
Zeeta dan Klutzie telah mengarungi langit selama dua setengah jam. Mereka telah melewati pedesaan, pegunungan, air terjun, sungai, hingga kawah gunung berapi selama perjalanan. Semakin dekat mereka ke tujuan, semakin kuat juga mana yang bisa dirasakan Zeeta. Mana itu tidak bersumber dari rakyat atau raja yang disebutkan Klutzie yang memiliki mana besar. Tetapi, jika dikategorikan, mana yang dirasakan Zeeta ini memanglah terbilang cukup besar, bahkan tidak kalah besarnya dengan miliknya sendiri. Sekarang, mereka sudah dapat melihat kerajaan itu di depan mata, namun mereka memilih beristirahat sejenak dan memastikan kembali apa yang akan mereka lakukan nanti.
"Oke, Pangeran, 'kan kukatakan ini sekali lagi," ujar Zeeta, "saat masuk ke Nebula dan sumber mana yang kurasakan ini muncul, serahkan orang itu padaku. Apapun yang terjadi, fokuslah untuk ke tempat yang sudah kuberitahu itu.
"Jangan berpaling dari tujuan itu sebelum kau benar-benar menuntaskannya."
Klutzie bertatap serius, lalu mengangguk. "Ya, baiklah. Kau juga berhati-hatilah."
Zeeta tersenyum, lalu menjawab, "Tenang saja, ada Luna bersamaku!"
"Baiklah, ayo!" Mereka pun kemudian berangkat menukik masuk ke Nebula.
Kerajaan Nebula yang semakin dekat dengan jarak pandang keduanya terlihat sangat besar dan megah. Pilar tinggi penopang bola inti gravitasi raksasa yang menarik dua pulau besar yang memisahkan pulau bangsawan dan rakyat juga berfungsi sebagai elevator untuk menuju ke dua pulau tersebut. Dengan inti gravitasi sebesar itu, memungkinkan warga di sana untuk membuat peradaban di bawah pulaunya juga. Ada bangunan manusia, juga bahkan ada pohon. Hari yang telah menjelang malam, membuat bola gravitasi itu jadi bersinar terang, seakan-akan tidak ingin kalah dari cahaya bulan atau matahari.
Bangunan Nebula di kedua pulaunya dominan warna kelabu. Sementara pulau bangsawan dan rakyat ada di pulau yang berbeda, istana juga memiliki tempatnya sendiri, yaitu pilar yang menjulang tinggi hingga ke langit. Keseluruhan pilar tersebut adalah bangunan istananya. Selama kedua bangsawan kerajaan itu menukik ke pulau bangsawan, Zeeta bertanya, "Hei, apa sebenarnya bola biru besar itu?"
Klutzie kemudian menjawab, "Bola itu bernama Vanadust, bola itu menjadi inti gravitasi yang memungkinkan kami memiliki peradaban unik seperti itu."
"Hee~ehh keren, ya.... apa orang tuamu yang menciptakan ini?"
"Bukan, kata orang tuaku, itu adalah ciptaan kakek atau kakek buyutku, sebelum Nebula hadir setelah bersatunya dua kerajaan. Dua kerajaan itu adalah Southern Flare, kerajaan ibuku berasal, dan Gala, kerajaan ayahku berasal. Kata ibu, itu adalah bukti ikatan kedua kerajaan agar selalu diingat oleh rakyat."
"Begitu, ya.... Kalau itu hancur apa Nebula akan runtuh?"
"HAH? KAUINGIN MENGHANCURKANNYA?!"
"Ti-tidak! Sama sekali tidak! Kenapa kau langsung berpikir negatif begitu?! Aku tersinggung tahu!
"Aku hanya bertanya, lagi pula nanti pasti terjadi pertarungan... hanya memastikan saja!"
"Aku tahu. Aku juga bercanda."
"Hmm." Zeeta menyipitkan mata.
"Vanadust hanya akan menyerap segala serangan, baik fisik, sihir, atau dari mesin. Jadi, mustahil untuk dihancurkan."
