Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Keinginan Sang Raksasa


__ADS_3

Tellaura siuman setelah Jeanne menyembuhkan luka sayatan yang terus mengucurkan darah dari dirinya. Luka sayatannya ada yang parah, ada pula yang kecil. Tapi itu semua sudah tidak berarti lagi setelah Jeanne menutupnya dengan Rune. Kendati demikian, luka lebamnya tetap apa adanya. Jeanne beralasan jika ia menyembuhkannya juga, maka Tellaura akan terpengaruh oleh Rune-nya, dan malah akan membunuhnya.


“Di mana aku...?” tanya Tellaura kala ia melihat sekelilingnya. Di sekelilingnya adalah pohon-pohon raksasa dimana ia tak bisa melihat ujung atasnya. Tanah yang didudukinya juga dirasanya berbeda dengan tanah yang biasanya. Demikian pula dengan rerumputannya. “Tempat apa sebenarnya ini...?”


“Oh. Akhirnya sudah siuman. Kau sekarang sedang berada di Hutan Terlarang, Tir Na Nog.”


“Ti... Tir Na Nog?!”


“Hmm? Kau tahu hutan ini, Nak?”


“Ti-tidak ... aku hanya pernah mendengarnya dari penyelamat hidupku....”


“Penyelamat hidup?” Pandangan Tellaura melihat mata biru Jeanne seakan menyala. “Ah, namanya Matilda, kah?”


“Eh? Ke-kenapa kau bisa tahu namanya? Si-siapa kau sebenarnya?”


Jeanne tersenyum. “Tidak perlu kauketahui sekarang. Anggap saja aku ada di pihakmu yang akan membantumu pulang. Tapi, hanya sampai disitu saja bantuanku. Nak, sebelum kau mempertanyakan diriku, kenapa kau tidak mengkhawatirkan dirimu dulu sendiri? Kau penuh luka.”


“Ini tidak ada apa-apanya!


“Kalau aku tidak bisa mengetahui siapa dirimu, apa aku boleh tahu tentang hutan ini? Aku dengar hutan ini memiliki bekas kehidupan manusia. Apa itu benar?”


“Yah aku sedang butuh teman bicara setelah sekian lama, jadi tak apa, deh.” Jeanne yang sebelumnya berjongkok di hadapan Tellaura kini berselonjor dan bersandar di salah satu pohonnya. “Anggap saja untuk istirahatmu juga. Duduklah dan jangan tegang, karena aku ada di sini, kau takkan kenapa-napa. Bahkan, jika hutan ini menghendaki, luka lebam itu akan segera hilang.


“Tapi jangan murung bila hutannya tidak menghendaki. Itu pasti karena mereka tidak memercayaimu sebagai rekan—tidak sepertiku.”


“Aku tidak ... begitu mengerti, tapi baiklah.” Tellaura melakukan apa yang disuruh Jeanne.


.


.


.


.

__ADS_1


“Bagaimana menurutmu hutan ini? Indah bukan?” tanya Jeanne sambil memandangi sekeliling hutannya.


“Uhm.” Tellaura tersenyum. “Sangat indah. Aku merasa hatiku sangat tenang berada di sini.”


“Haha, begitu, kah?


“Tentang pertanyaanmu tadi ... biarkan aku bertanya dulu. Apa kau tipe orang yang memercayai legenda dan mitos?”


“Percaya sih ... tidak tahu. Tapi ... hari ini aku mengetahui beberapa hal. Bangsawan berambut hitam tadi bukanlah manusia, dan aku pun bukanlah manusia biasa. Mungkin begitu juga dengan adikku.


“Anak kecil mana yang bisa berlari sekencang angin, melempar sekuat batu longsor, dan bisa ... membunuh penjaga istana?”


Jeanne tersenyum. “Akan kuanggap itu adalah ‘ya’.


“Beribu-ribu tahun yang lalu, hutan ini memiliki penjaga. Penjaga itu adalah sosok yang mengawasi sekaligus melindungi seluruh hutan yang ada di dunia ini. Nama makhluk itu adalah Dryad. Dalam pengetahuan manusia, mereka adalah Roh Hutan. Apapun sebutannya, entitasnya tetaplah sama.


“Dryad itu memiliki teman. Teman itu adalah dua orang manusia. Salah seorangnya adalah yang menciptakan—tidak ... bukan menciptakan, tetapi menggagas hutan ini.


“Tir Na Nog dulunya adalah tempat dimana Manusia, Raksasa, Peri, dan beberapa Naga hidup bersama. Tempat ini dipenuhi dengan mana yang banyak, oleh karenanya tempat ini terlarang bagi manusia yang—ah, lupakan itu.


