Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
"Belas Kasih"


__ADS_3

“Elf di hadapan kalian ini….


“Telah melatih seorang gadis yang sebelumnya tanpa kepercayaan diri dikarenqkan kerajaannya terus-terusan diancam bahaya kehancuran massal. Ia mampu membentuknya menjadi gadis yang sangat tangguh, penuh kehormatan, juga menjadi gadis yang mampu mengemban nasib dunia.


“Halangan kerikil seperti kalian, yang masih hijau dari setiap sisinya, sebaiknya pulang dan isaplah susu ibu kalian!”


Tidak terima dan merasa amat terhina oleh ejekan Danny, Kiratsuzan, orang yang memimpin kelompok tiga orangnya, mencengkeram kedua tangannya erat hingga menimbulkan urat. Rambutnya juga melawan gravitasi, kulitnya juga mengalami perubahan—menjadi bersisik—sama seperti yang dialami oleh Akira—orang negeri Timur yang berhadapan dengan Gerda dan Serina.


“Kasihan sekali,” ujar Kinoshita, yang tersenyum meski terlihat membendung takutnya. “Kira yang tersulut emosi akan menjadi lawan yang salah bagi kalian....


“Tidak perlu bagi kita untuk ikut turun tangan, ‘kan, Aira?”


“I-itu benar, Kino,” balas Aira, “Kira yang emosi sangatlah mengerikan!”


Danny dan Jourgan memerhatikan dengan saksama perubahan yang dialami Kira. Selain menjadi bersisik, kulitnya juga memiliki pigmen tersendiri—yakni merah. Kepalanya juga perlahan menumbuhkan tanduk kembar, matanya juga meruncing layaknya hewan pemangsa. Tubuhnya juga perlahan memanjang dan semakin memanjang, hingga akhirnya wujud perubahan sempurnanya terbentuk.


Tidak lain dan tidak bukan, Kira menjadi seekor Naga yang harus meliuk-liukkan diri atas panjang tubuhnya. Walau begitu, tatapan emosinya juga tajam terhadap Danny.


“Tunduk dan takutlah atas kekuatan kami, Bedebah!” jerit Kino—yang dibarengi dengan lantangnya auman Kira.


“Hei...,” ujar Cynthia, berjalan mendekat ke arah Danny. Ia menunduk, juga menjadi perhatian semua di dekatnya.


“Ada apa, Putri?” tanya Danny.


“Aku senang kalian mau membantuku, tetapi....”


Jourgan merinding tiba-tiba. “Uhh... Danny...? Sebaiknya kita mundur beberapa langkah.”


“Eh...? O-oh, baiklah....” Tanpa tahu maksud Jourgan, Danny menyusulnya yang sudah mundur terlebih dahulu.


“HAH!


“Makhluk kecil dan rendahan sepertimu, bisa apa di hadapan Naga macam kami?!”


Kino berteriak meremehkan.


Namun tiba-tiba....


‘FWISH!’


Cynthia lenyap dari hadapan mereka.


“Apa?!” baik Kino, Aira, dan Kira, semuanya kaget dan bingung.


“Ke-kemana dia hilang?!” Aira menoleh kanan-kiri.


“Hmm?” Kira merasakan sesuatu semacam percikan di bawah moncongnya dan melihat ke bawah. Saat itulah, percikan-percikan cahaya merah muda layaknya dari kembang api muncul di situ, yang dengan cepat membesar dan membentuk kepalan tangan yang segera menjotosnya dengan keras.


Percikan itu muncul seperti putaran gangsing hingga berakhir mewujudkan kaki Si Pelaku—Cynthia.

__ADS_1


Pukulan yang mendarat layaknya gangsing tersebut, ikut memutar bagian tubuh Kira yang dipukul, hingga membuatnya terpental jauh dengan putaran yang sama—menukik ke belakang.


Terbelalak, mulut yang terbuka.


Dumbfounded.


Reaksi itulah yang terpampang jelas dari Aira dan Kino.


“KIRAAA!” jerit keduanya bersamaan.


“Aduhh...,” ujar Jourgan, mengelus kepalanya sendiri, “kalian ini bodoh atau apa? Kenapa bisa-bisanya kalian menyebut Cynthia ini makhluk kecil dan rendahan?


“Apa kalian benar-benar tidak bisa merasakan kekuatannya?


“Apakah kalian tidak bisa merasakan sesuatu yang kalian sebut sebagai ki darinya?”


“Percuma saja, Dark Elf." Cynthia menjawab. "Tidak seperti makhluk sihir lain, hanya ras-ras tertentu saja yang bisa mengetahui seberapa kuat kami, ras Duyung. Dan sepertinya kaulah salah satunya.”


“Eh...?” Jourgan melirik Danny, “terus, bagaimana caramu bisa tahu kalau Raja dan Ratu itu palsu...?”


“Ah... anggap saja sebuah kebetulan dari senjata itu. Aku juga memahami situasi yang sedang dialami Putri Cynthia. Kami Crescent Void, sejak tiga tahun yang lalu juga diberi pelajaran ekstra oleh Nek Scarlet tentang pentingnya mengerti situasi dengan cekatan.


“Lingkungan, orang yang berinteraksi, gelagat target, juga bahasa tubuh target.


“Pertama, sejak sebelum Putri Cynthia muncul ke permukaan, salah satu alasanku memancing Kraken dan membuatnya terluka adalah anehnya lingkungan di sekitar pantai. Walau di sana ada palang peringatan untuk tidak bersihir, tetapi tidak ada pagar pembatas. Kemunculannya setelah itu baru membuatku yakin ada sesuatu yang terjadi pada Batu Jiwa.


