Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Bencana Besar yang akan Menghantam


__ADS_3

Novalius, Gerda dan Danny, Mellynda, Marcus, serta Colette, sedang mengikuti Axel, Myra, Siren dan Luna ke Axel’s Workshop. Para penempa itu menuntun mereka ke dunia dimensi bawah tanah. Ya, tentu saja keberadaannya ini mengejutkan seluruh anggota pasukan Crescent Void.


“Tidak ada waktu untuk berbincang,” tutur Axel, “kita akan segera melakukan penyesuaian di sini.”


“Axel ... kaubisa melakukannya?” tanya Luna. Ia mengerti apa yang hendak dilakukan Myra dan Axel.


“Jika tanpa Myra, mustahil.”


“Begitu, ya....


“Jadi? Tunggu apa lagi? Kenapa tidak kaulepaskan segel itu dan tunjukkan wujudmu yang sebenarnya?”


Luna menatap Myra.


“Bersabarlah, Roh yang Agung," jawab Myra, "jangan anggap senjata kuat itu hanya cukup ditempa dua makhluk saja. Anak-anak itu berbeda dengan Zeeta. Meskipun mereka mendapatkan senjata yang fungsinya serupa dengan Catastrophe Seal, kalian adalah Roh Yggdrasil. Tidak ada yang tahu dampak apa yang akan timbul pada Manusia seperti mereka


"Kemarilah! Saatnya bekerja, Babi-Babi Pemalas!!”


Seruan kasar Myra sama sekali tidak diduga oleh siapapun di sana, kecuali Axel. Tidak. Kesampingkan soal seruan kasar itu, pasukan itu saja tidak menyangka mereka benar-benar akan mendapatkan senjata yang diusulkan Klutzie. Beberapa saat kemudian, makhluk sihir yang ada di sana, yaitu Salamander, Minotaur, Slime, Dwarf lain, dan beberapa Half Elf, menjawab seruan Myra.


“Da-Da-Danny! Ma... makhluk apa mereka? A-aku tak pernah melihat semuanya sebelumnya!” Gerda mendekap lengan Danny.


“Tenanglah, mereka pasti makhluk sihir sama seperti Axel dan Myra. Tapi ... aku tidak tahu ada Elf yang telinganya tidak begitu runcing...,” jawab Danny, yang tanpa diduga tenang-tenang saja.


“Oh?” Siren tertarik pada Danny. “Tak kusangka bocah


sepertimu bisa tenang setelah melihat keberadaan mereka.”


“Tentu saja. Tujuanku adalah melindungi Zeeta. Kalau yang begini saja membuatku gentar, aku takkan bisa cukup kuat untuk melindunginya.”


“Mereka yang bertelinga tak seruncing Elf adalah Half Elf. Sesuai namanya, mereka adalah setengah Manusia dan setengah Elf. Tetapi sayangnya, tak banyak dari mereka yang diterima di dunia, dan kekuatan sihir mereka juga tidak begitu kuat. Namun setidaknya, mereka memiliki keterampilan masing-masing—karena itulah mereka dikumpulkan di sini,” lanjut Siren.


“Tidak sopan sekali!” pekik Axel. “Ucapanmu seolah-olah kami hanya memanfaatkan mereka tanpa bertanggung jawab atas kehidupan mereka? Aku tahu kau memang Roh Yggdrasil, tetapi setidaknya gunakanlah matamu baik-baik, dunia seperti apa di bawah tanah ini!”


Luna terkekeh mendengarnya. “Jika kau tidak mempermalukan dirimu seperti ini, kau mungkin sudah mendapatkan kehormatan dari anak-anak itu, ya, Siren.... Tapi ... sayang sekali!” Luna menggodanya.


“Kuh. Sialan!” gerutu Siren, yang mengemban malunya sendiri.


