Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Dia yang Mengawasi


__ADS_3

Putih seputih kertas, bersih sebersih ruang steril—adalah pemandangan yang pertama kali Lucy lihat sejak ia membuka matanya. Ia mendapati dirinya


terbaring di atas sebuah kasur—lebih tepatnya sebuah mesin berbentuk kasur yang terus memantau denyut nadi dan napasnya. Di sebelahnya, terdapat sebuah jendela melebar yang menunjukkan kota—tidak, melainkan sebuah kerajaan mati, tanpa


penduduk. “Cih, kerajaan Nebula, kah?” gumamnya.


“Oh? Sudah sadarkan diri?” suara Suzy terdengar menggema di ruang itu.


“Aku tak pernah mengingat jika kita bekerja sama. Untuk apa kau menghentikanku? Yang lebih penting, kenapa kau membawaku ke sini?” tanya Lucy. Ia mengerutkan keningnya.


“Sudah, sudah, jangan tunjukkan wajah emosimu itu padaku. Kau tahu siapa identitasku dan aku pun tahu siapa identitasmu.” Lucy tampak terganggu dengan ucapannya barusan. “Ya, memang kita tak mengikat hubungan kerja sama, karena kita hanya saling sapa sejak kau keluar dari sana.”


Lucy tersenyum kecut. “Lalu, seorang Phantasmal sepertimu, apa urusanmu denganku?”


“Bukan sesuatu yang rumit, kok. Aku ingin kau


mendengarkanku dan sebaliknya. Tujuanku dengan Phantasmal lain mungkin tidak jauh berbeda denganmu, tapi dasar dari tujuan itu berbeda. Kau


menginginkan balas dendam, sedangkan kami menginginkan keberlanjutan hidup.”


“Hah?” Lucy mengerutkan alisnya, “apa maksudmu?”


“Heeh...?! Kau tidak tahu?” nada Suzy yang terkejut itu terdengar dibuat-buat. “Keturunan bulan yang sudah disebut-sebut Feline sejak zamanmu itu, saat ini mengancam kehidupan kami.”


“Apa?!” seketika Lucy melihat tangan kanannya. “Kenapa? Bukankah seharusnya alur waktunya berbeda?!”


“Hmmm? Apa yang kaubicarakan?”


Lucy sempat membisu sejenak....


“Tidak, bukan apa-apa...," jawab Lucy sambil mencengkeram pergelangan tangan kanan dengan tangan kirinya.


“Oh, begitu?


“Kalau begitu, katakan padaku, Lucy. Kepada siapa kau membalas dendam, dan untuk apa kau harus melukai Feline sampai seperti itu? Kuyakin kautahu, meski mereka licik, mereka masih bagian dari kami. Tentu saja kami tak bisa tinggal diam disaat kau lebih mengancam daripada keturunan bulan yang kedua puluh satu itu. Sungguh ... kenapa Yggdrasil memihak dia?”


Lagi-lagi Lucy tersenyum kecut. “Aku tak berkewajiban menjawab kepada siapa aku membalas dendam. Ah, namamu kalau tidak salah, Suzy, ‘kan?” Lucy berdiri dan meregangkan tubuhnya.


“Ya, itu aku.”


Dengan senyumnya yang begitu mengancam ditemani mata yang melotot, Lucy berkata, “Jangan sampai kau salah langkah dan menjadikanmu target


dari balas dendamku, lho.”


Dari sisi lain ruang itu, Suzy melihat senyum mengerikan Lucy dengan jelas. Ia sampai dibuat bergidik dan berkeringat dingin. “Sialan... Baiklah-baiklah, aku tak akan mengganggumu, tapi aku tidak menjamin dengan Phantasmal lain.”


Lucy menghilangkan senyum mengerikannya itu lalu berbalik mendekat ke jendela. Ia kemudian berucap dengan nada pelan, “Kau sendiri, kenapa harus membohongi dirimu sendiri dengan kerajaan ini, dan tidak menghentikanku lebih awal, oh Phantasmal?”


Suzy terbungkam dibuatnya.


“Apa yang akan kaulakukan setelah ini? Langsung menyerang Aurora?” tanya Suzy, mengganti topik bahasan.


“Tidak. Aku akan mengawasi dulu. Seperti yang sudah kulakukan sejak 225 tahun yang lalu.” Lucy memutar tangan kanannya dan membuat sebuah portal hitam keunguan, lalu masuk ke dalamnya. Ia menghilang dari ruang itu.


......................


