Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Kekuatan Penuh Ashley 1


__ADS_3

"KENAPA?!!" bentakan yang dibarengi dengan tangis dari Zeeta menyerang Aria.


"Apapun yang terjadi, kau tidak boleh keluar dari dimensi ini! Turutilah kataku, Zee!" Aria balas membentak Zeeta.


"Sudah kukatakan—kenapa?!" Zeeta mencengkeram bahu Aria. "Aku tak bisa membiarkan mereka melawan sosok seperti itu! Aku harus ada bersama mereka! Pasti... pasti Catastrophe Seal bisa melakukan sesuatu padanya!"


"Jangan anggap remeh musuh itu, Zee! Dia itu sudah menghabisi para Peri yang selalu kami benci, tetapi apa yang bisa kaulakukan disaat kau bergemetar seperti ini!" Aria menggenggam tangan Zeeta. Ia merasakan bagaimana tangannya bergetar dengan hebat.


Zeeta mencengkeram tangannya lalu menggertak gigi. "Aku akui aku takut, tapi aku tidak boleh membiarkan seseorang lagi dari kerajaan ini mati—"


"Jangan naif, Zeeta." Eclipse menimbrung percakapan mereka. "Luna yang Agung terlihat sangat tidak ingin kau mendekatinya. Apa kau tak mengerti?"


Mata biru Zeeta mulai berlinang. "Tapi ... tapi ... aku tidak ingin kehilangan siapapun lagi...."


"Seperti inilah, dunia sihir yang kita tinggali, Nak. Kita tak tahu ancaman apa yang dimiliki musuh dengan sihir besar mereka." Eclipse mencengkeram tangannya.


[Sementara itu....]


Luna yang sudah dalam mode rubahnya singgah di bahu kanan Alicia. Mereka bersama bangsawan utama lain bersiaga menyerang Lucy.


"Apa Anda ingin membalaskan dendam pada kami, Putri dari Aurora Kesebelas...?" tanya Alicia. Ia terlihat cemas.


"Balas dendam...? Apa yang Anda maksud, Ratu...?" tanya Willmurd.


Bangsawan utama lain juga penasaran dengan jawaban sang ratu. Lucy punmenyeringai. "Bagaimana kalau kubilang... tujuanku adalah anakmu, Ratu?"


"Aku takkan membiarkannya!" tegas Alicia.


"Oh? Indah sekali, ya, sesuatu yang disebut kasih itu!"


'SHWOOP'


Lucy mendadak muncul di hadapan Alicia, lalu berbisik, "Pasti akan kudapatkan!" lalu ia mengubah tangan kanannya jadi tangan monsternya, dan seketika membanting Alicia jatuh ke tanah.


"RATU!" pekik para bangsawan.


Hellenia segera bertindak, sementara Willmurd menyusul Alicia. Hellenia memakai Buku Sihirnya untuk memerangkap Lucy dengan bentuk persegi empat, kemudian mengisinya dengan air. Porte yang juga ada di sana tak tinggal diam. Ia membuat lingkaran sihir merah pucat dan menikam Lucy dengan sihir kristal yang muncul darinya seperti ratusan bilah pisau yang menjadi satu.


"Berhasilkah?!" gumam keduanya.


Darah tampak mengubah warna air itu, tetapi....


'KRAK!'


Perangkap Hellenia yang berwarna hijau itu retak, mengeluarkan air berwarna darah, lalu memerlihatkan sosok Lucy yang justru tidak terluka sama sekali.


"Apa?! Bagaimana bisa?!" Porte tak percaya apa yang ia lihat. Matanya menyaksikannya sendiri, bahwa perut Lucy tertikam dan menghasilkan sebuah lubang. Namun kini, itu tampak seperti tak pernah terjadi.


"Teruslah serang aku dengan segenap kemampuan kalian. Meskipun kalian berjuang sampai batas kematian kalian, aku takkan bisa dikalahkan!" Lucy menikmati pertarungan ini.

__ADS_1


Seketika, Ashley datang tepat di hadapan Lucy. "Kau terlihat sangat menikmati ini, ya, Putri...?"


'BOOM!'


