
Keesokan pagi usai mengadakan pesta semalam suntuk, saat matahari baru saja memerkasai Bumi, Gerda keluar dari rumah, dengan perasaan yang sangat tidak enak—pusing yang terasa menusuk-nusuk kepalanya.
“Ughhh... aku memang menikmati ale-nya, tapi ... tidak kusangka akan separah ini. Ughp!” Gerda juga merasa mual setelah terlalu banyak minum alkohol.
“Karena itulah aku tidak pernah menyukai alkohol.” Suara Serina menghampiri Gerda yang tertunduk mual.
“Ah..., selamat pagi, Serina....”
Serina tersenyum. “Uhm. Selamat pagi, Gerda.”
“Aku tahu agak tidak sopan menanyakan ini padamu yang tak menyukai alkohol, tapi ... apa kaupunya sihir untuk melepaskan rasa sakit di kepala dan mual ini...?”
“Ahahah~ tidak. Minum saja banyak-banyak air.”
“Ba-baiklah, akan kulakukan.”
“Kalau kau nanti mencariku, aku akan mengobrol dengan anak-anak.”
“Ya, baiklah.” Gerda dengan santainya meninggalkan Serina, bersama dengan lambaian tangan kanannya.
Tatkala Gerda masuk kembali ke dalam rumah, ia baru sadar dan peka terhadap sekitar. “Uwah! Bau alkohol sekali!” ia langsung menutup hidungnya. “Memangnya kami seheboh apa sampai mereka layaknya terdampar di pulau setelah bertarung dengan ombak...?” Gerda kemudian mencuci salah satu cangkir yang ada di situ, membersihkannya, lalu keluar lagi dari rumah.
Di depan rumah, di halaman tanah kosong, dia memanipulasi tanahnya untuk menjadi kolam air jernih. Kemudian, air tersebut seakan melawan gravitasi, lalu masuk ke dalam cangkirnya. Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung minum banyak air dari situ.
“Haaaahh~” Gerda menghela napas. Ia kemudian melepas sihirnya. Kolam air itu kembali menjadi tanah.
Suasana pagi ini, serta dirinya yang sedang berjongkok, membuatnya tersadar akan sesuatu; betapa tidak strategisnya letak desa ini. Ia tahu sebab selain matanya yang sedang melihat sekeliling sekarang ini, saat ia dan Serina bersembunyi di dalam tanah, ia juga bisa mengetahui letak-letak akar serta sumber air terdekat. Dia terpikirkan sesuatu yang pastinya akan butuh banyak mana untuk melakukannya, tetapi dia memutuskan untuk melihat sekitar—orang-orangnya—terlebih dahulu.
“Serina tadi bilang dia akan mengobrol dengan anak-anak...?” dia kemudian mencari letak Serina dengan sihir tanahnya. “Ah, di situ kah?” ia menemkukan Serina berada di salah satu rumah, tak jauh dari posisinya sekarang.
......................
Saat Gerda melihat dari jendela, ia cukup terkejut dengan pandangan yang dilihatnya, tetapi itu bukanlah kaget yang membuatnya marah atau tidak percaya, melainkan senang. Senyum segera terukir di bibirnya. Dia melihat betapa Serina menikmati momen menghabiskan waktu bersama anak-anak. Mengobrol dengan anak-anak perempuan dan menunjukkan sihir sederhana yang dilakukannya untuk memukau para anak lelaki.
“Kakak Elf, kau benar-benar hebat ya! Apapun bisa kaulakukan!” seru Anak Lelaki A.
“Hehe, terima kasih. Ini semua adalah hasil latihanku,” balas Serina, yang tersenyum.
“Hei, kalian!” seru salah satu wanita paruh baya yang ada di satu ruangan. “Jangan terlalu membuat repot Kakak Elf itu ya? Kemarin dia baru saja terluka!”
“Baiiiikkk!” jawab semua anak-anak yang ada di sana, yang berjumlah enam orang.
Salah seorang anak perempuan, disadari Serina dari tadi selalu diam dan memojok. Pandangannya yang menatap anak perempuan itu, disadari oleh enam anak yang ada di dekatnya.