“Nona Myraaa!” semua makhluk yang dipanggil melambaikan tangan pada Myra. “Akhirnya! Akhirnya ada pekerjaan untuk kami?!” tanya salah satu dari Half Elf pria. Ia tampak berseri-seri.


“Ya,” jawab Myra singkat. “Segera persiapkan penempanya. Kerjakan dalam lima menit!”


“Siap!” semua Half Elf di sana—yang totalnya ada sepuluh jiwa, tampak begitu gembira.


Kemudian, ada seorang Dwarf yang menyapa Axel.


“Yo, Axel!” sapanya, “katakan saja apapun yang kaubutuhkan, kami akan lekas menempanya untukmu!”


Axel tersenyum. “Terima kasih, Norrman. Aku menghargainya. Maaf, aku baru sempat menemui kalian."


“Tidak apa. Kita semua tahu, kok. Santai saja!” Dwarf bernama Norrman itu tersenyum lima jari sambil menepuk kedua bahu Axel. “Kami akan bersiaga.


Tak kusangka kau membawa tamu seperti mereka. Kunantikan bir dan cerita lengkapnya!”


Norrman dan dua Dwarf lainnya menyusuri jalan yang sama dengan para Half Elf.


“Terima kasih, Norrman. Sungguh...,” gumam Axel.


Melihat dua interaksi ini, membuat Pasukan Crescent Void menduga-duga, bahwa dua makhluk sihir itu— Axel dan Myra, mungkin sangat berjasa. Mereka jadi menantikan interaksi seperti apa yang akan terjadi pada seekor Minotaur yang sesaat lagi berhadapan dengan Myra.


Hentakan langkah Minotaur dengan dua kaki bantengnya yang membuat tanah berguncang layaknya gempa kecil yang terus terulang, tak membuat Myra bergeming. Ketika mereka sudah dekat, si Minotaur menghempaskan napas dari hidungnya.


“Se ... la ... mat ... si ... ang....” Adalah ucapan yang diberikan.

__ADS_1


Myra segera merona merah dan matanya berbinar. “Minos, kamu hebat sekali!” Myra melompat dan memeluknya. “Maafkan aku karena menyebutmu Babi Pemalas, maafkan aku juga karena jarang bermain denganmu. Kamu pasti kesepian, bukan?”


Dengan tangan manusia-berbulu hitamnya, Minos balas memeluk Myra.


“Begitu, ya.” Myra tersenyum lembut. “Terima kasih, Minos!”


Pasukan Crescent Void sama sekali tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Begitu juga dengan dua Roh Yggdrasil di sana. Mereka menganga.


“Minos adalah ras terakhir dari Minotaurus. Mereka nyaris punah karena suatu peperangan bodoh, tapi Myra menyelamatkannya. Meskipun perawakannya menakutkan dan besar, dia adalah anak-anak.” Axel mengisi kekosongan di kepala para tamunya. “Jika diibaratkan ke usia Manusia, Minos masihlah seusia kalian. Dia kehilangan kemampuan bicaranya karena traumanya. Sebaiknya kalian tidak mendekati Minos apapun yang terjadi.


“Minos hanya akan benar-benar berinteraksi pada Myra seorang. Karena baginya, Myra adalah kakak sekaligus ibunya.”


Disaat itulah, Crescent Void sadar. Sederhananya, apa maksud Axel adalah, Manusialah yang menyebabkan semua hal yang terjadi pada Minos. Ya, mereka memang tidak ada sangkut pautnya dengan apa yang dialami Minos, tetapi mereka tahu dan sadar, ini adalah masalah serius dan membawa masalah perasaan.


Tak lama setelah itu, Minos dan Myra usai berpelukan.


“Tolong, ya,” pinta Myra.


Minos membalik badan lalu mulai mengaum. Aumannya begitu lantang sampai menggetarkan seluruh dimensinya.


“A-apa yang terjadi?!” tanya Mellynda.


“Lihat itu!” Colette menunjuk ke arah air terjun. Air terjun itu terbelah menjadi dua.


