
Setelah laser yang ditembakkan Colette lenyap hingga menyebabkan tanah tersapu dan menyisakan sengatan-sengatan listrik putih karena kuatnya sihir itu, ia jatuh terduduk. Ia pun kehabisan napas. "Aaaahhh, tak kusangka bisa sepuas ini mengerahkan seluruh tenagaku!" serunya. Terukir senyum puas ditengah dirinya yang bermandikan keringat. Seakan menyambut usainya pertempuran antara kerajaan Aurora dengan Phantasmal, hujan deras berguntur sebelumnya mulai pupus. Cahaya sore mentari pun menyinari dari celah awan, menghangatkan dinginnya bumi, juga para Crescent Void, dan Klutzie serta Siren.
"Kau bahkan dapat mesra-mesraan dengan tunanganmu, tentu saja kau puas!" seru suara perempuan yang Colette kenal. Dia menghampiri Colette.
"Sssssh... buatku iri—tidak—kalian sungguh membuatku terinspirasi!" Colette juga mengenal suara ini.
"Su-suara ini...?!" Colette sesegera mungkin menoleh ke belakang, tempat sumber suaranya berasal, setelah itu…. "HAAAAAHHHH?!" teriakannya mengundang semua yang ada di sana berpaling padanya. Mereka menganga, juga terbelalak. Sementara dua suara tadi, malah menunjukkan senyum lima jari mereka.
“Ka-kalian ... kenapa...? Kok bisa...?” Marcus sama terkejutnya dengan Colette.
Klutzie mengernyitkan dahi, sementara Mellynda yang begitu melihat mereka, menitikkan air mata lalu segera berlari sekencang mungkin untuk mendekap salah seorang pemilik suara ... Gerda.
“Syukurlah ... syukurlaaahh....” Bersama dengan datangnya sesenggukan, Mellynda mendekap erat Gerda sambil menjatuhkan titik air matanya dengan deras. Entah apa yang terjadi, ia ingin mensyukuri apa yang ia lihat dan bisa ia dekap saat ini, yakni kehadiran Gerda dan Danny yang tampak begitu sehat dan baik-baik saja tanpa meninggalkan luka.
Gerda tidak menyangka jika Mellynda akan seperti ini. Ia menatap Danny sesaat lalu tersenyum kecil. “Maafkan aku, ya...,” katanya sambil menepuk kepala Mellynda, “sudah membuatmu khawatir.”
“Ini sudah bukan level khawatir lagi, tahu! Aku benar-benar mengira kalian sudah mati!” pekik Mellynda. Ia memukul-mukul punggung Gerda. Klutzie dan Siren datang menghampiri ketiganya, bersama dengan Marcus dan Colette.
“Apa yang terjadi?” tanya Klutzie, "mana kalian terasa benar-benar lenyap, kami semua tahu itu.”
Mellynda melepas dekapannya sambil menghapus air mata meski ia masih sesenggukan. Ia menantikan jawaban dari keduanya.
“Yah... sebenarnya kami juga tidak tahu dengan detail apa yang terjadi…,” jawab Gerda. Ia melihat Danny, meminta suaranya.
“Uhm." Danny mengangguk. "Kami tahu jika kami sudah mati karena Suzy, tetapi ... ini agak sulit dipercaya, tapi setelah itu kami melihat pandangan yang sama. Iya, ‘kan?” ia juga meminta suara adiknya.
“Ya. Aku tidak begitu pasti melihatnya karena semuanya serba putih dan menyilaukan, tetapi ... keinginanku untuk menyembuhkan kami setelah mengingat cerita dari Zeeta, sepertinya telah terwujud."
“Eh? Ceritanya Zeeta? Yang mana?” tanya Danny, “aku tak tahu ini ada hubungan dengannya.”
“Kalian ingat? Begitu dia mengalahkan Hell Hydra, dia dibawa pergi oleh Aria?”
Marcus dan Colette yang tidak mengetahuinya, tidak menangkap apa yang dibicarakan, tetapi mereka tetap mendengarkan.
“Zeeta bercerita padaku sebelum Vivid Party diadakan. Yah, daripada dianggap bercerita, mungkin lebih cocok aku yang menanyakannya. Aku penasaran, apa setelah pertarungannya dengan Hollow itu, dia tidak kelelahan? Selama sekitaran tujuh jam ia hilang bersama Aria, apa yang dia lakukan?
