
Mereka yang berada di kerajaan Aurora menyaksikan sihir besar yang mampu melenyapkan Jormungand. Sorak sorai melantang ke segala penjuru, termasuk para makhluk sihir. Apa yang dikatakan, dirasakan, dan dipikirkan Zeeta saat memegang Rhongomyniad, dapat diketahui pula oleh dua Roh Yggdrasil lain. Wadah mereka sudah siuman dan membaik dari luka sebelumnya. Kendati rakyat dan yang lain sedang bergembira, dua Roh Yggdrasil tersebut mengatakan identitas sebenarnya dari Jormungand. Walau kedua Wadah itu berada di lokasi yang berbeda, informasi yang didapatkan sama persis.
Mengapa Siren dan Xennaville dapat mengetahui apa yang dirasakan, dikatakan, dan dipikirkan Zeeta? Sebab Luna yang meminjam konsep Spirit Warble milik Klutzie—sedang bersatu dengan Wadah-nya.
"Jormungand... adalah Hollow...?" Klutzie masih tak menduga informasi tersebut. "Tapi, kalau memang hanya Rhongomyniad yang bisa menebasnya, itu masuk akal, lantas kenapa Raksasa lain tak menyadarinya?"
"Karena ia memang adalah Raksasa." Jawaban Siren masih ditanggapi kernyitan. "Layaknya Elf yang bermula dari mana, Jormungand pun demikian. Yang membedakan adalah apa yang terus ia makan. Bila Elf terus dibesarkan oleh ibu yang menyayangi dan hutan yang menghidupi, tidak dengan Jormungand yang terus melahap kebencian.
"Melainkan menjadi ras tersendiri seperti Elf, Jormungand diterima oleh 'alam' para Raksasa.
"Bila....
"Bila dunia yang diinginkan Zeeta terwujudkan, maka kemungkinan besar kau takkan bisa melihatnya, namun alam yang kumaksud berbeda dengan yang selalu kalian rasakan di sini.
"Saat kami masih menjadi satu-kesatuan, alam tersebut memang keras, tetapi Manusia masih bisa bertahan hidup di dalamnya, hanya karena kami ada untuk mengimbanginya.
"Sejak terpisah ke dunianya sendiri, Jormungand menjadi jauh lebih kuat, apalagi ia berada di lingkungan yang memendam dendam paling besar untuk Manusia."
"Maka dari itu, hanya Rhongomyniad yang bisa mengalahkannya? Tapi... apa alasannya? Lebih bisa dipahami jika itu adalah Catastrophe Seal."
Siren memalingkan wajah, lalu menjawab dengan lirih, "Rhongomyniad adalah tirai penutup untuk akhir panggungnya."
Klutzie membelalak. "Hah...?"
.
.
.
.
"JANGAN BERCANDA!"
'PLAR!'
Hitomi berteriak dan menampar Xennaville, hingga sekejap menjadi pusat perhatian Elf lain yang sedang bergembira bersama Manusia dan Titania. Bahkan Ozy juga merasa janggal.
"Dan kalian tetap bungkam dan baru memberitahu ini setelah semuanya selesai?! Pantas saja dia—"
"Hitomi! Gadis itu sudah membulatkan tekadnya."
"Tsk!" Hitomi membuang wajahnya.
Titania menghampiri keduanya dengan wajah cemas. "Ada apa...?"
Saat melihat wajah Titania yang demikian, segera memaksa Hitomi untuk mengingat janjinya dengan Zeeta. "Tidak apa." Ia memasang senyum palsu untuk menenangkan sedikit kecemasannya. "Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Ayo, Xenna."
"Mau ke mana kalian?!" tanya Serina yang agak berteriak.
"Apa lagi? Tentu saja menuju dia. Kalian tetaplah di sini sampai Alter benar-benar dipastikan sudah kalah."
__ADS_1
Dark Elf itu hanya diam dan memandangi siluet Xennaville dan Hitomi yang semakin kabur.
......................
Si Kembar Levant, Azure, Danny, dan Gerda menganga dengan wajah panik. Perut Zeeta dilubangi oleh sebuah bilah. Bilah tersebut memanjang dari darah yang merambat di tanah. Darah yang mengalir dari tubuh Alter yang terbelah.
"Zeeta!!" semuanya berteriak.
Respon Zeeta tidak berubah. Dia tetap tenang. Meski bukan keinginannya langsung, ia tak menjawab kekhawatiran teman-temannya.
"Kaupikir setelah apa yang kulakukan selama ini untukmu... untukku... akan usai begitu saja oleh senjata suci?!" kendati tubuhnya sudah tidak utuh, Alter tetap merangkak dengan bantuan tangannya.
"Kau adalah aku! Aku mengerti dirimu dan sebaliknya!
"Daripada berjuang sekeras ini untuk dunia, lebih baik kau—"
'BLARR!'
