
Beberapa hari setelah Aurora diselimuti rasa sedihnya, perlahan-lahan mereka mulai bergerak maju dan bertindak untuk mempersiapkan diri. Hal ini dimulai oleh pertemuan para bangsawan utama di istana, dan membawa Zacht de Dormant XVII hadir dalam pertemuan ini untuk pertama kalinya. Seperti biasa, pertemuan ini dilakukan di meja bundar. Apa yang dibicarakan pertama kali adalah permintaan Zeeta, yaitu latihan seorang diri. Tentu saja, Zeeta tidak memberi tahu dimana ia akan berlatih, mengingat Dark Elf, yang salah seorang diantaranya adalah tetua bagi seluruh Elf, menjadi musuh banyak pihak. Menurut Dark Elf tersebut.
“Setidaknya beri kami alasan mengapa Anda ingin berlatih sendiri, Yang Mulia,” ujar Hellenia.
“Sebenarnya ini tidak benar-benar sendiri, karena aku juga akan berlatih dengan Ozy dan Aria. Ingat, Ozy punya kekuatan sihir kuno yang mungkin bisa kupelajari,” jawab Zeeta.
“Oh, sihir Rune, ‘kah?” tanya Alicia.
“Uhm.” Zeeta mengangguk.
“A-apa?! Sihir Rune, Anda bilang?!” Zacht terkejut bukan main.
“A-ada apa, Tuan Zacht, sampai begitu terkejutnya?” tanya Porte.
Zacht bergemetar. “Ti-tidak, aku belum tahu terlalu banyak tentang permasalahan yang dihadapi bangsawan utama, namun aku tahu intinya. Tapi, sihir Rune ... kalau Yang Mulia Zeeta benar-benar bisa menggunakan sihir Rune … kupikir kita bisa memiliki harapan!”
“Kautahu tentang sihir Rune?” tanya Hellenia.
“Tentu saja aku tahu. Bagaimana bisa sebuah keluarga yang menjalani akademi tidak memiliki pengetahuan tentang sihir kuno ini. Sihir Rune adalah sihir yang mampu memanipulasi apapun. Air, udara, tanah, api, atau objek apapun yang ditulis dengan sihir Rune akan menjadi jauh lebih kuat.
“Sederhananya, sihir Rune lebih kuat daripada sihir apapun di dunia ini, sekaligus jadi yang paling berbahaya dan langka.”
“Disitulah letak masalahnya, Zacht,” sela Alicia, yang membuat tanda tanya di kepala Zacht. “Ini hanyalah kemungkinan saja. Lagi pula satu-satunya di dunia ini yang bisa menggunakan sihir Rune adalah ras terakhir dari Raksasa, yaitu Ozy. Dia bisa saja tidak ingin mengajarinya tentang itu.”
Wajah para bangsawan di sana seakan jatuh dari tingginya harapan.
“Tenang saja!” pekik Zeeta, yang menjadikannya pusat mata. “Aku percaya aku bisa jadi lebih kuat dan lebih mampu melindungi banyak orang meskipun tidak bisa memakai sihir Rune. Aku tidak melakukan latihan ini hanya karena kewajibanku, tetapi juga ini adalah keinginanku.
“Kak Azure menungguku, dan kalian harus kulindungi. Akulah yang harus maju paling depan, kalau tidak ... aku akan melanggar janji pentingku ke seseorang yang berharga bagiku!”
Para bangsawan, terutama ayah dan ibunya melihatnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Hazell bangun dari kursinya lalu mendekapnya. “Kau juga percayakan kerajaan ini pada kami, Nak!”
“Uhm, tentu saja!” Zeeta membalas dekapannya.
Alicia tersenyum hangat melihat pemandangan ini. Kemudian, ia kembali serius. “Baiklah, kalau begini aku tetap akan membuat pasukan khusus. Zacht, Porte, uruslah informasinya.” Alicia mengeluarkan secarik kertas, “ini adalah nama-nama berpotensi. Informasikan kalau kita tidak akan mengadakannya di tempat publik tetapi tepat di hadapanku dan Hazell di istana. Ashley, kuingin kau jadi jurinya.”