[Sementara itu, di Hutan Peri....]


Morgan, ditemani dengan Sylva dan Falmus, sedang memakamkan seluruh korban kekejaman Lucy. Diantara korban jiwa itu, Yuuvi salah satunya. Ia tak sempat menghindari serangan Lucy—sama seperti kebanyakan Peri lain.


Meskipun genangan darah dari para Peri dan kerusakan pohonnya sudah hilang dengan sihir Suzy, tak bisa membuat luka di hati ketiga Peri itu sirna. Dari 1150 jiwa Peri yang ada di hutan, hanya tersisa empat jiwa saja, termasuk Feline.

__ADS_1


Dikala mereka memakamkan tubuh-tubuh bernasib mengenaskan itu ke dalam liang tanah, tiba-tiba Morgan terhenti dan emosi kembali. "Tak akan kumaafkan! Akan kubalaskan dendam rasku ke Manusia sialan itu!"


Falmus membalas jeritan amarah itu dengan amarah yang tak kalah tinggi. "Berkacalah dari kesalahanmu, Pak Tua sialan! Apa kau belum kapok dengan kelakuan kalian selama ratusan tahun ini?!


"Bisa apa kau dengan kekuatan sihir itu di hadapannya disaat Ratu saja tidak mampu melakukan apapun, hah?!"


"Kesalahan?! Apa yang kaumaksud?! Aku dan Feline berusaha menghapus Manusia-Manusia menjijikkan itu dari dunia dan membuat dunia ini kembali tenang dan damai!"


Emosi Falmus semakin memuncak. "Pikiran tuamu itulah yang membuat dunia jadi tempat mengerikan ini, dasar otak udang!" pekiknya menghina.


"Hutan Peri dulunya sangat indah, disukai banyak makhluk, tempat terdamai di seluruh dunia!


"Ketika kau berencana menipu Aurora bersama Ratu—kalian pikir kami tidak tahu, hah?!"


"A—?!" Morgan dibuat membisu.


"Kalau saja ... kalau saja kami menghentikan kalian ... dia tak akan datang membalas dendam!


"Sudah cukup! Aku akan pergi dari hutan ini. Hiduplah sesuai keinginan kalian sendiri!" Falmus pergi dengan mengepakkan empat sayap merahnya. Namun, ia dihentikan oleh makhluk sihir yang datang dengan tongkatnya.


"Kuu kuu, kauyakin dengan hal ini, Falmus?" sosok burung hantu bertubuh seperti Manusia itu muncul begitu saja. "Kalian bisa saja musnah, kuu kuu."


"Kalau begitu takdirnya, maka biarlah!" Falmus hendak pergi lagi.


"Meskipun keputusanmu akan membuat Ratu-mu sedih, kuu kuu?" tanya Si Burung Hantu lagi, Maisie sang Dryad.


Falmus tersentak lalu mengepalkan tangannya.


"Kalau Ratuku tak bisa menyadari kesalahannya selama ratusan tahun ini, untuk apa aku bersumpah setia lagi padanya?


"Kalau kau sebagai pengawas hutan membiarkan dia datang, berarti hutan sendiri menerima balas dendamnya. Apalagi yang harus kupertimbangkan?"


"Jangan hentikan aku, Sylva! Kalau kau masih ingin bersama dengan mereka—"


"Tidak, aku ikut denganmu."


"A... apa yang...? Sylva... kau mengkhiana—" Morgan mulai rapuh dengan kondisinya.


"Ratu memberiku tugas delapan tahun yang lalu, yaitu mengawasi Zeeta dari Hutan Peri, jadi aku sangat tahu betapa munafik dan busuknya kalian daripada Manusia yang selalu kalian kutuk itu." Sylva menyusul Falmus.


"Jangan hentikan kami, Nyonya Maisie," ujar Falmus, lalu benar-benar meninggalkan Hutan Peri bersama Sylva.


"Kenapa....? Kenapa semuanya jadi seperti ini?!" Morgan membanting tangannya ke tanah.


Hanya menghela napasnya, Maisie ikut meninggalkan Hutan Peri.


Maisie kembali ke kedalaman hutan. Di sana, ia melihat seluruh kejadian yang terjadi, baik di kerajaan Nebula ataupun Aurora dan Hutan Peri, dari aliran sungai yang berhulu air terjun kecil. Ia menaruh tongkat kayunya lalu duduk di sebongkah batang besar.


