
Hari itu, para Peri dikunjungi sebuah bencana dari sosok yang tak pernah mereka kira—atau beberapa dari mereka—akan muncul batang hidungnya.
Kesialan demi kesialan terus menimpa para Peri, bahkan banyak dari ras itu sendiri menganggap kesialan itu adalah karma dari perbuatannya. Tetapi untuk yang kali ini—entah siapa yang harus disalahkan.
Hutan Peri memang secara geografis bersebelahan dengan desa Lazuli dan tampak seperti hutan hujan biasa. Namun, hanya untuk “orang-orang
terpilih” saja, yang tahu bagaimana tampak Hutan Peri dan seperti apa penduduknya hidup. Ratu Aurora IX, Clarissa, serta kakaknya yang bernama
Laura, adalah contoh diantara “orang-orang terpilih” itu.
Hari itu, adalah pagi yang mengerikan untuk para Peri. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja orang itu memasuki hutan mereka, dengan merobek dimensi yang menyembunyikan wujud sebenarnya dari hutan tersebut dengan tangan kanannya—yang sama sekali berbeda dengan makhluk-makhluk yang ada di dunia. Tangan itu lebih besar dari tangan
kirinya. Kelima jarinya pun ditumbuhi kuku-kuku yang cukup kuat dan tebal meski tidak terlalu panjang untuk merobek atau bahkan mencabik apapun yang ia inginkan. Tangan itu berwarna merah gelap dan terdapat pola garis hitam yang memanjang dari jemari hingga lengan. Mata orang itu terbakar oleh api kebencian yang sangat dalam. Siapapun atau apapun yang menghalanginya, segera lenyap di tangan kanan itu, bahkan nyawa Peri yang
dikatakan “diatas” seluruh makhluk di dunia.
‘KRAKK!’
Seperti kaca yang pecah, orang itu berhasil memasuki Hutan Peri yang sebenarnya. Dedaunannya berwarna dominan merah muda, meskipun ada diantaranya yang berwarna lain seperti merah, jingga, dan lain-lain. Di batang-batang pohonnya, terdapat pondok-pondok kecil seukuran Peri sebagai tempat tinggal mereka. Pada satu pohon, terdapat setidaknya lima sampai enam pondok, tergantung pada ketebalan batang tersebut. Uniknya, di depan pondok mini tersebut, juga ada lampu lentera sebagai penerangan sekitarnya.
Penduduk Hutan Peri tidak hanya Peri saja. Beberapa makhluk sihir yang tidak ada dibawah Axel’s Workshop, seperti Chimera, Serigala Bulan, dan
makhluk sihir lainnya yang belum pernah disaksikan Manusia, ada di hutan ini.
Sebagai sistem perlindungan diri dan bersembunyi dari ancaman sekitarnya, Hutan Peri memasang pelindung yang terbuat dari bongkahan akar bersinar, yang hanya bisa dibuka oleh Feline dan Morgan saja. Namun, orang itu berhasil merobeknya dengan tangan kanan merahnya dengan mudah.
Tak ada waktu untuk berlindung diri bagi para Peri. Begitu dia masuk, ia segera melenyapkan kelompok demi kelompok dengan tangan yang “menelan
segalanya” itu. Tangan terkoyak, tubuh yang terlepas, hancur di dalam genggaman orang itu, atau tersapu tak tersisa karena sihirnya, adalah yang dialami mereka.
Kala itu, ketika tiada satupun diantara Peri yang menyangka dia akan membawa bencana ini, Morgan dan Feline tak mampu membuat langkah balasan. Mereka terdesak dan sangat terancam
dengan keberadaan tangan manusia itu.
“Kau...? Ke... ke... ke... kenapa kau…?” wajah Feline, yang biasanya angkuh terhadap manusia, justru terlihat sangat ketakutan. “Kekuatan itu….”
“Ya,” balas orang itu, “ini adalah kutukan, sekaligus keajaiban bagiku untuk membalaskan dendam.”
Di sekitarnya, menggenang darah dari Peri yang menjadi korban keganasannya. Sekujur tubuhnya pun demikian. Mata kuningnya yang menyala, semakin meruntuhkan keberanian dua Peri yang sudah mirip seperti tikus yang terpojok itu.