“Kemudian, tindakan Putri Cynthia yang dengan jelas mengulur waktu dengan menunjukkan makhluk-makhluk raksasa sejenis Gamma Si Kraken, sampai akhirnya kita bertemu Dion, Sion, dan Qyu, kuyakin serangan makhluk-makhluk itu telah direncanakannya—dengan tujuan sepele—yaitu untuk menegaskan hubungan Putri dengan para monster laut.


“Pertama, dirinya yang enggan mempersilakan kita bertanya meski dengan status sebagai tamu pribadinya, dan kedua, bungkam-totalnya selama kita berada di atas Qyu.


“Terakhir, hal yang menjadi penguat dugaan-dugaanku, bukanlah anehnya gelagat Raja, Ratu, dan Kakak palsu itu, melainkan tidak melawannya Putri Cynthia. Alasannya baru kuketahui saat Kira akan berjalan menghampirinya, aku melihatnya bergemetar.”


“Bergemetar...? Memangnya apa yang kaudapatkan darinya hanya dengan gelagat itu?” tanya Jourgan.


“Tidakkah kaupikir aneh, Kak Jour, monster laut raksasa semacam Gamma yang telah kita temui sebelum ini, tidak merasakan kehadiran tiga orang itu, kendati mereka bilang, mereka bisa merasakan milik kita?


“Ditambah, keamatiran mereka, mudahnya terpancing emosi, serta dengan gamblangnya membocorkan informasi kekuatan negeri mereka, hanya akan menghubungkan kita ke SATU jawaban.


“Bukanlah mereka yang menjadi ancaman di lautan ini, sebab di sini, sudah ada yang memantau kita melalui mata mereka—dan SOSOK PENAKUT itulah—yang telah mengancam Putri Cynthia.”


Cynthia hanya bisa terdiam seribu bahasa, sementara Jourgan ingin memastikan sendiri kebenaran dari mulutnya. Tetapi, sebelum berkesempatan bicara....


“JANGAN BERCANDA!” jerit Aira, yang melotot pada Danny. “Apa-apaan kau ini?!


“Siapa kau sebenarnya?!”


“A-Aira....” Kino tidak menduga datangnya kekesalan Aira.


“Tidak hanya meremehkan, mengejek, kau juga bahkan mengetahui semua ini? HANYA DENGAN MEMERHATIKAN? Apa kau memang benar-benar sedang bergurau, hah?!”

__ADS_1


Danny menyeringai. “Inilah yang dinamakan strategi, Nona Muda. Perlu kauketahui, aku mempelajarinya dari seorang legenda hidup, Scarlet Aurora. Dan juga, hal ini tidak hanya aku yang bisa melakukannya, tetapi lima rekanku yang lain, juga bisa, lho.


“Keseriusan kami untuk menentang kehancuran dunia, tidak bisa diremehkan hanya dengan menghadang kami dengan AMATIR seperti mereka, Seiryuu!”


Aira jatuh berlutut. “Hei, Kino...,” panggilnya, “apa menurutmu Tuan L'arc sengaja membuang kita?”


“Ti-tidak mungkin, Aira! Apa yang kaupikirkan?!


“Orang itu telah menyelamatkan kita dan menjadi tangan kanan kedua Nona Asteria! Tidak mungkin hal sekeji itu—“


‘PEW!’


Melotot dibarengi cipratan darah dari dada Kino. Sementara Aira dan Cynthia seperti itu, Jourgan dan Danny langsung memegang senjata mereka.


‘BUGGG!’


Tubuh Kino terjatuh tak berdaya, wajah Aira memucat. Suara yang sama, datang setelahnya dari arah kanan Aira. Ia menjadi semakin pucat, sebab Kira yang sudah dalam tubuh manusianya, juga memiliki luka di tempat dan nasib yang sama. Aira lantas menengok ke atas, dimana terdapat bayangan yang menutupinya. Saat melihatnya, dia sangat terlihat takut, panik, juga bingung yang menjadi satu.


“DASAR SAMPAH-SAMPAH YANG TIDAK BECUS!”


“Tu-Tuan ... L’arc…? A-apa yang... kenapa...?”


“KENAPA, KATAMU?!” bentakannya membuat Aira menangis. “Sudah berapa kali kubilang untuk memerhatikan tindakan Cynthia SEKECIL apapun!?


“Sudah berapa kali kuingatkan jika yang kalian lakukan adalah MENYELAMATKAN dunia, lantas kenapa hasilnya malah seperti ini?!


“Apa telinga dan otak itu hanyalah hiasan?!


“Aku telah mengorbankan LIMA RATUS tahunku dan yang kuterima dari negeri yang kuberi bantuan adalah INI?


“Kubalikkan pertanyaanmu, Sampah!


“KENAPA?


“KENAPA?!


“Kenapa kalian tidak bisa menuntaskan tugas seperti ini?


“Kalian yang sudah tidak berguna untukku sebaiknya mati saja. Anggaplah ini sebuah BELAS KASIH dariku!”


“Ti-tidak...!


“To-tolonglah, Tuan L’arc!”


Jemari kiri dibentuk layaknya pistol,


L’arc mengarahkannya tepat di kepala Aira.


“Ak-aku tidak mau mati! To-tolong, selamatkanlah akuu!!”

__ADS_1


‘PEW!’


Sinar kuning melesat, Aira kemudian jatuh tergeletak di tanah...


__ADS_2