Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Jangan Remehkan Gadis yang Sedang Jatuh Cinta!


__ADS_3

"Sejauh ini aku merasa tidak ada sebuah pun kisah dari buku harian raja Barghest yang berhubungan dengan Nebula, Kak," ujar Klutzie, yang menatap bingung Suzy.


"Tidak ada...? Apa maksudmu TIDAK ADA? Jelas-jelas raja Barghest mengatakannya di bab lima itu!"


"Maksudmu ... sosok hitam dan bangunan yang sangat tinggi itu?"


"Ya."


"Ehh...? Lantas informasi apa memangnya yang bisa didapatkan hanya dengan dua jabaran itu saja?"


"Dasar, bagaimana kalau kau berpikir sesedikit itu sebelum bertanya? Setidaknya cobalah menjawabnya sendiri dulu sebelum bertanya!"


"Ugh...."


"Haah...." Suzy menghela napas sembari menggeleng kepala. "Sejarah Nebula SANGAT berkaitan dengan sosok hitam itu dan Raja Barghest menjelaskannya secara perlahan, dimulai dari bab delapan."


"Delapan?" tanya Alicia yang mengerutkan kening. "Ada apa dengan dua bab sebelumnya?"


"Yah, seperti yang kukatakan sebelumnya, Yang Mulia, itu adalah rahasia negara."


"Raha... sia...?" Klutzie menduga-duga.


"Negara...?" pun dengan Alicia.


"AHH!" keduanya menepuk tangan, seolah paham apa maksudnya.


"Yap. Begitulah." Suzy mengangguk mantap. "Kalau begitu, ayo kita menyelam pada bab delapan yang kumaksud."


......................


******The Beast King's Diary Chapter VII*********I***


Aku dijebak!


Aku dijebak lagi oleh para Manusia!


Rumah, keluarga, dan teman-temanku ... semuanya terancam bahaya gara-gara aku!


Apa gunanya julukanku ini bila aku tak bisa melindungi mereka?


Tapi ... aku tidak ingin kejadian kala itu malah terulang lagi dan menimbulkan malapetaka....


Ini semua terjadi ... gara-gara aku kenal dengan pria bernama Eizen itu!


......................


"A-ayah juga terlibat?!" Klutzie membelalak.


"Apa maksudnya ini...?" gumam Alicia.


"Kuingatkan lagi, Dik, jika ada sesuatu yang tidak bisa kujawab di sini, ayahlah tujuanmu. Tapi, mari kita lanjutkan dulu apa maksud raja Barghest yang dijebak itu."


.


.


.


.


[42 tahun yang lalu.]


Saat ini kerajaan Aurora sedang dilanda hujan lebat. Tidak ada warga yang beraktivitas—semuanya berlindung di dalam kediaman masing-masing.


Di tengah lebatnya guyuran hujan tersebut, Scarlet sedang berbincang dengan Ashley di ruang makan istana. Tidak ada siapapun di sana selain mereka berdua dan dua cangkir teh panas, serta sepiring kukis.


Ruangan diterangi oleh cemerlangnya chandelier. Di ruang yang sangat besar dan mampu menampung sekitar lima puluh orang itu, dari semua kursi yang ada, Scarlet dan Ashley memilih untuk duduk berhadapan.

__ADS_1


"Sudah setengah tahun semenjak kau mengenal Barghest," ujar Ashley memulai percakapan.


"Selain dirinya yang berasal dari hutan, apa kautak bisa mencari tahu lebih jauh lagi tentangnya?"


"Tidak. Dia benar-benar misterius. Dia memang memberitahu kita kalau sejak bayi dia ada di hutan itu, dia juga mau mengatakan kalau ia bisa berbicara dan beradab karena bantuan hutan yang bisa berkomunikasi dengannya.


"Selain hal-hal itu, dia tidak pernah mengatakan apapun tentangnya."


'Sluurp....'


Ashley menyeruput tehnya.


"Satu orang itu saja sudah membuat gempar Aurora usai dirinya secara terang-terangan mengantarmu pulang saat malam hari, disaat kami panik kautak kunjung kembali sejak siang dari hutan. Sesuatu yang tidak seperti kebiasaanmu.


"Kemampuannya itu pun tidak patut untuk diabaikan begitu saja."


"Apa, Ashley?" Scarlet tersenyum dengan mata sayu pada sahabatnya yang berambut sebahu itu. Seakan-akan, tatapannya itu hendak menggodanya. "Kauingin bilang kalau kau menjadi salah satu bagian dari bangsawan bangsat yang berakal pendek yang ingin memperalat Barghest dengan kondisinya yang tidak memiliki identitas, hmm?


