Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Turning Point 1


__ADS_3

[POV Scarlet.]


"Selama ini kupersembahkan hidupku untuk bertekad melindungi wasiat yang telah diwariskan oleh leluhur-leluhurku. Wasiat itu adalah Zeeta, cucu perempuanku yang kini telah remaja. Sungguh disayangkan bila aku tidak bisa hadir di masa kecilnya, tetapi setelah melihatnya langsung dia tumbuh sehat seperti ini....


"Sudah cukup untuk membuatku bangga.


"Tentunya, semakin dia tumbuh, semakin banyak pula hal lain yang dipelajarinya tentang dunia sekaligus perannya. Jika kuselaraskan ramalan Feline dengan rentetan kejadian saat ini, pada titik tertentu di tahun-tahun sebelumnya, Zeeta pasti sudah menghancurkan dunia, namun tetap tidak menutup kemungkinan jika ketika dia dewasalah keputusan itu ia ambil.


"Apabila dia keturunan bulan dariku dan matahari dari Karim, lebih dari cukup untuknya agar membuat gunung-gunung meletus—jika dia benar-benar serius.


"Tapi kenyataannya....


"Banyak dari kami—Manusia di zamanku, Alicia, dan tentunya Zeeta, yang tahu dunia ini rusak. Dunia yang dikuasai oleh sihir ini sendiri sudah rusak. Dari zaman ke zaman, leluhur-leluhurku juga pasti menyadari mengapa Zeeta ingin melakukannya.


"Tetapi kini, Zeeta sedang dihadang oleh dinding baru lagi. Dinding ini jauh lebih sulit dilewati daripada dinding yang telah ia hancurkan sebelumnya.


"Selama aku berada di Fyrriheim, aku mempelajari beberapa fakta dari empat dunia dimensi dari Galkrie.


"Ketika Yggdrasil bangkit, tiga dunia yang telah terpecah sendiri-sendiri—Drekaheim, Jötunnheim, dan Galdurheim—akan menjadi satu, lalu terlahirlah lagi dunia dimana Manusia, Peri, Naga, Raksasa, dan banyak makhluk sihir lain hidup berdampingan.


"Lalu, bagaimana dengan Fyrriheim?


"Walaupun Galkrie bilang jika dunia ini adalah dunia yang berdiri sendiri, selain fakta bahwa kami tidak boleh berinteraksi dengan penduduk selain dirinya, adalah suatu kebohongan.


"Fyrriheim sederhananya hanyalah 'pecahan ingatan' dari Yggdrasil. Semua yang terjadi di sini selalu terulang tanpa batas. Jika kami—penduduk dari Galdurheim berinteraksi dengan mereka, apa yang akan terjadi?


"Sederhana. Jawabannya, kami ikut jadi bagian pecahan ingatan itu—yang akan berulang kali melakukan loop yang sama.


"Selama aku di sini, aku tidak pernah menemui adanya perubahan zaman. Orang-orang yang mati, kemudian melewati Tanah Kematian, lalu dipandu Galkrie menuju Lembah Jiwa, selalulah sama.


"Lantas, mengapa Galkrie seolah seperti bagian dari ingatan Yggdrasil, tetapi disaat yang sama dia memiliki kesadarannya sendiri?


"Aku butuh waktu untuk menjawabnya, dan jawaban itu adalah...."


......................


"Zeeta...." Galkrie tersenyum. "Aku hanya berpesan satu padamu. Jadilah seorang pemilik kekuatan bulan yang tidak akan kausesali!"


"Kakek Galkrie...?" Zeeta mengerutkan keningnya.


"Kuberi pertanyaan padamu, Zeeta Aurora." Mata Galkrie tiba-tiba bersinar biru, tanah pun bergemuruh. Tubuh tua dan berkerut darinya tiba-tiba dikepuli asap hitam bergemerlap putih. Ia seperti seorang pria tua berbalut asap hitam bermata biru yang bersinar. Kesan lemah lembut pada tamunya seolah hilang begitu saja.


