Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Pertanda?


__ADS_3

Malam terang yang disinari bulan sabit membawa dingin pada dua orang yang tengah berlindung di balik sebuah pohon raksasa berlubang di dasarnya. Di dalam pohon itu terdapat sebuah cahaya redup untuk menerangi ruangan. Dua orang yang ada di dalam itu adalah Klutzie yang terbalut perban di seluruh tubuh dan Siren yang sedang menjaganya.


Sejak Suzy melukai Klutzie, sudah tiga hari terlewati dan masih belum ada tanda dia akan sadar.


"Kalau saja aku bisa bawa pulang Lutz ke Nebula, dia akan mendapatkan pertolongan lebih dari yang kulakukan.... Sial, andai mana-ku tidak terserap oleh serangan Suzy... aku pasti bisa langsung menolongnya...," gumam Siren, "apa yang sebenarnya terjadi dengan ilmuwan yang ceria itu?!"


Siren menatap dalam Lutz yang tak berdaya. "Apa aku benar-benar harus ke Aurora...?"


......................


Megah, mewah, bangunan kuno sekaligus modern karena fasilitasnya, bersih, dan ceria, adalah wajah baru Aurora saat ini. Selain membangun ulang ibu kota dan wilayah pemukiman rakyat, tentu mereka juga membuat akses transportasi bagi siapapun yang ingin ke ibu kota, yaitu sepuluh buah elevator transparan yang memakai energi dari sinar matahari, yang muat untuk dua belas orang sekali jalan.


Di ibu kota baru ini, festival juga diadakan untuk menyambut hari bahagia bagi mereka. Kediaman Alexandrita—yang menjadi "istana" sementara untuk Zeeta—juga jadi titik para orang penting berkumpul.


Zeeta Aurora XXI, Ashley Alexandrita XX, Albert Alexandrita XXI, Hellenia von Cloxzar IX, Willmurd Louis de Dormant XVI, Porte von Ophenlis VIII, dan Rey Emeria, termasuk seluruh makhluk sihir yang membantu mereka, seperti Ozy, Aria, para Peri, Eclipse, Axel, Myra, dan tentu saja Luna hadir di sana.


Tidak lupa, sebagai bagian dari keluarga kerajaan, keluarga Levant juga hadir di sana. Orchid Allysum pun turut serta.


Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah dunia sihir bahwa makhluk-makhluk sihir itu dan manusia bisa duduk berdampingan di tempat yang sama. Apakah hari ini menjadi pertanda baik ataukah justru berkebalikan dan membawa kehancuran bagi mereka?


Yang pasti, hari ini patut dirayakan setelah kerja keras mereka membuahkan hasil manis. Ibu kota yang tampak melayang itu benar-benar sedap dipandang, meski tidak sedikit orang yang masih was-was, apakah bangunan seraksasa itu akan jatuh atau tidak.


Senyum tampak di semua rakyat. Orang tua, remaja, dan anak-anak menikmati festival ini. Ada yang menikmati dengan minuman beralkohol, makan besar, atau menikmati pertunjukan dan permainan yang sudah diatur sedemikian rupa oleh bangsawan utama.


Wajah Aurora seperti inilah, yang saaangat didambakan oleh si kecil berkekuatan besar, Zeeta. Melihat ini, tentu saja membuatnya menangis haru.


"Terima kasih," ujar Zeeta sesenggukan, "berkat kalian mereka bisa tersenyum walau sudah menghadapi ketakutan berkali-kali.... Tanpa bantuan kalian, aku tak mampu mewujudkan pemandangan ini...."


Semua yang hadir di sana memasang wajah senyum lega mereka. Mereka sangat tahu bahwa Zeeta tulus. Tak ada yang bisa membuat mereka merasa lega selain melihat Tuan Putri mereka senang seperti ini.


"Zeeta, bagaimana kalau kaupakai kesempatan ini untuk menikmati festivalnya juga? Kau akan jarang memiliki waktu luang setelah ini, 'kan?" celetuk Ashley, "ajaklah Edward dan Ella bersamamu."


Lòwen dan Claudia mengangguk, dan si kembar segera bersemangat.


"Kak Zeeta! Ayo nikmati festivalnya bersama!" pekik keduanya.


"Ahahahah... baiklah-baiklah. Aku pergi dulu, semuanya!" Zeeta ditarik oleh kedua sepupunya dengan sangat bersemangat.


Begitu ketiganya sudah keluar, seseorang bertanya. "Jadi... apa yang ingin kaukatakan sampai harus menyuruh Zeeta keluar?" Karim-lah orang tersebut.


"Sudah kuduga dari Tuan Karim Levant.... Keluarga 'Matahari' memang patut diacungi jempol!" sahut Ashley.


"Hentikan basa-basinya. Katakanlah."

__ADS_1


"Mana Zeeta ... belum kembali lagi seperti biasa."


......................


"Waaaahh...." Mata Ella begitu mencerminkan bagaimana bersemangat dan tersihir oleh apa yang ada di festivalnya. "Ayo, Kak Zeeta!" Ella menarik lagi tangannya, namun Zeeta tidak bergerak.


"Jangan menarik, Ella! Kak Zeeta juga pasti menemanimu!" bentak Edward.


"Uhm, maaf...." Ella melirik ke wajah Zeeta. "Ada apa...?"


Zeeta terlihat seperti mengkhawatirkan sesuatu.


"Ah, tidak... tidak apa. Ayo kita nikmati festivalnya!" Zeeta tetap menggandeng sepupunya kemanapun mereka ingin.


Stand makanan atau minuman, pertunjukan sihir, bermain di area anak-anak, atau hanya melihat-lihat pemandangan, mereka lakukan dengan lengkap. Namun, di setiap kesenangan yang sudah terjahit di ingatan Edward dan Ella, Zeeta seperti tidak mengalaminya.