“Lalu jawabannya, meski dia tidak ingin menceritakan semuanya, dia ingin aku mengetahui dan memercayainya. Dia ada di suatu tempat yang sangat berbeda dengan tanah yang kita injak saat ini. Kehadiran rerumputannya saja membuat luka-luka makhluk yang terbaring di atasnya sembuh total, dan bahkan mengisi staminanya.”
“A-apa katamu? Rerumputannya—“ Tidak hanya Marcus, semua anggota Crescent Void tercengang. Sementara Siren, ia mengerutkan alisnya.
“Jadi ... ketika aku sadar kalau aku dan kakak akan segera mati... sementara aku memegang tongkat ini, aku menginginkan pertolongan seperti yang terjadi pada Zeeta...,” pungkas Gerda.
__ADS_1
“Siren, kautahu sesuatu tentang ini, 'kan?” tanya Klutzie. Ia sadar jika Siren tahu sesuatu dari ekspresinya.
“Aku tahu,” jawab Siren, yang mengundang semua mata padanya. “Tetapi, aku tak berhak untuk mengatakannya.”
“Apa maksudmu?”
“Dan itu adalah sesuatu yang tidak perlu kalian tahu juga. Yah, sederhananya, kalian tidak perlu terlalu memikirkan apa yang terjadi. Danny dan Gerda hanya harus memikirkan untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan hidup sekali lagi ini dan bertindak lebih waspada.
“Dinilai dari lama pertarungannya, aku tidak akan menyalahkan siapapun karena ini pun pertarungan pertama kalian dengan Hollow atau Phantasmal. Bahkan, pasukan yang dibawa Suzy hanyalah keroco. Di luar sana, masih ada yang jauh lebih kuat dari mereka, namun kalian tumbang oleh mereka yang jauh lebih lemah.
“Mari kita pulang dan rencanakan langkah selanjutnya.”
“Tidak kusangka...,” ujar Danny. Ia seperti melihat hal yang tak wajar.
“Hah? Apa maksudmu?” tanya Gerda yang masih ‘jutek’.
“Yah, soalnya Siren tidak kuduga bisa sebijak ini....”
Urat kepala langsung timbul di kepala Siren. “APA KATAMU, Bocah?! Jangan bilang kaulupa kalau aku ini Roh yang Agung, yang telah memberi kalian semua kekuatanku untuk—”
“Oh? Ternyata kau berpikir apa yang kupikirkan, Danny?” Klutzie merangkul Danny. Ia tersenyum kecut. “Rasanya kau dan aku bisa saling memahami,” sambil berjalan, mereka mengobrol, “apa aku boleh melihat bagaimana caramu berburu? Kurasa aku bisa belajar banyak darimu.”
“He-hei, Lutz...?! Kau bahkan ingin meninggalkanku? Kejam sekaliii!” Siren mengejar Klutzie dengan gontai.
Mengikuti langkah keduanya, Crescent Void yang lain pun pulang ke kerajaan Aurora.
......................
Zeeta yang tengah melanjutkan latihannya dengan Ozy, kini sedang berhadapan dengan tiga makhluk bayangan berwarna ungu gelap. Ketiganya tak memiliki wajah, seperti namanya, mereka layaknya bayangan.
“Makhluk apa ini, Ozy?” tanya Zeeta, “apa lagi yang kini kauingin kulakukan?”
“Mereka tak memiliki nama, hanya sebuah gumpalan sihir dari mana alam dan manaku sendiri, yang kubentuk seperti ini,” balas Ozy, diselingi dirinya yang sedang mencari sebatang kayu. “Tenang saja, jika mereka tak kuperintah, mereka takkan bergerak,” sambungnya.
“Hmm? Apa yang kaulakukan?” Zeeta tertarik dengan gelagat Ozy.
“Kau akan memulai latihan menulis Rune dari jarak jauh. Untuk memungkinkannya, kaubutuh perantara.”
“Kenapa aku harus melakukannya?
“Karena tidak semua musuh bisa kaukalahkan dari jarak dekat, atau hanya dengan sihirmu saja. Ketika kau berhadapan dengan Lucy nanti, percaya padaku kau akan membutuhkannya.”
__ADS_1
“Begitu, ya.”
“Ya.”
Zeeta murung. Ia masih tak ingin menerima jika beberapa tahun ke depan ia harus menghadapi leluhurnya sendiri. Ozy yang merasakan murung dari ekspresi wajah dan bungkamnya, segera mengambil batang kayu yang telah ia temukan dan duduk di samping Zeeta.