"Mengapa aku bisa tahu begitu banyak hal tentang dunia ini, mengetahui kekuatan bulan, Spirit, Roh, bahkan hingga pemecahan Yggdrasil memiliki seluk beluk lain? Tidakkah kau penasaran tentang itu?"


"Kau adalah ... seorang penduduk disaat Yggdrasil masih ada, bukan?" balas Zeeta.


"Benar. Lantas, mengapa aku tidak segan memberitahumu banyak hal tentangnya?"


"Soal itu...." Zeeta tersesat untuk menjawabnya.


"Seele pun bilang padamu untuk melihat apa yang terjadi di sini, kemudian berkeputusan."


"U-uhm. Itu benar."


"Kalau begitu lihatlah. Lihat dan putuskanlah, untuk apa arti hidupmu dengan kekuatan layaknya Dewi itu...!"


Dari Galkrie hingga seluruh Tanah Kematian, layaknya kertas diremas di pandangan Zeeta dan Ashley, mereka terdistorsi ke suatu waktu, dimana sekitar mereka adalah padang pasir di sebuah malam yang dingin.


Di sana, terdapat kelompok manusia dengan tenda kulit yang dijahit dengan kulit lain sebagai rumah. Mereka menyusun tenda-tenda itu secara melingkar dan di tengahnya terdapat api unggun. Ada seorang pria, wanita, dan gadis kecil mendekatkan diri pada api. Mereka saling bersandar sambil berselimut diri.


"Hei, Ayah... kenapa kita tidak bisa menggunakan sihir seperti Naga, Raksasa, atau yang lainnya? Jika kita bisa, kita tidak perlu kedinginan seperti ini, bukan?" tanya si gadis kecil. Gadis ini memiliki rambut pirang dengan kuncir dua, dan bermata biru yang cantik.


"Ars, kita tidak butuh sihir untuk bertahan hidup. Memang kita kesulitan seperti saat ini, tapi kesulitan yang kita lewati malam ini, akan menjadi pelajaran bagi kita esok agar tidak berlama-lama ketika mandi di sungai," jawab Si Ayah, yang berambut ungu gelap, bermata biru, dan berambut model curtain dengan sedikit jambang.


"Eek....


"Ma-maaf, Ayah... ini semua salahku."


"Gala! Kamu tidak harus menyindirnya seperti itu! Kasihan Ars, dia hanya ingin asik mandi! Kaukira sudah berapa hari kita tidak menemukan air sejernih tadi?!" keluh Si Ibu. Ia sangat mirip dengan Ars. Hanya saja rambutnya ikal dan pendek.


"Haaah.... Flare, kamu terlalu memanjakannya. Kalau begini, Ars tidak bisa memimpin suku kita agar tahan banting dengan semua makhluk di dunia!"


"Kalau saja aku bisa bersihir, aku tidak akan harus berlama-lama mandi, tidak harus kedinginan, tidak harus dimarahi, dan tidak harus mendengar Ayah dan Ibu bertengkar...," gumam Ars.


"Ars!" bentak Gala.


Ars melirik ayahnya.


"Manusia—kita tidak boleh berkeinginan seperti itu! Tak peduli seberapa mahakuasa-nya sihir, Manusia tidak boleh memakai sihir!"


"Kenapa? Padahal hidup kita bisa jadi lebih baik dari ini!

__ADS_1


"Kita tidak perlu kelaparan, tidak perlu kehausan, tidak perlu kedinginan, disaat semua makhluk lain hidup dengan tenteram!


"Kita juga bahkan tidak perlu menunggu giliran pada Raksasa dan Naga hanya untuk mencari makan!"


Ars mengeluarkan semua emosinya. Jeritannya yang lantang membuat orang-orang di tenda yang sedang rehat keluar. "Ars, ada apa, teriak-teriak begitu?" tanya rata-rata orang.


"Tidak, aku hanya kesal dengan Ayah!" balas Ars.