“Anak itu ... adalah anaknya bibi Jeanne,” ujar Anak Perempuan A.
“A-anak...?” Serina cukup kaget.
“Kami semua jadi tahu siapa itu bibi Jeanne, setelah kak Reid menjelaskannya pada kami,” sambung Anak Perempuan A.
Si Wanita Paruh Baya menghampiri mereka. Dia bilang, “Ayahnya adalah seorang manusia, tetapi dia meninggal saat dia masih dalam kandungan.”
“Manusia ... dan Raksasa...?
“Hal itu tidak...”
Serina tidak bisa lepas dari anak kecil berambut pirang yang terus meringkuk, memegangi sebuah kalung dengan sangat erat, di pojokan jendela. Tapi tiba-tiba....
“Yo!” Gerda tiba-tiba memukul jendela dengan kedua telapak dan menempelkan wajahnya. Tentu saja hal itu mengejutkan si anak itu dan sukses membuatnya terjatuh.
“Ge-Gerda!” omel Serina.
“Ah, Tanny! Kau baik saja?!” keenam anak-anak yang mengelilingi Serina segera membantu si anak pirang untuk bangun
“U-uhm. A-aku tidak apa....”
Serina masih mendapati Gerda berpose yang sama. Saat Si Anak Pirang itu melihatnya, dia merasa agak takut karena Gerda tersenyum lebar. “Ayo keluar dan bicaralah sebentar denganku!”
Keenam anak-anak itu segera berdiri berbaris membelakangi Si Pirang. “Tidak akan kami biarkan! Kamu pasti berniat jahat pada Titania!” seru Anak Perempuan B.
Gerda masih dalam senyumnya, lalu masuk ke rumah. “Santai saja. Kalau aku benar-benar mencurigakan, Kakak Elf di belakang kalian itu pasti akan segera mencabut nyawaku. Asal kalian tahu, dia itu jauh lebih kuat dariku!”
“Benarkah ... Kakak Elf...?” tanya Anak Perempuan C, menoleh kepadanya.
“Y-ya. Alam adalah sekutuku, kalau dia hendak berniat yang aneh padanya, alam akan segera memberitahuku.
“Tapi! Tidak usah jauh-jauh, kau dengar aku, Gerda?!”
“Hahahaha~ tenang saja, Serina.
“Ayo, Gadis Cantik!”
Titania menatap betapa cerianya senyum Gerda. Dengan mata birunya, ia menatap Gerda berbinar. “Uhm.”
Si Wanita Paruh Baya menganga saat melihat Titania mau berbicara dengan orang asing. “Tidak kusangka,” katanya.
“Apa maksudmu?” tanya Serina.
“Tanny—ah, maksudku Titania, selalu tertutup, bahkan dengan kami.”
“Apa dia memang selalu seperti itu?”
“Ya. Bibi Jeanne bahkan membiarkannya. Padahal, bibi Jeanne sangatlah berkebalikan dengannya. Dia sangat berani, keras, galak, dan tegas....”
Serina terus memandangi Gerda yang segera menggandeng Titania. Mereka berjalan ke tengah-tengah halaman tanah, lalu Gerda bersihir untuk menciptakan tebing tak terlalu tinggi. Mereka benar-benar hendak bicara empat mata.
......................
Gerda dan Titania duduk di tepi tebing. “Angkatlah wajah yang selalu tertunduk itu. Bisakah kau melihatnya?” tanya Gerda.
Saat Titania melakukannya, matanya segera berbinar sekali lagi. “Indahnya....” Putri tunggal dari Jeanne itu mendapati sebuah kerajaan yang diselimuti oleh sinar mentari pagi. Bayangan yang timbul darinya menambah keindahan—seakan itu semua adalah lukisan. Apa lagi dengan hutan di sekitarnya.
“Iya, ‘kan? Aku dan kakak Elf itu berasal dari sana.” Gerda menunjuk kerajaan tersebut—kerajaan Aurora.
“Ke-kerajaan ... Aurora...?”
