
Klutzie dan Siren sudah sampai di dunia dimensi bawah tanah Axel's Workshop, untuk menepati janjinya pada Novalius. Di sana, mereka melihat Novalius sedang berdiri menyilangkan tangan dan membiarkan pedang rapier-nya tertancap di tanah. Di belakang mereka, tepatnya di lubang-lubang yang terdapat di tebing-tebing dan bebatuan sebagai tempat tinggal para Dwarf, Myra, Axel, Minos, serta para Half-Elf hendak menyaksikan apa yang akan dilakukan dua manusia di seberang sana.
“Akhirnya datang juga,” tutur Novalius, “kuucapkan terima kasih karena sudah menyempatkan waktu istirahatmu yang berharga untuk meladeniku, Pangeran.” Novalius memberi hormat ala bangsawan dengan menarik kaki kiri ke belakang, menunduk setengah badan, dan memutar tangan kanannya dua kali. Klutzie menghiraukan salam hangat darinya, tetapi ia tetap mendengarkan. “Sebelum kita memulai, izinkan aku menyangkal pernyataanmu tentangku.
“Memang benar, hatiku tidak sekuat dan tidak sebagaimana seharusnya seorang bangsawan bersikap, tetapi tidak bisa dipungkiri jika KUPIKIR Anda sendiri pernah memikirkan hal yang serupa denganku. Terdengar sombong, tetapi pasti bisa dipahami, bahwa aku lebih tua dari Anda. Entah sejauh apa Anda bisa bijak di usia Anda yang sekarang, terlepas dari status Anda, aku yakin jika Anda pun masih memiliki sisi ketidakmatangan, sama seperti aku.
“Intinya, aku keberatan jika Anda bicara seolah Anda adalah yang paling bijak dan bisa mengatur orang lain hanya dengan perkataan. Karena itulah....
“Aku akan membuktikan padamu, sekuat apa tekadku untuk kerajaan ini ... dan mengalahkanmu!”
Novalius membumbungkan tinggi auranya untuk menekan Klutzie, tanpa mengubah sedikit pun posisinya.
“Dia serius,” bisik Siren, “apa yang akan kaulakukan?”
“Tentu saja menjawabnya dengan seluruh kemampuanku,” jawab Klutzie. Ia tersenyum.
“Ja-jangan-jangan... kau...? Dia bukanlah Suzy, bisa saja dia—“
“Ayolah, perhatikan baik-baik mana ini.”
“Huh?” Siren memejamkan matanya untuk merasakan pasti mana-nya, lalu segera terbelalak. “Sungguh sangat disayangkan. Jika dia ikut, kita bisa memastikan kemenangan kita.” Ia tersenyum kecut.
“Di titik ini, dia sudah melampaui ayah atau bahkan mendiang kakeknya sendiri. Tapi, bukan berarti ayahnya tidak memiliki ruang untuk berkembang. Seperti yang kukatakan ... Aurora memang kerajaan yang menakutkan....
“BAIKLAH!
"'kan kujawab tekad itu dengan seluruh kemampuanku saat ini! Baik aku dan kau, adalah bangsawan yang sama-sama berkeinginan untuk melindungi. Menang atau kalah, tidak perlu dijadikan keluhan, ‘kan?”
Klutzie dan Siren masuk ke dalam mode Spirit Warble—sebuah teknik yang memungkinkan mereka berbagi indera, kekuatan, dan melipat-gandakannya dua kali lebih besar.
Novalius menyerap kembali aura yang membumbung tinggi ke dalam tubuhnya, menarik pedangnya dari tanah dan berkuda-kuda. Ia juga menyeringai sambil menjawab, “Benar sekali. Itulah yang kuharapkan!”
Sementara itu, para Half-Elf tidak ingin pertarungan yang akan segera terjadi ini dilakukan di sini, sehingga mereka bertanya pada Axel. “Apa kauyakin? Senjata yang telah kalian tempa akan disalahgunakan di sini. Apa ini akan baik-baik saja?”