“Siap, Yang Mulia!” balas ketiga bangsawan itu.
......................
Saat ini, hari menjelang sore. Matahari mulai menyelimuti diri dan burung-burung mengepakkan diri pulang ke sarangnya setelah bertualang seharian penuh. Zeeta memandangi pemandangan ini dari balkon kamarnya dengan melukiskan sedikit senyum di bibirnya. Senyum itu lenyap seraya Aria mengunjunginya.
“Bisa kita bicara hal yang serius?” tanya Aria.
“Tidak, lagi pula nanti aku akan datang ke Hutan Sihir Agung. Beri aku waktu di sini.”
“Kalau begitu, bolehkah aku bergabung denganmu? Kau tampak asyik.”
“Hahahahah.... Uhm. Aku tahu. Dunia ini indah, ‘kan?Kemarilah.”
Kemudian, dua makhluk itu memandangi alam dalam diamnya.
__ADS_1
Beberapa menit mereka terdiam, Aria membuka suara, memecah suasana. “Kau sudah mulai berubah, ya,” katanya.
“Apa maksudmu?”
“Kau jadi lebih dewasa.”
“Tidak mungkin...! Dalam hatiku aku masih tetap ingin jadi gadis desa biasa. Tapi ... aku akan menerima siapa diriku saat ini dan apa yang harus kulakukan sudah jelas. Aku akan bergerak maju dan jadi Tuan Putri yang lebih baik!”
Aria mendekatinya. “A-apa…?” ia menjentik kening Zeeta hingga menimbulkan bekas merah. “A-aduh! Apa maksudmu melakukan ini?!”
“Karena kau bodoh. Itulah yang kumaksud kalau kau jadi lebih dewasa.”
Zeeta tersenyum, tapi segera menghilangkannya setelah mengingat sesuatu. “Luna mengajakku ke masa dimana ramalan Ratu Peri terjadi padaku.”
“E-eh?!” Aria terkejut bukan main. “Kenapa…?”
“Kalau aku tidak melihat pemandangan itu dengan mataku sendiri, kupikir aku tidak ingin melakukan ini. Aku hanya akan tenggelam dalam ketakutanku.
“Tapi setelah itu ibu juga bercerita tentang masa mudanya bersama Tuan Willmurd, tentang pentingnya menaklukan diri sendiri, yaitu ketakutan dan keraguan.
“Orang-orang sudah percaya padaku dan aku juga sudah bertekad ingin membuktikan rasa percaya itu. Kalau aku tenggelam dalam ketakutan dan keraguan itu, selamanya aku tidak mampu membuktikannya.”
Aria membungkam dirinya.
“Tapi ... kalau kukatakan aku sudah menaklukan rasa takutku, itu sama saja dengan bohong.”
“Apa maksudmu?” tanya Aria.
“Hei, Aria ....
“Maukah kau menyadarkanku disaat aku putus asa? Kupikir, hal ini sudah menjadi bagian dariku sendiri. Aku adalah orang yang penakut, tanpa suatu pemicu, aku tak bisa bergerak maju.
“Dan jika waktu itu tiba, maukah kau membantuku?”
Aria segera mendekap Zeeta dengan sangat erat. Ia juga meneteskan air matanya sedikit. “Tentu saja, Zee! Tentu saja!”
Dikala itulah, Zeeta membisiki, “jika aku tidak mampu sadar dan aku berubah seperti seorang iblis, maukah kau membunuhku?”
Angin berhembus dengan kencang, membawa hawa dingin menusuk pada Aria. Ia terbelalak mendengarnya kemudian melepas dekapannya, lalu segera menamparnya.
“Bagian itulah yang buruk darimu! Kalau kau percaya, maka percayalah seutuhnya! Kau juga punya rekan yang bisa kau percayai, bukan? Kau itu tidak sendirian di sini! Sadarlah tentang itu!”
