
[POV Hilma.]
Sejak diriku masih selalu berada di gendongan ibu, aku selalu melihat kedua tangannya berlumuran oleh banyaknya darah orang lain. Tiap kali ia membunuh para targetnya, dia selalu bilang, “Ini semua demi kebaikan dunia.”
Aku tidak mengerti apa maksudnya saat itu, namun karena pekerjaan ibuku itulah, lambat laun ... aku pun jadi mengikuti langkahnya... untuk menjadi seorang pembunuh. Meskipun terkadang kami tidak dibayar, tapi kami selalu menuntaskan misi kami dengan sempurna.
Ibu pernah berkata kalau aku tidak harus mengikuti jalannya, sebab aku adalah aku, dan dia adalah dia. Kami berdua akan memiliki jalan hidup yang berbeda, karena dunia ini tidak pernah setara dan adil—bahkan pada anggota keluarga sekalipun.
Target ibuku selalu orang yang acak, namun yang paling sering menjadi targetnya adalah bangsawan di kerajaannya sendiri. Aku tidak pernah tahu atau melihat siapa sosok yang selalu menyuruhnya memberi pekerjaan kotor seperti ini, tetapi yang kutangkap hanyalah dirinya berjenis kelamin lelaki.
Suatu ketika aku pernah bertanya pada ibu tentang identitas orang itu, sayangnya jawaban ibuku hanyalah, “Jika kautahu, kau akan mengamuk. Dan aku tidak ingin kau melakukannya. Tunggulah saja sampai waktunya tiba.” Anehnya, saat mengatakannya, ibuku tersenyum.
Itu sungguh membuat sesat pikiranku.
Selain menjadi pembunuh bayaran, ibuku juga ahli dalam meracik obat dari berbagai macam herbal. Katanya, hal ini ia pelajari ketika ia masih seusiaku—dua belas tahun, oleh seseorang yang sudah meninggalkan dunia ini selamanya... karena tangan ibu sendiri. Disaat “orang itu” seperti diperlakukan istimewa olehnya, tetapi tidak bagi orang yang mengajari ibu racik-meracik obat ini.
Ibu bilang, orang yang mengajarinya meracik obat adalah ayahku.
Lalu ... kenapa ayahku dibunuh oleh ibuku sendiri?
Lagi-lagi jawaban ibuku adalah, “Untuk kebaikan dunia....”
Aku yang perlahan tumbuh dan mulai memahami “dunia” yang selalu saja menjadi alasannya membunuh dan membuat ibuku seperti ini, sempat meragukan akal sehat ibuku sendiri. Aku ragu apakah dia telah tertelan oleh suatu paham yang ekstrem?
Aku berusaha untuk melakukan investigasi sendirian, tanpa memberitahu ibu sepatah kata tentangnya. Aku ingin tahu ... kenapa ketika dia membunuh orang lain, alasannya adalah “untuk kebaikan dunia"? Aku juga ingin tahu siapa identitas yang selalu menyuruh ibu, dan aku pun ingin tahu ... kenapa ibu membunuh ayah?
.
.
.
.
Satu per satu jawaban mulai kudapatkan. Kendati demikian, lebih banyak pertanyaan yang muncul setelahnya.
Ayahku adalah seorang bangsawan dengan gelar baron dan ibuku dulu adalah salah satu pelayannya. Ibuku mempelajari ilmu membunuh sekaligus meracik obat dari keluarga yang sama.
Hanya itu saja yang kudapatkan tentang ayahku, tetapi aku gagal mendapatkan jawaban tentang alasan ibu membunuh ayah. Meskipun.... Jika ibu lagi-lagi memakai alasan “untuk kebaikan dunia” saat membunuh ayah, apakah “orang itu” juga yang menyuruhnya membunuh ayah ... atau ada alasan lainnya?
Disaat aku mencari lebih lanjut tentang itulah, anak perempuan bernama Tellaura itu diselamatkan oleh ibu. Dan kini....
......................
__ADS_1
‘PRANGGG!’
Suara pecahnya chandelier memancing perhatian para penjaga istana yang berada di luar—tentu saja demikian pula dengan orang yang berpakaian serba hitam dari kaki hingga kepalanya, yang tidak lain dan tidak bukan adalah Hilma sendiri.
“Suara apa barusan?!” tanya salah satu penjaga.
“Apa di dalam sedang terjadi sesuatu?” tanya yang lain.
“Apa kita harus masuk?” tanya penjaga ketiga.
“Ti-tidak... tunggu saja di sini dulu,” jawab penjaga pertama.
Hilma yang mendengar semua percakapan itu segera berpikir-pikir, apakah suara pecah yang teramat besar barusan berasal dari Tellaura?
“Cih”, batin Hilma, “cepat atau lambat aku juga pasti menyerang mereka!” Hilma kemudian segera melakukan pembunuhannya.
Langkah kakinya seakan tidak menimbulkan suara, kecepatannya pun seperti hembusan angin. Dengan otot-otot kaki terlatihnya dan dengan satu kali lompatan yang bertumpu pada ujung kaki depannya, serta dengan timing yang tepat, ia berputar-putar seperti tornado horizontal. Saat itulah, tangannya begitu lihai saat mengayunkan dua pisau yang sebelumnya tersimpan di belakang pinggangnya untuk menebas leher tiga orang dewasa malang itu secara bersamaan dan tanpa menimbulkan jeritan pada mereka.