“Oh? Kautahu tentangnya?”
__ADS_1
“I-iya. I-ibu ... pernah bercerita.” Titania menggenggam erat kalung yang dipakainya. “Katanya ... aku harus menjaga ini, sampai mereka datang menyelamatkan ... kami.”
“Hmm....
"Jujur saja, aku tidak tahu apa itu dan mungkin yang lebih tahu tentangnya adalah Serina—kakak Elf itu. Tapi....” Gerda mengelus-elus rambut Titania. “Kerja bagus dan terima kasih sudah menjaganya!”
Tiba-tiba saja, dari pandangannya, Titania melihat wajah ibunya dari wajah Gerda. “Huwaaaaa!” tanpa bilang apapun lagi, ia langsung mendekap Gerda dan menumpahkan tangisnya.
Gerda tidak menduganya, tapi ia tetap mengelus-elus kepala Titania. “Sudah kuduga, dia memang mirip seperti Zeeta....”
.
.
.
.
“Sudah merasa tenang?” tanya Gerda, yang merangkul Titania.
“Uhm. Terima kasih, uh....” Titania baru ingat jika dia belum tahu siapa nama kakak pirang yang mirip dengan ibunya itu.
“Namaku Gerda. Gerda Bloomy. Siapa namamu?”
“Titania.”
“Kalau begitu, salam kenal yah!” Gerda sekali lagi menunjukkan senyum lima jarinya. Dia juga menyodorkan tangan kirinya untuk bersalaman.
Titania tersenyum. “Sa-salam kenal....” Dia juga sedikit merona merah.
Sambil memandangi makam di bawahnya, Gerda bertanya, “Katakan padaku. Apa kau memiliki mimpi?”
“Tidak tahu.” Titania menggeleng.
“Begitu ya. Berapa usiamu sekarang?”
Titania menghitungnya dengan jari. “Delapan.”
“Apa kau mencintai desa ini, seperti ibumu yang mencintainya?”
“Aku ... tidak tahu.” Titania segera murung. “Tapi, kenapa Kakak bisa tahu kalau ibu mencintai desa ini?”
Gerda tersenyum. “Karena penduduknya pun mencintainya. Kau pun menyadarinya, bukan? Mereka berjuang sejauh ini, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, demi menjaga apa yang dijaga Jeanne, membalaskan kematiannya, juga demi mempertahankan apa yang berharga untuknya—mereka sendiri, dan dirimu.
“Kau tidak seperti itu?”
“Entahlah....”
Gerda tersenyum lagi. “Hahaha! Tidak apa kalau kau tidak tahu. Mari kita bahas yang lain saja. Apa kaubisa bersihir?”
“Tidak tahu, belum pernah mencobanya.”
“Kalau begitu, peganglah tanganku.”
Tanpa menaruh curiga, Titania menggandeng Gerda, dan setelahnya langsung dibawa terbang tinggi. “Uwaaaa!” begitulah rasa terkejutnya Titania.
“Aku akan selalu memegangmu, jadi bukalah matamu!”
“Lihatlah ke desa.”
Saat dia menunduk, ia baru sadar apa maksudnya. Desanya sangatlah kecil. Rumah yang ada pun hanya ada beberapa buah. Perlindungannya tidak maksimal sama sekali, bahkan tidak pantas jika disebut pertahanan, dimana pagar-pagar kayu runcing yang tertanam di tanah, banyak yang sudah rusak.
“Aku dan Serina pasti akan melindungi desa ini. Tapi, akan ada saatnya kami kembali ke kerajaan. Maka saat itu, siapa yang melindungi desa? Apakah tetap hanya Reid dan teman-temannya? Apakah desa benar-benar bisa bertahan selama itu, hanya dengan mengandalkan kekuatannya saja?
“Aku merasakan potensi dalam dirimu. Kelak, kau pasti akan bisa menjadi kuat sama seperti ibumu. Aku tahu di dalam dirimu, ada keinginan jelas apa yang ingin kaulakukan pada desa ini. Tapi untuk saat ini kau tidak perlu memikirkan itu terlalu berat.