Ashley meng-upper-cut Lucy dari dagunya, memutar badannya sembilan puluh derajat, lalu menendang Lucy di pipi kirinya. Ia terpental ke tanah, namun Ashley tidak membiarkannya hanya terluka seperti itu.


"Eh?! Nyonya Ashley?! Bagaimana bisa...?!" Hellenia dibuat tak mengerti situasi yang terjadi saat ini. Sama seperti bangsawan utama lainnya.


"Apa tak ada yang bisa kulakukan demi membantu mereka? Di tempat yang seperti ini, tidak banyak yang bisa kulakukan...," batin Rey, melihat sekitarnya.


"Rey Emeria!" pekik Ashley dari bawah. Rey menengok ke sumber suara. "Ada satu hal yang hanya sihirmu bisa lakukan! Ketika aku memberimu tanda, lakukanlah!"


Rey melihat sekitar lalu segera mengerti apa yang dimaksud. "Baik, Grand Duchess!"


"Sekarang...." Ashley menjambak rambut Lucy, yang wajahnya penuh dengan lecet. "Ini adalah balasan karena seenaknya meniru wujudku!" Ia melepas jambakannya, kemudian mencengkeram wajah Lucy dan membantingnya ke tanah hingga menimbulkan lubang. Darah segera menggenangi lubangnya. "Aku tidak akan menahan kekuatanku!" Ashley beraba-aba untuk meninju Lucy dengan tangan kanannya, kemudian dari tangan itu muncul kepalan tangan hingga ke lengan berukuran raksasa yang menyelimutinya.


'BWAAMMM!'


Pulau layang itu berlubang dan mementalkan Lucy hingga ke tanah kerajaan. Kepalan tangan raksasa itu tak lama lenyap. Ashley masih belum puas dengan pembalasannya. Ia berkuda-kuda tegak, menarik napas dan menahannya, sembari mengumpulkan mana merah kejinggaannya. Dari awan gelap yang datang bersamaan dengan Lucy, Ashley memanfaatkannya.


"HRAAAAAHHH!!" jerit Ashley. Awan gelap itu memutar hingga membentuk angin tornado tepat di tengah tubuhnya, diselingi oleh gemuruh dan erangan besar dari guntur.


"Apa yang hendak dilakukan Grand Duchess...?" gumam Hellenia.


"Aku tak pernah melihat Ibu serius...," imbuh Albert.


"Eh?! Beliau serius?!" Porte, Rey, dan Hellenia tak menyangka.


"Ya. Tiga orang itu mungkin bisa melakukan sesuatu untuk lawan kita yang satu ini. Aku mohon bantuan kalian untuk rencana tadi!"


Porte, Albert, dan Hellenia mengangguk.


Sesaat sebelum tornado itu "menelan" dirinya, Ashley mengangkat tangan kanannya.


'ZDARRT!'


Kemudian perlahan-lahan, angin tornado itu memusat ke satu titik, sekaligus memeerlihatkan wujud seseorang yang seharusnya akan berubah menjadi abu karena sambaran guntur tadi.


Ashley kini berzirah petir yang arusnya terus menyambar. Pakaian kerajaan dengan model kemiliteran seperti jas dan celana panjang sebelumnya, berubah total. Seakan-akan, ia telah "berevolusi".


Zirah itu seluruhnya petir putih kebiruan dan menutupi secara kesuluruhan tubuh Ashley, kecuali bagian sendi untuk melekuk tubuh seperti siku, lutut, dan pangkal paha. Zirah petir itu dihiasi jubah dua helai berwarna hitam kebiruan. Ia dipersenjatai oleh tombak petir putih bercorak sama seperti zirahnya di tangan kiri, dan sarung tangan berenergi yang sama di tangan kanan. Matanya juga bersinar, ia seperti memakai mahkota petir.


Tampilannya saat ini, membuat orang-orang akan menjulukinya sebagai "Goddess of Thunder".


Kini, Ashley memusatkan pandangannya ke Lucy yang sudah ada di hadapannya.


"Hahahahaha!" Lucy tertawa lepas. "Siapa yang menyangka kalau darah wanita bajingan itu bisa diwariskan sampai sejauh ini?!


