Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Keadilan yang Tak Disesali


__ADS_3

Jangkauan langit berguntur yang didatangkan oleh Zeeta semakin meluas ketika pertarungannya dengan Marianna berlanjut di atas awan. Sambil tetap berdiri dengan dua kaki di atas tongkat sihirnya, ia memancing Marianna untuk berputar-putar di atas awan, yang disertai dengan dirinya melakukan "sesuatu" dari ujung tongkat pada awannya.


Kala itu, Zeeta mengingat beberapa hal yang telah dilakukannya.


“Setiap makhluk memiliki titik lemah, baik itu manusia, makhluk sihir, Phantasmal, ataupun Hollow.


“Titik itu adalah titik yang paling jarang digunakan ketika bersihir.


“Mengapa?


“Jourgan mengajarkanku. Bahkan seekor Gorgoza—hewan yang paling sulit diburu oleh Volten Sisters, juga memiliki titik lemahnya, yang menjadikan bagian vital itu seolah seperti hewan biasa pada umumnya.


“Karena itulah, Volten Sisters dan Lloyd melatihku untuk membentuk otot sekaligus menggunakan semua bagian tubuhku untuk bisa mengeluarkan sihir—agar saat-saat seperti ini—aku tidak kewalahan.


“Jujur saja....


“Jika tanpa latihan dari mereka, aku sudah kalah sejak pertama kali melihatnya di Nebula—bahkan jika aku sudah belajar Rune.


“Itulah mengapa, Bind Rune yang telah kutuliskan padanya tidak hanya memberi keuntungan sepihak untuknya seorang—tetapi aku juga harus pintar dalam menguasai pertarungan ini—agar benar-benar bisa mengakhiri kebenciannya.


“Jera memungkinkanku untuk membuat kami melihat kenangan hidupnya di tahun tertentu—baik yang dilihat atau tidak.


“Raidho memerlihatkannya perjalanan apa saja yang telah dilaluinya hingga membuatnya ke titik sekarang dan apa yang mendasarinya melakukan perjalanan itu.


“Kemudian Wunjo, adalah Rune yang memberikannya harapan tentang perjalanan yang telah dilewatinya—tetapi hanya Mary-lah yang bisa melihatnya. Hal ini kuberikan agar Mary bisa melupakan kebencian, dan


mengubahnya menjadi pecahan-pecahan harapan—hingga membuatnya bisa mengeluarkan kekuatan besar seperti sekarang untuk mewujudkan harapan itu.


“Tetapi, sepertinya Wunjo belum terlalu bereaksi. Kebenciannya masih menyelimutinya. Jika Wunjo telah bereaksi, ‘kan kugunakan langsung sabitnya.


“Lalu yang terakhir, adalah Laguz. Rune yang menjadi kunci untuk rencanaku berhasil. Aku harus membuatnya terus melampiaskan kebenciannya padaku, agar Laguz bisa bereaksi lebih efektif.”


Zeeta memutar tongkat sihirnya secara horizontal sambil tetap terus berjalan dan melakukan “sesuatu”.


Bersamaan dengan hal itu dan Marianna yang mulai kesal dengan menembakkan sihir api berlapis kegelapan pada Zeeta, Zeeta menciptakan busur beserta anak panah. Sihir-sihir yang ditembakkan Marianna, ditangkis Zeeta dengan panahnya—namun hal tak diduga terjadi.


Sebuah ledakan api dan void yang malah menghilangkan awan yang sudah diusahakannya mengejutkan Zeeta. Sebuah urat kepala muncul di pelipisnya.

__ADS_1


“DASAR!


“Aku jadi harus mengulang dari awal, kalau begini!


“Benar-benar leluhur yang merepotkan!”


Zeeta menerjang menuju Marianna. Begitu ia dekat, ia memutar balik arahnya, lalu ia melepas tongkatnya


dengan arah yang masih menukik. Dimomen itu, Zeeta mengganti busur beserta anak panahnya dengan sebuah godam raksasa.