“Kuyakin, orang-orang semalam yang menyerang desa ini, akan kembali dengan kekuatan yang jauh lebih besar. Maka dari itu, aku bersumpah, atas nama kerajaan Aurora, aku akan melindungi kalian apapun yang terjadi.”
Gerda membawa turun Titania. Setelahnya, Titania bertanya, “Kenapa Kakak bisa seperti itu...? Apa Kakak tidak takut?”
“Aku memiliki seseorang yang ingin kulindungi. Orang terdekatku. Sejak kecil, kami selalu berteman. Lambat laun, orang yang berharga bagiku dan ingin kulindungi jadi bertambah. Disaat yang sama, aku takut mereka akan terluka, tetapi karena mereka jugalah aku bisa terus percaya diri dengan kekuatanku yang tidaklah seberapa ini.
“Serina jauh lebih kuat dariku. Aku yakin, dirinya seorang saja, lebih dari cukup untuk melindungi desa ini. Tapi, saat aku menjalankan misi dari Ratu ini, aku sadar. Meskipun Serina memang lebih kuat dariku, dia tetaplah makhluk hidup yang memiliki perasaan. Apa kautahu seperti apa hidup para Elf dahulu?”
Titania menggeleng.
“Elf dahulu selalu diburu dan dibunuh oleh manusia. Selama ratusan tahun, hal itu selalu terjadi. Tetapi semuanya sekarang berbeda. Zaman sudah berubah, kebencian harus sudah harus dihilangkan.
“Titania, apa kau membenci orang yang telah membunuh ibumu?”
“Tentu saja ... aku membencinya!”
“Begitulah. Serina telah menanggung kebencian itu selama ratusan tahun, mana bisa dia melupakan kebencian itu dengan cepat, ‘kan?
“Semua makhluk hidup di dunia ini, akan terluka saat sesuatu yang berharga bagi mereka direnggut darinya. Banyak yang akan membalas dendam, tetapi tidak sedikit juga yang memilih untuk berdamai.
“Aku menggunakan kekuatanku untuk melindungi kalian, bukan juga untuk membalaskan dendam. Tetapi, untuk MEMUTUS kebencian itu. Raksasa memang makhluk yang memiliki harga diri tinggi. Maka dari itulah, manusia bisa mencontohnya. Aku, mencontohnya.
“Aku bangga menjadi prajurit khusus kerajaan, aku bangga bisa berteman dengan Serina, dan aku juga bangga bisa berbicara denganmu.”
Titania tidak mengerti. Kenapa dia bangga hanya karena bicara padanya?
Gadis pirang bermata hijau itu tersenyum. “Temanku yang masih berteman denganku sejak kecil itu, sangatlah mirip denganmu. Dia adalah anak yang penakut, tidak ingin berbagi masalahnya dengan teman-temannya, dia juga merasa dirinya tidak pantas untuk ada di sekitarnya.”
Titania mencengkeram tangannya.
“Tapi, orang itu sekarang sudah berubah. Dia selalu lebih mementingkan nyawa orang-orang berharga baginya, daripada dirinya sendiri. Semua itu karena ... temannya pernah dilukai.
“Apa kau berteman baik dengan enam anak-anak tadi?”
Titania mengangguk. “Tapi, akhir-akhir ini kami jarang berbicara....”
“Temanku saat itu sangat marah, hingga kekuatannya lepas kendali. Namun anehnya, kekuatannya yang lepas kendali itu sama sekali tidak menyakiti siapapun yang ada di dekatnya. Dia bercerita, kemungkinan itu disebabkan karena dia selalu diajarkan untuk melindungi, bukan melukai.
“Oleh karena itu, aku bangga menjadi temannya. Teman seorang Tuan Putri Kedua Puluh Satu, Zeeta Aurora.
“Apa kau tidak bangga, menjadi anak dari ibu seperti Jeanne?”
__ADS_1
“Te-tentu saja aku bangga! Ibuku sangat keren, dia juga sangat bercahaya kapanpun dia melindungi desa ini!
