Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Tujuan Akhir Zeeta


__ADS_3

Desa Lazuli....


Bukanlah sebuah hiperbola jika mengatakan desa ini adalah "Desa Permulaan". Menyampingkan segala hal yang sudah menjadi sejarah serta saksi bisu yang menyertai, beberapa orang penduduknya saat ini sedang berbincang hangat dengan Tuan Putri mereka. Gadis tujuh belas tahun berambut perak itu juga sedang menyantap kudapan yang dimasak oleh para penduduk khusus untuknya.


Kedai A n' Z menjadi tempat bincang mereka saat ini. tiada yang berniat mengganggu pembicaraan beberapa orang di sana, sehingga hanya kedai itu saja yang tampak sepi kendati situasi di desa.


Di dalam kedai, orang-orang yang terdiri dari Zeeta, Arthur, Hellenia, Grilda, Recko, Gerda, dan Danny, serta Luna, duduk terpisah menjadi dua kelompok. Kendati demikian, mereka duduk berdekatan.


Gerda dan Danny, serta Zeeta, yang sudah berteman sejak kecil, saling berbahagia dengan keselamatan masing-masing. Walau Zeeta sudah tahu seperti apa dan bagaimana kedua teman berharganya ini bisa selamat, dia tetap mendengarkan lagi cerita dari Luna.


Usai mendengar utuh cerita Luna, Recko dan Grilda, sebagai orang tua Danny dan Gerda lantas bertanya, "Jadi, selanjutnya apa yang harus dilakukan? Kita tidak bisa diam saja setelah Galdurheim ini diperkuat."


Semua mata menatap Zeeta yang duduk dekat jendela, sementara Zeeta sendiri tidak mengubah arah matanya dari jendela yang menampakkan pemandangan Hutan Peri. Mereka yang memandangi Zeeta mulai merasa heran kala ia mengernyit.


"Zeeta?" tanya Gerda, "ada a—"


'BLARRRR!'


Bunyi ledakan segera membuat panik semua yang ada di desa. Kedai A n' Z tertutupi oleh asap kelabu tebal. Mereka yang ada di luar segera meneriaki nama Tuan Putri mereka. Bunyi ledakan ini juga menjadi perhatian mereka yang ada di kota dan Wilayah lain.


Sementara itu....


"Tidak sopan sekali kau ini," ujar Zeeta yang tengah mencengkeram sesuatu dengan tangan kirinya.


"Wa ha ha ha! Ini hanya sapaan saja. Pendudukku selalu bilang untuk mewaspadaimu, jadi aku tak bisa diam saja."


"Siapa itu!?" jerit Gerda.


"Kita pindah tempat," pinta Zeeta.


"Ya, aku tak masalah."


"Cih, Zeeta!" Gerda segera menghempaskan asap kelabu yang mengepul di sekeliling mereka, hanya untuk mendapati bagian dinding dekat Zeeta duduk sebelumnya hancur lebur secara merata, menyisakan yang lain selamat tanpa ada luka baik dari orang ataupun barang.


"Dia seenaknya lagi...!" seru Gerda kesal, "kenapa selalu ingin sendirian menyelesaikan masalah?!"


"Ehh?" Hellenia sadar sesuatu. "Lihat ini, semuanya!"


Kala mereka menolehkan kepala, semuanya melihat ada anak panah berwarna-warni yang tertinggal di meja.


"Luna... kautahu ini?" tanya Gerda.


"Haaaahh...." Luna menghela napas panjang. "Tentu saja aku tahu. Anak panah ini merupakan sihir dari Ratu Peri yang baru."


Semua mata yang mendengar terbelalak. "EEEHHHH?!"

__ADS_1


......................


Di dalam Hutan Peri yang kini dedaunannya bukan lagi berdasarkan warna rambut dan sayap dari Feline—yakni merah muda—kini Hutan Peri memiliki warna dedaunan yang tiga jenis biru, yaitu navy, safir, dan baby blue atau biru pucat. Namun, itu hanya hutan bagian dalamnya saja, bagian luar hanya hutan seperti biasa.


"Yah, maafkan atas tindakanku tadi, Tuan Putri Zeeta. Anggap saja itu hanya sebuah tes untukku yang baru lahir ini." Sosok yang dikatakan Ratu Peri oleh Luna itu sedang duduk di atas sebuah batang dengan mengayun-ayunkan kedua kakinya. Ia juga hanya memakai gaun polos berwarna hitam sepanjang paha dan bertotol putih, memiliki empat helai sayap yang berwarna biru berkilau, dan rambut hitam panjang sepunggung yang tergerai.*


"Baru lahir? Bisa kaujelaskan?"


"Uhm. Tentu saja." Ia kemudian berdiri di atas batang dengan melakukan roll belakang. "Dengarkanlah, lantangkanlah! Namaku adalah Nadéja, Ratu Peri yang lahir dari sebuah harapan!"