"Lalu, kalau pilar yang menopangnya ini hancur?"
"Hmmmm....
"Entahlah."
"Kau ini.... Serius?"
"Apa aku terlihat bercanda? Aku pun terkejut tidak ada orang yang hendak menyerang Nebula disaat kekosongan seperti ini. Lagi pula, sejak kecil aku tak begitu ingin tahu tentang hal seperti itu.
"Aku hanya fokus pada tujuanku menjadi Benih Yggdrasil, yaitu menjadi nomor satu dan menguak seluruh misteri dunia sihir yang ada.
"Sekarang, aku tidak begitu tertarik untuk menjadi nomor satu, karena kehadiranmu membuatku sadar, bahwa tidak ada yang bisa menjadi nomor satu di dunia sihir ini, sebab akan selalu ada orang yang melampaui diri sendiri. Ketika hal itu terjadi, aku hanya perlu berlatih untuk melampaui orang itu."
Begitu Zeeta mendengar kalimatnya, Zeeta terhenti. "Ngomong-ngomong... selama enam setengah tahun ini, tak ada tanda-tanda Benih Yggdrasil yang ketiga, ya?"
"Ah, kau benar. Bagaimana ini, Siren?" tanya Klutzie.
__ADS_1
"Luna, apa kau juga tahu sesuatu?" tanya Zeeta.
"Tidak. Kalaupun ada tanda, kami pasti akan mengetahuinya," jawab Siren.
"Atau... Benih Yggdrasil ketiga ini, telah menjadi Wadah lebih awal dari kalian berdua," jawab Luna.
"Ada kemungkinan seperti itu juga, ya...?" tanya Zeeta.
"Ya. Masukkan juga kemungkinan kalau Benih Yggdrasil satu ini sudah mati," balas Luna.
"Uwaah... kasar sekali...," timpal Siren.
"Apapun yang terjadi, satu hal yang pasti. Jika kita asumsikan Benih Yggdrasil itu memang masih hidup dan sudah menjadi Wadah lebih awal dari kalian, kita tidak bisa segera menganggap dia adalah sekutu kita."
"Kau benar."
"Fokuslah pada tujuan kalian saat ini; menyelamatkan Nebula!"
Zeeta dan Klutzie tersenyum. "Baik!"
......................
Kedua keluarga kerajaan sekaligus Benih Yggdrasil, Zeeta Aurora XXI dan Klutzie Nebula I, sampai di pulau bangsawan. Bangunan-bangunan megah tanpa cahaya menandakan kerajaan ini benar-benar mati selama hampir tujuh tahun. Debu-debu berterbangan kemana pun angin berderu. Layaknya ucapan Klutzie, meskipun kerajaan ini mati dan sudah dipenuhi debu, tidak ada tanda-tanda kerusakan besar yang terjadi, membuat kedua remaja itu meningkatkan kewaspadaan mereka. Hawa dingin menyambut kedatangan keduanya, yang perlahan-lahan diikuti oleh munculnya dua orang yang salah satu diantaranya dikenali Zeeta, yaitu Lucy.
"Pergilah, Pangeran! Sesuai rencana!" seru Zeeta yang kemudian melompat dari sapu terbang dan mendarat dengan melakukan roll. Klutzie terbang meninggalkan Zeeta sendiri dengan dua orang itu ke suatu tempat di pulau ini.
"Wah wah, selama enam setengah tahun ini, kau sudah tumbuh menjadi gadis yang jelita, ya, Zeeta. Kau pun menjadi sangat kuat seperti monster yang mirip denganku, seperti yang sudah kukatakan," ujar Lucy, menyambut kedatangan Zeeta.
Zeeta memberinya hormat ala bangsawan, lalu membalas Lucy, "Terima kasih atas sambutan hangatmu, Lucy. Sekarang, bolehkah aku tahu siapa pria di sebelahmu?"
