Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Bab Bonus - True (Happy) Ending


__ADS_3

Tiga tahun telah beranjak semenjak Yggdrasil atau Pohon Kehidupan sebagai sebutan lainnya tumbuh kembali. Dalam jangka waktu yang dapat dibilang cukup singkat itu, terdapat berbagai macam perubahan tatanan dunia yang melibatkan penduduk Bumi dan menjadikan Pohon Kehidupan itu sebagai porosnya.


Makhluk-makhluk sihir di dunia sebelumnya yang hidup berdasarkan mana, setelah dilakukan pembelajaran lebih dalam, mereka mengetahui bahwa eksistensinya dapat bertahan setelah tak adanya lagi sihir, disebabkan oleh Pohon Kehidupan yang telah mengabulkan permohonan Zeeta Aurora XXI sebagai balasan atas segala perjuangannya.


Sebagai mantan rekan sesama Benih Yggdrasil, Klutzie Nebula II dan Hitomi Reiko dijuluki sebagai pahlawan. Keduanya juga selalu memperjuangkan nama Zeeta supaya tidak terlalu diagung-agungkan dan menjadi kepercayaan yang menyimpang. Biarlah Zeeta pergi dengan tenang, adalah kehendak terakhir mereka sebagai pahlawan selama sisa hidupnya.


Untuk menjaga perdamaian yang telah lama dinantikan oleh seluruh penduduk Bumi, perwakilan antara masing-masing ras berkumpul. Raksasa diwakili oleh Æsir, Naga diwakili oleh salah satu keturunan Naga Oboro; Paladin, Manusia yang diwakili oleh Azure Aurora, dan Reina sebagai Elf yang mewakili bangsanya sendiri beserta ras kecil lain.


Keempat makhluk yang kini memiliki wujud manusia tetapi terdapat ciri khas rasnya tersendiri, memutuskan untuk membentuk sebuah aliansi besar yang melibatkan rasnya masing-masing. Aliansi ini diberi nama "The Will Of Hope". Mereka yang tergabung dengan aliansi ini bekerja sebagai penegak keadilan dengan Pohon Kehidupan yang selalu mengawasi. Bila ada sedikitpun percobaan dari pihak aliansi yang ingin berkhianat dari keinginan luhur untuk menjaga perdamaian yang akhirnya didapatkan, maka mereka akan segera terkena kutukan yang mengancam nyawa. Mereka yang terafiliasi oleh aliansi diberikan badge atau aksesoris lain yang khusus.


Perlahan tapi pasti, penduduk Bumi saat ini, mengetahui bahwa tanpa adanya sihir, semua ras kini setara. Namun, seperti yang terjadi pada umumnya, mereka memiliki bakat-bakat tertentu yang telah menjadi hal lumrah pada Manusia. Ada yang berbakat dalam olahraga, suara, akademik, dan lain sebagainya. Perkawinan silang antar ras juga bukanlah hal yang aneh. Toleransi antar sesama juga semakin dikentalkan tidak hanya oleh satu ras saja, tetapi semuanya, sebab mereka benar-benar melihat dengan mata kepala sendiri tentang keajaiban yang begitu menyilaukan dari sebuah harapan.


Ratu Peri yang menjadi salah satu pemeran penting, sayangnya, bersama dengan Peri lainnya, tidak pernah terlihat lagi. Bahkan tiada satupun diantara Naga dan Raksasa yang mengetahui nasib mereka. Mau tidak mau, Peri dianggap musnah bersama lenyapnya Zeeta.


Perbaikan ataupun pembangunan masing-masing kerajaan yang terlibat dalam peristiwa Ragnarok tentu menjadi sebuah tantangan sulit dan baru bagi masing-masing, sebab tanpa adanya sihir, semuanya jadi terasa sangat lambat. Kendati demikian, penduduk ataupun pemerintah dari masing-masing kerajaan/kekaisaran dapat bertahan. Salah satu contohnya adalah Hellenia von Cloxzar IX dan Arthur yang akan segera melakukan pernikahannya. Hellenia mengundurkan diri dari haknya untuk menjadi penerus Cloxzar, yang kemudian digantikan oleh adiknya, Selenburg. Dia ingin menghabiskan waktunya bersama pria yang sudah lama dicintainya meskipun ia berada di pedesaan. Bahkan itu adalah mimpinya.


Pernikahan mereka diadakan di luar ruangan. Tamu undangannya pun tidak begitu banyak. Beberapa diantara mereka adalah nama besar, seperti Tuan Putri Azure Aurora beserta keluarga kerajaan lain, Tetua Elf Reina, Grand Duke Albert Alexandrita bersama ibunya, enam mantan prajurit khusus kerajaan, serta salah satu keturunan Aurora, Belle Vianna, yang kecantikannya telah kembali seperti sedia kala.


Mereka yang pernah terlibat dengan Belle Vianna segera berbincang dengannya tentang apa yang terjadi pada Tanah Kematian setelah tumbuhnya Pohon Kehidupan.


