
"Berry, Peach!" seru Titania seraya melihat kedatangan dua Peri. Berry merupakan Peri perempuan berambut ungu dan bermata biru permata, sedangkan Peach adalah Peri lelaki berambut jigrak berwarna kuning kemerahan dan mata merah. "Kenapa kalian bisa yakin bahwa dia butuh bantuanku?"
"Ratu Peri sudah berganti dan kami para Peri tahu apa yang akan terjadi nanti," jawab Berry.
"Sesuatu yang hanya bisa dilakukan dengan kekuatan Raksasa-mu," timpal Peach.
"Tapi ... bukankah ada paman Ozy? Kenapa harus aku?"
Peach menyeringai. "Katakan saja kalau kau takut dan tidak mampu melakukannya."
Urat kepala langsung timbul di sudut kening Titania. "Hah...?!" ia segera terpancing emosi.
"Tidak mengherankan kalau kau takut dan ingin membebankannya pada Raksasa lain, soalnya kau—"
"Tutup mulutmu, Peach. Siapa bilang aku takut?! Lihat saja, aku pasti bisa melakukannya!"
"Kalau begitu janganlah ingkari kata-kata itu, kaudengar aku?" seringai Peach mendadak serius. "Ibumu pasti menyaksikannya."
Titania agak terkejut, namun segera tenang. "Aku tahu. Tapi, meski aku memohon, kalian tetap takkan memberitahuku mengapa ibuku bisa terbunuh?"
"Berapa kali juga harus kami katakan," jawab Berry, "kelak kau akan mengetahuinya sendiri."
"Dan tepatnya, 'kelak' itu kapan, hmm?"
"Tidak lama lagi."
Titania hanya bisa terdiam pasrah dengan kegigihan dua Peri itu untuk mengunci rapat mulutnya. Sementara itu, Zeeta mendengar dan melihat pembicaraan mereka. Walau ia tidak melihat seperti apa cara "Si Pelaku" membunuh Jeanne, ia memiliki satu-dua jawaban kemungkinan tentangnya. Namun, karena tidak pasti juga, ia memutuskan untuk tetap diam.
Usai berbincang panjang dengan penduduk Hutan Elf, Serina memutuskan untuk tinggal sementara bersama mereka, dan meninggalkan Zeeta yang segera ingin pergi ke selatan—tempat dimana Roh Kuno Air, Undine, berada. Tentunya, Zeeta akan memanggil Luna yang masih di Aurora untuk beberapa alasan yang tidak diberitahunya.
......................
Hari telah berganti, petang kembali hadir. Zeeta dan Luna yang bermalam di tanah terbuka dengan memakai sihir tanah yang dibentuk seperti rumah sementara, sudah kembali ke bentuk semulanya. Saat ini, keduanya sampai di sebuah desa yang ... cukup unik. Bagaimana tidak, sebagai pengganti papan nama desa yang berada di dekat pantai, penduduknya justru menghias gapura desa dengan sebuah tentakel raksasa yang diawetkan.
Zeeta, yang sudah tahu tujuannya adalah menyelam, berpikir menundanya esok karena hari sudah gelap di penginapan milik penduduk setempat. Ia juga ingin menggali informasi kenapa hal sebesar dan senyata itu bukannya diolah, tapi malah diawetkan dan jadi hiasan?
"Kau pasti tak bisa memercayainya, Nona!" tutur seorang wanita di penginapan, yang merupakan pemiliknya. Mereka berbincang selagi Zeeta makan. "Tapi tentakel itu berasal dari Kraken!"
"Kraken? Maksudmu... tentakel itu jatuh dari langit?"
"Wogh, hebat sekali tebakanmu! Itu benar! Tapi, aku yakin pertanyaanmu pasti, 'Sayang sekali! Kalau diolah pasti lebih lezat!'"
"Eh? Ke-kenapa bisa tahu?"
__ADS_1
"Tanganmu."
"Tanganku?" Zeeta jadi memandangi tangannya.
"Sekali lihat saja, siapapun yang bekerja di dapur bisa mengetahuinya! Kau seorang koki, bukan?"
Zeeta terkesiap. "Ahahaha... tidak salah, sih...."
"Hebat sekali, di usia Nona yang semuda ini, tidak seharusnya bekerja keras hingga mengasari tanganmu sendiri, padahal parasmu begitu cantik! Jika aku jadi lelaki, aku pasti sudah jatuh cinta! Mwahaha!"
"Te... terima kasih....
"Uhm, kembali lagi ke pembahasannya, jadi kenapa tentakelnya...?"
Wanita Pemilik Penginapan mengangguk. "Kami menganggapnya sebagai berkah dari lautan dan memasangnya sebagai jimat pelindung agar kekacauan seperti malam pada saat itu tidak menimpa kami kembali."
"Tapi, bukankah Kraken adalah makhluk sihir yang berbahaya? Aku bahkan masih sempat melihat papan peringatan tentangnya sepanjang perjalananku ke sini."
"Oh....
"Kami juga tidak akan menganggapnya seperti ini jika tidak ada orang-orang yang memberitahu kami.