“Menyalahgunakan?" Axel mengernyit. "Bah! Inilah yang ingin kulihat!” para Half-Elf mendapatkan reaksi tak terduga. “Aku tidak dapat melihat bagaimana hasil senjata itu pada mereka yang bertempur di garis depan untuk melawan Hollow dan Phantasmal, tapi kalau melawan Benih Yggdrasil, levelnya sudah beda!”
“Lagi pula,” imbuh Myra, “tempat ini tidak akan hancur begitu saja, bahkan jika mereka hendak menghancurkannya dengan serius. Belajarlah lebih banyak dari makhluk di sekitarmu daripada selalu menyimpan dendam yang akan menghambatmu tumbuh menjadi Half-Elf yang mampu berdiri bangga sebagai dirinya sendiri!”
......................
[Novalius, Delapan Tahun Silam....]
“Kakek! Kenapa Kakek bisa sangat kuat seperti ini?” tanya Novalius dengan mata yang berbinar. Ia sedang memerhatikan dengan saksama bagaimana kakeknya latihan dengan pedang rapier-nya di halaman luas, yang terdapat tiga dummy target, yang masing-masing diantaranya telah memiliki lubang.
__ADS_1
“Kakek kuat?” Willmurd menyimpan rapier ke dalam sarungnya. “Yah, dalam beberapa hal Kakek akui kalau Kakek kuat. Kenapa?” ia berjongkok untuk berbincang dengan cucunya.
“Aku ingin kuat seperti Kakek! Boneka-boneka itu langsung berlubang saat Kakek mengayunkan pedangmu seperti ‘syoosh syoosh ... wuushh!’ cepat sekali!” dengan semangatnya yang menggebu-gebu, Novalius kecil mengangkat tangannya. Ia sangat mendambakan kakeknya yang sekaligus Count. Jarang sekali waktu ia bisa bertemu dengannya, jika bukan libur langsung dari Ratu sendiri atau Grand Duchess. Dimasa takhta-nya Ratu Scarlet, dalam setahun, Willmurd hanya mendapatkan total waktu libur selama empat belas hari, mengingat banyaknya hal yang harus dilakukan demi menopang sang Ratu, untuk mempersiapkan datangnya masa-masa ramalan yang sudah diturunkan selama berabad-abad.
“Kakek senang jika kamu merasa kagum denganku, tapi Kakek tidak ingin kamu menjadi bangsawan yang
hanya terpaku pada kekuatan saja. Benar, kekuatan adalah hal penting untuk kita, tetapi ada hal yang lebih penting dari itu, yang justru bisa mendatangkan kekuatan yang jauh lebih besar.” Willmurd menggenggam bahu cucunya.
“Eh...? Apa itu?”
“Itu adalah tekad kuat untuk melindungi sesuatu yang kamu sangat hargai, cintai, dan sayangi sepenuh hati.”
“Apa maksudnya tekad kuat...?”
“Oh, Novalius, cucuku yang paling kubanggakan... apakah kamu saat ini memiliki sesuatu yang sangat ingin kamu lindungi, apapun yang terjadi, bahkan jika itu merenggut nyawamu?”
Ekspresi Novalius berubah. Ia menjadi takut. “Ehm....” Ia menggelengkan kepala dan menitikkan air mata. “Aku tidak tahu. Apa ini artinya aku tidak bisa jadi kuat sepertimu?”
“Hahahaha!” Willmurd mengacak-acak rambut Novalius. “Janganlah menangis! Anak laki-laki haruslah kuat, pemberani, dan menjadi yang paling bertekad diantara semua bangsawan di kerajaan! Apalagi, jika kamu adalah Dormant!
“Emblem dari Dormant adalah kupu-kupu. Meskipun tampaknya kelihatan lemah, bisakah kamu menebak apa arti dari emblem kita?”