“Apa yang....” Marcus, Danny, dan Gerda dibuat tak percaya dengan apa yang mereka lihat.


“Persiapannya sudah dimulai. Kalau begitu, aku akan mulai menginterogasi kalian!” Axel berapi-api.


......................


Phantasmal berwujud layaknya Gorgon itu mulai kehilangan kesabarannya setelah nyaris dua jam tidak berpindah tempat sejak mereka berhasil menghancurkan sebuah negeri. Dia tidak mengerti kenapa seorang Phantasmal sama sepertinya—yang bahkan tubuhnya lebih kecil dan tampak rapuh darinya—dengan kata kain Suzy—justru memimpin dan mengatur semua gerakannya. “Aku tahu apa yang kaupikirkan, Banshee. Aku pun tidak melarangmu untuk menyusul Grimm ke medan pertempuran.


“Tetapi, meski dengan sihir pembatuan dan teriakan


kematianmu, belum tentu itu akan berdampak pada apa yang akan kauhadapi di sana.


Suara Suzy yang terasa mengancam tapi tidak ada ancaman dibaliknya, membuat Phantasmal bernama Banshee itu tercubit heran. Apa sebenarnya yang mampu makhluk kecil ini lakukan?


“Kauingin mengetahuinya?


“Boleh saja.


“Tapi ... kaubisa mati, lho.”


Ucapannya seketika membuat rambut Banshee menukik layaknya duri-duri tajam, kemudian langsung menusuk Suzy dengan cakarnya yang bisa memanjang sesuka hatinya. Darah terciprat ke arahnya dan ke tanah. Dia senang, lalu menjilat darah yang terciprat di dekat bibirnya. Setelah itu, ia terkekeh.


“Apanya yang lucu?”


Phantasmal itu terbelalak, ia sangat terkejut.


“Aku ini sudah hidup beratus-ratus tahun. Seranganmu sama sekali tidak terasa.


“Hanya karena aku kehilangan darah, kau seenaknya menganggap aku mati?”


‘ZRATT!’


Suzy membelah pergelangan tangan yang menusuk dirinya. Banshee bahkan tidak tahu mengapa tangannya bisa terputus. Ia akhirnya menjaraki diri dari Suzy.


“Sadarilah posisimu, Makhluk Rendahan!”


Tubuh Banshee tiba-tiba terpelanting ke tanah.


“Aku sangat tidak suka jika ada orang yang sombong dengan kekuatannya sendiri, padahal dia sendiri tidak menyadari di dunia ini masih ada yang jauh lebih kuat darinya.” Suzy membayangkan wajah Klutzie. “Banshee. Tentukan pilihanmu. Patuhi aku atau membajakan tekadmu untuk maju?” matanya terasa sangat mengintimidasi bersama dengan tatapannya yang tajam.

__ADS_1


Bansheepun berpikir untuk mematuhi Suzy.


“Gadis pintar. Sebagai hadiah, akan kuberikan kau kemampuan berbicara. Jangan heran, bagi orang kuat sepertiku, sihir adalah pengabul keinginan yang kekuatannya mampu untuk menguasai dunia.” Suzy mengelus leher hingga bibir Banshee.


“Jika kau ingin tahu kenapa aku membiarkan Grimm pergi terlebih dahulu….


“Itu karena dia adalah Grimm. Tidak mungkin Phantasmal sepertinya tidak mengamuk. Bersantailah. Kita akan memeriahkan pestanya jika waktunya sudah tiba, Banshee....”


.


.


.


.


.


“Aku ... mengerti ... Nona ... Suzy....”


......................


Eclipse sudah sampai di hadapan Grimm. Dia mendapati Phantasmal di seberangnya dalam balutan cahaya merah gelap. “Apa yang terjadi?!” teriaknya.


