
Di suatu gua yang hanya bermodalkan penerangan sederhana seperti obor, lentera, lilin, dan beberapa sihir cahaya....
"JELASKAN PADAKU SEKARANG!" L'arc menjerit dengan suaranya yang menggelegar. Emosinya memengaruhi darah di wajahnya yang mendidih.
Disamping "mantan Benih Yggdrasil" yang sedang emosi, ada Keenai yang sedang berwajah kesal juga, namun tidak mengungkapkannya langsung.
"Apa yang harus kujelaskan, L'arc? Tentang kalian yang menjadi umpanku tanpa sepengetahuan?" Zeeta Alter tidak begitu menggubris emosi L'arc. Ia melipat kedua kakinya layaknya seorang penguasa.
"Semuanya!
"Asal kautahu, akulah yang menyelamatkan kalian dari sihir tak masuk akal itu!"
Zeeta Alter mengerutkan dahinya. "Kauingin aku berhutang budi padamu? Lantas mengapa kau tidak menunjukkan hidungmu sejak awal pertarungan?
"Selama pertarungan itu berjalan kau hanya menonton, bukan? Dan kauingin aku berhutang pada orang pengecut itu?"
Emosi L'arc menjadi semakin mendidih. Ia menarik lengannya dan membubuhi sihir kegelapan di kepalan tangannya. Lalu, dengan cepat dipukullah Alter. Semuanya terjadi begitu cepat. Mata telanjang tidak mungkin melihat keseluruhannya.
'BWHAAAMM!'
Debu berterbangan dan menutupi pandangan Keenai yang sejak tadi diam.
"A-apa?!" L'arc kaget ketika mendapati serangannya dihentikan oleh dua jarinya. Orang yang seharusnya terkapar di tanah, justru tidak mengubah posisi duduknya sama sekali.
"Kau meremehkanku, L'arc?
"Kuakui, kala itu aku dibuat ragu dengan semua yang telah lenyap dari hidupku. Mereka yang sudah tewas tiba-tiba memaksaku untuk mengingat kembali semua perjalanan kami yang sudah gagal.
"Tapi, kau dan Keenai tahu bahwa aku punya satu kelebihan mutlak yang memungkinkan dunia sihir ini benar-benar hancur.
"Aku tidak tahu bagaimana Klutzie bisa dapat perlindungan Rune, namun itu tidak mengubah apa tujuan utamaku sebenarnya."
L'arc menarik kembali tangannya. Kepalanya kembali dingin. "Lalu apa tujuanmu itu. Merebut Rhongomyniad seperti yang kaukatakan?"
"Menghancurkannya memang adalah tujuan sampinganku, namun Klutzie, Siren, dan Belle menghalanginya. Lalu aku pun sudah menyiapkan rencana cadangan untuknya— merebut Rhongomyniad, tapi kini itu sudah tidak mungkin."
"Apa?! Lalu...?!"
Zeeta Alter memejamkan matanya. "Mereka takkan mengizinkanku memakainya.
"Kedatangan kalian kemarin ke desa itu hanya untuk memastikan hal itu saja."
"Lalu apa tujuan Anda sebenarnya, Nona?" tanya Keenai.
"Membuka paksa dua gerbang itu, tentu saja."
L'arc menyeringai, sementara Keenai terbelalak. "Hal itu bisa dilakukan, Nona?!"
"Dengan kekuatanku yang sekarang, tentu saja. Tidak peduli bahwa sihir aneh ini masih berpengaruh atau tidak pada Galdurheim, akan kuhancurkan Rune guruku itu."
"Kalau begitu, tunggu apa lagi?!" seru L'arc.
__ADS_1
"Jangan gegabah, dasar Dungu!"
"Apa lagi?! Jika kita tidak segera, gadis itu akan—"
"Tenangkanlah dirimu. Untuk memastikan kemenangan, maka kau harus belajar dari pengalaman, dalam hal ini sejarahku."
L'arc dan Keenai mengernyit. "Katakanlah."
"Ada satu hal yang harus bisa kalian lakukan begitu Jötunnheim dan Drékaheim terbuka...."
......................
Zeeta telah diberi "izin" oleh Undine. "Izin" ini membuatnya semakin kuat, sekaligus demi bisa memakai Rhongomyniad. Tidak ada perubahan pada penampilannya, namun....
"Kau tak apa?" tanya Luna, yang kini sedang berada jauh di selatan di wilayah bersalju lebat. "Sejak kau menerima izin Undine, kau terus saja bergemetar."
Zeeta memandangi tangannya sendiri. "Bukankah kau sudah dengar dari Undine sendiri? Sebaiknya kau bantu aku mencari dimana Zephyr berada."
"Kau dengar itu, Zephyr? Cepatlah!" seru Luna.
Zeeta yang wajahnya memerah karena kedinginan, demikian pula dengan tangannya, dibuat bingung pada siapa Luna berteriak, tetapi pertanyaan itu segera terjawab.