"Tentu saja itu tidak ada lagi. Kehidupan yang sudah tiada memang akan terus bereinkarnasi, tetapi itu sudah menjadi rahasia dunia tentang bagaimana itu terjadi. Ayahku telah tenang bersama ibuku dan kini aku berkeliling dunia."


Mellynda, Gerda, Danny, Novalius, pasutri Marcus McGroovey dan Samantha Colette, akhirnya berkumpul kembali usai disibukkan oleh masalah masing-masing. Pasutri tersebut belum berencana memiliki anak, namun mereka sudah memiliki rumah sendiri di Wilayah Timur. Mellynda disibukkan oleh perjodohan-perjodohan yang belum bisa ditendang dari kebiasaan. Belum ada satupun lelaki yang dapat hatinya terima.


Gerda mengalami masalah serupa dengan Mellynda. Kemanapun ia berjalan, selalu ada lelaki acak dari bermacam ras yang tiba-tiba melamarnya dengan berbagai macam alasan. Dilain sisi, kakaknya disibukkan oleh pertemuan rutin bersama dua anggota keluarga kerajaan, Edward dan Ella. Namun, Gerda tak mengetahui apa yang sedang dilakukannya, demikian pula Danny sendiri yang tak ingin memberi tahu.


Novalius kini sedang dalam masa bucin-nya dengan seorang gadis Elf. Belum ada rencana pernikahan darinya, namun ia serius dengan cintanya. Bahkan, nyatanya, ia mengajak sang gadis ke sini. Tetapi karena malu dan merasa tak pantas berhadapan dengan rekan seperjuangan pahlawan dunia yang telah ia kagumi sejak dia berlatih di kampung halamannya, ia meminta maaf sedalam-dalamnya lewat Novalius.


"Padahal kau sendiri adalah rekan seperjuangannya, sayang kau tak begitu di matanya, eh?" Danny meledek. Ia meletakkan lengannya di bahu kanan Novalius.


"Jangan sampai dia memandangku seperti itu!" balas Novalius begitu membara. "Kalau seperti itu, bukankah hanya akan ada batasan diantara kami?! Kaulah yang tidak memahaminya, Dan!"


"Uhm, uhm!' Colette mengangguk. "Kau harus lebih mengerti lagi tentang hubungan asmara, Dan!"


"Gu-guhh...." Danny tertampik oleh realita.


Belle Vianna yang masih termasuk dalam lingkaran ngobrol tersenyum tulus. "Benar-benar indah dunia yang kauwujudkan, Zeeta. Apa kaubisa melihatnya?"


Tiba-tiba, dari sudut matanya, ia merasa melihat sekelebat bayangan berambut violet yang bergerak ke dalam kerumunan tamu undangan. Menduga-duga tentang siapa itu, ia segera berlari mengejarnya.


"Be-Belle?! Ada apa?!" panggilan bingung dari Mellynda tak digubris.


"Zeeta? Apa itu tadi kau, Zee?! Apa kau akhirnya kembali atau itu tadi hanyalah...." Belle terus memerhatikan dengan jeli dan menyibak orang di hadapannya dengan tangan dan ucapan maaf agar bisa mengejar sosok tersebut. Sayang, setelah beberapa saat, ia merasa itu hanyalah perasaannya saja. Ia tidak menemukan dimanapun sosok yang dicarinya.


......................

__ADS_1


[Beberapa saat setelahnya....]


Usai Arthur memberi ciuman bibir pertanda dirinya dan Hellenia telah sah menjadi suami-istri, masing-masing mata keduanya melihat sosok Zeeta yang sedang bertepuk tangan dengan begitu semangatnya disertai tangis bahagia. Keduanya dapat menangkap gerakan mulut gadis itu, yang mengucapkan, "Selamat! Aku turut senang!". Mereka tersentak dan sontak menyebut namanya. Namun, begitu mereka mengedipkan mata, sosoknya tiada dimanapun dan itu menjadi salah satu kisah yang tak terlupakan bagi siapapun yang hadir.


Belle yang sebelumnya merasakan kejadian serupa, mulai menduga-duga lagi. Namun di dunia yang tidak lagi ada sihir, ia tak bisa apa-apa selain menganggap gadis yang pernah nyaris dibunuhnya itu memang sedang melihat mereka dari alam sana.


......................


[POV Danny.]


Sudah nyaris sepuluh tahun sejak dunia sihir ini menjadi dunia tanpa sihir. Sudah nyaris sepuluh tahun pula aku dan sepupu Zeeta terus mencari cara agar dapat menjemput Zeeta dari dimensi yang disebutnya sebagai Avalon. Adik dan rekan-rekanku sudah pada memiliki momongan. Bahkan baru-baru ini, Edward dan Ella menikah dalam waktu yang berdekatan. Aku? Hah. Jangan harap.


Setelah disibukkan dengan kehidupan baru mereka, tidak mungkin lagi kubisa memiliki banyak waktu untuk mencari tahu apa lagi yang harus kulakukan demi bisa mewujudkan keinginan Luna dan keinginanku sendiri. Sebelum Ragnarok, aku berjanji pada Luna untuk melakukan sesuatu agar bisa menghentikan Zeeta untuk mengorbankan dirinya. Namun, apa yang bisa kulakukan saat dirinya sendiri yang menginginkan hal tersebut dan sudah membulatkan tekadnya? Memang seharusnya aku segera move on darinya, tapi... aku tak bisa melupakannya dari hatiku.