“Di dunia ini, ada kalanya ketika kau dipaksa memilih. Pilihan itu acap kali hanya ada dua jenis. Untuk masalah ini, kupercaya jika pilihannya adalah 'menyelamatkan Lucy dengan mengakhiri hidupnya', atau 'membunuh Lucy tanpa menyelamatkannya'.”
Pernyataan itu segera membuat Zeeta mengerutkan dahi. “Hah? Apa bedanya?”
“Kau pun pasti sadar. Setiap keinginan balas dendam ada, selalu ada alasan dibaliknya. Hal itu juga terjadi pada teman sekaligus kakakmu, ‘kan?”
“O-oh.... Ya. Itu benar.... Kak Azure ingin balas dendam karena desanya yang dilumat habis oleh kekejaman Rowing....
"Tapi, Ozy... masalah kak Azure dengan Lucy berbeda jauh! Ini melibatkan garis keturunanku sendiri dan aku tak tahu apa yang harus kulakukan!
“Apa maksudmu dengan membunuhnya akan menyelamatkannya?
“Apa maksudmu aku harus mengotori tanganku dengan darah leluhurku sendiri...? Aku... aku takut....”
Ozy menatap sesaat Zeeta. Sama seperti yang telah ia lakukan sebelum-sebelumnya, ia merasakan ketakutan yang nyata dari dirinya. “Kau sudah menerima dirimu sendiri apa adanya. Itu adalah salah satu contoh bahwa kau telah berubah menjadi seseorang yang berani mengambil keputusan dan risiko, tidak hanya sebagai seorang Tuan Putri, tetapi juga sebagai dirimu sendiri.
“Maksudku, kau telah memutuskan untuk terus berlatih bersamaku, dan memercayakan pertarungan diluar sana pada rekan-rekanmu. Dengan kekuatanmu yang saat ini, Phantasmal dan Hollow yang menyerang itu bukanlah apa-apa bagimu.
“Tetapi, dengan kau yang telah memercayakan hal itu pada rekan-rekanmu, sebuah ikatan erat baru diantara merekapun tersimpul.
“Aku tak bisa memberimu jawaban yang kaucari tentang apa yang harus kaulakukan pada Lucy, karena itu pasti akan terjawab olehmu sendiri. Kau telah mengetahui masa lalunya, kau juga telah menangkap alasan dia ingin balas dendam. Sisanya, adalah apa yang ingin kaulakukan. Kalian adalah Manusia dengan kekuatan istimewa dari bulan, dan aku percaya ketika saat itu tiba, kau akan mengetahuinya.
“Untuk bersiap diri pada hari itu, latihan ini dilakukan.”
Zeeta mengalihkan pandangannya ke bawah. “Aku senang kau melakukan ini semua, tapi... aku penasaran... kenapa ... kau begitu percaya padaku, Ozy? Kenapa kauyakin jika aku bisa melakukannya?”
Ozy tersenyum. “Karena hatiku yang telah memutuskannya. Bahkan jika kau tidak mampu mewujudkan rasa percayaku, aku takkan membencimu, ataupun kecewa padamu. Kau telah melakukan apa yang kaubisa sekuat tenaga, selama kau menyadari itu, sampai kapanpun aku adalah teman dan sekutumu!”
Linang air mata membanjiri pipi Zeeta. “Ih~! Kenapa kaubisa berkata sesuatu yang akan diucapkan ayah Arthur, sih? Kalau begini, aku tak punya pilihan lain selain menatap lurus ke depan dan berjuang sekuat tenaga seperti yang kaukatakan!”
“Hahaha, kurasa ini tidak hanya bisa dikatakan olehku atau Arthur, tetapi semua orang yang sudah menjalin ikatan dengamu pun begitu. Keluargamu, para bangsawan, teman, atau bahkan warga desa Lazuli—tidak, bahkan para Elf juga pasti mengatakan hal yang sama.
“Selalu ingatlah bahwa kau tidak sendirian di dunia ini. Ada kalanya kau terombang-ambing oleh ombak takdir yang tak menentu, tetapi ombak itu pasti akan membawamu menuju esok yang baru. Ada kalanya ketika kau melihat dunia di sekitarmu gelap, tetapi pasti ada orang yang akan menyalakan api dalam hati dan menggandengmu keluar dari kegelapan!”
Zeeta telah mendapatkan kembali rasa percaya dirinya. Ia tersenyum dan siap berlatih kembali.
__ADS_1