
Memutar kepalanya perlahan layaknya karakter yang paling dihindari dalam mimpi buruk, Penguasa Kekelaman memandangi sesaat Arata. Arata dibuat bergidik ngeri karenanya. Tanpa mata, darah yang telah mengering di pipi, serta senyum yang melebar teramat pelan. "Sayang sekali, ya!" seru Penguasa Kekelaman.
Kemudian, Putra Mahkota tersebut terhempas dengan tangan kanan yang ikut terbang sebagai "bonus"-nya. Dia sama sekali tak mengerti apa yang baru saja terjadi. Disaat yang sama pula, atas banyaknya darah yang keluar tiba-tiba dari lengannya tersebut, Arata segera kehilangan kesadaran.
"Haaaah...." Penguasa Kekelaman menghela napasnya, lalu meregangkan lagi lehernya agar tak kaku. "Tidak di sini ataupun di sana, pria itu benar-benar berbahaya."
Sesaat setelahnya, gadis berambut hitam yang menyebut dirinya sebagai Sang Penguasa Kekelaman itu melihat aura emas Zeeta yang seakan sebuah pilar raksasa. Lantas, dirinya langsung menyeringai dan melompat menghampiri Undine berada sebelumnya.
......................
Tanpa disadari oleh mereka yang ada di daratan, terdapat dua "Manusia" yang sedang melayang di langit. Mereka adalah seorang pria dan wanita.
"Kauyakin tidak turun tangan, Kak...?" tanya Si Wanita.
Si Pria mengernyit. "Carlou dan Gram hanyalah contoh dari banyaknya Naga yang menginginkan kekuasaan abadi. Mereka adalah Naga yang kukuh dengan harga diri untuk menduduki puncak dan tidak pernah ingin terima bila ada ras lain yang mengunggulinya.
"Tanpa bantuan keturunan Naga Perang seperti kita, jiwa-jiwa yang ada dalam Bocah itu akan bangkit dengan sendirinya.
"Yang lebih penting, seperti ucapan Tellaura, Roh Kuno memang bisa dilawan Zeeta dari Dunia Lain itu. Tidaklah berlebihan jika di dunianya, perannya sudah dituntaskannya.
"Adikku Myra, sebentar lagi janjiku pada kedua orang tua kita akan terpenuhi."
Myra memandangi kakaknya—Elbrecht—sambil mencengkeram tangan. "Uhm. Aku juga akan mrmbantumu dari belakang."
Selepasnya, keduanya pergi menghampiri Undine dengan terbang perlahan.
.
.
.
.
Alam bawah sadar.
Ada banyak cara untuk memasuki "alam" ini. Tidur, fokus, dan hal-hal lain, termasuk tak sadarkan diri.
Bila "dunia" yang segalanya hitam, dimana Arata ada di tengahnya seakan tersedot semakin dalam ke kepekatan gelapnya "dunia" tersebut dapat disebut sebagai alam bawah sadar, maka "dunia" tak berujung dengan banyak warna yang dialami oleh Zeeta, bisa juga disebut demikian. Dan biasanya, setiap kali Zeeta ada di alam bawah sadarnya, sesuatu yang penting hendak terjadi. Apakah Arata akan mengalaminya juga?
.
.
.
.
Arata tak sadarkan diri. Hal itu saja tak berubah. Tetapi, di "dunia" serba hitam ini, dia tampak tenggelam tak berdaya—malahan seperti diundang masuk ke kegelapan yang lebih pekat. "Sungguh ... kekuatanku ini untuk apa sebenarnya...?"
"Itu semua tadi adalah seluruh tenagaku—serangan pamungkasku yang telah kulatih bertahun-tahun.
"Jika semua kekuatan Naga yang ada dalam di tubuhku ini tak bekerja padanya, lantas... untuk apa...?"
Arata membuka matanya. Tentu saja, ia tak melihat apapun selain kegelapan. Namun, kala ia berkedip....
.
.
.
.
"Tolong jelaskan dulu padaku, Carlou!"
"Siapa itu...?"
......................
"Jelaskan? Apa maksudmu, Fafnir?"
Arata tiba-tiba melihat pemandangan dua Naga yang sedang beradu mulut. Salah satu pihak adalah Naga dengan sisik perak, ditambah dengan kumis dan alis panjang. Ia tampak gagah dan kuat, serta kejam dengan tatapannya yang lebih tajam dari pisau. Naga ini adalah Carlou.
Naga di lain sisi adalah Naga berwarna dominan merah gelap, dengan sisik-sisik keras berdiri (bukan kulit) yang memanjang dari bagian tengkuk hingga leher. Sisik-sisik tersebut berwarna hitam. Ia juga memiliki ekor yang menyerupai martil, serta tanda yang menyala merah di perutnya. Ia adalah Fafnir.
