Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Kedatangan Azure


__ADS_3

Gerda, Danny, Marcus, dan Ashley sampai di gerbang timur. Ketiga Crescent Void itu diberikan informasi apa yang terjadi selama mereka berpatroli disaat bangsawan utama dan Zeeta rapat. Ia juga memberitahu mereka apa yang dibicarakan Zeeta padanya secara empat mata.


"Anak itu....!" geram Gerda, "berani-beraninya dia merahasiakan hal sepenting ini dan mencoba memikul beban seperti ini sendirian lagii.... Kuuuhhh, apa dia masih tidak mengerti kalau kita ini teman?!"


Danny bereaksi berbeda dengan sang adik. Dia larut dalam pikirannya.


"Kuyakin Putri Zeeta memiliki alasannya, Grand Duchess," ujar Marcus, "aku tidak bisa yakin seratus persen karena aku bukanlah temannya seperti Gerda dan Danny, tetapi aku melihat bagaimana Putri Zeeta berkelakuan disaat dia masih delapan tahun.


"Dibanding dengan dirinya yang dulu, Putri Zeeta yang sekarang telah mengerti dan menerima kekuatannya yang besar, karena itulah dia bisa merasa bangga dengan statusnya, juga tetap menunjukkan senyumnya pada rakyat.


"Jika kita asumsikan Putri Zeeta tidak menerima fakta dirinya memiliki kekuatan yang dahsyat itu, kupikir akan sulit melihat dirinya mengambil langkah seperti ini."


"Dengan kata lain, Zeeta semakin menjadi orang yang pengecut," timpal Danny.


.


.


.


.


"Apapun alasannya, kalian harus menyusulnya," perintah Ashley, "kita tidak bisa membiarkan Zeeta dalam bahaya seperti itu. Tenang saja, kalian tidak perlu mengkhawatirkan kerajaan. Percayalah pada kami."


"Baik, Grand Duchess!"


Ketika ketiga Crescent Void telah menyatukan suara....


Azure melihat kedatangan Gerda, Danny, Marcus, dan Ashley di gerbang timur dari langit dengan menggunakan sihir terbangnya. "Jika jalan keras dan berduri yang kauambil, Zee... maka kuakan membantumu melihat dunia ini seutuhnya. Takkan kubiarkan mereka yang ingin kaulindungi justru terluka olehmu.


"Jika itu harus membuatku menjadi lawan bagi mereka... maka itulah yang terjadi...."


Azure mendarat dengan bertekuk lutut kiri dan mengepalkan tangan kanan ke tanah. Dari pendaratannya, sebuah hempasan sihir langsung merusak tembok dan melontarkan siapapun yang ada di sana, termasuk penjaga tembok yang berada di atas.


"Gyaaagghh!" erang mereka, ketika terhempas bersama reruntuhan tembok. Beberapa dari mereka ada yang tertimpa. Dari semua yang ada di radius serangan Azure, hanya Ashley yang masih bisa berdiri dengan bantuan sihir yang dibentuknya menyerupai tempurung segi delapan.


Danny melihat sosok pelaku yang melancarkan serangan dadakan ini. Ia segera terbelalak. Sama dengan yang terjadi pada Gerda yang terpental dan kini tersangkut di tembok. Darah yang bercucur dari keningnya tidak menggubris perasaan terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Kak Azure?!" seru kedua bersaudara bersamaan.


Di belakang Ashley ada prajurit yang terluka terkena hempasan reruntuhan tembok. "Hei," kata Ashley, "apa kau masih bisa bergerak?"


"G-Grand Duchess... y-ya! Aku masih bisa!" jawab Si Prajurit.


"Berlarilah sekuat tenagamu dan beritahu Ratu tentang ini!"


'PEW!'


Sihir menyerupai tempurung segi delapan itu pecah dengan suatu tembakan gelap yang berasal dari Azure yang segera menjatuhkan Ashley. Prajurit yang melihatnya melotot dan bergidik ngeri.


"Cepatlah lakukan!" teriak Gerda.


"Ba-baik!" Si Prajurit langsung berlari terbirit-birit. Disaat yang sama, alarm bahaya penyusup berbunyi dan membuat orang panik yang perlahan menjalar ke seisi kerajaan.

__ADS_1


"Jangan bercanda.... Kenapa kau me-melakukan ini, Kak Azure...?" Gerda berjalan tertatih menghampiri Azure setelah melepaskan dirinya dari tembok.


"Apa yang terjadi padamu hingga kau seperti ini... Kak Azure...?" Danny berusaha bangun sambil menyingkirkan reruntuhan tembok.


Meski dengan seluruh perasaannya mereka berteriak, mereka hanya mendapat diam dan tatapan dingin dari Azure. "KATAKANLAH SESUATU, KAK AZURE!" pekik keduanya.


.


.


.


.


"Jangan buang-buang waktu kalian untuk bicara padaku. Orang itu terluka berat." Azure menunjuk Marcus yang bersimbah darah dan tak sadarkan diri.


"Ma-Marcus!


"Siaaal...."


Danny berusaha lebih keras lagi untuk menyingkirkan reruntuhan itu. "HAAAAGGHH!" ia kemudian berhasil membebaskan dirinya dari reruntuhan yang berukuran tiga kali lipat lebih besar darinya dengan sihir.


Setengah tubuhnya tampak tidak pada posisinya dan Gerda panik melihatnya.


"Gerda! Bawalah Marcus dan Grand Duchess mundur! Aku masih bisa bertahan!"


"Ta-tapi, Kak... ka-kakimu...." Gerda bergemetar.


"Sudah, cepatlah lakukan!"


Dengan tergesa-gesa meski jalannya masih tertatih, Gerda mengangkat keduanya dengan sihir kapas. Ia juga menaiki sihir yang sama lalu mundur.