‘FWUOOSSHH!’


Zeeta harus membuat godam raksasa dari sihir untuk melapisi tangan kanannya agar memungkinkannya


bisa memukul Marianna jauh lebih tinggi ke angkasa. Dalam serangan itu, Zeeta tidak menyangka satu hal terjadi pada Marianna, meski serangan sebelumnya—panah yang ditembakkan sangat mematikan bila terkena.


Godam raksasa itu mematahkan gigi, hidung, tulang rusuk, paha, tangan, hingga tubuh-tubuh Marianna mencipratkan darah, seolah darah itu bocor dari kulitnya. “*Rune-nya sudah bekerja?!” batin Zeeta, “aku harus lekas*!”


Seketika setelah membuat Marianna terpental, Zeeta memanggil tongkatnya pada genggaman tangan,


lalu memutar-mutarnya untuk membuat awan pengganti, dan melakukan “sesuatu” seperti sebelumnya.


Dikala yang sama, tanpa diketahui Marianna, apa yang dilakukan Zeeta dengan tongkat sihirnya, sangat memengaruhi awan guntur dibawah mereka. Petir-petir menyambar secara gila, ada pula petir-petir yang menyambar dalam susunan teratur—layaknya sedang direncanakan. Sambaran-sambarannya mengenai tanah, dan mereka yang menyambar


secara teratur, tidak segera kembali ke langit, namun awet seperti sebuah pilar petir.


Orang-orang yang melihatnya, curiga bahwa pilar-pilar itu akan menjadi sesuatu yang akan digunakan Zeeta. Teruntuk mereka yang berada di halaman istana, adalah yang paling panik dan diperintahkan untuk bergegas oleh Scarlet. “Cepatlah! Tidak ada waktu lagi! Kalau kita terlambat, banyak nyawa yang akan melayang!” perintahnya dengan peluh menetes dari pelipis.


Masyarakat yang telah dikumpulkan Hazell, telah memposisikan diri ke dekat tembok istana—berdiri mengelilingi dengan kedua tangan menyentuh tembok.


Tembok yang disentuh, bergemuruh, lalu mereka yang menyentuhnya—di bawah kaki mereka—muncul lingkaran sihir berwarna sama, yakni merah gelap. Hal sama terjadi juga pada Scarlet—dimana dirinya mengangkat kedua tangan. Tembok itu kemudian meninggi, seiring suara gemuruh yang keras, juga menjadi perhatian publik. Setelah tingginya mencapai maksimal—bahkan tingginya hampir menyamai pulau layang—mereka yang menyentuh tembok tidak menyangka selama ini ada kegunaan rahasia seperti ini dari istana.


“Kerahkan seluruh mana yang kalian miliki! Jangan pikir kalian akan mati, karena aku akan mendukung kalian!” seru Scarlet, “pikirkanlah satu hal saja dalam kepala kalian, yaitu buat penghalang yang akan membalikkan apapun yang menyentuhnya menjadi sihir penyembuh dengan jangkauan seluas mungkin!


“Bahkan jika itu harus mencapai ujung dunia, maka capailah ujung dunia itu!


“Jangan bayangkan kemustahilan, karena itu hanya mengacaukan semuanya!

__ADS_1


“Percayalah pada diri kalian sendiri, percayalah padaku, dan percayalah pada Zeeta!”


“BAIK, NYONYA!” jawab semua yang terlibat di sana.


Disaat sama, di tempat tak jauh dari halaman istana—ruang singgasana...