"Apa yang harus kujelaskan padamu?" tanya Carlou lagi, "sudah jelas dalam kata-kataku, kalau kau harus menjadi bagian dari Putra Zero, Arata."
"Jangan main-main denganku!" Fafnir mengaum. "Sudahkah kau lupa hidupku ini untuk apa?!"
"Lunturkan dahulu keserakahanmu terhadap kekayaan tak berguna itu untuk menjadi landasan kepercayaanku padamu."
Mendengarnya, membuat Fafnir terkesiap. Segera saja gigi-gigi tajam dari rahang atas dan bawahnya saling bergesekan.
"Kubalikkan pertanyaanmu, apa kau sudah lupa alasanku hidup selama ini?
__ADS_1
"Membalaskan saudaraku, Gram, dan membinasakan semua keturunan Bulan yang bajingan itu! Jika mereka terus saja hadir di dunia yang kita impikan, hanya masalah waktu sebelum mereka balik melawan kita lagi!"
"Kauingin mengorbankanku demi keserakahan dan harga dirimu?
"Aku telah membantumu menggulingkan Orsted, menghancurkan senjata-senjata Schrutz, kau juga ingin melakukan hal yang sama pada rekan-rekanmu yang juga ikut membantumu kala itu...?"
Tanda merah di perutnya bersinar.
"Tidak perlu kuingatkan padamu, aku ini lebih kuat darimu dan bisa membunuhmu kapan saja, Fafnir. Turuti saja kemauanku dan kau akan tenang."
"Menduduki tempat tinggal Manusia, didewakan, serta berdiri di samping mereka, tampaknya sudah ikut membusukkan dirimu hingga bagian yang paling dalam...."
"Apa katamu ...?"
Saat itu pula, langit langsung meraung dengan ganas. Pertarungan antar keduanya terjadi setelah itu.
......................
Arata kembali ke "dunia" serba hitamnya. Namun sekarang, dia kaget karena melihat banyaknya mata-mata yang bersinar. Ada seekor Naga yang menatapnya dari jarak yang sangat dekat.
"Kuncinya adalah percaya dengan kekuatanmu dan kami, Manusia!" demikian kata-kata dari Naga yang ada di dekatnya. Arata mendengar suara Fafnir darinya.
"Percaya...? Tapi, kekuatan ini tidak berguna di hadapan gadis itu! Aku harus apa!?"
"Jawaban itu sudah kauketahui, tapi kau pura-pura bodoh! Jangan remehkan kami!
"Kau kira tubuh rapuh Manusia bisa menahan banyaknya kekuatan Naga?! Aku adalah Naga Kutukan, Fafnir!
"Meskipun Carlou sudah mati oleh tangan keturunan Bulan, tapi dendamku ... dendam kami belumlah berakhir!
"Jangan biarkan keinginan Carlou tercapai, Manusia!!!"
......................
Hancur.
Kekaisaran Seiryuu telah hancur. Tidaklah berlebihan jika berkata demikian. Kehancurannya disebabkan dua hal; tsunami dari Undine dan Penguasa Kekelaman yang melepas Catastrophe Seal-nya bersama dengan Rune. Keinginan Hitomi Reiko yang ingin menyelamatkan kekaisarannya telah pupus.
Pada siapa ia harus menyalahkan ini?
Zeeta?
Undine?
Atau dirinya sendiri sebab terus saja terpatung?
Dikala ia termenung itu, mendadak bintang memberinya waskita. Ia tiba-tiba berada dalam dimensi yang sama kala Penguasa Kekelaman mengendalikan tubuhnya dan bertemu dengan Zeeta.
"Bintang...? Apa yang—"
Tak sempat menyelesaikan kalimatnya, Hitomi terbelalak hanya dengan beberapa detik terdiam. Setelahnya, ia menjerit, "Zeeta!"
.
.
.
.
Ia kembali ke tempat semula. Tak membuang-buang waktu, ia segera bertanya pada makhluk di sebelahnya. "Oh Roh Kuno yang Agung!" serunya memanggil.
Undinepun meliriknya.
"Jika Anda masih merasakan amarah karena Kura-Kura Kolosal bernama Bon itu terluka, sebagian tanggung jawabnya ada padaku! Karena bagaimanapun juga, serangan yang menghantamnya adalah kekuatanku!"
"Apa?!
"Tidak, kesampingkan itu dahulu, kenapa kau membawa-bawa hal itu sekarang?!"
"Aku tahu permintaanku ini tidak masuk akal setelah perbuatanku, tapi ini sangatlah mendesak!
"Kumohon, Roh Kuno yang Agung, tidak ada waktu lagi!"
