
[POV Luna.]
Aku hanyalah serpihan dari sekian banyaknya Roh Yggdrasil lain yang ada di Bumi ini. Kami selalu mengawasi siapapun makhluk yang kelak berpotensi akan menumbuhkan ... tidak, menyatukan lagi semua Roh Yggdrasil menjadi satu sehingga Pohon Dunia bisa hadir seperti sedia kala.
Tentunya, hal semacam itu bukanlah misi yang mudah. Banyak sekali rintangan sulit dan memerlukan kekuatan yang sangat besar pula. Tidak banyak makhluk yang mampu mengembannya, pun dengan kekuatannya. Meski Naga merupakan ras terkuat, mereka tidaklah cukup untuk menuntaskan misi ini.
Selama mengawasi, banyak sekali hal yang terjadi pada banyak ras, dan kami tidak mampu melakukan apapun. Yggdrasil sendiri berperan sebagai penyeimbang dan poros kekuatan di Bumi. Yggdrasil juga menghidupi segala yang ada di Bumi, bahkan untuk makhluk sihir buatan seseorang.
Apabila Pohon Dunia gagal ditumbuhkan lagi setelah Ragnarok tiba, maka sudah pasti hanya kehancuran yang menanti Bumi. Oleh sebab itu, Benih Yggdrasil tidak bisa bertindak sendirian. Merupakan hal yang pasti bahwa ia akan kewalahan dengan segala yang terjadi di sekitarnya dan masih ada pula kemungkinan dia tidak ingin melakukan apa yang sudah menjadi takdirnya.
Sebagai Roh Yggdrasil yang memilih Zeeta sebagai Wadahku, aku selalu melihat pertumbuhannya. Memang tidak sejak ia masih bayi, namun aku mengetahui kelemahan-kelemahannya. Sejak awal, kami Roh Yggdrasil, tidak begitu memahami mengapa Manusia selalu bisa terus berjalan kendati apapun yang menghalanginya. Keinginan mereka untuk melawan apa yang menghalangi jalannya selalu kuat. Kemudian secara perlahan, kami akhirnya mengetahui bahwa alasan-alasan itu terkadang karena balas dendam, keinginan untuk menggapai mimpi, cinta, dan masih banyak lagi.
Zeeta memang kuat. Aku mengetahuinya. Sayangnya, hatinya mudah goyah dengan rintangan yang terkesan akan ********** habis. Aku tidak menyalahkannya, sebab ia memang terlahir dengan kekuatan yang sangat kuat, juga dengan memegang takdir yang besar.
Selama pertumbuhannya, dia memang menunjukkan perlawanan dengan "ramalan" yang mengucapkan jika kelak ia akan menghancurkan dunia. Tetapi, baik aku dan dia, tidak bisa menepis fakta bahwa dirinya yang lain—adalah sesuatu yang sangat tidak diduga dan rintangan paling besar bagi dirinya sejauh ini.
Dahulu dengan kekuatanku, ia melihat bagaimana sosoknya "di masa depan" akan menghancurkan dunia. Teman-temannya yang dianggapnya paling berharga harus berseteru dengannya disaat dunia sedang berperang sihir. Ia menjadi sosok yang paling dibenci. Zeeta di dunia tersebut adalah KEMUNGKINAN dirinya di masa depan.
Zeeta sudah bisa melewati bayangan gelap itu dan mampu melangkah maju dengan menjadi lebih kuat tidak hanya dari jalan pikir dan hatinya saja, tetapi juga dengan kekuatan sihirnya.
Namun, baru-baru ini, ia justru berhadapan langsung dengan dirinya sendiri dari dunia lain, yang SUDAH menghancurkan dunia asalnya, dan itu membuat Zeeta semakin tertekan dengan tanggung jawabnya. Aku sudah yakin dia dan dirinya yang lain itu memiliki jawaban yang sangat berbeda tentang apa yang harus dilakukannya setelah menumbuhkan Yggdrasil. Yap. Dengan kekuatan Yggdrasil, kami bisa mengabulkan apapun keinginan ia yang telah "menghidupkan" kami kembali.
Zeeta yang kutahu, sudah bukan Zeeta yang hanya menginginkan pembalasan dan kehancuran semata. Ia tahu arti tangis orang yang berharga baginya, ia pun tahu arti dari kehidupan. Jalan kehancuran dunia ... tidaklah lagi ada dalam pilihannya, dan aku sangat lega karenanya.