Novalius mencoba berpikir keras dengan mengingat binatang seperti apa kupu-kupu itu. “Ehm... kupu-kupu itu usianya pendek, tetapi dia juga mengalami pertumbuhan panjang untuk menjadi kupu-kupu... dia juga melakukan pe... penyerbukan untuk membantu bunga-bunga.... Loh...? Apa maksudnya?”
“Sama halnya dengan kupu-kupu, Dormant juga memiliki tekad yang lebih kuat dari siapapun, meskipun hasil dari tekad itu tidak berlangsung lama. Apa yang bisa kita lakukan dengan tekad itu ada banyak jumlahnya. Menjadi lebih kuat, menjadi lebih pintar, atau apapun yang kauinginkan dalam hidupmu, dengan memegang teguh tekad itu.
“Jika kamu ingin tahu apa tekadku, aku bertekad untuk melindungi kerajaan ini apapun yang terjadi. Meskipun nyawaku adalah bayarannya, demi menciptakan dunia yang cerah dengan senyuman penerus-penerusku, tekad ini pasti akan tersampaikan pada mereka.
“Jadi, Novalius, jika kauingin kuat, maka bertekadlah lebih kuat dari siapapun! Jadilah kupu-kupu yang terbang dengan anggun, kuat, dan selalulah percaya bahwa dirimu bisa melakukannya! Lindungilah siapapun yang berharga bagimu, habisilah hidupmu dengan penuh kebanggaan, dan akhirilah hidupmu dengan senyum yang lebar. Dengan begitu, kau adalah manusia yang kuat, yang bahkan bisa melampauiku!”
......................
“Kakek ... jika kakek melihatku dari alam sana, aku ingin kakek tahu bahwa tekadku ....” Novalius menatap serius Klutzie yang hendak menyerangnya dengan satu pukulan kuat seperti yang ia lakukan pada Suzy. “Sudah kuduga alurnya seperti ini!” batinnya.
Klutzie mengepalkan erat-erat tangannya sambil mengumpulkan mana alam. Tangannya berubah biru pekat, menandakan seberapa banyak dan kuatnya serangan yang akan ia hempaskan. “Berakhir sudah!”
‘BWOOAAASSHH!!’
Serangan bak laser yang mirip seperti serangan milik Colette ditembakkan. Hanya saja, laser itu memiliki “kepala” seperti kepalan tangan. Namun, apa yang mengejutkan Klutzie tidaklah datang dari pertahanan atau manuver lain dari Novalius untuk melawannya. Dia justru melihat Novalius bergerak dari sisi kanan dan kiri laser-nya dengan gerakan super cepat yang menghasilkan bayangan-bayangan.
“A-apa?!” Klutzie tercengang.
Bayangan-bayangan itu bahkan memancarkan aura panas dan kuat yang kali ini benar-benar mampu menekan mental Klutzie. “A-apa yang sebenarnya terjadi…?” ia melihat masing-masing dari bayangan itu seperti raksasa hitam bermata hijau yang siap untuk menusuknya dengan rapier kapanpun ia bergerak—bahkan tidak bergerak pun mereka siaga melakukannya.
__ADS_1
‘ZRRRSSS’
Myra dan Axel, tidak... semua makhluk sihir yang melihat ini tertegun. Apa yang dilihat mereka berbeda dengan yang dilihat Klutzie. Novalius berjalan santai melewati sisi yang tidak dilewati laser dengan santai sambil mencengkeram rapier dari sarungnya. Silau biru pekat dari laser-nya tidak membuat para makhluk sihir kesulitan menangkap apa yang terjadi, namun, selain Myra, tidak ada yang mengerti apa yang sebenarnya dilakukan Novalius.
“Hei, Axel, permintaan seperti apa yang diinginkan anak itu?” tanya Myra.
“Rapier yang mampu mewujudkan apapun yang dibayangkannya. Misalnya, jika ia ingin mengubah bentuk rapier itu menjadi long sword, pisau, atau bilah apapun yang diinginkannya, itu mungkin saja. Tapi ... kulihat dia tidak melakukannya...,” jawab Axel.