“Dia selalu membantu warga, dia juga selalu memarahi saat ada yang salah!
“Aku ... aku....
“Aku ingin menjadi seperti ibu!”
Gerda tersenyum lebar. “Kalau begitu kau sudah siap.”
“Siap? Untuk apa?”
“Latihan.”
“Eh?” Gerda langsung melempar Titania ke langit. Saaangat tinggi. Tentu saja, apa yang dilakukannya, sedari tadi diawasi oleh Serina, juga dua ekor Peri.
Ketiganya melancarkan serangan disaat yang bersamaan yang diarahkan kepada Gerda, tetapi gadis pirang bermata hijau itu sudah menduganya. Dia tersenyum dan melindungi dirinya dengan membentuk dinding dari tebing yang ia duduki di sisi kanan-kiri, serta belakangnya.
‘BWHAM!!’
Debu menutupi pandangan.
“Kaupikir apa yang kaulakukan, Gerda?!” jerit Serina, yang tetap membidik Gerda dengan busur panah api ciptaannya.
“Diam dan lihatlah saja, kalian bertiga.” Gerda menjawabnya dengan tenang.
.
.
.
.
“Kenapa? Kenapa kenapa kenapa kenapa? Kenapa kakak itu melemparku?
“Latihan? Latihan apa maksudnya? Aku tidak mengerti!”
Titania terus saja memejamkan matanya selama ia jatuh dari langit. Pipinya bahkan tertarik ke atas karena gravitasi yang saling tarik-menarik.
Tiba-tiba, ditengah terpejamnya mata, Titania ingat, meski hanya sebuah siluet. Siluet itu bersuara yang jelas baginya. “Dengarlah, Nak, kau mewarisi kekuatan besar ibumu. Aku ingin setelah kita berpisah nanti, lindungilah ibu dengan kekuatan itu. Lindungilah juga desa. Karena desa ini, memiliki sesuatu yang sangat penting yang harus dilindungi selain dirimu. Dan hal itu, kelak kau akan mengetahuinya, bersama orang-orang yang akan datang bersama makhluk sihir!”
“Siapa itu...?”
“Titan!" ia mengingat ucapan ibunya. “Kau adalah kebanggaanku! Kau juga adalah harga diriku! Meskipun nyawaku taruhannya, aku akan melindungimu! Aku tidak akan menyuruhmu untuk benar-benar sama sepertiku, tetapi desa ini sangatlah berharga bagiku. Kuharap, kau juga melindunginya!”
Titania membuka mata. Ia menatap lurus ke tanah, dimana Gerda berdiri. Mata birunya bercahaya, diikuti oleh kalungnya. Tubuhnya pun perlahan membesar.
Serina, dua Peri, juga warga desa yang ikutan panik karena jeritan Serina, menyaksikannya.
Mereka semua menyaksikan, bagaimana Titania ... seorang anak manusia dan Raksasa, bisa mengubah dirinya menjadi Raksasa yang teramat besar.... Tidak perlu memikirkan pakaiannya, sebab kalung itu pun telah menutupinya. Wujud Raksasa Titania seperti dia yang mengalami "age-progression" atau "kemajuan-usia".
Mengantisipasi pendaratan Titania, dengan sihirnya, Gerda menciptakan akar raksasa agar melindungi seisi desa, juga makamnya. Dia mendarat di atas akarnya.
‘BWMMMMM!!’
Tanah berguncang, debu naik ke udara, burung-burung terbang ketakutan. Bahkan untuk Serina sendiri, dia kaget dengan yang baru saja dilakukannya.
Serina dengan cepat berlari keluar dari perlindungan akar Gerda. Dia segera berteriak pada Titania. “Gunakanlah kalung itu! Fokuskan pikiranmu untuk jadi kecil lagi!”
Titania segera mengangguk dan menurutinya. Seperti ucapan Serina, Titania kembali ke ukuran sedia kala. Merasa sudah aman, Gerda melepas sihir akarnya, juga sihir tebingnya.
