Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Terdampar di Dunia Lampau, Fyrriheim


__ADS_3

"Dunia lampau... Fyrriheim....


"EH?!


"Ke-kenapa aku ada di ... dunia lampau...? A-apa aku benar-benar sudah mati...?"


Zeeta terpaku di tempat, memandangi kedua tangannya.


"Uhm. Kamu sudah mati, Nona Zeeta," jawab salah satu makhluk bersinar putih.


"Eh...?" dia mendongakkan kepala, memandangi keempat makhluk itu.


"Hanya para pemilik kekuatan bulan yang telah mati sajalah yang bisa melihat dunia ini. Apa yang kamu lihat saat ini adalah apa yang terjadi tiga ribu tahun yang lalu, dimana pohon Yggdrasil belum memecah tubuhnya menjadi Roh."


"Eh...? A-apa maksudnya? A-aku tidak mengerti!"


"Sejak awal, pemilik kekuatan bulan telah menanggung beban besar sejak tiga ribu tahun lalu. Keputusanmu setelah melihat apa yang terjadi di sini, akan menjadi nasib dunia masa sekarang."


"Keputusanku? Apa maksudmu? Aku kan sudah mati! Itu berarti aku tak bisa berbuat apapun lagi, 'kan!?"


"Jawaban itu akan kami berikan setelah kamu melihat semuanya."


Zeeta merenungkan jawaban yang harus ia berikan. "Sebelum itu, apa aku boleh bertanya sesuatu?"


"Silakan, Nona."


"Apa orang-orang yang ikut bersamaku baik-baik saja?"


"Mengapa kamu ingin mengetahuinya? Kamu sudah mati."


"I-itu benar... hanya saja... aku belum menuntaskan apapun dari tanggung jawab dan kewajibanku sebagai Tuan Putri dan Benih Yggdrasil."


"Kami tidak mengerti. Mengapa kamu masih memikirkan itu? Bukankah kamu seharusnya bersyukur karena sudah terlepas dari beban berat itu?"


"Soal itu...." Zeeta mengingat wajah senyum dari banyak orang mulai dari keluarga, kerabat, teman, dan rakyatnya. "Aku tidak ingin melihat wajah sedih mereka...."


"Lalu kenapa kamu membiarkan dirimu kalah? Kamu telah mempelajari sihir kuno yang lebih hebat dari sihir manapun."


"Aku....


"Aku takut....


"Meskipun sihirku kuat, pandanganku yang bisa melihat waskita sesaat dari pikiran lawan, membuatku terpaku begitu saja."


"Itu hanyalah kebohongan. Kami tahu. Tapi, apapun alasanmu, kami tidak berhak ikut campur."


"U-uhm...." Zeeta mengalihkan pandangannya. "Lagi pula, siapa kalian? Kenapa kalian memanggilku dengan Nona?"


Tidak berniat menjawab pertanyaan Zeeta, keempat makhluk itu perlahan memudar. "Lihatlah dengan mata kepalamu sendiri. Waktu akan memberitahumu segalanya." Mereka lantas lenyap begitu saja.


"Haaah...." Zeeta menghela napasnya. Ia kemudian berdiri, menepuk-nepuk pakaiannya dari tanah lalu melihat sekitar. "Dilihat darimana pun... aku terdampar di tanah yang amat sangat luas. Mataku hanya bisa melihat padang rumput dan bunga... yang... hancur oleh pijakan Raksasa tadi."


Zeeta mengarahkan kedua tangannya pada bunga-bunga yang hancur itu. "Apa aku masih bisa menggunakan sihir?" ia hendak mengembalikan seperti semula bunga-bunganya. Ia memejamkan mata untuk fokus, namun.... "Tidak bisa.... Harus kemana aku sekarang?" Zeeta mengingat lagi kalimat yang diucapkan si Raksasa bernama Sigurd sebelumnya. "Sebaiknya ke arah timur." Zeetapun mulai berjalan.