“Tidak! Lihatlah lebih jelas lagi!”
“Huh?”
“Sarung pedangnya! Sejak awal dia sudah merencanakannya!”
Mereka mendapati sarung itu mengeluarkan semacam asap putih.
“Apa maksudmu dari awal?”
“Dia sengaja membuat lengah Klutzie dengan memancarkan auranya. Ya, Klutzie mungkin lebih kuat darinya, tapi teknik yang telah dipelajari Novalius, ditambah latihannya dengan Luna, dapat kita pastikan dari ini saja, dia ada diatasnya!
“Aura yang dipancarkannya bukanlah untuk memamerkan kekuatannya, tapi itu adalah fake bagi mata lawannya! Apalagi jika tipuan itu ditambah dengan omong kosong yang memaksa lawannya memperhatikannya, itu akan mempermudah goal-nya tercapai!”
“He-hebat!” puji salah satu Half-Elf, “manusia itu hebaaatt!”
“Baru kali ini aku melihat tipuan seperti ini!”
“Kakek ... tekadku adalah melindungi kerajaan, sama seperti milikmu. Namun, perjalananku menjadi kupu-kupu gagah dan epik sepertimu, masihlah panjang....”
“Inikah inti dimana dia mengumpulkan mana-nya?” Novalius melihat telapak tangan kiri Klutzie. “Bersiaplah!” ia menusuk telapak tangan kiri yang dibiarkan terbuka dari bagian punggung tangannya, setelah mengangkatnya dengan tangan kirinya agar bisa dijangkau.
‘KRANK!’
Laser itu pecah layaknya pecahan kaca yang berserakan, lalu berubah kembali menjadi mana alam. Tidak ada darah yang menetes, rapier-nya juga berwarna abu-abu transparan. Klutzie mendadak jatuh tak sadarkan diri, bersama terpisahnya Siren dalam kondisi yang serupa.
“Haaaaahhh....” Novalius menghela napas panjang. Ia lega, juga bersyukur rencananya berjalan mulus.
......................
Empat hari telah beranjak sejak usainya pertempuran. Meskipun begitu, kerajaan Aurora telah menjalani keseharian mereka seperti biasa, layaknya tak terjadi apa-apa. Para rakyat pun tahu seperti apa jasa yang telah diberikan Crescent Void untuk kerajaan, juga “tamu” mereka, Klutzie, Pangeran Kedua dari Kerajaan Nebula, bersama dengan Roh Yggdrasil-nya, Siren. Urusannya dengan Novalius pun sudah selesai.
Selama keseharian yang damai ini berjalan, para bangsawan utama, makhluk sihir yang bersekutu dengan Zeeta seperti Elbrecht dan Luna, juga usai merencanakan apa yang harus mereka lakukan kedepannya. Ya, tidak memerlukan waktu yang lama, dilain sisi, jika terlalu lama direncanakan, ada kemungkinan besar semua rencana itu kacau balau seperti ketika Aurora yang kedatangan Lucy, disaat mereka percaya diri dengan pertahanan mereka sudah berlipat-lipat ganda lebih kuat.
Kali ini, rencana mereka akan lebih sederhana dan lebih “tidak masuk akal”. Dan rencana itu adalah menjalani kehidupan kerajaan seperti biasanya, tanpa ada rencana balasan. Ya, mereka tentunya menyiapkan ruang dan sihir tertentu untuk menyelamatkan warganya, tetapi mereka kini lebih fleksibel dan menerima tantangan dengan berani. Namun, alasan ini tentu ditetapkan sebab Luna juga menambahkan, bahwa tidak akan ada banyak yang terjadi sebelum Lucy benar-benar turun tangan untuk menepati janjinya, dimana mereka semua tidak pernah meragukan Luna, kenapa dia bisa tahu semua ini....
__ADS_1