Tetapi, sejak ia melihat ingatan salah seorang leluhurnya dari tiga ribu tahun silam, tampaknya ia telah menyimpulkan jawabannya yang baru. Jika jawaban itu adalah perpisahannya dengan keluarga dan teman-temannya, aku tak bisa... AKU TIDAK AKAN membiarkannya!
Zeeta telah mengorbankan banyak hal demi tanggung jawab dan takdirnya. Aku tidak bisa diam saja setelah melihat semua perjuangannya demi menjaga senyuman orang-orang yang berharga baginya malah berakhir tangis.
......................
Zeeta yang sedang diomeli oleh Ashley dan Scarlet hanya bisa tersenyum dan tertawa.
"Aku punya urusan mendadak. Kalian bicaralah sepuas mungkin!" Luna meloncat dari bahu Zeeta dan segera berlari—tidak membiarkan Wadahnya bertanya.
"Berhati-hatilah!" jerit Zeeta, yang tidak dibalas Luna sebab larinya yang cepat.
"Jadi?" Ashley menyilangkan tangan, berpose bahwa ia menunggu penjelasan muridnya yang sempat dikira hilang.
"Aku akan menjelaskan semuanya, jadi sekalian saja kita bertemu ibu."
Tidak ada penolakan dari kedua wanita tua tersebut, sehingga mereka bertiga berjalan bersama. Sementara itu....
.
.
.
.
Luna mendeteksi mana orang-orang yang sedang dicarinya, lalu segera memakai sihir teleportasi. Orang-orang tersebut adalah teman-teman Zeeta yang kebetulan sedang berkumpul di kediaman Ashley—tempat dimana mereka selalu menghabiskan waktu setidaknya untuk mengasah sihir. Usai berteleportasi, ia mendapati wajah terkejut dari Crescent Void.
"Luna...?!" Gerda yang paling terkejut. "Tumben Zeeta tidak bersamamu! Apa jangan-jangan—"
__ADS_1
"Tidak ada waktu untuk itu!"
Ucapan Luna segera mengundang kernyitan dari keenam orang Crescent Void.
"Zeeta berpikir sesuatu yang tidak-tidak lagi, ya?" Azure menebak.
"Tidak sepenuhnya seperti itu, tapi...."
"Katakanlah, Luna," pinta Azure.
"Pasti. Aku juga memohon pada kalian."
"Sepertinya ini sesuatu yang hanya kita bisa melakukannya?" Danny menebak.
"Sst!" tukas Gerda, "silakan Luna, katakan apa yang Zeeta hendak lakukan."
.
.
.
.
Azure menyilangkan tangan dan memejamkan mata. Gerda dan Danny tampak serasi—berpikir dengan memegangi dagunya. Sementara Novalius, Colette, dan Marcus tampak lesu. Hanya Mellynda sajalah yang bertolak pinggang dan tersenyum.
"Itulah kenapa Zeeta selalu berkata 'bersiap'!" seru Mellynda. "Dialah yang paling tahu apa yang akan dia hadapi. Dia juga punya Rune untuk melihat sekilas masa depannya oleh sebab itu dia terkadang terlihat sangat sedih dan kacau.
"Apa kauyakin?" tanya Novalius, "kita semua tahu, Nona Zeeta selalu paling baik dalam menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya dan mencoba untuk tidak membuat kita khawatir."
Mellynda menatap lurus Novalius. "Aku percaya dengan Zeeta. Dia menyayangi kita semua dan tidak ingin berpisah. Dengan alasan itu saja—bahkan tanpa alasan itu pun, aku akan melakukan segalanya demi rivalku.
"Gadis itu tidak meminta untuk diselamatkan, dia juga tidak meminta untuk digantikan.
"Zeeta akan menyelesaikan semua ini dengan KITA YANG MEMBANTUNYA!"
Azure tersenyum sombong. "Luna, bukannya kami menganggap enteng permintaanmu, tetapi tanpa kau memohon pada kami seperti ini, kami akan membantunya."
"Itu benar!" Crescent Void yang lain menjawab bersamaan, namun tidak dengan Danny. Ia tampak masih terganggu dengan pikirannya.
......................
[Istana, Ruang Takhta.]
