
Waktu kembali beberapa saat yang lalu, ketika Volten Sisters baru saja menghilang bersama dengan warga Nebula. Banyaknya jumlah manusia yang dibawa, membuat pola segitiga yang konsepnya sama seperti lingkaran sihir—ikut besar pula. Tiga Elf bersaudari ini memutuskan untuk mundur ke kerajaan Aurora, sebab tak ada lagi tempat "aman" yang dipikirkan mereka selain di sini. Memang, Hutan Sihir Agung atau Grandtopia adalah salah satu jawaban, tetapi itu takkan terjadi selama yang mereka selamatkan bukanlah sesama Elf. Kemunculan segitiga sihir yang ukurannya cukup besar di tengah-tengah kepanikan Aurora yang belum kunjung reda, membuat rakyatnya kian waspada dan bertanya-tanya, “Apa lagi sekarang?!”
Tiga orang Elf dalam formasinya, ditambah jumlah manusia yang berada DI DALAM formasi tersebut, memaksa mereka yang menyaksikan kemunculan "orang-orang asing" itu secara mendadak menganga—tak bisa menggerakkan satu pun otot di tubuhnya.
Melihat wajah kebingungan mereka, sang Pangeran dari Nebula—Klutzie Nebula II—segera mengucapkan sepatah kata yang memecah suasana. “Kami diminta oleh Tuan Putri Zeeta untuk mundur! Aku tahu ini mendadak, tapi izinkan kami bertemu Ratu Alicia, kami membawa Grand Duchess! Dia terluka!”
Orang-orang yang menjadi saksi di sana, dapat melihat sendiri kebenaran yang diucapkan Klutzie.
“He-hei, lelaki itu... bukankah dia....” Rakyat saling tatap satu sama lain, kemudian mengangguk. “Lihatlah di sana, istana berada di pulau itu!” salah satu dari mereka mewakili dan menunjuk dimana istana berada. “Kami dengar, nenek Tuan Putri Zeeta, Scarlet Aurora IXI kembali setelah enam belas tahun hilang! Seharusnya beliau pun ada di sana sekarang.”
“Apa?! Scarlet Aurora, katamu?!” Raja Nebula, Eizen Gustav, terkejut dengan mata yang melotot. “Di-dia kembali...? Apa maksudnya itu?!”
“Ayahanda... tahu soal itu...?” tanya Klutzie.
“Ya...." Eizen mengalihkan matanya.
“Baiklah-baiklah!” sela Jourgan, “bagus jika kalian saling mengenal, tetapi cerita masa lalunya nanti saja, kita harus segera pergi!” ia kemudian mengaktifkan sekali lagi segitiga sihirnya.
Begitu mereka hilang, rakyat mulai pucat. Mereka baru sadar akan sesuatu yang sangat krusial. “Ja-jangan-jangan... jika mereka diperintah mundur...?” rakyat A menduga-duga. Wajahnya panik.
“Nyonya Ashley bahkan dalam kondisi seperti itu!” seru rakyat B.
“Apa yang sebenarnya dilawan mereka di sana...?” tanya rakyat C.
“Kukira Putri Zeeta hanya mengunjungi Nebula karena kegiatan bangsawannya, tapi tak kusangka....” Rakyat D menimbrung.
“Ini bukan karena kegiatan bangsawan!” seru seorang lelaki, yang mengundang banyak perhatian rakyat. Dia datang dari arah rumah sakit dengan kondisi seluruh bagian dada serta kening diperban.
“Ka-Kapten Marcus.... Anda sudah lebih baik?” tanya rakyat A.
“Tidak perlu formalitas, aku pun rakyat seperti kalian,” balas identitas dari suara tersebut—Marcus McGroovey. “Lupakan soal itu,” sambungnya, “kami Crescent Void, tidak tahu pasti perihal apa yang sedang dilakukan Tuan Putri di sana, tetapi aku bisa menduga setelah melihat kedatangan Elf bersama kemungkinan besar merupakan penduduk Nebula tadi.
"Meski aku tidak begitu yakin, ini adalah....”
“Shush!” seseorang menghentikan Marcus.
Marcus menengok ke sumber suara. “Danny?”
Rakyat hanya bisa melihat dalam bungkamnya ketika Danny datang dengan penuh perban di tubuhnya, yang hanya menyisakan bagian wajah dan rambut yang terbuka.
__ADS_1
“Tolong lupakan apa yang baru saja Kapten-ku katakan,” ujar Danny, yang kemudian memukul kepala Marcus. “Meski belum berpengalaman, meskipun seorang Kapten, ada batasan yang tidak boleh dilewati seseorang sepertinya.
“Tuan Putri Zeeta pasti baik-baik saja!”
“Ta-tapi....” Rakyat masih cemas soal Zeeta.
“Aku hanya tahu ini dari orang tuaku yang selalu bercerita bagaimana Nyonya Scarlet berkuasa dizamannya—bahwa Beliau adalah orang yang keras, tegas, kuat, dan menyayangi rakyatnya. Kalau nenek Putri Zeeta kembali, berarti di sana tidak hanya kejadian buruk terjadi, bukan?
“Kita tidak perlu pusing soal mereka, kita hanya perlu memastikan bahwa kita baik-baik saja, percaya bahwa Putri akan kembali, lalu menyambutnya dengan sorakan seperti biasanya.
“Kalau bukan kita yang melakukannya, siapa lagi?”
“Danny....” Marcus membatin sambil memandangi si pemilik nama.