Sementara itu, di tempat lain di Fyrriheim yang gelap, dingin, berkabut dan tidak ada tanda kehidupan makhluk hidup ataupun tumbuhan, seseorang melihat di sebuah danau keruh hitam keunguan. Ia melihat kedatangan Zeeta....


"Hmm? Gadis ini.... Hei, Scarlet! Lihatlah ini!"


"Hah? Apa yang kautemukan lagi saat ini, Galkrie? Naga yang mati membusuk lagi?"


"Lihatlah dulu!"


Begitu seseorang bernama Scarlet itu melihat ke danau....


"A-anting itu... jangan-jangan...?!"


"Segeralah bertemu dengannya! Dia pasti dikirim oleh mereka! Kalau tidak cepat, dia...."


"Apa yang terjadi padanya...?


"Galkrie, kuserahkan penjagaan tempat ini padamu!"


"Hah?! Memangnya kau ini siapa?! Akulah penjaga Land of Death ini!"


"O-oh, aku lupa. Kebiasaan lamaku!"

__ADS_1


"Cepatlah!"


"Terima kasih!" Scarlet memegang anting di telinga kirinya.


'FWOOOP!'


Scarlet seperti terserap ke dalam antingnya. Beberapa saat kemudian....


Anting bulan setengah purnama Zeeta tiba-tiba bersinar. "U-uwah! Ada apa ini?!" antingnya juga tiba-tiba bergetar. "Ghh... silau!"


.


.


.


.


"Adududuh... bokongku...." Asap menyelimuti sekitarnya. Apa yang terjadi sebenarnya...? Antingku terasa berat, silau, lalu bergetar...."


"Jawab aku sebelum bertanya apapun, Nak! Apa namamu... Zeeta?"


"I-iya! Na-namaku Zeeta!"


"Nama lengkapmu?"


"Zeeta Aurora XXI!"


"Nama ibumu?"


"Alicia Aurora XX!"


"Apa selama ini kau baik-baik saja?"


"Se-setidaknya begitu...."


"Terakhir! Jawab aku dengan jujur!"


"Ba-baik!"


Pertanyaan itu membuat Zeeta terbelalak. Ia melihat siapa orang yang bertanya banyak itu. Rambut merah, wajah yang tampak garang, anting bulan. Tidak salah lagi.


"Ne... Nenek?"


"Jadi....


"Cucuku sudah besar, ya...."


Tetes air mata jatuh dari wanita itu.


"Eh...? A-Anda benar-benar Nenekku...?"


"Bodoh! Lihatlah anting ini!"


"U-uhm! Aku bisa melihatnya! Tapi.... Kata Nona Hellenia, Anda hilang karena insiden Portal Hitam...."


"Ah... itu....


"Lubang hitam itu muncul karena kesalahanku sendiri."


"Kesalahan Anda...?"


"Hentikanlah sapaan formal itu! Aku ini Nenekmu! Apa ibumu tidak mengajarkanmu bagaimana sopan santun pada orang tua?!"


"Kyaa! Ma-maaf Nenek Scarlet!"


"Bagus!


"Sekarang, jelaskan padaku. Kenapa kau ada di dunia ini? Apa kau melakukan kesalahan seperti yang kulakukan?"


"Eh?" Zeeta memiringkan kepala.


"Eh?" Scarlet pun begitu.


"EH?!" keduanya berbarengan.

__ADS_1


"Lalu... jika kau tidak melakukan kesalahan itu... apa yang....


"HMM?!


"Jangan bilang padaku kalau kau...."


Zeeta menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil memalingkan wajah. "Ehehehe... maafkan aku, Nek Scarlet... aku... sudah mati!"


Scarlet terbelalak. Matanya melebar dan semakin melebar. "A... apa katamu...?"