Kak Azure sudah meneruskan kursi takhta kerajaan. Ia sama sepertiku— belum mendapatkan pasangan— namun itu karena ia disibukkan oleh berbagai macam hal. Tidak akan ada yang percaya bahwa sosok yang kacau dan pemabuk ini adalah mantan prajurit khusus kerajaan yang berjuang demi dunia. Aku tidak lagi hidup di desa Lazuli seperti adik dan orang tua, tetapi kini aku berada di ibu kota. Aku tak peduli dengan penampilan. Lagi pula, apa gunanya?


Setelah kegagalanku yang kesekian kali usai menghadap altar Pohon Kehidupan demi bisa menjemput Zeeta, aku kembali ke kedai Neko untuk melepas penat. Tentunya dengan minuman keras! Kunikmati tenggorokan dan paru-paru yang kurasa semakin rusak setiap harinya. Namun, rasa nikmat yang memabukkan ini hancur seketika saat aku mendengar desas-desus dari pengunjung lain.


"Apa kau sudah dengar tentang hantu gentayangan di makam Selatan?"


"Hantu berambut violet?"


"Ya, itu!"


"Dan itulah yang membuatnya semakin seram. Apa jadinya jika ia sebenarnya adalah seorang pengumpul kerangka atau sisa tubuh jasad?"


"He-hentikan saja bahasan itu! Kita sedang di tempat makan!"


"Ah, kau ada benarnya."


Lagi-lagi tentang hantu. Mana ada di dunia ini hantu. Tapi... makam, ya....


Seingatku guru Scarlet dimakamkan di sana. Tak ada salahnya bila aku sekalian mengunjungi makamnya dan berkeluh kesah. Memang takkan ada yang menjawab, tapi setidaknya itu bisa mengurangi beban hatiku.


.


.


.


.


Sambil membawa sebuket bunga, kukunjungi makam Selatan kaka senja. Rindangnya pepohonan membuatnya sejuk tetapi mencekam disaat yang sama, memang tak aneh bila orang-orang merasa ngeri terhadap apa yang menjadi rumor beberapa minggu ini.


Aku melihat ada seseorang yang sedang berdiri di hadapan makam guru Scarlet. Walau tak memerhatikan saksama, aku tahu ia adalah gadis berambut pendek dan memakai pakaian serba hitam. Kurasa ia adalah kenalan guru.

__ADS_1


"Kenalannya guru Scarlet?" aku bertanya sebagai basa-basi sambil menaruh bunga yang kubawa di depan batu nisannya.


"Ya. Bagaimana denganmu?"


"Dia adalah guruku."


"Hmm...."


"Apa hubunganmu dengannya?"


"Tebaklah."


"Merepotkan. Jawablah saja."


"Kauyakin?"


Aku tak menjawabnya. Aku berdoa agar jiwa guruku yang sangat keren dan berjasa ini dapat tereinkarnasi menjadi kehidupan yang dapat dibanggakannya. Aku mengira kalau kuacuhkan dia, dia akan pergi, tapi tidak. Ia menungguku.


"Haaah~ aku benar-benar sial hari ini."


Kulihat kakinya yang terlapisi oleh sandal dan gaun hitam panjang. Aku hanya melihat itu saja dan tak meliriknya sampai ke atas. "Kau adalah hantu yang menjadi isu panas beberapa minggu ini?"


"Pfft. Hantu? Apa matamu melihat kakiku tembus pandang?"


"Ti-tidak!" aku mendadak tersipu. Ia tahu aku sempat memandanginya.


"Ya ampun. Kau benar-benar tak bisa ditinggal seorang diri, ya, Danny."


Aku terbelalak. Dia tahu namaku? Siapa gadis ini sebenarnya? Apa jangan-jangan dia adalah seseorang yang kukenal? Tapi tidak... yang lebih penting, suara ini....


Saat kubalikkan badanku untuk melihat utuh seperti apa wajahnya, tiba-tiba saja air mataku mengalir dengan deras.


"Terima kasih sudah mengunjungi dan mengkhawatirkanku hampir setiap hari, Danny. Bagaimana? Apa kau terkejut?"


Tubuhku tak bisa kukontrol begitu melihat senyum lebar itu. Apa dia tidak tahu seberapa rindunya aku padanya?!


Kupeluk erat dia sambil terus memanggil namanya. Aku serasa dilupakan perihal lokasi kami sekarang. Dapat kurasakan dia mengelus kepalaku dan menepuk punggungku dengan lembut.


"Aku pulang, Danny."


Bisikannya tepat di telingaku membuatku semakin emosional. Ah... apakah ini mimpi? Jika iya, kumohon jangan bangunkan—


"Tidak, kau tidaklah bermimpi. Ini aku, Zeeta!"


......-TAMAT-......

__ADS_1


__ADS_2