Orang-orang melirik Gala. "Haah.... Bahkan anak kecil sepertinya sudah menyadari apa yang salah. Sudah waktunya bagimu untuk sadar akan keputusanmu ini, Tetua!"


Gala berdiri. "Kalian semua lanjutlah istirahat. Perjalanan kita masihlah panjang. Ars, kau ikutlah denganku." Gala menggandeng Ars ke luar jangkauan nyala api unggun.


.


.


.


.


"Ars, apapun yang kaukatakan, Manusia tidak boleh bisa menggunakan sihir. Kita bisa hidup apa adanya—"


"Lalu berdiam diri ketika kita dinakali oleh Naga dan Raksasa!?"


Gala menatap sedih anaknya yang bisa seperti itu diusianya yang masih belia. Gala pun berlutut lalu menggenggam bahu anaknya.


"Barusan, kau merasa sangat jengkel padaku, 'kan, karena aku adalah Ayah dan Tetua yang tidak becus?


"Kuberitahu padamu satu hal. Perasaan itulah yang membuat Manusia berbahaya jika bisa menggunakan sihir, Ars."


Ars mengerutkan kening. "Apa maksudnya?"


"Ayah memang tak bisa menggunakan sihir, tetapi Ayah adalah Manusia yang bisa belajar, berpikir, dan beradaptasi, sama seperti dirimu.


"Ingatlah kelakuan semua makhluk yang bertemu dengan kita. Apakah mereka yang menunjukkan taring sihir pada kita, pernah berbaik hati pada kita?"


"Tidak! Sama sekali tidak pernah! Disaat kita hanya ingin meminta sedikit saja air untuk minum, atau bahkan untuk Bu Lexa dan Dik Polka yang masih bayi, mereka tidak memberikannya!"


"Itulah, yang kumaksud. Kauingin membalas perbuatan mereka, apa Ayah salah?"


"Kalau tidak ingin, itulah yang salah, Ayah!"


"Dengarlah dan mengerti ini, Ars. Sihir adalah kekuatan yang mampu mewujudkan segalanya. Jika kita, Manusia, bisa menggunakannya, kita pasti akan membalas perbuatan yang telah mereka lakukan pada kita.


"So-soal itu ... mungkin—"


"Pastilah mereka balik membalasnya!" tukas Gala, "lalu, apakah ketenteraman untuk kita hadir begitu kita bisa menggunakan sihir?


"Tidak, Ars! Jawabannya adalah tidak!


"Manusia hanya akan jadi korban kekejaman makhluk yang lebih banyak lagi! Tidak hanya oleh Naga atau Raksasa, makhluk lain yang tidak pernah kita lihat sebelumnya juga pasti ikut memihak mereka!"


"Ke-kenapa bisa begitu?! Kita hanya ingin hidup tenteram!"


Gala melepas genggamannya pada bahu Ars. Ia menunjuk ke pohon yang lebih besar dari kata raksasa.


"Karena Naga dan Raksasa ada dibawah perlindungan Yggdrasil. Hanyalah makhluk bodoh yang akan balik menunjukkan taring pada Pohon Kehidupan. Kalau Yggdrasil berkehendak, keberadaan kita sendiri bisa hilang secepat kilat, itulah bahayanya dari sihir, Nak!


"Apa kaupaham?"


Ars langsung ketakutan lalu perlahan-lahan menangis tersedu-sedu. "Lalu apa yang harus kita lakukaaan?! Apa kita akan selalu dinakali oleh makhluk yang memiliki sihir?! Apa kita yang tidak memiliki sihir adalah hal yang salah?! Lalu kenapa kita ada di dunia iniiii?!" Ars memeluk kencang ayahnya.


"Kau tidak perlu memikirkan itu, Putriku. Biarlah aku, Tetua, yang memikirkannya. Sekarang, pergilah kembali pada ibumu dan tidurlah. Besok, perjalanan kita akan disambut oleh sengatan matahari."