Pakaian serba hitamnya ... membuat darah yang terciprat ibarat hujan deras dari leher ketiga penjaga tersebut terkamuflase. Setelahnya, saat Hilma mendarat di tanah, dia mengucapkan, “Semoga nyawa kalian diterima surga.” Ia lalu segera berlari ke dalam dan melakukan hal yang serupa secara repetitif hingga akhirnya ia berpapasan pada Tellaura yang sebentar lagi akan dipanah oleh Olav.
.
.
.
.
Olav yang saat itu sedang berada di kamarnya bersama dengan dua orang wanita penghibur, segera meninggalkan ranjang mewah dan dua wanita itu dalam keadaan “tidak terpuaskan”. Olav segera memakai pakaian lengkap kebangsawanannya dan segera meminta penjaga yang melapor tersebut untuk membawakannya panah andalannya, dengan wajah yang sangat emosi.
......................
Saat Hilma mendapati Tellaura yang kakinya sudah berdarah-darah, ia tahu kalau titik yang ditembakkan Olav adalah tepat sasaran dan sama sekali bukanlah meleset. “Jadi gelarnya sebagai pemanah terbaik sekerajaan itu bukanlah isapan jempol saja, kah...?” batin Hilma.
Olav sengaja menarget titik dimana anak panahnya mendarat di kaki Tellaura agar dirinya tidak bisa lari. Itu berarti, menurut Hilma, sebelumnya kakinya sangatlah cepat dan lincah. Remaja perempuan itu juga sadar tentang tangan Tellaura yang terdapat darah yang sudah mulai mengering di tangannya.
“Aku sudah mengerti garis besarnya. Aku tak tahu apa ibu akan memaafkanku setelah melakukan ini, tapi setidaknya aku melakukan apa yang kuanggap benar!” Hilma menggumam. Kemudian, saat Olav akan menembakkan anak panahnya untuk membunuh Tellaura dan adiknya, Hilma juga beraksi—dengan melemparkan pisau yang masih berbercak darah itu ke arah Olav.
Mata Olav yang terpusat pada dua anak kecil yang tersungkur di depannya tak menyadari datangnya pisau yang cepatnya mirip seperti peluru yang ditembakkan oleh pistol—tiga ratus lima puluh meter per detik.
‘ZRSHT!’
Panah terjatuh di lantai.
__ADS_1
“UAAAGGHHH!” Olav mengerang.
“Pa-Pangeran!” para penjaga istana mulai panik.
Namun, dalam kepanikan itu, Hilma tetap beraksi. Ia mengeluarkan bola yang mirip dengan gulungan kain dan segera membantingnya di lantai. Itu adalah sebuah bom asap.
“SIAPA?!” jerit Olav, “SIAPA YANG BERANI MELUKAI TANGANKU INI?!”
“Pangeran, kita harus lakukan pertolongan pertama dulu pada tangan Anda!” seru salah satu penjaga.
“SIAL!
“Aku pasti akan membunuh siapapun yang menghalangi jalanku!”
......................
Hilma membawa Tellaura yang melemah dan Clarissa yang tak sadarkan diri ke balik sebuah bayangan bangunan lagi. Tellaura bernapas berat. “Tunggulah,” ujar Hilma, yang kemudian mengeluarkan botol kecil berisi serbuk hijau. Ia lalu menaburkannya pada luka Tellaura.
“Ah! Ssshhtt....” Tellaura berusaha menahan erangannya. “Ka-kau...? Yang tadi...? Kenapa...?”
Hilma terkejut Tellaura bisa mengetahui identitasnya meski baru pertama kali bertukar kata. Mengesampingkan itu, dia bertanya, “Inikah adikmu?”
Tellaura mengangguk. “Sebelum pingsan ... dia bilang sesuatu tentang Olav.”
“Tsk.” Tellaura mendapati wajah yang sangat emosi dan sangat benci pada Hilma. “Setelah obat itu bekerja, larilah bersama adikmu. Aku akan coba mengulur waktu. Kembalilah ke rumahku dan temuilah ibuku. Dia pasti akan membantu adikmu.”
“Ta-tapi....
“Kenapa kau melakukan ini...? Kau tidak punya keharusan untuk menolongku.”
Hilma menepuk kepala Tellaura. “Keharusan? Tentu saja tidak.
“Tapi alasan? Itu ada.
“Dan itu adalah hal lain selain membunuh. Begitu saja.”
Tellaura terdiam. Perempuan yang lebih tua darinya itu memiliki situasi yang sangat rumit dalam hidupnya. Jadi, dia memutuskan untuk bungkam dan manut saja padanya.
Namun....
Dia teringat lagi saat melihat kondisi adiknya.
“Tidak. Aku tidak bisa lari!” wajahnya bertekad. “Aku sudah berjanji pada adikku dan diriku sendiri, kalau aku akan melindunginya apapun yang terjadi, bahkan jika aku harus mengorbankan nyawaku!”
__ADS_1
Hilma tersenyum mendengarnya. “Kalau begitu, apa kau kuat untuk lari bersamaku? Kita akan sama-sama melindungi. Kau melindungi adikmu dan aku akan melindungimu. Setelah itu, kalau kita selamat, ceritakanlah lebih banyak tentangmu.”
Tellaura tersenyum. “Dengan senang hati!”