Melihat keseriusan dan ketegangan otot, serta keringat bercucuran dari gadis itu, Undine lantas mengangguk. "Katakan permintaanmu!"
"Tolong sampaikan ini pada Roh Kuno Angin dan sebarkan kabar ini pada mereka yang memiliki kekuatan Bulan!
"Jangan biarkan....
"Jangan biarkan dua Zeeta itu saling beradu kekuatan lagi!"
......................
Zeeta menggertak gigi saat Penguasa Kekelaman datang di hadapannya. "Aku pasti akan melenyapkanmu!" jeritnya dengan sangat lantang. Ia juga berkuda-kuda lagi dengan sabitnya.
__ADS_1
"Ahahaha... dengan kekuatanmu itu, mustahil mengalahkanku yang sudah bisa memakai dua puluh empat Rune!"
"Apa?!" semua yang ada di sana terkejut.
Penguasa Kekelaman melebarkan seringainya. "Ahh ... betapa nostalgianya....
"Di sini ada Luna, Danny, Jourgan, Serina, bahkan Gerda yang telah bangkit lagi dari kematian!"
Danny kaget mendengarnya. "A-apa maksudnya itu?! Adikku mati...?"
"Ah... ternyata begitu." Untuk sesaat, Penguasa Kekelaman mengernyit.
"Tidak! Jangan dengarkan dia, Kak—"
"Zeeta yang kausukai itu telah membiarkan adikmu mati sekali lagi. Oh, ironisnya, akulah yang membunuhnya dengan tangan ini!
"Kautahu, Dan? Di duniaku, kalian benar-benar gigih untuk menghentikanku.
"Menghentikan aku yang sedang berusaha menyelamatkan dunia!
"Aku sendirian, melawan dunia.
"Aku sendirian, melawan teman-temanku sendiri.
"Apa kaubisa mengerti perasaanku ini? Aku sudah tak peduli lagi siapa yang akan mati dari tanganku ini.
"Jadi ....
"Ayolah...."
Penguasa Kekelaman tersenyum.
"Ayo keluarkan amarahmu itu dan coba hentikan aku lagi, jika kau bisa!"
"Cih...!" Danny mengeluarkan pisau kembarnya. Tapi....
'SWISH!'
Penguasa Kekelaman dibuat kaget karena Zeeta yang tiba-tiba muncul di hadapannya dengan Rune Raidho. Ia juga tak menyangka dengan tatapannya yang dipenuhi rasa ingin membunuh yang tajam.
'BWHAAMMM!"
Zeeta menghempaskan dirinya yang lain dengan tebasan sabitnya.
"Simpan kekuatanmu untuk nanti, Danny! Serahkan dia padaku!"
"Zeeta...," gumam Danny, juga Gerda, yang sama-sama tak menyangka dengan gelagat Zeeta yang sekarang.
.
.
.
.
"Ya ampun...." Dari balik debu, siluet Penguasa Kekelaman tampak. Zeeta bersiaga lagi dengan sabitnya.
"Tidak usah kau tutup-tutupi lagi, Wahai Diriku!
"Kau sudah melihat pengkhianatan seperti apa yang akan dilakukan mereka nantinya, 'kan?"
Kata-kata itu dapat memengaruhi Zeeta. Lantas, hal tersebut segera disambut bahagia oleh dirinya yang lain.
"Zee!" seru Luna, "jangan dengarkan dia! Apa yang terjadi di sana, tidak tentu akan terjadi di sini!"
"Haaah...." Penguasa Kekelaman menggeleng-geleng kepala. Ia menaikkan jari telunjuk dan ibu jari kanannya—membentuk sebuah pistol.
'DOR! DOR! DOR! DOR! DOR!'
Sihir ditembakkan dari jemarinya itu. Saking cepatnya, Zeeta tak dapat menghalaunya....
Satu per satu rekannya berjatuhan layaknya domino. Dimulai dari Luna yang hinggap di bahu kiri, sampai Serina yang ada di paling belakang.
Zeeta melotot. Matanya berurat, darah pun mengucur.
"Berterima kasihlah, para lalat-lalat itu sudah kuhabisi! Fokuslah saja padaku, Zee...ta!"
'VWUUUMMM!!'
Layaknya bom nuklir hingga menimbulkan asap pohon bercincin, mana Zeeta menghancurkan semuanya. Asapnya sewarna dengan mana-nya yang meledak—hitam keunguan.
Penguasa Kekelaman, berlindung dengan Rune Thurisaz-nya. Dibalik perlindungan itu, dirinya tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Hahahaha! Memang, sudah sepantasnya kau jatuh sepertiku dan menghancurkan segalanya, Zeeta Aurora!"