"Hah! Langkahi dulu mayatku!"


Empat urat emosi langsung timbul di sisi kening Ashley. "Dan kautahu sendiri jika aku bukanlah bangsawan seperti itu, makanya selama tujuh belas tahun ini kau selalu mau berteman denganku, bukan?


"Ucapanmu itu sungguh tidak mencerminkan perasaanmu padaku, ya, dasar sialan...?!"


"HAAAHHH?!"


Emosi yang datang secara tiba-tiba dari dua gadis tomboy itu dalam sekejap menghancurkan kaca-kaca di ruang tersebut hingga mengakibatkan kekacauan untuk mereka sendiri.


[Beberapa menit kemudian....]


Keduanya sudah membereskan kekacauan yang sebelumnya membuat seisi ruangan dipenuhi pecahan kaca dan basah oleh tiupan angin yang membawa hujan.


"Pokoknya ... haahhh ... haahhhh...." Ashley terengah. Meski ruangan sudah kembali seperti sedia kala, dirinya tetap saja basah kuyup. "Yang ingin kukatakan, identitas dia sangat penting, sebab itu pasti akan berguna untuk masa depanmu sendiri! Tidak usah kaukatakan padaku secara langsung, aku tahu perasaanmu padanya."


Scarlet agak tersentak. Dia menyembunyikan rona merahnya dengan menundukkan sedikit kepalanya. Tentunya, dia juga dalam kondisi basah kuyup, meskipun beberapa bagian tubuhnya terluka sayatan akibat serpihan kaca.


"Astaga, tidak kusangka aku jadi basah kuyup begini!" Ashley mencipratkan air dari kedua tangannya secara berulang kali. "Umu. Sudah kuputuskan!


"Tidak. Kau duluan saja. Aku ingin sendirian dulu."


"Haaahh...." Ashley menghela napas. Kendati demikian, bibirnya mengukir senyum lebar. "Dasar, sebengis apapun dirimu di mata orang, mereka takkan tahu kau semanis ini saat dimabuk cinta, ya!"


"Aashhleeeeeyy...?!"


"Ha ha ha ha!" gelak tawanya mengecil, dikala ia mengambil langkah seribu yang sangat cepat.


"Fuuuhh...." Scarlet kembali duduk. Ia memakai sihir untuk mengeringkan diri sendiri dan menyembuhkan lukanya. Teh panas di hadapannya tidak bisa diminum lagi setelah kekacauan tadi.


"Sungguh...." Scarlet menopang kepalanya yang tertunduk dengan kedua punggung tangannya. "Ashley memang benar. Sepertinya aku ... sedang dimabuk cinta...."


"Kalau begitu, mau kuberitahu tentangnya lebih jauh?" Morgan datang tiba-tiba di hadapannya. Ia tahu-tahu sudah ada di hadapan Tuan Putri tersebut.


Scarlet mengangkat kepalanya. Raut wajah yang sebelumnya galau, berubah mengernyit. "Aku tidak akan menyinggung tentang kau yang secara tidak sopan masuk dan menguping pembicaraan kami, tapi untuk sekarang ... aku akan berbaik hati dan memasang telinga padamu."


Morgan tersenyum. "Syukurlah." Ia kemudian duduk silang di meja. "Simak informasi ini baik-baik, Scarlet!"


"Uhm." Gadis berambut merah itu mengangguk semangat.


Kala itu, Scarlet masih tidak tahu. Ia sama sekali tidak mencurigai Peri yang selama ini nyatanya selalu "nakal" pada leluhur-leluhurnya. Segala yang diucapkan dari makhluk kecil satu ini, harus diartikan dalam dua makna. Apakah mereka serius atau hanya memancing lawan bicaranya agar jatuh dalam genggaman tangan.


......................


Hari semakin gelap, hujan masih mengguyur Bumi. Tidak semakin reda, malah semakin gigih.


"Sebelum memulainya," ucap Morgan, "kuingatkan satu hal dulu."


Scarlet mengerutkan dahi. "Apa?"

__ADS_1


"Sebaiknya mulai sekarang, jika kausayang nyawamu sendiri, maka jauhi Barghest."


Scarlet terdiam sesaat. Ia mencoba mengolah lagi ucapan yang baru saja masuk ke telinganya. "E... eh...? A-apa...?" suara yang bergemetar dikeluarkannya.


"Barghest adalah orang yang berbahaya. Lagi pula, dia juga bukan seorang Manusia tulen sepertimu."