“Anak itu hanya butuh satu dorongan terakhir. Itu saja yang kulakukan. Tidak perlu menaruh amarah begitu besar, Peri!" Gerda tiba-tiba mengomel. “Kalian, sebagai makhluk sihir yang seharusnya membantu pertumbuhan Titania, apa saja yang kalian lakukan?
"Aku mengerti kalau kalian ingin perlahan-lahan saja tumbuh bersamanya, tetapi dunia ini sedang bukan waktunya untuk ‘berpelan-pelan' saja!
“Disaat Batu Jiwa sudah direnggut, Titania juga harus sudah tahu tentang kekuatannya, juga bertanggung jawab padanya. Jika dia terlalu lama menyadarinya, anak itu akan kehilangan apa yang membuatnya bertahan sejauh ini bersama desa.
“Dan itu adalah keberanian!
“Anak itu dari awal adalah seorang pemberani, berharga diri tinggi, juga sangat kuat sama seperti ibunya. Untuk apa lagi kalian menutup-nutupi kebenaran dunia darinya? Sama sekali tidak berguna!”
Titania, yang sedaritadi mendengarkan, terus saja menatap Gerda dengan mata yang berkilau. Saat itulah, Titania memutuskan. “Aku!” jeritnya, “juga ingin ikut melindungi desa ini bersama kalian!
“Kalian adalah orang yang berharga bagiku ... juga orang yang ingin kulindungi!
“Aku akan melindungi kalian, dengan kekuatan yang kumiliki ini, jadi....
“Maukah kalian ... menerimaku... dan melindungi desa ini bersama-sama?”
Keenam teman-teman Titania, ikut berteriak. “Apa yang kaukatakan, Tanny?! Sejak kapan kami menolakmu?!”
Titania tersenyum lebar. “Terima kasih, kalian semua!”
.
.
.
.
Serina, untuk sekali lagi merasa aneh. Bagaimana bisa Gerda, seorang manusia, bisa paham apa yang dibutuhkan Titania, hanya dengan satu kali lihat? Apa itu ada hubungannya dengan sihir tanahnya?
Dia tidak akan mengerti itu, bila tidak langsung bertanya pada manusia yang sangat tidak dimengertinya. “Bagaimana caramu bisa tahu tentang semua ini? Apa kau memiliki sihir tertentu?” tanyanya, sedikit berbisik pada Gerda.
Gerda menatap Titania dari kejauhan. “Tidak, ini bukan sihir. Anak itu ... mengingatkanku pada Zeeta saat kecil. Titania persis sepertinya, maka dari itu aku tahu apa yang dibutuhkannya.
“Tapi, tentu saja aku tahu, belum saatnya dia mengemban beban melindungi desa. Apalagi untuk melawan Seiryuu. Aku akan mengatakannya pada Reid nanti. Jika dia mengerti Jeanne, maka dia pun mengerti Titania.
“Dunia ini, indah ya, Serina? Saat semuanya tersenyum bahagia dan tertawa lepas begini.”
Gerda memandangi penduduk desa yang perlahan-lahan bercanda tawa dengan Titania.
“Aku tahu Zeeta memikirkan hal yang sama denganku, karena aku sangat-sangat mengenalnya. Makanya aku tahu ketakutan yang terkadang menyerangnya. Dia takut bila senyum-senyum itu hilang, ketakutan itu lambat-laun akan membuatnya lupa tentang arti dari senyum-senyum itu bagi dirinya, hingga dia kelak bukan menjadi Zeeta lagi.
“Kalau saat-saat seperti itu tiba, mungkin inilah yang dipikirkan Zeeta. ‘Dunia bangsat ini, tidak seharusnya kupedulikan’.
__ADS_1
"Tapi, aku akan selalu ada bersamanya, dan memastikan kalau dirinya yang sering merasa kesepian itu, tidak berpikir demikian.”
Serina menatap diam Gerda. Dia jadi teringat tentang hubungannya dengan saudari-saudarinya. Mereka saling memahami satu sama lain. Iapun tersenyum, juga mengatakan, “Kau benar. Dunia ini indah, bila semua orang tersenyum.”