
Zeeta berdiri di hadapan seorang wanita berambut merah setengkuk, Lynn, dan Roh Api Kuno, Ifrit. Dengan wajah kesalnya, Lynn mengeluh, "Akhirnya! Akhirnya kau datang juga, Zeeta!"
"Eh...?" Zeeta berusaha memahami apa yang sedang terjadi. "A... aku kan bukan seorang Levant, tapi kenapa...?"
"Ini berbeda dengan yang biasa terjadi denganmu dan leluhur-leluhurmu.
"Ini adalah pertama dan terakhir kalinya kita akan bertemu."
Ekspresi Zeeta segera berubah serius. "Apa ini ada hubungannya dengan Ragnarok?"
"Oh, masalah itu biar Ifrit yang menanganinya. Aku ingin memberitahumu sesuatu yang penting tentang asal usul kekuatan Matahari dan Bulan, serta peran mereka yang sesungguhnya."
"Peran yang sesungguhnya?"
"Setelah aku dan Ifrit setuju dalam Sumpah itu," jelas Lynn, "aku kehilangan kekuatan ramalanku. Aku tidak tahu persis apa yang menyebabkannya, tetapi yang paling memungkinkan adalah bersemayamnya Ifrit di dalam tubuhku dan memberiku kekuatan bak Matahari."
"Aku belum pernah melihat Levant ... uh... mereka yang mewarisi kekuatanmu itu, mengeluarkan seluruh tenaganya, jadi aku tidak mengerti apa maksud 'bak Matahari' itu, hehehe...."
Lynn tersenyum. "Tidak lama lagi kau akan melihatnya." Ia lalu segera kembali serius. "Kembali ke pembahasan, seperti yang sudah kausaksikan sendiri, Matahari dan Bulan adalah kekuatan yang saling membantu sama lain, dan kau yang menjadi penentu nasib Bumi ini, merupakan perantaranya.
"Kau hendak memakai Tombak Suci, Rhongomyniad, bukan? Aku akan memerlihatkanmu apa sebenarnya Tombak Suci itu."
"Tapi, Lynn....
"Apa benar bahwa Levant harus membunuhku karena Sumpahnya?"
Lynn mendapati Zeeta yang tampak gelisah dan memandang ke bawah.
"Itu benar."
"Eh...?" wajah yang amat kaget nan kecewa diperlihatkan Zeeta.
"Suatu hari, ketika aku mengandung putri pertamaku dan Gala, untuk pertama kalinya setelah kekuatan ramalanku hilang, aku bermimpi tentang masa depan. Masa depan itu benar-benar hancur dan kacau.
"Api tersebar di segala penjuru, alam yang sudah mati, dan seorang gadis beranting bulan masih berdiri di tengah lautan mayat dengan tombak di tangannya."
Zeeta mencengkeram tangan dan menggigit bibirnya.
"Aku tidak mengikat janji baru terhadap Ifrit, tetapi aku memberi beberapa dari mereka yang terpilih oleh Ifrit pesanku yang mengharuskannya membunuh gadis itu."
Zeeta menggertak gigi, tangisnya mengucur, ia juga memegangi dadanya yang terasa sakit.
"Kau masih bisa mundur, namun kau tetap harus melihat apa yang hendak kuperlihatkan."
"Tolong beri aku waktu." Zeeta membelakangi lawan bicaranya. Ia berusaha menata kembali perasaannya dan menyeka tangis derasnya. "Aku siap."
Lynn tersenyum kecut. "Ini bukan sesuatu yang akan menggores hatimu." Kemudian, Lynn memerlihatkan sebuah tebing tinggi yang sangat dikenal Zeeta. Catastrophe Seal pernah bereaksi pada tebingnya.
"'Kuharap kelak dirimu akan menjadi cahaya yang akan menyinari seluruh dunia.'
"Itulah harapan Gala waktu ia mengubur darah beku milik putrinya, Ars."
Zeeta mengernyit. "Aku tidak mengerti. Tebing itu adalah darah beku Ars?"
Lynn melihat heran Zeeta, kemudian tergelak. "Hahahaha! Apa-apaan itu? Tidak mungkin, lah, dasar bodoh!"
Zeeta merona malu karenanya.
__ADS_1
"Gala melindunginya dengan menciptakan tebing itu, itulah jawaban yang tepat."
Zeeta jadi bisa mengerucutkan kesimpulan baru, "Oh...? Maksudmu, Ars adalah wujud asli dari Rhongomyniad?"
Lynn tersenyum. "Dan cincin itulah yang akan membangunkannya."
"Tapi ... kenapa Ars bisa menjadi seperti iru? Tidak mungkin hanya karena harapan Gala...."
'KLIK!'
Lynn menjentik jemarinya. "Itu benar sekali!
"Hanya satu alasan mengapa Dryad menyuruh Gala menguburkan Ars di Ujung Dunia....
"Sebab ia merasakan mana alam pada darah Ars ketika Gala memerlihatkannya dan itu terus memadat—menyerap mana di sekitarnya.
"Jika Dryad membiarkan Gala mengubur Ars, hutannya lambat laun akan mati. Oleh karena itulah, satu-satunya tempat yang cocok adalah...."