Zeeta mengingat lagi kalau dirinya di masa itu tak memiliki siapapun di sisinya, justru ia juga berhadapan dengan temannya sendiri. Zeeta memukul pipinya dua kali lalu mengatur napasnya.
“Baiklah! Kalau begitu, temani aku, Aria!”
“Eh? Kemana?”
“Berkeliling kerajaan!”
“Eh...? Untuk apa...?”
“Sudahlah, ayo!” Zeeta menarik tangan Aria dan melompat dari balkon.
__ADS_1
“Haaahh....” Aria menghela napasnya. “Baiklah baiklah!”
......................
Tiga hari kemudian, Zeeta sudah siap hanya dengan membawa dirinya saja. Ia memakai gaun putih yang dari bagian depan hingga belakang terbelah dua meruncing. Untuk melapisi kakinya, ia memakai celana panjang sewarna dengan gaunnya. Pakaian itu di sisi-sisinya terdapat bagian keras berwarna emas. Berbeda dari biasanya, ia mengikat satu rambutnya.
“Hiks ... hiks.... Tak kusangka ... tak kusangka aku akan berpisah lagi dengan putriku!” Hazell menangis layaknya wanita. Ia berada di kamar Zeeta. Menyadari bahwa putri kandungnya akan berpisah lagi dengannya membuatnya sentimental.
“Ih, Ayah... Sudah kubilang ini hanya tujuh tahun!”
“Tujuh tahun itu lama!”
“Hnggghh....” Zeeta memeluk ayahnya. “Aku juga tahu ini lama, tapi kalau Ayah seperti ini, aku jadi langsung rindu kalian….”
Hazell tersentuh oleh kata-kata itu.
“Aku berjanji akan pulang!”
Hazell membalas dekapan anaknya lalu mengelus kepalanya. “Ya, aku tahu. Berjuanglah, Nak.”
Zeeta tersenyum. “Uhm. Aku akan berjuang, Ayah!”
“Ayo, ibumu pasti sudah tak mampu menahan tangisnya,” Hazell berbisik.
“Hihihi, Ayah benar.”
Ketika mereka keluar kamar, mereka mendapati Alicia menangis tersedu-sedu.
“I-Ibu? Kenapa?” Zeeta segera menghampirinya.
“Ini salah kalian! Menyuguhkan pemandangan seperti itu, ibu mana yang tidak menangis?!”
“Moh…. Ibu dan Ayah imut sekali….” Zeeta merona, lalu memeluk ibunya. “Aku pasti akan pulang, Bu.”
“Harus! Pasti!”
“U-uhm….” Zeeta tersenyum kecut. Setelah merasa cukup, Zeeta melepas pelukannya. “Kalau begitu, aku berangkat, Ayah, Ibu!”
“Ya, berhati-hatilah, Zeeta!” Alicia dan Hazell menghapus titik air mata sambil melambaikan tangan hingga mata mereka kehilangan sosok anak kesayangan mereka dari pandangan bersama Aria yang menunggunya di luar istana.
......................
Setelah Aria membawa Zeeta masuk ke Hutan Sihir Agung, apa yang menyambut mereka adalah kehadiran ratusan Elf dan Dark Elf yang sudah memosisikan diri mereka seperti untuk menonton. Ada yang duduk di atas pohon, terbang, bertelungkup di batang, atau hanya sekadar berdiri.
“A-ada apa ini, Aria…?” tanya Zeeta, yang bersembunyi di balik punggung Aria.
“Aku juga tidak tahu….”
Kemudian tak lama setelah itu, seorang Elf berambut hitam panjang dan diikat satu, berbadan cukup kekar dan bermata ungu mendekati mereka.
“Kau….” Aria tahu siapa Elf itu dan berusaha melindungi Zeeta darinya.
“Atas perintah Tetua Hugo, aku harus berduel dengan bocah itu. Minggir, Aria.” Tatapan Elf lelaki ini begitu dingin dan tajam, membuat Zeeta bergemetar hanya dengan melihatnya.
__ADS_1