“Jadi ... apa itu berarti kau pun bukan manusia?”


Jeanne tetap dalam senyumnya. “Kuserahkan itu pada imajinasi dan penilaianmu sendiri.”


“Meskipun kau berwujud sangat mirip seperti manusia, kau bukanlah Manusia?”


Jeanne tak menduga pertanyaan itu dari Tellaura. “Ahahaha! Kaupikir ada berapa banyak makhluk di dunia ini yang menyerupai manusia? Apa kauingin bilang kalau simpanse, kera, dan gorila itu tidak termasuk sebagai makhluk yang menyerupai Manusia?”


“So-soal itu....”


Jeanne mengelus pelan kepala Tellaura. “Aku bukanlah musuhmu. Tentang ini, aku ingin kau percayai dari lubuk hatimu. Meskipun begitu, aku tidak bisa selalu membantumu. Jawaban tentang itu, aku tidak tahu kau akan mencapainya atau tidak, tetapi suatu saat kau pasti akan mengetahuinya—bahkan setelah kau mati.


“Yang paling utama, kau harus bisa keluar dari jangkauan Southern Flare dan pulang ke rumahmu. Apapun yang terjadi setelahnya, kuingin kau tetap pada apa yang kauyakini, walaupun itu artinya kau memutuskan untuk jatuh ke jurang kegelapan.


“Agar kaubisa pulang ke rumahmu dengan selamat, gunakanlah sungai yang akan menjadi jalan pintas menuju desamu.”

__ADS_1


“Sungai...? Kau menyuruhku untuk mencari sungai dengan pohon-pohon sebesar ini?”


“Aku akan memakaikan sihir padamu.”


“Si-sihir?”


“Yap. Dan ini adalah sihir yang hanya bisa kulakukan dan takkan bisa ada yang mengganggunya. Jadi, ketika kau sudah sampai ke sungai, ikutilah perkataanku.”


......................


Jeanne melambaikan tangan pada Tellaura yang menggendong punggung adiknya setelah diantar keluar dari hutan.


“Sungguh langkah nekat sekali yang kauambil kali ini, Jeanne.” Seekor burung hantu hinggap di bahu Jeanne.


“Anak itu memiliki kekuatan murni dari leluhur-leluhurnya. Berbeda dari Southern Flare atau bahkan orang tuanya sendiri. Dunia akan berubah lagi, dimulai dari dirinya.”


“Yggdrasil terkadang merepotkan juga ya. Nasib dunia harus berubah berulang-ulang kali hingga mencapai titik akhirnya.”


“Karena itulah langkah kali ini diperlukan. Semua yang kulakukan agar akhir dari semua ini bisa terwujud. Seperti apapun wujud akhir dari dunia sihir ini, meskipun aku tidak menjadi bagian darinya, aku bisa menerimanya bila penerusnya memanglah seperti yang ditakdirkan oleh Yggdrasil.”


“’Seorang anak kecil berusia delapan tahun, mengakhiri dunia.’ Itulah kata-kata Yggdrasil sebelum memecah diri menjadi Roh Yggdrasil. Entah harus seberapa banyak konflik lagi antara Manusia dan makhluk sihir harus terus terjadi agar akhir itu bisa tiba ... yang ironinya harus diakhiri oleh anak kecil?”


“Ini semua pasti karena takdir, wahai temanku, Maisie.”


“Takdir? Apa maksudmu?”


“Leluhurmu melihat semua kejadian di hari itu. Hari dimana para Naga dan Raksasa membunuh keluarga kecil seorang manusia. Sang ayah bernama Gala, sang ibu bernama Flare, dan sang anak bernama Ars.


“Keluarga kecil itu hidup dengan beberapa orang dan mereka ada dalam satu kelompok. Mengecualikan Gala, semuanya dibantai oleh Naga dan Raksasa, tak terkecuali sang anak, Ars. Kala itu Ars masih berusia antara tujuh sampai sembilan tahun.


“Semua Aurora yang memiliki takdir besar dalam hidupnya, kebanyakan mengalami kejadian yang sangat terpengaruh bagi hidupnya dalam rentang usia itu. Aku, Jeanne, seorang Raksasa yang sudah hidup beribu-ribu tahun hingga tidak tahu lagi berapa usiaku saat ini....


“Hanya menginginkan mereka... para anak-anak itu tidak lagi harus mengalami hal semacam ini....


“Dunia sihir ini ... harus berakhir.”

__ADS_1


__ADS_2