"Dia bilang mengawasi seperti biasa, ya...?" gumamnya. "Hahaha, setidaknya dia punya kebebasan kapanpun dia ingin membalas dendamnya." Maisie mengawasi gerak-gerik Lucy yang berdiri di puncak gunung. Batang pohon di belakangnya tiba-tiba memanjang lalu mengelus bagian punggung Maisie. "Kuu kuu, terima kasih sudah menyemangatiku!"


......................


Beberapa hari setelahnya, kerajaan Aurora menuntaskan liburannya. Mereka bersiap untuk keluar dari dimensi dan berkumpul di tengah-tengah pantai—sama seperti sebelum berlibur. Kala itu, Alicia mengumumkan tragedi dengan wajah yang serius. "Rakyatku yang tercinta!" pekiknya mencuri perhatian warganya.


Sesuai keinginannya, semua rakyatnya menatap wajah serius sang Ratu.


"Setelah kalian keluar dari dimensi ini, kita harus bersiap diri."


"Eh...? Ada apa?" gumam rakyat A.


"Apa terjadi penyerangan lagi?" gumam rakyat B.

__ADS_1


"Padahal kita baru saja berlibur...," gumam rakyat C.


"Sembilan puluh enam persen dari penduduk Hutan Peri—dengan kata lain, para Peri itu sendiri, tewas." Ucapan Alicia mengejutkan seluruh rakyat. Mereka membisu sambil berpeluh. "Makhluk sihir yang bersekutu dengan kita, menjamin kebenarannya. Elf, Naga, Raksasa, bahkan Roh sekalipun, merasakannya."


"A... apa itu ada hubungannya dengan lenyapnya penduduk kerajaan Nebula, Yang Mulia?" tanya seorang rakyat.


"Hmm? Kalian sudah tahu dengan nasib kerajaan Nebula?


"Tidak. Ini berbeda pelaku."


"Ka... kalau ada yang bisa menghabisi Peri-Peri berkekuatan besar itu... apa yang bisa kita lakukan...?" para rakyat semakin ketakutan.


Tiba-tiba, dengan suara yang lantang melalui sihir pengeras suara di depan bibirnya, Ashley berkobar. "Sudah terlambat untuk merasa takut, dasar pengecut!


"Sudah berapa kali kalian diterjang ancaman seperti ini, dan sudah berapa kali kalian selamat darinya?


"Aku tidak bermaksud membanggakannya, tapi Aurora selalu diancam bahaya, bahkan sejak ratu Aurora Kesepuluh!


"Apa kalian pikir Aurora masih ada sampai saat ini hanya karena kekuatan kami, para bangsawan?!


"Tentu saja tidak!


"Aku tidak perlu mengingatkan kalian tentang seberapa kompak kerajaan ini saat membangun ulang kerajaan ini, 'kan?"


Rakyat terdiam, bercermin dari ucapan Ashley barusan. Tetapi diam itu tidak disenangi olehnya.


"Katakan padaku, apa kalian lebih ingin mati sebelum berjuang atau hanya pasrah?!


"Aurora lebih kuno dari Nebula atau kerajaan lain, tapi kerajaan ini yang paling mampu bertahan dari seluruh kejadian selama ratusan tahun ini!


"Apa kalian ingin menyia-nyiakan perjuangan leluhur kita, hanya karena ketakutan?! Katakan padaku dengan lantang! Aku tahu dalam hati kalian ada api kecil yang berkobar ingin melawan!


"Atau kalian lebih ingin Ratu dan Raja kalian yang baru kembali, serta Tuan Putri yang selama ini melindungi kalian mati demi rakyatnya yang takut?"


.


.


.


.


"TENTU SAJA TIDAK!"


"KAMI AKAN MELAWAN RASA TAKUT ITU!


"KAMI BERSAMA YANG MULIA!"


"YAAAA!!!"


Sorakan demi sorakan semangat yang berapi-api meluas dari satu orang ke yang lain.


"Bagus! Beginilah Aurora!" balas Ashley dengan senyum lebar.


Sementara itu, di puncak gunung, dimana Lucy sedang mengawasi....


"Hahahaha!" Lucy terbahak-bahak hingga menimbulkan air di matanya. "Beginilah manusia. Beginilah bedanya manusia dengan makhluk sihir!


"Baiklah....


"Tes seperti apa yang harus kuberikan untuk mereka, yaa...?" Lucy tersenyum jahat, senyum yang ia keluarkan ketika menikmati suasana, sama seperti senyum yang diberikan pada Suzy beberapa saat yang lalu.

__ADS_1


__ADS_2