"Tanah Kematian! Lebih tepatnya, tanah diatas Tanah Kematian."
"Pintar! 100 untukmu!
"Ifrit yang menyadari hal itu juga tidak mengeluh, bahkan ia meminta Roh Kuno lainnya untuk menjaga Ars."
Zeeta teringat sesuatu. "Makanya Marianna memintaku untuk bicara dengan para Roh Kuno...."
Lynn memandangi Zeeta dengan senyum, tetapi disaat yang sama juga sedang termenung. Ia kemudian bertanya, "Apa kau tetap ingin mundur?"
Zeeta menatap mata Lynn. "Mana mungkin!" ia menyertainya dengan senyuman.
"Begitu? Kau kuat sekali, ya."
"Terakhir, akan kuberitahu satu hal penting yang terlewatkan—peran sesungguhnya kekuatan Matahari dan Bulan."
"Hmm?"
"Penyeimbang."
Zeeta segera terkesiap. "Kau bercanda? Untuk apa aku menangis kalau itu jawabannya?"
"Satu hal saja pesanku sebelum berpisah." Kaki Lynn mulai memudar. "Teruslah berjuang dan melawan demi menggapai mimpimu. Bahkan jika kau gagal meraihnya, setidaknya kau sudah menikmati prosesnya."
"Haha... sama persis seperti yang dikatakan Gala, kah...."
"Apa? Kauingin aku mengatakan hal kejam lain hingga membuatmu menangis lagi?"
"Ti-tidak terima kasih!"
"Haha.... Kalau begitu...." Lynn memunggungi Zeeta. "Peranku sudah selesai, kini giliranmu yang harus menyelesaikannya.
"Selamat berjuang, oh Penyihir Harapan!"
Lynn melambaikan tangannya, lalu lenyap dengan kerennya.
Zeeta mengantarkan kepergiannya dengan senyuman, kemudian menatap Ifrit yang sejak tadi terus membisu.
"Tidak perlu pesan apapun lagi, Ifrit, aku sudah mengerti. Peranku, tanggung jawabku, segalanya. Aku sudah siap kali ini dan tidak akan menangis lagi."
__ADS_1
"Aku akan menunggumu di sana."
"Sesegera mungkin aku akan menyusul."
Ifrit mengangguk, kemudian ikut lenyap, serupa dengan yang terjadi pada Lynn. Tidak lama kemudian, dirinyalah yang demikian dan ketika membuka mata, ia sudah kembali ke masa sekarang.
......................
"Zeeta!" pekik Karim yang langsung mendekap cucunya erat. "Syukurlah! Syukurlah kau tidak apa!"
Melihat kakeknya yang mendadak menangis deras, membuat Zeeta tak habis pikir. Ia mengelus punggung tua kakeknya dengan lembut. "Aku tidak apa, Kek. Maaf sudah membuatmu khawatir."
"A... apa yang dikatakan Lynn padamu?"
Zeeta tersenyum seraya menjawab, "Berjuanglah, Penyihir Harapan."
"Be... benarkah? Lalu, bagaimana dengan Sumpahnya...?"
Masih tersenyum, Zeeta tidak ragu untuk menjawab, "Aku akan tetap hidup, kok. Tenang saja."
Wajah sumringah kendari tangis membasahinya segera terlukis pada Karim. "Benarkah?!"
"Uhm! Tentu saja! Jadi, beristirahatlah, Kek. Doakan aku yang terbaik dari sini, sementara kuharus menjawab tugas terakhirku." Zeeta menidurkan Karim dan menyelimutinya. "Ini adalah pertarungan terakhirku di dunia sihir ini. Setelah semuanya selesai, kita pasti bisa bersama-sama selamanya, di dunia yang damai tanpa perseteruan lagi."
Karim tersenyum dan merasa tenang dengan segala yang diucapkan Zeeta yang mengutarakannya secara lembut itu. "Aku percaya kau akan berhasil!"
"Uhm!" Zeeta tersenyum lagi. "Lagi pula, aku adalah cucu dari Karim yang pemberani, kuat, dan penyayang!
"Kalau begitu, Roh Kuno Angin dan Air sudah menungguku. Tolong sampaikan maafku karena tak sempat mengobrol dengan Nek Agatha dan yang lain."
"Ya, pasti. Berhati-hatilah."
"Oke. Aku berangkat, Kek." Luna lalu melompat pada bahu Zeeta.
"Ya!"
Kemudian, dengan sihir teleportasinya, Zeeta lenyap dari kamar Karim.
.
.
.
.
Zeeta muncul di luar tembok Aurora. Luna segera melayangkan pertanyaan. "Kauyakin dengan semua ini?"
"Aku sudah 'bersiap'. Tidak ada lagi yang membuatku ragu, Luna. Aku pun sudah tahu apa yang akan kulakukan pada diriku yang lain."
Luna menyimpulkan bibirnya. "Aku akan menemanimu."
"Terima kasih. Aku sangat memerlukannya. Tapi, sebelum berangkat bertemu Roh Kuno, aku ingin bertemu dengan Ozy dan Aria. Boleh?"
"Ya, tentu saja."
"Cahaya yang akan menyinari seluruh dunia... kah?
__ADS_1
"Hah. Itu terlalu mewah untukku."