Kepala Alter dilubangi oleh suatu peluru. Zeetapun menyeringai. "Terima kasih, Melly." Dia lalu memejamkan mata.
.
.
.
.
"Zeeta!" Mellynda kewalahan dengan yang baru disaksikannya.
"Ada apa?" tanya Marcus dan Novalius yang ada di dekatnya, dimana tubuh mereka sudah penuh dengan luka.
"Marcus, kau masih punya kekuatan?" tanya Mellynda, mengabaikan keduanya.
"Ya, satu kali serangan lagi, kurasa."
"Bagus. Ini sesuai dengan apa yang dikatakan Zeeta padaku." Mellynda mengingat lagi saat-saat dimana Zeeta baru saja selesai mengungkap tujuan akhirnya pada Raja dan Ratu. Mereka berdua bicara empat mata.
"Aku ingin minta tolong padamu tetapi aku yakin kau akan keberatan." Zeeta bersama teman sesama bangsawannya di bawah gazebo halaman istana.
"Apa itu? Janganlah sungkan!" Mellynda merangkul Zeeta.
Zeeta tersenyum kecut. "Setelah Jormungand dikalahkan, aku ingin kau mengulur waktu untukku supaya bisa benar-benar mengalahkan Alter."
"Mengulur waktu? Tentu saja!"
"Aku tak tahu pasti apa yang akan terjadi padaku, tetapi bila setelah Jormungand kalah, aku kenapa-kenapa, jangan pikirkan aku dan fokuslah dengan siapa yang sedang kuhadapi dan siapa yang sedang bersamaku."
Raut wajah Mellynda berubah. "Kau serius?"
"Ya. Sangat serius."
__ADS_1
"Apapun yang terjadi?"
Zeeta mengangguk.
"....
"Baiklah."
.
.
.
.
"Jadi ini maksudmu, Zee...?" Mellynda lalu menembakkan senapannya dengan bantuan sihir di mata. "Marcus! Lemparkan aku ke arah mereka!" ia menurunkan kristal yang menjadi kasurnya selama memantau Zeeta.
"Oke!" tanpa bertanya apapun, Marcus mengiyakannya.
Disaat yang sama....
"Keparat... mana ini...." Alter masih belum tewas kendati kondisi tubuhnya sekarang. "Pantas saja kutak melihat sosoknya bersama mereka bertiga!"
"Kak Azure!" bentak Gerda, "jangan pikirkan kami, segera bantulah Zeeta!"
"Itu tidak perlu!" Mellynda datang di waktu yang tepat— bersamaan dengan munculnya sesuatu dari setengah tubuh (bagian bawah) Alter. Ketika Mellynda mendaratkan kaki di tanah, semuanya melihat sesuatu dari tubuh tersebut adalah semacam tentakel yang menjalar ke tubuh lainnya, menariknya menjadi satu kembali.
Mellynda mengerutkan dahi sambil mengepalkan tangan. "Kau bukan lagi seorang Manusia, ya, Alter...?" luka di kepala Alter perlahan tertutup kembali layaknya tak terjadi apapun. "Tubuhmu sudah terbelah menjadi dua, bahkan kepalamu telah kulubangi dengan senjata suciku."
Alter terkekeh setelahnya. "Kuhaha... kaupikir aku peduli dengan hal semacam itu? Memangnya siapa yang telah membuatku seperti ini?"
Mellynda tak bergeming. Ia melihat ke arah Zeeta. Perutnya teregenerasi, tetapi dia tetap memejamkan mata sambil berdiri.
"Kauingin mengulur waktu untuknya, 'kan? Baiklah. Akan kuladeni kau!" Alter terselimuti oleh aura hitam dan ungu.
"A-apa?!" Azure terkejut. "Kenapa mana-nya malah jadi sekuat ini?? Apa yang terjadi?!
"Hm?!
"Jangan-jangan...?!"
"Ahahahahaha!" Alter semakin tergelak. "Itu benar! Berkat kalian, kekuatan Jormungand benar-benar jadi milikku! Sekarang, dengan tiadanya Catastrophe Seal dan Rhongomyniad, kalian tak bisa lagi menang dariku! Akan kubunuh Zeeta dengan tanganku sendiri!"
'BWHAMMM!!!'
Pukulan keras mendarat di pipi Alter. Bukan sekadar pukulan, namun kristal tertinggal di pipinya dan semakin membesar hingga menimpa tubuhnya sendiri. Bahkan Alter tak menduga ia bisa menerima pukulan darinya.
"Sungguh keterlaluan. Baik aku di duniamu maupun dirimu sendiri... kalian pasti melupakan apa yang telah kita janjikan, Zeeta!
"Sebagai temanmu, aku akan menghajarmu sampai kaubisa mengingatnya lagi!"
__ADS_1