Ia berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman tentakel itu. Ia mengeluarkan sihir dan membentuknya menjadi api mengambang dari tangan kirinya, namun api tersebut justru terserap ke dalam tentakelnya.


"I-ini...?" Zeeta menyadari kesamaannya dengan kisah Erigona.

__ADS_1


Zeeta mengatur napasnya. "Tenanglah, Zeeta. Kamu adalah Tuan Putri.... Ingat bagaimana ibu menghadapi makhluk seperti ini dari kisah Nona Hellenia!" batin Zeeta.


Hollow-Hollow itu menyadari ada yang berbeda dari Zeeta. Mereka pun mengeratkan cengkeraman tentakelnya.


"Ggghhkk...." Zeeta menahan sakit di sekujur tubuhnya.


Beberapa saat kemudian, dentuman demi dentuman menghantam tanah. Hollow yang merasakan siapa yang mendekat pun bersiaga.


"Siapa yang menyangka ... jika ada Raksasa yang selamat setelah semua kejadian itu...." batin Hollow.


Tak lama kemudian, Ozy datang. Ia memunculkan lingkaran sihir di bawah pijakan Hollow-Hollow itu. Merasakan bahaya, para Hollow itu segera bertindak dengan melempar Zeeta jauh ke dalam kerajaan hingga menembus beberapa rumah. Atas hal ini, salah satu pelindung yang dibuat Zeeta beberapa saat lalu, hancur berkeping-keping.


Setelah itu, dari lingkaran sihir yang dibuatnya, Ozy mengurung mereka di dalam tanah berbentuk oval yang bertuliskan tulisan unik bersinar merah yang menghentikan pergerakan mereka secara total. Setidaknya, Ozy berharap seperti itu.


Albert yang juga dalam perjalanan terbangnya, menyaksikan di depan matanya Zeeta yang melayang kemudian terjatuh menembus beberapa bangunan.


"Tuan Putri!" Albert segera menghampiri Zeeta.


Sementara itu, Ashley, Hellen dan Willmurd datang dengan teleportasinya. Mereka sempat terkejut dengan keberadaan Ozy, namun mereka bisa segera paham bahwa Ozy ada di pihak mereka. Tak lama kemudian, suara yang terus berganti jenis kelamin, terdengar dari dalam sihirnya Ozy.


"Tak kusangka, seonggok ras Raksasa yang dikenal memiliki harga diri tinggi sama seperti ras Naga, akan bekerja sama dengan Manusia yang merupakan makhluk rendahan."


Ashley bersiaga. Ia menyelimuti dirinya dengan aura merah kejinggaan. Sementara Hellen dan Willmurd, mereka mengeluarkan Buku Sihir mereka. Perlahan tapi pasti, muncul retakan dari sihir Ozy.


"Manusia ... pergilah dari sini. Ozy ... akan melawan Hollow!" sebelum sihirnya pecah, Ozy melemparnya ke langit kemudian dengan matanya, ia menyihirnya kembali. Tulisan-tulisan bercahaya merah kembali muncul di luar bongkahan tanah itu.


"Apa itu?" gumam Ashley ketika melihat tulisannya.


"Grand Duchess, apakah kita akan menjauh?" tanya Hellen.


"Tentu saja tidak! Meski kita bukan tandingan Hollow, kita harus melindungi rakyat kita, apapun yang terjadi!" balas Ashley.


"Sudah kuduga. Tampaknya ... waktu aku akan berduaan dengan Arthur ... hanya sebatas mimpi," batin Hellen. "Baiklah! Aku akan berusaha!"


......................


Sementara itu, di kedalaman hutan yang sedikit lebih jauh dari rumah tempat Hollow bernaung, sesosok Manusia berkepala burung hantu, berjubah tebal yang melapisi seluruh tubuh dari bagian leher sampai kakinya, memegang tongkat kayu panjang, sambil melihat dengan jelas kejadian yang sedang dialami Aurora di arus sungai yang terus mengalir tenang. Langit perlahan berubah gelap, si burung hantu itu melihat ke atas lalu berucap, "Ini buruk. Benar-benar buruk. Aku harus melakukan sesuatu." Kemudian, ia memukul dua kali tanah dengan tongkatnya, yang menghasilkan lingkaran sihir di bawah kakinya.


Di saat yang sama, Aria yang kembali ke Hutan Sihir Agung, sedang bertekuk lutut di hadapan seseorang.


"Hollow? Apa kauyakin, Bellaria?" tanya orang di hadapannya.


"Ya, aku sangat yakin," jawab Aria.


"Hmm. Ini bukan kehendak mereka. Aria, bawa manusia bernama Zeeta itu ke hadapanku. Tapi, pastikan dulu Hollow itu hancur dengan senjata ini."


"Tetua, apa Anda yakin?!"


"Ya. Feline pasti tidak akan mengira bahwa ini tersimpan di dalam Hutan Sihir Agung, tapi masalah itu biarkan saja untuk saat ini. Biarkan Zeeta menggunakannya—tidak, hanya dialah yang mampu menggunakannya. Pastikan kau memberikan dan menjelaskan senjata itu padanya."


"Ba-baik!" Aria segera pergi dari hadapan orang itu.


"Yah ... Feline memang senang berbuat iseng, tapi kali ini ... dia sudah cukup keterlaluan. Hmm. Dia sungguh Peri yang nakal." Nada yang keluar darinya tampak biasa saja, tapi wajahnya sama sekali tidak bersahabat.

__ADS_1


__ADS_2