“UWOOGHH!!” auman Grimm menimbulkan angin dahsyat yang mampu memaksa Eclipse menahan tubuhnya agar tidak terpental dengan menekuk dua


sayapnya ke depan. Angin itu juga menyapu bersih tumbuh-tumbuhan di bawahnya hingga menimbulkan kubah berdebu.


“Ke-kekuatan macam apa ini?!” Eclipse mulai waspada.


Sama dengan apa yang dirasakan Eclipse, Maisie cukup terkejut dengan peningkatan kekuatan tiba-tiba dari Grimm ini. “Kuu kuu, seandainya aku bisa meninggalkan tempat ini...,” gumamnya.


“A-apa kita harus menunggu saja?” tanya Zacht.


“Itu benar, kuu kuu. Aku tak bisa bergerak di sini selama aku masih dalam pengaktifannya. Kalaupun kau ikut datang dengan harapan ingin membantu, kau hanya akan jadi lalat bagi Phantasmal itu, yang bisa ia remukkan kapanpun.”


“Jadi, apa guna—“


‘DRRROOOMMM!’


Tampak dengan jelas di depan mereka ada bilahan sihir raksasa berwarna merah yang membelah dua tanah dan menarget mereka.


“Kuh, sialan! Aku tidak boleh tidak melakukan apa-apa!”


“Bodoh! Jangan gegabah!”


Zacht menarik pedang rapier sekaligus memunculkan Buku Sihir-nya. Ia melapisi pedangnya dengan sihir berwarna biru, dan melakukan gerakan tusukan berkali-kali dengan sihir yang mempercepat gerakan dari Buku Sihir-nya. Tusukan itu tidak dilakukannya sembarangan. Bagian bawah, tengah, dan atas bilah sihir raksasa itu, menjadi titik tusukannya.


“Aku tak tahu apakah sihir dari seorang Manusia sepertiku dapat berpengaruh, tetapi aku tetaplah seorang bangsawan Dormant!


“Demi nama Dormant, bersama dengan rapier yang menjadi penumpu kekuatanku, takkan kubiarkan apa yang kulindungi terluka apapun yang terjadi, bahkan jika diriku ini adalah tumbalnya!


“Ayahanda, jika kau mengawasiku dari alam sana, pinjamkanlah aku kekuatanmu!


“Hroooaaaahhhh!!”


Tubuh Zacht beraura hitam yang kemudian ikut melapisi pedangnya. Tusukan demi tusukan berkali-kali itu akhirnya membentuk wujud menjadi bilah rapier besar nan ramping namun tajam di bagian ujungnya. Bilah itu segera meluncur ke bilah sihir dan berhasil membelahnya menjadi tiga bagian yang kemudian lenyap menjadi butiran mana sebelum jatuh ke tanah.


“Haaahhh ... haaahhh....


“Ughk!” Zacht bertumpu pada pedangnya yang tertancap di tanah. “Hahahah.... Tak bisa kupercaya....”


“Manusia ini memang tak kusangka bisa melenyapkan sihir milik Phantasmal-nya, kuu kuu, tetapi ... jika daya serangnya sebesar ini, itu artinya...,” batin Maisie.

__ADS_1


Lalu tak lama kemudian, mereka bisa melihat ledakan besar yang mampu menghempaskan angin sampai ke kulit mereka. Pohon-pohon berterbangan ke segala arah dan tanah berhamburan kemana-mana. Zacht beruntung, dengan keberadaan Maisie di dekatnya, pohon yang mengarah padanya dapat dihempaskan dengan mudah. Ledakan itu tidak terjadi hanya sekali, tetapi berkali-kali, hingga perlahan-lahan enyebabkan langit menjadi gelap gulita.


“Apa yang ... sebenarnya terjadi di sana...?” Zacht menggumam, matanya pun berkedut. "Inikah sihir yang hanya bisa ditumpas dengan senjata suci yang dimiliki Tuan Putri Zeeta...?"


__ADS_2