"Aku, Zeeta Aurora XXI, Tuan Putri Aurora, Benih Yggdrasil, sekaligus murid Raksasa Ozy, sudah mati karena serangan musuh yang tidak kukenali!"


"....


"...."


"Nek...? Nenek Scarlet...?"


'DBUG!'


Scarlet terjatuh di tanah begitu saja. Ia tak sanggup menerima kenyataan dari Zeeta.


"Waah!! Nenek Scarleeeettt! Bertahanlaaah!"


......................


Zeeta menaruh kepala Scarlet di pahanya. Lama dirinya pingsan sudah tiga menit. Ia membuka matanya dan mendapati Zeeta memayunginya dari terik matahari. Tubuhnya bermandi keringat.


"Zeeta...?" panggil Scarlet.


Zeeta menunduk pada Ashley, lalu menyeka keringat di keningnya. "Ah, akhirnya Nenek sadar." Zeeta tersenyum. "Sudah baikan?"


"Maafkan aku membuatmu menderita begini...."


"Uhmm." Zeeta menggeleng. "Tidak apa. Lagi pula ini pertama kalinya aku bertemu Nenek, aku tidak ingin Nenek dehidrasi. Kalau saja aku bisa menggunakan sihir... aku bisa membuat rumah dari tanah.... Maaf, ya, Nek."


Scarlet terdiam sesaat, kemudian Zeeta bergidik ngeri. "Jadi ... kauingin bilang aku sudah rapuh, tua, dan harus dikasihani... hmm?!" aura merah pekat mengitari tubuhnya.


"Ne... Nenek Scarlet...?!"


"Sombong sekali dirimu jadi Cucu!


"Lagi pula, aku pingsan karena dirimu yang tiba-tiba bilang kau sudah mati!"


"Ka-karena aku memang sudah mati, apa aku harus berbohong pada Nenekku yang baru pertama kali kutemui? Nenek juga menyuruhku untuk jujur, 'kan?! Kenapa malah balik marah? Hmmph!" Zeeta memalingkan wajahnya.


"Itu karena aku mengkhawatirkan kehidupanmu! Kau diramal oleh Feline sialan itu bahwa kau akan menghancurkan dunia! Mana bisa aku, Nenekmu, tidak mengkhawatirkanmu karena kesalahanku ketika aku mencoba membuka Jötunnheim sendirian!"


"Eh? Jö... Jötunnheim...?"


Scarlet terbelalak. Ia segera menutup mulut dengan tangannya. "Lu-lupakan saja!" serunya.


Zeeta menggembungkan pipinya. "Baiklah! Kalau Nenek tidak mau bilang, aku juga tidak akan cerita bagaimana nasib Peri-Peri sialan itu, bagaimana kehidupanku, atau bagaimana aku bisa mati secara rinci!" Zeeta berdiri—membiarkan kepala Scarlet terbanting keras di tanah.


"Khh... sialan! Sejak kapan aku tidak bisa menahan diriku seperti ini...?" gumam Scarlet. Ia kemudian ikut berdiri, lalu menghela napas. "Baiklah. Untuk sekarang, ikut aku dulu. Kita akan ke selatan."


"Eh? Kenapa tidak ke timur?"


"Timur? Kenapa kauingin ke sana?"


"Soalnya aku dengar Raksasa bernama Sigurd dan Naga bernama Gram ingin ke sana."


"Ah. Hentikanlah. Toh jika kauingin ke sana, kau tidak akan berhasil dengan kondisimu sekarang."


"Uhm... baiklah...."


"Tebaklah ke mana kita akan pergi." Scarlet mengambil anting bulan Zeeta.


"Ehm... bulan?"


"Pfft.... Bodoh.


"Kita akan ke Tanah Kematian!"


"EH?!?!" Zeeta benar-benar terkejut. "Tu-tunggu, kenapa kita ke—"

__ADS_1


Cahaya biru silau bersinar dengan silaunya, membawa keduanya hilang dari tempat mereka berdiri.


__ADS_2