“Kalian...,” sambung orang itu, “tidak berhenti sampai zaman itu, tetapi terus melakukan perbuatan
yang kalian sebut kejahilan itu ... SAMPAI SAAT INI?!
"Tidak.... Aku harus berhenti mengungkit masa lalu. Tujuanku saat ini adalah....” Orang itu mencengkeram Feline di dalam genggaman tangan kanan bak
monster itu.
“AAAAAGGGHHH!!” pekik Feline dibarengi suara retak tulangnya.
“FELINE!” Morgan yang terbaring di tanah tak mampu berbuat apapun.
“Jeritan yang kalian keluarkan saat ini adalah apa yang KAMI rasakan saat itu! Aku takkan membiarkan kalian hidup damai! Aku akan menghancurkan, melenyapkan, bahkan menata ulang tatanan dunia busuk ini dengan kebencianku!”
Dengan tekanan sedikit lagi pada punggung tangannya, ia benar-benar akan melenyapkan Feline. Namun….
“Hentikan itu, Lucy.” Seseorang menghentikannya.
“Hng?! Siapa itu?
__ADS_1
“Ah... Suzy. Kenapa kau menghentikanku? Jika kau tidak memiliki alasan yang memuaskanku, aku juga akan melenyapkanmu.”
“Tenangkanlah pikiranmu. Jika kau melenyapkan Peri-Peri itu saat ini juga, penderitaan mereka akan jauh lebih ringan darimu.” Suzy mengeluarkan sihirnya untuk mengeringkan genangan darah dan memperbaiki pohon-pohon yang hancur oleh Lucy.
“Tidak. Aku akan membuatnya lebih menderita.”
Lucy mengganti genggamannya ke tangan kiri lalu mengarahkan telunjuk kanannya ke bagian sayap Feline.
‘Frrrrshshh’
“Aaaaggghh!” air mata sampai mengalir. Jeritan Feline sama sekali tak dihiraukan Lucy.
“Hentikan!” teriak Morgan. “Kenapa kau sekejam ini, Mary?!” begitu Lucy mendengar nama itu, ia melotot dan membanting Feline ke tanah lalu langsung meledak-ledak.
“JANGAN SEBUT NAMA ITU DI DEPANKU!
“Kalian benar-benar makhluk yang terkutuk, Peri-Peri sialan!” Lucy bersiaga untuk menyerang Morgan dan berniat menghapus keberadaannya dari
dunia untuk selamanya. Namun....
“Brrgghh?!”
Ia dijerat oleh Suzy dengan penjara bola air dan
mengangkatnya paksa lalu membawanya mundur. Mereaksi tindakan ini, Lucy tidak diam saja. Ia pun berniat menghancurkan bola air itu dengan tangan kanannya.
“Percuma. Aliran air itu akan meracuni—“ Suzy mendapati Lucy hampir bisa memecahkan bola airnya. “Cih, seberapa kuatnya dirimu ini, hah?!”
dengan terpaksa, ia mengambil suntikan dari balik jubah medisnya dan membius Lucy hingga tak sadarkan diri.
“Haaahh....” Suzy berkeringat dingin. “Camkan ini, ya, orang ini tidak dalam sekutunya Zeeta. Sekarang, dengan kekuatan kalian yang jauh berkurang, Aurora bisa menghancurkan kalian kapan saja.
Tak memedulikan kepergian dua makhluk itu, Morgan segera membantu Feline, meski dia juga babak belur. “Feline?! Bertahanlah!”
Feline yang semula memiliki delapan helai sayap, kini hanya memiliki dua yang terletak di bahu kanannya. Darah tak berhenti mengalir dari punggungnya, memaksa Morgan mencoba menyembuhkan luka itu dengan sihirnya.
“Sialan….” Air mata jatuh dari matanya. “Sialan. Sialan… sialaaaaann!!”
......................
Disaat yang sama, Luna sedang mengawasi Klutzie dan Siren di penjara yang juga ikut terbawa dalam dimensi Alicia. Dua Roh Yggdrasil itu— Siren dan Luna—merasakan apa yang terjadi di Hutan Peri.
"Kau merasakannya?" tanya Luna, yang dalam mode "silumannya".
"Ya," balas Siren.
