Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Luluh Lantaknya Bumi


__ADS_3

Nidhogg terbang menjulang, lalu memutar sesaat untuk mengambil momentum. Kemudian, ia menukik ke arah pasukan Vulkan yang sudah menghunuskan senjatanya. Di masing-masing senjata itu, bertuliskan Rune Algiz/Elhaz.



Rune itu berguna untuk perlindungan tambahan dari serangan-serangan umum dari seekor Naga; seperti semburan napas, cakaran, atau hempasan ekor. Namun, mereka tidak menduga kalau serangan Nidhogg lurus pada mata mereka, dan mengacaukan otaknya. Mata putih Nidhogg bersinar, yang cahayanya membutakan sesaat baik untuk rekan maupun lawan. Selanjutnya, para Vulkan kehilangan kesadaran, menjatuhkan senjata-senjatanya, dan terjatuh begitu saja tanpa adanya perlawanan. Untungnya sinar dari mata Nidhogg tak memengaruhi rekannya sendiri.


Nidhogg tetap terbang di angkasa, mengawasi apakah serangannya benar-benar mempan atau tidak, disaat yang sama, melihat kondisi Arata dan Surtr.


......................


Tubuh Surtr berselimutkan api. Wajah berbentuk wajiknya bersinar merah kejinggaan, tubuh merahnya juga menggelap. Daerah sekitarnya juga terbakar hebat akibat suhu tubuhnya. Untuk mengatasi hal itu, Arata meminjam kekuatan salah satu Naga dan menyelimutinya dengan zirah es.


Terdapat beberapa lubang besar yang tanahnya menghitam dan masih terdapat beberapa percikan api—tanda bahwa Arata menghindari serangan menghancurkan Surtr. Sudah tidak ada harapan bagi Seiryuu lagi untuk mencari makanan atau minuman karena Raksasa satu ini.


Panas yang dibawa Surtr bukan main. Meskipun Arata sudah menyelimuti dirinya dengan zirah es, itu terus saja meleleh dan memaksa Arata untuk mempertebalnya terus menerus.


"Percuma." Surtr berkata, sambil melihat Arata yang mulak kewalahan dengan api sekitarnya. "Apapun yang kaulakukan hanya akan ditelan oleh apiku."


Bunyi dentuman berkali-kali mengalihkan perhatian keduanya. Mereka melihat ke sumber suara dan segera mendapati tergeletaknya para Vulkan.


"Hei, hei... kalian ini... yang benar saja...." Surtr tak habis pikir. Ia lalu mencengkeram erat tangannya. "KAUPIKIR BISA MENGALAHKAN MEREKA HANYA DENGAN MIMPIMU, NIDHOGG?!" Surtr lalu mengangkat tangannya. Bumi tiba-tiba bergemuruh dan memuntahkan lava—bahkan mengenai para Vulkan dan Nidhogg sehingga memaksanya terbang menghindar walau sayapnya terkena telak.


Medan pelindung yang diberikan Hitomi pun langsung retak parah, Riruko dan sukarelawan yang ada didekatnya juga nyaris terbakar hidup-hidup.


Lava itu menjadi "penampar" sekaligus penambah kekuatan bagi para Vulkan. Mereka jadi lebih agresif dan tidak segan menghancurkan sekitarnya.


"Yang benar saja!?" Riruko mulai aktif menyerang dengan segala yang dirinya mampu—menyerang dengan menggunakan reruntuhan besar bangunan dan mengarahkannya pada kepala prajurit-prajurit itu. Melakukan itu adalah hal mudah, namun panasnya sangat menghambatnya. Panas itu semakin terasa ketika medan penghalangnya semakin retak. "BERTAHANLAH, KALIAN SEMUA! KITA PASTI BISA SELAMAT DARI INI!"


"Mudah dikatakan daripada dilakukan!" para sukarelawan memang berjuang sekuat tenaga, tapi jika begini terus, sudah dipastikan siapa yang tumbang duluan.


Para pengungsi yang berada di dalam istana berteriak histeris. Mereka pun merasa terpanggang. Anak-anak menjerit ketakutan, sementara para orang tua bingung harus melakukan apa.