"Ke mana Melly, kak Azure, Danny, dan Gerda...? Aku tak merasakan mana-nya dimanapun...," batin Zeeta. "Tidak. Mereka pasti baik-baik saja. Sekarang, aku harus menikmati festival ini dengan sepupuku!"


Dengan begitu, Zeeta mengalihkan fokusnya dari keempat temannya dan lebih memilih sepupunya.


Sementara itu, empat orang yang sedang dibatin Zeeta itu, tengah berada di kediaman Ophenlis untuk membersihkan diri. Baik dari keringat, penat, atau kotor.


Saat ini, keempatnya duduk di ruang tamu sambil menyantaikan diri. Mereka juga sudah mengenakan pakaian baru ala bangsawan yang membuat mereka benar-benar PERSIS seperti bangsawan berkelas.


Gerda juga tampil semakin jelita dengan gaun setema dengan Danny. Renda-renda gaunnya dihiasi corak hitam, serta hiasan cantik seperti bunga yang terukir di gaunnya. Kulit kuning langsatnya cocok dengan tampilan ini. Rambut pirang sepunggungnya diberi pita di belakang kepalanya.


Sementara Azure, sesuai dengan namanya, memakai pakaian tomboy namun tak menghilangkan kesan femininnya. Ia memakai kemeja putih panjang, celana panjang hitam, bersarung tangan hitam, dan sepasang anting berwarna biru laut. Di belakang celana hitamnya, tergerai renda gaun bercorak hitam-biru yang berkemerlap-merlip.


Sedangkan Melly, menyesuaikan warna sihir kristalnya, ia memakai gaun putih yang diberi merah pudar, dan sarung tangan putih. Di seluruh gaunnya, terdapat gemerlap yang membuatnya tampil anggun.


"Aku tak sabar untuk memamerkan hasil latihan kita pada Zeeta!" kata Gerda.


"Jangan terburu-buru. Dia juga harus istirahat setelah membuat medan pelindung sekuat ini. Kita yang baru selesai latihan juga perlu istirahat," sahut Azure.


"Tapi, aku juga pengin lihat festivalnya Zeeta...." Gerda berwajah musam.


"Tunggulah lima belas menit lagi. Kita juga lelah. Kalau tidak bisa menikmati festivalnya sepenuh hati, sama saja bohong!" timpal Danny.


"Ugh... iya deh, iya!"


"Meski begitu...," Mellynda ikut menimbrung, "kenapa mana Zeeta tidak sebesar sebelum kita pulang?"


"Itulah yang ingin kuketahui," balas Azure.

__ADS_1


"Apa ini ada hubungannya dengan Luna?" tanya Danny.


"Oh... itu bisa saja...." Mellynda dan Gerda mengangguk.


......................


Setelah berkeliling dan menikmati festival selama satu jam lebih, Zeeta akhirnya meminta Ella dan Edward mengikuti permintaan egoisnya.


Zeeta sedang "membonceng" sepupunya di atas awan buatannya dan sedang perjalannya turun ke bawah. "Ke mana kita pergi, Kak?" tanya Edward.


"Istana," jawab Zeeta.


"Kenapa?" tanya Ella.


"Kuingin pastikan sesuatu."


Edward dan Ella yang merasa Zeeta tidak riang, hanya bisa terdiam.


Ketika mereka sampai di istana, Zeeta melihat ke danau yang memisahkan daratan istana dengan ibu kota—yang kini menjadi wilayah rakyat, lalu melompat lambung ke istana untuk memeriksa akarnya. Ia berkali-kali merabanya.


"Kalian tunggu di situ, ya!" pekik Zeeta sambil melambaikan tangan.


"Uuuhm!" sahut keduanya.


Zeeta membuat pelindung tubuh dari udara untuk melindunginya dari basah. Ia masuk ke dalam danau untuk melihat apakah akar juga muncul dari sana. Ia terus menyelam dan terus mendalaminya hingga menemukan sesuatu di sana.


"I-ini, 'kan?!"


Sementara itu, di luar Aurora, Siren yang membawa Klutzie dengan sihir bola air yang sama seperti sebelumnya, tercenung ketika melihat dua medan pelindung yang menghalanginya mendekat.


"A-apa-apaan ini?! Berlebihan sekali!" teriaknya. "Apa aku harus memasuki ini begitu saja...?"


Begitu Siren menginjakkan kaki ke dalam medan sensor—medan terluarnya, alarm yang terpasang di berbagai sudut kerajaan Aurora berbunyi, kemudian muncul layar yang menampilkan gambar Siren dan Klutzie.


Semua orang yang sedang menikmati festival terhenti kegiatannya dan bersiap.


"A-anu!" pekik Siren, "kami dari kerajaan Nebula dan butuh--"


Layar yang satu set dengan alarm itu tiba-tiba mati.


Di belakang Siren, muncul seseorang berambut putih, berekor, dan bertelinga rubah yang memukul belakang lehernya hingga hilang kesadaran.


Semua rakyat yang bertanya-tanya sudah disosialisasikan tentang cara kerja alarm ini. Kapanpun itu berbunyi, yang masuk ke wilayah sensor adalah makhluk sihir yang sudah pernah memasuki Aurora sebelumnya. Seperti Raksasa, Roh, Peri, Dryad, Elf, bahkan Phantasmal seperti Hollow sekalipun.

__ADS_1


Jika alarm itu mati tiba-tiba, itu tandanya tidak perlu dikhawatirkan dan sudah diatasi oleh pasukan kerajaan yang dipimpin oleh Albert dan Eclipse sebagai Komandannya.


__ADS_2