"Jenderal kerajaan memanglah harus sekuat ini, 'kan, Alexandrita?!"

__ADS_1


Selagi Lucy bicara, lukanya kembali pulih. Disaat itulah, Ashley melihatnya. Tangan kanan hitam kemerahannya itu menjadi sumber kekuatan dan regenerasinya. Hanya satu yang bisa ia lakukan untuk memastikan sejauh mana kekuatan tangan kanan itu.


'SLASH!'


Ashley memotong tangan kanan itu dengan tombaknya yang memanjang.


Semua mata yang menyaksikannya tak percaya. Tak ada yang bisa melihat kapan Ashley menggerakkan tangannya, atau kapan tombak itu mengenai Lucy. Bahkan Lucy sendiri, tergagap-gagap melihat tangan kanannya yang putus dan mengucurkan darah itu.


"Pergilah dari kerajaan ini, Putri," ujar Ashley.


......................


Zeeta sekarang menyendiri dan berusaha bicara dengan leluhurnya. Gerak-gerik Velvet yang tiba-tiba marah beberapa hari yang lalu saat ia dan keluarganya membahas Lucy, akan membuat siapapun penasaran dan bahkan menebak hubungan Velvet dengan Lucy. Tetapi, yang ia dapatkan hanyalah mulut yang membungkam. Disaat yang sama ia merasakan aliran mana yang sangat kuat sampai ke dimensi lain ini.


"Mana ini... punya guru Ashley...?" gumam Zeeta, "sampai seberbahaya inikah, leluhurku yang satu itu...?"


Tak lama kemudian, Aria mendatanginya. "Zee, akan kukatakan alasanku tak membolehkanmu bertemu dengannya." Ketika Zeeta menengok, ia juga melihat Azure bersamanya.


"Dengarkan baik-baik," sambung Aria setelah duduk, diikuti dengan Azure.


"Leluhurmu yang ada diluar sana—tidak, Lucy, adalah ibu dari kami, Elf."


"E-eh?!"


Azure yang baru duduk itu melotot, sementara Zeeta secara refleks mengerutkan alis.


"Ini terjadi sebelum aku lahir dan cerita ini selalu diceritakan oleh Tetua kami, Hugo. Beliau secara rutin menceritakan kisah ini pada kami agar kami senantiasa mengawasi Aurora, juga berhati-hati dalam bertindak. Karena jika tidak....


"Kami akan dibunuh oleh siapapun yang menemui kami."


"Ceritakanlah dulu, tentang ibu dari ras kalian itu. Aku saja tak mengerti, apalagi Zeeta," kata Azure.


"Uhm. Akan kulakukan.


"Dua ratus—"


"ZRRAAATTT!"


Seluruh penduduk yang ada di dimensi itu melihat ke sumber suara, dan mendapati dimensinya robek dengan bekas sabetan. Dari lubang dimensi itu memperlihatkan bagaimana kondisi kerajaan Aurora—sebuah gurun pasir yang tandus....


"Oh, Azure.... Aku datang untuk menjemputmu~!" suara Lucy terdengar dari balik dimensi. Seketika, Azure merasa sangat-sangat-sangat ketakutan dan bergemetar hebat. Ia bersembunyi di balik Aria.


Lucy, yang melihat dengan saksama penduduk Aurora itu, membiarkan begitu saja orang-orang yang sangat ketakutan dan putus asa. Ia juga dapat melihat sosok Naga dan Dwarf, tapi ia mengacuhkannya. Matanya akhirnya terpusat pada Azure, yang bersembunyi dibalik Aria yang berusaha untuk berani.


"Hai~" sapa Lucy sambil melambaikan jemari tangan kanan monsternya pada Aria, dan tiba-tiba muncul di hadapannya kemudian membisikinya.


"Kalau kamu dengan baik hati menyerahkannya padaku, aku akan membiarkan semua orang yang ada di sini hidup...."


'ZRRAATT!!'

__ADS_1


"Mana mungkin aku membiarkannya!!" Zeeta menebas tangan kanan Lucy dengan sabit Catastrophe Seal-nya. Ia benar-benar dibuat marah.


__ADS_2