Setelah membujuk dan menenangkan Ars sambil mengelus rambutnya, ia ditinggal sendirian oleh Ars yang kembali ke dekapan hangat ibunya.


"...." Gala terdiam sambil menatap bulan.


"Sialan, apanya yang Pohon Kehidupan? Tahi sekali!" ia menendang pasir. Kemudian, melihat sesuatu di sudut matanya. "Oh? Oasis? Kenapa kami tidak menyadarinya? Harus kuberitahu mereka." Ketika Gala ingin kembali ke kelompoknya, ia terhenti.


"Tidak, mungkin ini jebakan. Bisa saja itu hanyalah sihir yang sengaja ingin memisahkanku dengan kelompokku. Aku harus memastikannya terlebih dahulu, barulah aku akan memberitahu mereka."


Gala kemudiqn berjalan sendirian ke arah oasis.


"Fufufufu, seperti kata anak itu, kalian Manusia sama sekali tak ada gunanya hidup di dunia sihir ini.... Dengan sedikiiiit basa-basi dengan Naga dan Raksasa, kami, Peri, bisa dengan mudah meyakinkan mereka untuk melenyapkan kalian....


"Gala... kapanpun mereka bertemu dengan dirimu, kaubisa menghindari skenario terburuk bagi kelompokmu dengan kelihaian ucapanmu. Tapi sekarang, kuhahahahah...."


Makhluk sihir bersayap empat dan bertubuh mini—berskema busuk untuk manusia yang dilihatnya dari ketinggian langit. Peri itu menjatuhkan butiran mana dari sayap dengan warna merah muda. Ia kemudian memejamkan mata.


"Kalian adalah kelompok terakhir dari Manusia yang bisa selamat dari genggaman tangan kami! Dunia ini tidak butuh Manusia! Manusia hanyalah perusak kecantikan, keanggunan, dan keagungan dari Yggdrasil!

__ADS_1


"Lenyaplah bersama kebencian tak terbalaskan itu... manusia...." Peri merah muda itu menyeringai jahat.


Tanah bergetar layaknya gempa dahsyat. Gala yang bahkan belum sampai pada oasis, terhenti dan membalikkan kepala. Dikala ia hendak memutar kepala, ia melihat oasis itu hanyalah sihir ilusi optik. "Kuh, sialan!


"ARS, FLARE! SEMUANYAAA!!!"


Dengan secepat tenaganya, Gala berteriak sambil terus berlari.


"LARILAH!


"Larilah dari sana! Raksasa... Raksasa telah da—"


Gala terhenti begitu saja, mematung setelah melihat apa yang menyambutnya dari balik belahan padang pasir.


Lima Raksasa, tujuh Naga. Ukuran mereka yang puluhan kali lipat dari Manusia, seketika membuat Gala putus asa. "Kenapa... ada... sebanyak itu...?!"


Tak mampu melakukan apapun selain melihat kelompoknya yang ada di depan mata, Gala menganga. Orang-orang dibalik tenda segera berhamburan layaknya semut yang terancam. Tanpa peduli apapun lagi, satu per satu dari mereka dicengkeram oleh para Raksasa. Tubuh rapuh manusia-manusia itu segera hancur seperti bubur tanpa adanya perlawanan berarti.


"He-hentikan! Hentikan itu, HOI!!" meski begitu, Gala tetap tak bisa menggerakkan kakinya. "Bergeraklah, kaki sialan! Tak ada waktu bagimu untuk takut! Ars da Flare sedang dalam bahaya! Gerakkan kaki bodoh itu!"


"Uaaaagh!


"Tidak! Aku tidak ingin ma—"


"Sialan! Sialan! Kenapa ini terjadi padakuuu.... uaaghk!"


"Ibuuuu, tidaaaakk!!"


Jeritan demi jeritan, kala itu Gala mengalami neraka yang amat sangat kejam. Lebih kejam dari kehidupannya sebelum saat ini. Ia menundukkan kepala sambil menutup erat telinganya.


"Ayaaaaah!"