Ledakan lava itu tidak hanya membawa panas ke daratan, namun juga menggelapkan langit dan membawa racun dari asap. Tumpahan darinya pun membakar segala apa yang ada di dekatnya. Bila penduduk Seiryuu bukanlah manusia yang terlatih oleh Naga, maka mereka sudah binasa.


.


.


.


.


Pijar dari lava itu tampak hingga beberapa kerajaan tetangga, salah satunya Nebula. Mereka yang sedang bersiaga dengan sosok yang akan menyerang pun tak memiliki waktu untuk memikirkan kekaisaran yang sebenarnya sedang diujung tanduknya itu.


Klutzie menjadi pemimpin perang kali ini. Ayahnya berdiri di sebelahnya sebagai penasihat. Ia berdiri di bawah Vanadust, sembari mengaktikan sihir pengeras suara.


"Rakyatku yang terpilih!" seru Klutzie, "tibalah waktunya bagi kita untuk memakai senjata mematikan yang pernah dibuat kakakku!

__ADS_1


"Bersiagalah di depan seluruh persenjataan kalian! Bantu saja kami dengan senjata itu. Target kalian adalah Raksasa Kehancuran Dunia, Jormundgand! Tubuhnya yang besar tidak akan menyulitkan kalian menembakinya.


"Apapun yang terjadi, kita akan bertahan hidup!"


"INILAH SAATNYA!!!" Rakyat Nebula semangatnya begitu membara.


Kepala Jormundgand tampak sudah sangat dekat bagi mata Manusia Nebula, namun sebenarnya masih ada jarak beberapa ratus meter. Nebula tidak sendirian. Ada Lloyd, Hugo, dan beberapa Elf lain.


......................


"Menyerahlah, Manusia." Fokus Surtr kembali ke Arata. Ia melihat Manusia di hadapannya bergetar. Hal itu sangat membuatnya senang. Tetapi kemudian, dia hilang dari pandangan Surtr.


"Apa?!" Raksasa Api itu melihat ke sekitarnya, namun tidak mendapati dimanapun dirinya.


Lalu....


"RRAAAHHH!!" Arata muncul di nawah dagu Surtr dan meng-upper-cut. Keseriusan, kemarahan, dan kekuatannya seolah menjadi satu bila seseorang dapat melihat wajahnya. Iris matanya seakan menghilang sesaat sebab dia benar-benar memukul lawannya amat keras. Tangan berototnya menonjolkaj urat-uratnya.


'DBWOOMM!'


Surtr terpental ke langit. Arata menyusulnya dengan wajah yang belum berubah, yang kemudian menendang secara menukik perut Surtr hingga memaksanya terpental jauh.


Arata tidak berhenti. Para Naga yang "bersemayam" di dalam tubuh Arata terus memandunya.


"Jangan berhenti! Jika kau berhenti sebentar saja, kekuatan kami akan memengaruhimu!


"Aku mengerti!" Arata menjatuhkan dirinya di tanah dengan kaki yang sudah dalam posisi menolak. Sebelum mendarat di tanah, ia mengambil napas. Ketika kaki dan tangannya sudah menyentuh tanah, ia memfokuskan kekuatan pada otot kakinya, lalu dengan sikap tolakan itu, Arata berhasil melayang di udara dengan kecepatan yang diluar nalar.


Tidak hanya dari kekuatan tenaga dalam, namun juga dibantu dengan kekuatan dari para Naga, sehingga memungkinkannya terhempas begitu kencang dan cepat.


Arata segera melakukan roll depan, mengangkat tangan kanannya sampai ke atas kepala dan tangan kiri yang dijerengkan ke bawah. Targetnya adalah Bumi.


'BWHAAAMM!!'


Arata memukul tanah dengan lengan kanannya. Dari lengan tersebut, tersebar es dengan sangat cepat, untuk membekukan api yang benar-benar menggila. Bahkan es itu mampu mengubah lava yang termuntahkan, menjadi pilar es. Para Vulkan berjatuhan lagi karena tanah yang dipijaki mereka sengaja dibuat licin oleh Arata.