"Kkhhh...." tampak titik air mata dari Danny. Ia tak tahan dengan rasa sakit yang dirasakannya.


Azure yang diam membiarkan mereka mundur kemudian membuat lempengan untuk duduk bersilang kaki. "Selama kau menyembuhkan luka itu, mari kita bicara, Danny," ujarnya.


"Apa... apa yang kauinginkan setelah melukai orang sebanyak ini?!"


"Aku melakukan ini karena kalian hendak menghalangi Zeeta."


"A-apa katamu!?"


"Seperti yang kukatakan. Tidak lebih dan tidak kurang."


"Apa maksudmu kami menghalanginya?! Kami hendak membantunya dari bahaya yang menunggunya di Nebula!"


"Daripada itu, cepatlah sembuhkan kaki itu. Aku tahu kaubisa melakukannya lebih dari ini. Kau pun memegang senjata suci yang serupa dengan Catastrophe Seal milik Zeeta.


"Aku akan meladenimu setelah itu."


Danny mencengkeram tangannya sampai menimbulkan urat. "Jadi kauingin aku serius menghadapimu?"


Azure menatap lurus Danny. "Kalau itu yang kaupikirkan, maka itulah yang terjadi."

__ADS_1


Danny menutup matanya untuk fokus. Ia menuangkan sihirnya yang ia fokuskan pada penyembuhan kakinya. Gemerlap hijau-kuning dan sinar hijau terang muncul dari paha hingga tumitnya.


Sedikit demi sedikit, posisi tulang yang tidak pada posisinya kembali seperti semula meski ia harus menerima sakit yang luar biasa.


Azure mengernyitkan mata. "Apa kau ini bodoh?" tanyanya, "kau hanya membuang-buang sihirmu dan kekuatanmu kalau kau terus melakukannya!"


"Hmph! Apa yang kauharapkan pada orang yang tidak mahir sihir penyembuhan sepertiku, dasar bodoh!


"Lagi pula, mengapa kau memedulikanku? Kau baru saja membunuh banyak orang, 'kan?" Danny menyeringai.


"Sebaliknya kutanyakan ini, Danny." Azure memejamkan mata. "Apa yang bisa kaulakukan untuk mereka jika kau hanya terus-terusan membesarkan mulutmu saja? Melindungi Zeeta atau kerajaan, mana yang lebih penting bagimu?


"Setiap kejadian yang terjadi di kehidupanmu, kau selalu diberi pilihan. Dan sekarang, inilah yang terjadi. Kau kupaksa dengan situasi dimana kau harus memilih antara melewatiku setelah memaksa penyembuhan kasar itu untuk menyusul Zeeta dan menjadi bebannya, atau tetap di sini dan menunggu bala bantuan tiba.


"Tapi ingatlah, aku tidak akan membiarkan kalian menghalangi Zeeta untuk melakukan apa yang harus ia lakukan, terlepas apapun bahaya yang menunggunya."


Danny perlahan menangis. "Dasar bodoh! Apapun yang kaukatakan padaku, aku tidak peduli! Tidakkah kau mengerti seberapa inginnya Zeeta menyelamatkanmu dari Lucy?!


"Kalau dia melihatmu melakukan ini... apa dia... apa dia sanggup menerimanya?!"


Azure turun dari lempengan tempatnya duduk. Ia menghampiri Danny lalu menjambaknya sampai dia berdiri. "Kau terlalu muda, naif, dan tumpul untuk seorang Zeeta!"


'POWW!'


Azure memukul keras perut Danny hingga mengakibatkan darah muncrat dari mulutnya. Pukulan itu juga menghempaskan reruntuhan di sekitarnya.


"Kau tidak mengerti apa yang terjadi di sekitarmu dan tidak mencoba untuk menilainya dengan saksama. Tidakkah Luna dan Ashley mengajarkanmu tentang itu?"


'BWAAMM!'


Azure mendaratkan tendangan di leher Danny hingga membuatnya tersungkur.


"Aku kecewa karena telah berharap kaubisa melakukan lebih, Danny. Terimalah hasil keputusanmu yang memilih untuk beralasan dan tidak menghadapiku. 'Kan kuberikan kalian keputusasaan!"


Azure terbang tinggi ke tengah-tengah kerajaan. Ia menghancurkan medan-medan penghalang yang melindungi kerajaan dengan mudahnya dengan balutan sihir di kedua tangannya.


"Ughk!"


Hellenia yang berada di pintu Labirin Cremlyn—tepatnya di tengah alun-alun kota—yaitu air mancur yang dapat dilihat banyak orang, terjatuh memuntahkan darah.


"He-hei, Hellenia! Apa yang terjadi?!" tanya rekan-rekan bangsawan utamanya.


"Me-medan penghalangnya...," jawab Hellenia sambil memegangi mulut dan dadanya.


"A-apa?!"


Setelah sampai di titik tertinggi yang ia inginkan, ia dapat melihat para bangsawan utama yang berkumpul di satu titik. Dengan segera, ia membuat bola sihir raksasa berwarna hitam pekat yang menutupi dunia dari matahari dan seketika membuatnya jadi malam.


"He-hei... apa ini nyata...?!" seru Zacht. Ia berkeringat.


"Sudah berapa kali kita mengalami ini...?" tanya Rey.


"Dasar bodoh! Lekas lakukan sesuatu!" seru Porte.

__ADS_1


"Aku tahu! Tapi lihatlah ukuran itu! Lihat juga ada petir yang mengalir di bawahnya! Kalau kita mendekat, jangankan menghentikannya, kita hanya mati terbakar!" jawab Rey.


"Sial...." Porte mengepalkan tangannya. "Tidakkah ada yang bisa kita lakukan...?"


__ADS_2