"Apa maksudnya itu...?"


"Sesuai kata-kataku! Tidakkah kau mengerti?


"Pikirkan saja dengan akalmu. Kau pasti bisa memahaminya.


"Mengapa orang sekuat Barghest hidup sendirian di kedalaman hutan? Kautahu darinya bahwa ia dididik oleh mereka yang hidup di sana—sebab di sanalah tempat kehidupan mereka!


"Namun, bagiku sangat tidak masuk akal sekali. Bukankah tadi kaubilang Barghest bisa BERADAB karena hutan yang mengajarinya?


"Hei hei hei.... Kau pasti setidaknya tahu, bukan, di dunia ini hanya Dryad saja yang bisa berkomunikasi dengan hutan!


"Yah, itu pun tidak mengherankan!


"Mereka bahkan memiliki julukan sebagai Sang Penjaga Hutan!


"Lalu, mengapa Barghest mengatakan hal itu padamu? Apa kaupikir dia mungkin saja bohong? Atau mungkin ... dia tidak ingin kau terlibat lebih jauh dengannya?"


Dengan kalimat-kalimatnya yang didramatisir, Morgan menyesuaikannya dengan akting yang tak kalah juara. Kala ia mengucapkan kalimat akhirnya, ia membalik badan dan menunjukkan senyum puasnya.


"Aku menang!" batin Morgan dalam senyum yang disembunyikannya, "dengan begini, mental cetek dari seorang gadis yang jatuh cinta aka—"


"JADI....?!"


Seisi ruangan bergemuruh. Chandelier pun menunjukkan keretakannya. Morgan segera berbalik badan dan kaget saat melihat Scarlet. Dia sangat marah bahkan aura merahnya mulai menyelimuti dirinya.


"Apa sebenarnya tujuanmu ke sini? Jika itu hanya untuk memanas-manasiku...." Scarlet dengan cepat mencengkeram Morgan dengan tangan kirinya. Ia menariknya dekat pada wajah. "Aku bisa melemparmu kembali ke hadapan Ratu Peri dari sini. Aku akan mengatakan padanya kalau aku ingin mengganti teman Periku, sebab dia sudah terlalu RUSAK!" Scarlet menambah beban pada cengkeramannya.


"GYAAAA!!" jerit Morgan. "A-aku paham! Aku paham! Aku hanya bercanda, kau ltahu, ini hanya kebiasaanku saja!"


"Tidak akan ada kedua kalinya untukmu!" Scarlet melepas Morgan.


"Cih!" Morgan menyembuhkan beberapa tulang dan sayapnya yang patah dengan sihir. "Dasar monster! Bagaimana kalau aku mati!?"


"Salahmu sendiri!"


"Baiklah." Morgan mencoba mengepakkan sayapnya, dan syukur, itu bisa berfungsi dengan baik. "Aku akan serius.


"Aku bersungguh-sungguh saat bilang untuk tidak berinteraksi lagi dengannya."


"Kenapa?!"


"Sebab dia dijuluki Raja Buas oleh Dryad."


"Raja ... Buas...? Apa maksudmu...?"


"Kejadiannya terasa seperti kemarin bagi kami, tapi untukmu, mungkin ini terjadi sekitar sepuluh atau dua belas tahun yang lalu.


"Sekelompok pemburu, seperti biasanya memburu untuk kehidupan mereka. Hutan, kami para Peri, atau bahkan para hewan pun mengerti bahwa begitulah dunia berputar agar bisa terus berjalan.


"Namun, Barghest tidak berpikir hal yang demikian, dan bagi kami para penghuni hutan juga, hal tersebut merupakan sesuatu yang dapat dimaklumi.


"Walaupun begitu, kejadian yang seperti itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Sama sekali."


"Ada apa memangnya...?" Scarlet mulai menyimak dengan saksama.


"Aku, Ratu Peri, atau bahkan Dryad tidak tahu apa hubungan dia dengan kalian, tetapi saat malam bulan purnama, dia berubah menjadi serigala besar."


"Se-serigala...?"


"Masih terlalu cepat bagimu untuk terkejut. Jika dia hanya seekor makhluk sihir biasa, tentunya Dryad bisa menenangkannya bersama dengan hutan. Namun, Barghest tidak seperti itu.

__ADS_1


"Kekuatannya sangat di luar nalar. Tubuhnya memiliki besar sekitar tujuh sampai delapan meter. Napasnya menghembuskan api dan es, cakarnya pun sangat tajam.


"Malam itu adalah hari terburuk baginya dan bagi para penduduk hutan...."


__ADS_2