Zephyr menyambut mereka dengan hembusan anginnya. Angin berwarna hijau melayangkan mereka ke sebuah bukit yang tampak sangat natural. Beberapa saat kemudian bukit tersebut terbuka layaknya memiliki pintu tersembunyi. Seekor burung besar berwarna hijau dan putih muncul.
"Masuklah ke dalam dan istirahatkan dirimu, Benih Yggdrasil. Tubuhmu butuh waktu untuk menyesuaikan mana alam dari Roh Kuno."
"Be... begitu ya...." mata Zeeta semakin sayu perlahan-lahan. "Ma-maaf, aku sudah tidak kuat...." Segera, ia kehilangan kesadarannya.
.
.
.
.
Zeeta membuka matanya. Pandangannya segera menemui langit gelap dengan guntur merah yang terus saja bersahutan seakan tak ingin berhenti sama sekali. Bumi juga bergetar, namun bukan karena gempa. Getarannya lebih seperti hentakan kaki oleh banyak sekali kaki, yang tak terhitung jumlahnya. Debu dari hentakan-hentakan tersebut semakin memperburuk jarak pandang Zeeta, namun ia tetap bisa melihat dengan pasti ... siapa yang ada di dekatnya.
"Kau telah gagal melindungi dunia sihir ini, Zeeta. Segala janji yang telah kauucapkan dan pendam baik dalam dirimu, semuanya telah pupus!
"Semua ini karena dirimu yang salah mengambil SATU KEPUTUSAN saja!
"Lihatlah sekitarmu! Ini semua gara-gara dirimu!"
Zeeta melihat sekelilingnya. Tubuh-tubuh manusia yang sudah tak utuh lagi tersebar dimana-mana. Ada beberapa zirah yang masih menempel pada mereka, dan zirah-zirah itu pernah dilihatnya. Mereka adalah pasukan kerajaan Aurora.
Jeritan kesakitan, putus asa, dan menyerah terdengar di segala penjuru mata angin. Zeeta pun mendengar suara minta tolong yang tidak disambut oleh siapapun.
Zeeta jadi meringkuk. Ia menutup telinganya erat-erat. Tangis deras pun jatuh tak terbendung. "Apa ... apa lagi yang telah kulakukan kali ini...?!
"Kumohon, hentikan saja semua ini .... Aku... aku...."
__ADS_1
......................
[Sementara itu....]
"Apa yang terjadi dengannya?!" seru Luna. Ia memandangi Zeeta yang berkeringat parah dengan wajah yang ketakutan walau matanya tertutup.
"Alam sedang memperingatinya. Kemungkinan seperti itu," jawab Zephyr.
"Hah?! Kemungkinan?!"
"Tenanglah, Roh Yggdrasil! Ini juga pertama kalinya bagi kita semua! Hadapilah dengan kepala dingin! Aku tahu kita semua terpojok oleh situasi, tapi kita juga harus mementingkan kondisinya! Hanya dia harapan kita!"
"Cih. Aku akan pergi menghubungi Aurora dahulu. Takkan kubiarkan Zeeta berakhir seperti dirinya yang lain!"
Zephyr memandangi dalam diam kepergian Luna yang tergesa-gesa, lalu ia melihat lagi Zeeta. "Aku tahu kau sedang terbebani oleh penglihatan itu, tapi maafkan aku!"
Zephyr menyelimuti Zeeta dengan anginnya. Angin itu berwarna hijau, lalu tubuh Zeeta bersinar kuning. Zephyr terhubung dengan Zeeta. Namun, pemandangan yang ia lihat berbeda dengan Zeeta. Roh Kuno Angin ini terpana dengan yang ia lihat. "Jadi ini dunia yang kauinginkan, Benih Yggdrasil...?"
Zephyr kembali ke inderanya. "Aku mengerti mengapa Undine mengizinkanmu. Jika demikian, maka Ifrit pun sama.
"Seperti yang dikatakan Roh Yggdrasil, aku juga akan membantu agar kau tidak berakhir seperti dirimu yang lain!"
.
.
.
.
Ketika alam bawah sadar Zeeta melihat mimpi buruk yang sangat tidak ingin dilihatnya, tiba-tiba angin lembut menghembus semuanya.
"Sudah kami katakan, dia tidak sendirian! Memangnya kenapa kalau dia salah mengambil keputusan?!" sebuah cahaya merah menghampiri mereka.
"Baik dirimu yang di sini atau di sana ... selalu keras kepala." Sebuah cahaya ungu gelap menghampiri.
"Kita semua sudah bersiap, tahu!" dua cahaya keemasan, satu cahaya kecokelatan, satu cahaya ungu terang, dan satu cahaya hijau datang bersamaan.
Ketika cahaya-cahaya itu mulai meredup dan hendak menunjukkan identitasnya....
.
.
.
.
"BWAH!"
Zeeta terbangun dengan napas yang terengah. Ia lalu melihat ke sekelilingnya, lalu mendapati pemandangan yang benar-benar berbeda sekali. Banyak Phantasmal yang belum pernah dilihatnya sedang mengelilinginya. "A-apa aku sudah mati lagi?"
__ADS_1