"Merupakan langkah yang bodoh sekali jika kau dan Klutzie berencana membunuh Zeeta."
"Aku tahu, tapi tetap saja... dia adalah ancaman!"
Luna menyipitkan mata. "Masihkah kau belum mengerti?
"Dunia ini harus berubah, baik dengan Yggdrasil atau tidak, Zeeta akan membawa perubahannya. Apa kauingin kesedihan dan penderitaan anak-anak kita ini terus menerus berlanjut sejak saat itu?!"
"Khhh...." Siren tak bisa mengelaknya.
"Katakanlah pada Klutzie, kenapa Zeeta begitu penting dan sangat berbeda dari yang lain, juga alasan sebenarnya kenapa kau menginginkan Zeeta mati."
Siren menatap lurus Klutzie, lalu menghela napas. "Pertama, aku ingin minta maaf padamu karena telah menyeretmu untuk mewujudkan keinginan egoisku."
__ADS_1
"U-uhmm...." Klutzie sedikit gugup dengan apa yang akan dikatakan Siren.
"Ketahuilah, semua Benih Yggdrasil memang penting dan kuat. Tujuan Benih Yggdrasil adalah untuk membangkitkan Yggdrasil. Tujuan ini, sangat didambakan oleh para Peri.
"Pertanyaannya, kenapa?"
Klutzie mendengar dengan saksama semua yang diucapkan Siren.
"Ratu Peri yang bernama Feline, memberi kebohongan kepada seluruh rakyat Aurora dengan mengatakan, 'Yggdrasil akan memperbaiki keseimbangan mana, yang telah rusak karena manusia'.
"Klutzie. Kerajaanmu adalah kerajaan modern dengan segalanya berwujud mesin. Katakan padaku, apa kau masih bisa menggunakan mana?"
"Y-ya, tentu saja."
"Jawaban untuk itu, karena Yggdrasil yang menginginkannya."
"Eh...? Apa maksudnya...?"
"Pohon Dunia, sebutan lainnya Yggdrasil, yang saat ini berwujud Roh seperti aku dan Luna. Ketika perang antara makhluk sihir dan Manusia ada diujung akhirnya, kami berkeputusan.
"Mana akan ada dan bisa dipakai seluruh makhluk, tak terkecuali siapapun, sampai seseorang muncul untuk mengakhirinya."
"Mengakhirinya...? Kenapa?"
"Klutzie. Ingatlah kembali apa yang terjadi dengan kerajaanmu. Siapa dalang dibaliknya?"
"I... itu...."
"Kautahu...? Dunia ini terlalu kejam. Dunia ini sangat buruk dengan adanya sihir.
"Jika kau bertanya, 'kenapa tidak kami saja yang mengakhiri ini semua', jawabannya adalah kami tidak mampu dikondisi seperti ini.
"Seseorang harus membangkitkan Yggdrasil, dan menghancurkan Yggdrasil itu sendiri."
"Ha... hah?! Ja-jadi maksudmu... semua Zeeta harus membunuh kalian?!"
"Sederhananya seperti itu."
"Kenapa?!" jerit Klutzie, "kalau ada tiga Benih Yggdrasil, kenapa harus seorang saja yang menanggung segalanya?!"
"Bulan." Luna ikut menimbrung.
"Eh...?"
"Hanya orang dengan kekuatan bulan saja yang bisa menghancurkan Yggdrasil."
"Aku tidak mengerti! Bisa saja yang melakukan itu ibunya, 'kan?!"
"Tidak. Itu mustahil."
"Kenapa?!"
"Aku tak bisa mengatakannya padamu sekarang." Luna meneruskan. "Tapi intinya dia berbeda. Kau akan mengerti secara utuh masalah ini tiga atau empat tahun ke depan.
"Aku harus membuat Zeeta siap dengan akhir yang menunggunya. Aku merasa bersalah karena membuatnya memikul beban seperti ini, tapi dia harus melakukannya."
Luna pergi dengan tatapan yang iba, setelah dia membuat klon untuk mengawasi keduanya.
"Kalau mimpi saat itu kulihat benar adanya ... Zeeta akan memantik api kebencian di seluruh dunia. Apa itu memang satu-satunya jalan...?" batin Siren.
__ADS_1