"Sebenarnya, saat pertama kali tentakelnya jatuh dari langit, kami penduduk desa hanya memikirkan keuntungan yang bisa didapatkan saja. Mau bagaimana lagi, selama bertahun-tahun, tidak ada pengunjung ke pantai yang memungkinkan perputaran uang di desa ini.
"Tentakel itu jatuh setelah seorang pria berambut merah memaksa diri untuk memasuki pantai, kendati ada Kraken yang menanti. Kami semua yakin tentakel itu dipotong olehnya."
"Ketika tentakel yang terpajang di gapura desa itu jatuh, kami masih menganggap itu sebagai keuntungan, sampai seorang nona cantik seusiamu bilang bahwa itu bisa saja berkah dari lautan—bentuk penjagaan dari Roh Kuno Undine."
"Dan kalian segera memercayainya?"
"Tidak akan, sih, kalau para orang tua kolot di sini tidak pernah memberi kami wejangan tentangnya."
"Hoo... aku jadi penasaran seperti apa wejangan itu...."
Si Wanita Pemilik tersenyum. "Jangan pernah rusak dan jadikan lautan sebagai musuh. Sekuat apapun daratan, tanpa lautan, ia takkan mampu hidup.
"Jika sampai melanggarnya, Undine, Sang Ibu Lautan akan mengutus Sang Penguasa Lautan untuk membalas."
Zeeta meneguk segelas air pendamping makanannya sampai habis. "Terima kasih makanannya. Lezat sekali.
"Tapi, Nyonya, bukankah terlalu kebetulan sekali bahwa nona itu repot-repot menyampaikan sesuatu tentang wejangannya disaat kalian bisa saja memanfaatkan Kraken demi hal lain? Lagi pula, kalian pun tidak menggunakannya untuk keburukan, melainkan bertahan hidup, bukan?
"Maka, tidaklah aneh, 'kan, jika nona itu sebenarnya adalah Sang Penguasa Lautan itu sendiri dan sengaja datang untuk menyelamatkan kalian dari marabahaya yang akan datang ke depannya?"
__ADS_1
Teori Zeeta yang diucapkannya dengan santai, membuat Si Wanita itu menganga cukup lama. "Pintar sekali!" serunya, "aku suka teori itu!"
Zeeta tersenyum. "Kalau begitu, aku akan segera tidur dan bersiap untuk esok. Pantainya sudah aman, bukan?"
"Ya, tentu saja! Selamat tidur, Nona!" Wanita Pemilik Penginapan melambaikan tangannya.
.
.
.
.
Sesampainya Zeeta di kamar yang berada di lantai dua, Luna memunculkan diri. "Sungguh, untuk apa membuang waktumu hanya untuk mengobrol dengan wanita acak seperti ini? Bukankah kau sudah mengetahui semuanya melalui diriku dan Rune-mu?"
"Tapi kau tidak akan tahu apa yang dipikirkan mereka, bukan? Kraken, Undine, Penguasa Lautan... kupikir mereka akan terbujur kaku ketika mengetahuinya, namun kenyataannya, mereka malah menganggapnya santai.
"Pembicaraan ini jadi membuatku sadar tentang satu hal, Luna. Apapun yang terjadi padaku nanti, sebanyak apapun saksi hidup meninggalkan jejak tentangku nanti, orang-orang hanya akan menganggapnya legenda.
"Sebuah legenda tidak dibuat tanpa maksud buruk dan aku suka itu.
"Bahkan legenda tentang Ratu Clarissa sekalipun, mengajarkan kalau setiap Manusia harus saling menghargai, entah seperti apapun statusnya.
"Yah, tapi, mungkin saja legendaku malah akan berbunyi sangat buruk, tetapi tidak apa. Jika mereka yang ada di masa depan bisa tenang, tersenyum, dan tertawa selagi membicarakan legendaku, aku tak keberatan.
"Yang lebih penting, sepertinya lautan juga melakukan persiapan. Apakah angin juga seperti itu?"
"Maksudmu Zephyr?" Luna memastikan.
"Uhm." Zeeta mengangguk.
"Entahlah, mungkin dia masih mengumpulkan informasi dan menguping melalui angin. Ucapanmu saat ini pun akan jadi pertimbangan baginya."
"Eh...?" Zeeta berwajah jijik. "Itu berarti dia bisa melihat dan mendengar dari angin? Bukankah itu agak ... kelewa—"
"Hei hei!" Luna memaksa Zeeta menutup mulutnya. "Lawan bicaramu adalah Roh Kuno! Jika dia tidak menyetujuimu memakai Rhongomyniad, bisa gawat!"
"Hehe, aku hanya bercanda. Mohon bantuannya setelah urusanku dengan Undine selesai, ya, Zephyr!" Zeeta melambaikan tangan.
"Dasar.... Kenapa kaubisa sesantai ini...?"
"Santai?" Zeeta heran. "Tidak sedikitpun aku merasa begitu, Luna. Aku hanya merasa aku harus meringankan kegugupanku saja, mengalirkan semuanya secara natural, agar aliran mana-ku tidak terganggu."
__ADS_1
Luna jadi terganggu mendengarnya. "Kau hendak bersihir apa, Zee?"
Zeeta tersenyum nakal. "Ssst...."