Bangsawan utama berkumpul, juga ada keluarga sepupu Zeeta, Levant, kecuali Agatha dan Karim. Mereka semua menantikan penjelasan Zeeta. Tatkala Zeeta memasuki ruangan, sepupu perempuannya, Ella, langsung berkata, "Kak Zeeta! Jika kau berusaha lari dari kami, itu berarti kami memang harus—" ucapannya segera disambut oleh cubitan kakaknya, Edward.
Zeeta menanggapinya dengan senyum. "Ingatlah dengan yang kukatakan. Semuanya adalah jalan pilihan kalian dan aku tidak akan menghentikan kalian."
Mendengar pembicaraan mencurigakan itu, bangsawan lain langsung bertanda tanya, namun tidak dengan Hazell. Ia mencengkeram tangannya erat.
"Kuharap kau tidak menyembunyikan masalah itu juga, Zeeta," tutur ibunya.
"Tentu tidak, Ibu."
__ADS_1
Hazell dan Levant lainnya yang sudah mengetahui apa yang harus dilakukan keturunan mereka nanti, terkejut. Namun, itu adalah pilihan Zeeta, maka mereka tidak menghentikannya.
Sembari duduk, Zeeta menjelaskan semuanya. Apa yang dipesankan oleh Marianna, masa lalu Levant, dan yang harus dilakukannya setelah ini.
.
.
.
.
"Jadi, aku sebenarnya baru ingin melangkah bertemu para Roh Kuno, tetapi aku masih punya pertanyaan pada Aria dan Ozy. Saat aku di sana, aku malah diusir dan mereka mewajibkanku untuk bicara dengan kalian dahulu.
"Dan iya, aku mengakui aku salah. Jujur saja, aku agak bingung dengan bagaimana kuharus jelaskan ini pada kalian."
Semua yang ada d istana tertegun dengan cerita Zeeta. Namun, tiada yang tahu bahwa Zeeta masih merahasiakan satu hal penting—tentang alasan mengapa Levant harus menghabisinya. Dan sayangnya, seseorang menyadari hal tersebut.
"Zeeta," panggil Alicia, "kau masih mencoba merahasiakan sesuatu dariku, ya? Kau masih belum mengatakan apa pembicaraanmu dengan Levant tadi."
Zeeta tersenyum. "Mereka terkekang oleh tanda Matahari di punggungnya itu, Ibu. Mereka tak mau diam saja di sini sementara aku dan yang lain berada di garis depan.
"Jika mereka melawan tanda itu, itu berarti kelak mereka bernasib sama dengan Kakek Karim, maka dari itu mereka curhat denganku."
"Begitu. Benarkah, Ella, Edward?" Alicia menyipitkan mata dan melirik putra-putri kerabatnya tersebut.
"Benar, Yang Mulia!" jawab mereka bersamaan.
"Lowén dan Levant sekalian? Kalian juga sama?"
"Itu benar."
Alicia menghela napas kecil, lalu segera bertanya, "Baiklah. Kalau begitu, apa yang akan kaulakukan dengan Yggdrasil? Kau sudah memiliki jawabannya, 'kan?"
Zeeta bangun dari duduknya lalu bertekuk lutut. "Maafkan aku, Yang Mulia, aku tidak bisa mengatakannya."
Para bangsawan segera terbelalak.
"Mengapa?" tanya Alicia.
"Aku bahkan belum mengatakannya dengan Benih Yggdrasil yang lain. Ini merupakan sesuatu yang benar-benar harus dilakukan sempurna tanpa kegagalan dan aku tidak ingin siapapun menghalangi.
"Kendati Peri bukanlah ancaman lagi bagi kita, tetap saja tidak akan ada yang tahu siapa yang bisa menguping pembicaraan ini."
"Hmm.... Masuk akal.
"Kalau begitu, biar kuganti pertanyaanku."
Alicia bangun dari kursi takhtanya untuk menghampiri Zeeta.
"Kau akan kembali hidup-hidup, bukan...?" Alicia bertanya dengan lirih, sembari memeluk putrinya yang sedang bertekuk lutut itu. Para bangsawan segera terenyuh melihatnya, termasuk Hazell. Ia juga mengikuti langkah istrinya dan memeluk putrinya.
Zeeta tersenyum lagi. "Aku berjanji, Bu, Yah. Lagi pula, aku memang benar-benar berencana untuk mengakhiri semuanya dan menjaga semua senyum kalian." Zeeta membalas pelukan kedua orang tuanya erat.
__ADS_1