Para rakyat lantas tersenyum. “Kau benar!” jawab rakyat C mewakili. “Tidak hanya kalian Crescent Void, tetapi bangsawan yang sekarang berbeda dengan bangsawan bertahun-tahun yang lalu!
“Terutama bangsawan kerajaan....
“Mari kita percaya dan menunggu kepulangan Tuan Putri Zeeta!”
Serentak menjawab rakyat C, sambil mengangkat satu tangan, mereka berteriak, “Yaaaa!!”
Tak lama kemudian, salah satu penjaga istana datang untuk mencari orang dengan mana yang tinggi.
[Di istana kerajaan....]
Segitiga sihir muncul dengan cahayanya yang menyilaukan—menyita pandangan setiap orang yang ada di sana—yaitu Scarlet, Alicia, dan Aria.
Scarlet yang waspada segera menciptakan sebuah trisula petir berwarna merah dan siap untuk men-javelin. Matanya yang mengernyit dan kuda-kuda yang sempurna, membuatnya terlihat menakutkan namun anggun.
“Tu-tunggu!” seru Aria, melambaikan tangannya cepat. “Aku tahu mana ini!”
Kemudian, Volten Sisters datang dan jatuh terengah. “Sudah batasanku...,” keluh Serina.
“Aku juga...," timpal Mintia.
“Kerja bagus, Adik-Adikku!” puji Jourgan, walau ketiganya tepar bersamaan.
Scarlet yang melihat dengan matanya sendiri, menghilangkan trisulanya. Ia pun melihat keberadaan seorang raja yang dikenalnya. Ia kemudian menghela napas.
__ADS_1
"Senang bertemu dengan Anda, setelah sekian lama, Nyonya Scarlet," sapa Eizen. "Ak—"
Klutzie memotong ucapan Eizen. Sambil bertekuk lutut, ia bilang, "Kami baru saja keluar dari situasi darurat berkat Putri Zeeta, tetapi situasi kami tidak memungkinkan. Aku tahu ini tidak pantas sebagai Pangeran penyintas sepertiku, tapi mohon bantulah rakyat, Ayahanda, dan Kakakku yang dalam kondisi lemah ini!"
Eizen memandangi dalam-dalam anaknya yang sudah tidak ditemuinya bertahun-tahun itu. Sementara rakyatnya tak mampu mengucapkan sepatah kata. Mereka senang, tetapi disaat sama juga sedih. Perasaan mereka campur aduk.
"Angkat kepalamu, dasar Anak Muda!" bentak Scarlet dengan tatapan yang mengernyit. "Kau adalah Pangeran...? Tidak seharusnya Pangeran menundukkan kepalanya pada penguasa kerajaan lain!"
"Ibu...." Alicia tak tega melihat Klutzie dibentak seperti itu.
"Aku sangat mengerti, tetapi rakyat dan keluargaku lebih penting daripada kehormatanku!" balas Klutzie, "itulah yang kupelajari dari Tuan Putri Zeeta!"
Scarlet sedikit berkedut. Ia lalu menyeringai. "Alicia, bantu aku dulu," ujarnya.
"Baik." Alicia tersenyum lebar.
Sumringah muncul dari wajah Klutzie. "Terima kasih banyak, Nyonya Scarlet, Nyonya Alicia!"
Tidak menanggapi Klutzie, Scarlet berjalan ke arah tembok yang diikuti Alicia. "Kau buatkan dimensinya, aku akan membuat sihir penyembuhnya."
"Serahkan padaku!" Alicia kemudian memutar tangan kirinya untuk membuka sebuah portal. Portal tersebut tidak memiliki sudut—alias hanya sebuah ruang hampa. Lalu dengan tangan kirinya, ia perlahan-lahan mendorong tangannya ke depan sambil diangkat sedikit demi sedikit.
Perlahan tapi pasti, sebuah dimensi berkasur kapas merah muda muncul di dalam portal. Kasur-kasur kapas itu masing-masing untuk satu orang. Melihat dari banyaknya penyintas yang dibawa, dimensi itu cukup besar dan luas.
Setelah dimensinya selesai, Scarlet menambahkan sihir bertaburkan butiran mana warna-warni miliknya di seluruh dimensi. Butiran tersebut nantinya menyembuhkan lelah, luka fisik, atau kekurangan mana.
Semua yang melihat bagaimana ibu-anak itu bersihir, mereka menganga. Mereka berdecak kagum.
"Jadi... tidak hanya Zeeta, tapi sampai neneknya juga, mereka semua pandai dalam bersihir. Mana yang dipakai tidak terlalu besar, tetapi efek yang ditimbulkan justru sebaliknya!" batin Aria, "aku tidak boleh kalah!"
Usai bersihir, Scarlet menghampiri Klutzie. "Hei, Anak Muda, kau masih bisa bersihir, bukan? Bawalah rakyatmu masuk. Biarkan aku dan Raja Gustav bicara," ujar Scarlet, "aku juga akan menyembuhkannya."
"Uhm! Aku mengerti!"
Terinspirasi dari apa yang baru saja dilihatnya, Klutzie pun membuat sihir kapas untuk membawa rakyatnya masuk layaknya sebuah tandu. Ia berjalan masuk, diekori oleh kapas-kapasnya.
Scarlet menatap serius Eizen, pun dengan sang raja—meski ia sedikit berkeringat di kening.
"Ada apa kalian saling tatap begitu?" tanya Alicia. "Kalian saling kenal?"
__ADS_1
"Haaaah...." Scarlet menghela napas panjang. "Dia adalah orang yang mengambil nyawa ayahmu, Barghest."
"E-Eh?" Alicia merasa salah dengar. "A... apa...?"