Gala terbelalak. "Ars?! Ars! Kau selamat?!" melihat secercah harapan berlari padanya, akhirnya kaki itu bisa ia gerakkan.


"Ayah, tolong! Ibu... ibu... ibu sudah...!" raut wajah dan tangis secercah harapannya ini segera dimengerti Gala.


"Ti... dak mungkin, 'kan...?" ia jatuh berlutut.


"Ayah, kita harus lari! Kita tidak bisa selamat kalau diam saja!"


"Itu benar, Manusia biadab! Kalian takkan bisa lari!" seseorang datang dari langit dengan sayap Naga berwarna hitam. Kulitnya dipenuhi sisik, matanya tajam seperti jarum. Gala tidak bisa berbuat apa-apa. Disaat yang sama, para Raksasa dan Naga mendekat pada dua manusia terakhir ini.


"Cih, Feline memang licik. Dia tidak mau mengotori tangannya," kata salah satu Raksasa.


"Peri itu didukung oleh Yggdrasil. Ucapannya yang mengatakan Manusia ini mengejek Yggdrasil, haruslah dilenyapkan."


Gala terbelalak.


"Hmm? Aku ikut datang hanya karena Yggdrasil-lah yang memerintahkanku. Apa sebenarnya yang diucapkan Manusia biadab ini?" tanya pria bersayap dan sisik Naga itu.


"Yggdrasil adalah pohon yang gila, tidak adil, busuk, dan semua yang mengikutinya hanyalah sampah!" suara seseorang terdengar dari langit.


"SIAPA YANG BERANI MENGEJEK YGGDRASIL SEPERTI ITU, HAH?!" dengan cepatnya, orang bersayap dan sisik Naga itu menyemburkan api biru keunguan beralirkan listrik ke langit.


"Hei, bahaya, tahu! Ini aku!" seru Feline, identitas dari suara. "Aku hanya mengikuti ucapan Manusia yang kudengar belum lama ini!" sambungnya.


Ars dan Gala terkejut setengah mati mendengarnya.


"HOOO...?!" urat kepala muncul di pelipis pria Naga itu. "Seharusnya kaubilang jika itu dirimu, Feline. Aku tak perlu membuang-buang mana."


"Tidak! Kami tidak pernah mengatakan hal seperti itu!" bantah Ars.


"Itu benar! Kami tidak akan bisa melawan kalian, untuk apa melakukan hal sebodoh itu!?" timpal Gala.


Si Pria Naga menyadari ada anak kecil di depannya.


"Kemarilah, Nak. Katakanlah padaku apa yang terjadi. Aku akan mendeeengarkan semua yang akan kaukatakan." Si Pria menghilangkan sayapnya, bertekuk lutut lalu merentangkan lengannya. Ia tersenyum.


Ragu-ragu, Ars melihat Gala. "Izinkan aku ikut bersamanya, Tuan Naga!" seru Gala.


Senyum Si Pria hancur begitu saja. "Tidak. Kemarilah, Bocah, atau kubunuh kalian." Tatapan tajam dari mata Naganya mengancam jiwa dan mental mereka dalam kedipan mata.


"Ba-baik! Ak-aku akan ke-ke-kesana!" tak berhenti bergemetar, Ars bersusah payah dan berjuang menaklukan ketakutan yang telah ada di batasannya itu.


Begitu Ars tepat di jangkauan lengan....


Feline tersenyum, Si Pria Naga tersenyum, para Raksasa pun tersenyum. Menyadari keanehan ini, Gala terbelalak. Tidak memikirkan apapun yang akan terjadi, ia berlari secepat mungkin sambil berteriak, "AAARRSSS!!!!"


'ZRASSHT ZRGHK BRRTT!'


Gala terjatuh di pasir, tangis pun menyusul.

__ADS_1


"HUHAHAHAHA! Inilah bukti kebodohan Manusia! Seharusnya mereka lari daripada mempersembahkan diri untuk mati seperti ini!


"Aaah... darah yang lezat sekali."


__ADS_2