"Ra-Ratu Peri?!?!


"Tu-tunggu tunggu tunggu! Kukira kau adalah makhluk sihir! Tidak, maksudku kau memang makhluk sihir dan sayap itu memang mirip sekali dengan milik Peri, tapi tubuhmu... sebesar Manusia, lho!


"Ka-kau yakin seorang Peri...?"


"Hehe, tentu saja! Tapi aku tidak menyalahkanmu yang keheranan, sebab aku memang berbeda dengan Peri yang lain. Apa kau mau tahu mengapa???"


"Eh? Ah, uhm. Tentu saja."


"Fuuuun~ begitu, ya, begitu, ya." Nadéja menganggukkan kepala dua kali. "Umu! Karena ini permintaan darimu, apa boleh buat! Ikutlah!" Nadéja turun dari pohon dengan melompat. Ia lalu terbang dengan empat helai sayapnya yang besar itu sambil telentang.


"Aku tahu kau masih kaget dengan banyak hal, tapi mula-mula, aku ingin kau memulai perjalanan akhirmu dari sini."


Zeeta yang mengikuti agak terkesiap. "Kautahu?"


"Apa maksudmu dengan 'lahir'? Tentunya bukan seperti Manusia yang ... begitu, bukan?"


"Ahahaha. Tentu saja tidak, duh!


"Kautahu Peri bisa menggunakan mana alam dengan saaangat-sangat mahir, bukan? Bahkan kami bisa semakin memperkuatnya!"


"Ya, aku tahu. Memangnya ada apa dengan itu?"


"Itu juga disebabkan karena kami berasal dari alam."


"Ah.... Maksudmu, Peri lahir dari tumbuhan, begitu?"


"Sedikit salah, tapi bisa dianggap benar! Peri lahir dari mana tumbuhan."


"Hmmm...." Zeeta mengangguk-angguk. "Jadi, apa ini artinya ... Feline sudah benar-benar mati?"


"Yap."


Zeeta tiba-tiba berhenti berjalan.

__ADS_1


"Hmm? Zeeta? Ada apa?"


"Kenapa kaubisa mengatakannya dengan mudah? Apa kau tidak merasakan apapun dari kematiannya?"


"Mmmmh...." Nadéja memandangi mana yang mengalir di sekitaran Zeeta. "Ah, kau bingung dengan perasaanmu sendiri, ya."


"Eh?"


"Kau sangat tahu dirimu benci Feline setelah semua yang dilakukannya terhadap leluhur dan Manusia secara turun-temurun, namun di akhir hayatnya malah membantumu hingga rela mengorbankan nyawa."


"Ya, begitulah. Aku terkesan kaubisa tahu."


"Ini mudah. Aku bisa membacanya dari aliran manamu."


"Uwah, gila!"


"Tapi, biarkan dunia yang menghukum semua perbuatannya di masa lampau, atau aku yang merasa bersyukur dia sudah mati. Kini, yang harus kaufokuskan adalah perjalananmu sendiri."


"Untuk makhluk yang baru saja lahir, ucapanmu sangatlah bijak, ya."


"Hei, hei, jangan pakai logika Manusia saat berbicara dengan makhluk sihir."


"Ada benarnya juga! Ahahaha...."


Dialog keduanya tak terasa begitu panjang, hingga akhirnya mereka sampai di tempat yang ingin dituju Nadéja. Zeeta segera saja dibuat tercengang dengan sebuah lingkaran besar. Bukan sebuah lingkaran besar biasa, namun itu merupakan kumpulan mana. Lingkaran itu setinggi pepohonan dan seluas beberapa hektare.


"A-apa ini?!"


"Tidak bisakah kau merasakannya? Ini mana," jawab Nadéja enteng.


"Aku tahu! Tapi untuk apa...?"


"Zeeta Aurora XXI." Tiba-tiba Nadéja yang selalu terdengar happy-go-lucky, menjadi serius. Zeeta lantas membuka telinganya lebar-lebar.


"Ketika kau disibukkan dengan para Roh Kuno, yang akan menghalau Jormungand adalah mereka yang ada di Galdurheim. Skenario terburuknya, Jormungand membawa lebih banyak pasukan dan Drékaheim juga menyerang bersamaan.


"Yang kami minta darimu bukanlah apapun, namun percaya dirilah."


Zeeta mengernyit. "Apa maksudmu?"


"Tujuan akhirmu sebelum menumbuhkan kembali Yggdrasil adalah memakai Tombak Suci Rhongomyniad."


"Tombak Suci ... Rhongomyniad...? Apa itu ada hubungannya dengan desa Rhongomyniad?"


"Hahaha, tentu saja ada. Di sanalah kau akan mengambilnya."

__ADS_1


"Apa yang harus kulakukan dengan tombaknya?"


"Menghancurkan Drékaheim dan Jötunnheim. Aku, Nadéja, terlahir untuk membantumu menuntaskannya."


__ADS_2