Nidhogg lalu datang cepat walau sayapnya ada asap hitam dan terbangnya tidak seimbang. Ia mencekik leher mereka dan mementalkannya begitu saja. Riruko dan sukarelawan pun serupa. Mereka membanting para Vulkan dengan reruntuhan yang jauh lebih besar. Tidak berlebihan jika ada satu atau dua yang terluka parah akibatnya.


.


.


.


.


Surtr kembali ke tanah. Ia sama sekali tidak senang. "Kalian pikir hanya ini yang bisa kami lakukan?!" Surtr membuka sebuah portal di sebelahnya. Para Seiryuu bisa melihat bahwa para Vulkan yang dibawa Surtr di sini belum ada sepertiga dari apa yang ada di dalam portal tersebut.

__ADS_1


Mendadak, Arata jadi ingat keinginan adiknya beberapa tahun yang lalu, yang menurutnya, itu dilakukan demi kakaknya juga. Saat itu, ia masih berambisi untuk "mengubah dunia", dan sedang membahasnya dengan Xennaville.


"Dengan terbukanya Jötunnheim, maka Manusia akan diinjak-injak. Mereka takkan mampu melakukan apapun. Sejarah dan bukti peradaban mereka akan hancur. Semua ini demi menegaskan lagi para Manusia, bahwa dengan sihir pun, Manusia tetaplah makhluk yang lemah."


.


.


.


.


"Kau benar-benar gila, Hitomi, sampai memikirkan hal seperti itu!" batin Arata.


"Argh. Ini mengingatkanku pada Ragnarok sebelumnya." Surtr melemaskan otot lehernya—bukti bahwa ia merasakan pukulan Arata. "Siapa namanya waktu itu...?


"Ah, ya. Aku ingat.


"Orion.


"Dia adalah Manusia yang sangat kuat. Aku mengakuinya. Tapi, dia segera putus asa begitu aku melakukan ini."


Surtr merapatkan jemari telunjuk dan tengah, lalu ia mengangkatnya. Arata segera berfirasat buruk, yang sayangnya langsung menjadi kenyataan.


"RIRUKO, MENJAUHLAAAH!!" suara Nidhogg begitu lantang. Arata segera menoleh dan....


Seiryuu langsung dilahap oleh lava, kendati sekitarnya sudah tertutup oleh es. Lava itu jauh lebih besar dan tebal. Tidak ada yang bisa dipastikan dari sana. Apakah Riruko hidup? Bagaimana dengan sukarelawannya? Tidak, yang lebih penting, bagaimana dengan rakyatnya?


Panas lava itu lagi-lagi menghalangi Arata untuk menanggapi. Matanya segera berlinang, namun itu tidak berlangsung lama.


Mereka melihat siluet raksasa yang jauh lebih besar daripada Surtr sedang melayang di langit. Semua segera melihat ke arah siluet itu berasal.


"Arata Akihiro. Tenanglah. Bala bantuan sudah datang!"


Arata melihat penyu yang yang besarnya hampir menyamai sebuah pulau, mendarat perlahan. Tidak. Penyu itu tidak terbang, namun dibawahnya terdapat pusaran air yang menopangnya.


Pandangan Arata masih tidak bisa mengetahui apa yang ada dibalik penyu, selain tempurungnya. Namun, ia bisa melihat kalau ada trisula yang dilempar ke dalam portal itu, dan dari tanah, timbullah air yang langsung membalas lava sebelumnya. Para Vulkan yang ada di dalam tidak menduga kedatangan air itu, apa lagi Surtr. Ia bahkan ikut tersapu oleh airnya.


Semuanya terjadi tiba-tiba. Volume airnya pun sama sekali bukan kecil, berbanding terbalik dengan ukuran trisulanya.


Seorang gadis kemudian melompat dengan cantiknya dari penyu itu dan mendarat indah di hadapan Arata yang dalam posisi bertekuk lutut—belum berubah sejak serangan sebelumnya.


"Cynthia Arseld Orsfangr, Putri Kedua dari Kerajaan Bawah Laut Orsfangr, datang membantu.


"Tidak perlu khawatir. Rakyatmu berada di dalam kubah airku. Semua berkat Undine yang Agung melemparku dan Qyu tepat sasaran."


"Eh? Anak kecil?" adalah tanggapan paling pertama begitu melihatnya

__ADS_1


__ADS_2