Seorang Tuan Putri dari kerajaan tetangga ... Suzy Nebula I, telah membuka matanya, dan sekarang,


tangannya tengah digenggam erat oleh sang adik, Klutzie Nebula II, dan sang ayah, Eizen Gustav de Gala XXX. Sang adik di tangan kiri, sementara sang ayah tangan kanan. Seraya dengan genggaman kedua tangannya itu, Klutzie menceritakan apa saja yang telah terjadi pada kakak dan kerajaan, serta dirinya, selama enam setengah tahun. Seolah dunia menjadi milik mereka sendiri, dentuman, sambaran,


gemuruh, tidak ada yang bisa mengganggu. Waktu yang kosong tanpa kehadiran keluarga itu, diisi saat itu juga. Bukan berarti mereka tidak khawatir, namun Klutzie sendiri yang sudah percaya, bahwa Aurora tidak bisa diremehkan, dan hal seperti ini sudah seperti keseharian mereka.


“Begitu, ya....”


Adalah ucapan yang tidak diduga Klutzie dan Eizen, setelah anak kedua tersebut menceritakan semua yang terjadi. Bagaimana tidak, pasalnya, kakak sematawayang dan putri tercintanya itu tersenyum lembut dengan titik air mata.


Senyumannya sangat mirip oleh seseorang yang begitu mereka cintai, sosok yang disebut mereka sebagai ibu, Maayaford, yang kini telah tiada karena suatu tragedi.


“Sepertinya ... hanya dengan berlandaskan teknologi saja, tidak membuat kepastian keberlangsungan suatu kerajaan bisa bertahan....


"Aku ingin bertemu dengan Putri Zeeta itu secara langsung, dan berterima kasih padanya,” ujar Suzy, “selain itu ... aku juga ingin berbicara dan memastikan sesuatu.”


Klutzie dan Eizen saling menatap. Mereka tak bisa menolak keinginan Suzy. Tidak lama kemudian, Aria mendekati ketiganya sambil bertolak pinggang. “Kutak peduli bahkan jika ini adalah waktu haru kalian, tapi kuingin kaujawab pertanyaanku, Suzy,” katanya dengan menyilangkan tangan.


“Ah, kau....” Suzy melihat telinga Aria. Ia pun kemudian tersenyum. “Baiklah. Akan kujawab apapun.”


“Ketika kau membuat dimensi buatan untuk rakyat serta ayahmu, apakah kausadar sosok yang merasuki dirimu—leluhurku Jewel-lah yang menciptakannya, seperti yang dikatakan Zeeta dari cerita Klutzie?”


Suzy menatap telapaknya sebelum menjawab Aria. “Aku tidak pernah tahu siapa nama, bagaimana wajah, atau seperti apa dia memandangku. Yang kutahu, dia memiliki kebencian yang amat sangat dalam pada manusia. Tetapi saat itu ... dia hanya ingin melindungi mereka—sosok yang selalu kuperjuangkan dalam hidupku.


“Terkadang, seolah baru bangun tidur, aku merasa telah melihat mimpi mengerikan dimana aku terus menerus melakukan hal yang salah.


“Aku takut, aku tidak menginginkannya, dan aku tidak ingin melanjutkannya—tetapi... aku mengerti bahwa sosok yang ada didalam diriku itu—tidak pernah menyesalinya—karena dia menganggap perbuatannya itu adalah keadilan untuknya.


“Aku tidak bermaksud ingin meminta maaf, karena jika begitu, aku telah menginjak harga diri, arti keadilan untuknya, serta jalan hidupnya yang dirasanya seperti neraka, tetapi....


“Walau itu tindakannya, tetapi tetap saja tanganku ikut ternodai, dan statusku sebagai Tuan Putri Nebula mungkin tidak bisa diemban lebih lama lagi. Meski begitu aku tetap ingin bilang ....

__ADS_1


“Sekotor, serendah, atau seburuk apapun tindakan yang telah dilakukannya, aku tidak pernah menyesal pernah menjadi satu bagian dalam hidupnya!”


Tatapan Suzy tidak menunjukkan satupun keraguan dalam ucapannya. Aria menanggapinya dengan senyuman, kemudian berkata, "Setidaknya beri dia salam perpisahan atau apapun setelah ini." Setelah itu Aria pergi memastikan kondisi rakyat Nebula yang lain.


__ADS_2