Pria yang berdiri di sebelah Lucy adalah pria tinggi tiga puluhan dengan rambut hitam bergelombang panjang diikat ke belakang. Alisnya seperti bumerang dan tatapannya sangar. Sebuah janggut pun menghiasi wajahnya. Ia berpakaian serba hitam: jas bermantel, celana, rompi, sarung tangan, topi, dan sepatu. Kecuali untuk kemejanya, yang berwarna putih.
"Kupastikan, Lucy, kau tidak memiliki urusan denganku, bukan?" tanya Zeeta, "karena kuanggap kau adalah wanita pemegang janji."
"Hahaha, ya, tentu saja, tentu saja! Aku tidak memiliki urusan denganmu...
"Untuk sekarang...."
Lucy menyeringai.
"Zeeta, apa kaudengar aku?" sebuah suara telepati sampai ke telinga Zeeta.
"Suara ini... Reina...? Uhm, aku mendengarmu! Ada apa?"
"Aku merasakan sesuatu yang buruk dari pria itu, sebaiknya kau tidak menggunakan Rune terlebih dahulu, karena jika kaupakai Rune sekarang, Lucy pasti bisa mengetahui pola seranganmu—"
"Ini adalah pertarungan, Reina. Kau harus tahu bahwa dalam pertarungan tidak ada kepastian, bahkan jika lawan telah terpojok.
"Terima kasih atas saranmu, tapi maaf, aku tidak bisa menerimanya."
.
.
__ADS_1
.
.
"Jika Reina merasakan sesuatu dari pria itu, maka dia bukanlah orang dengan mana besar saja," batin Zeeta.
"Zeeta, aku akan membantumu," ujar Luna.
"Luna...? Benarkah?"
"Ya. Jika diingat kembali, ini adalah pertama kalinya kuakan membantumu bertarung sebagai Roh Yggdrasil."
"Terima kasih, kuterima bantuannya!" Zeeta memindahkan Luna ke bahu kanannya lalu melempar topinya ke samping. "Paman ... kauingin mengucapkan sesuatu padaku, bukan?"
"Ya, tentu saja," jawab Si Pria. Ia menyerap mana yang membumbung tinggi keluar dari tubuhnya. Melihatnya, Zeeta semakin waspada. "Namamu adalah Zeeta Aurora XXI, keturunan dari Clarissa, cucu dari Scarlet, anak dari Alicia.
"Kunyatakan ini dan dengarlah baik-baik. Kau telah berbuat banyak kejahatan di dunia ini dan kehadiranku saat ini di hadapanmu adalah takdir yang menginginkanku menghapusmu dari keberadaan dunia.
"Oleh karena itu, kau akan...."
Zeeta terbelalak saat dirinya mendengar seluruh ucapan Si Pria. Dengan Rune Kaunaz yang membuatnya mampu mendengar isi pikiran seseorang, Zeeta segera membuat sihir penghalang dengan tergesa-gesa.
'FWSHHH!'
Si Pria menghilang dari tempatnya berdiri, lalu....
'ZZRUUSSHT'
"Mati demi keadilan dunia."
Zeeta terbelalak, Luna pun demikian.
"Tidak... mungkin....
"guhak!"
Zeeta membatukkan darah. Ia melihat tangan kiri lawannya bersimbah darah dan dalam area pandangan yang sama, ia melihat dadanya bolong, dan tidak henti-hentinya mengalirkan darah.
Perlahan-lahan, Zeeta terkapar lemas di tanah dengan napasnya yang tak beraturan sama sekali. Jangankan untuk bernapas, melihat saja dia sudah kesulitan.
"Tenanglah Zee... kaupasti bisa melakukan ini. Kau tinggal tutup luka ini dengan sihirmu, lalu kaubisa berdiri sekali lagi!" Zeeta mengarahkan tangan kanannya yang masih bisa digerakkan ke dadanya untuk menutup lukanya.
"Kau sudah berjanji pada semua orang, termasuk dirimu sendiri, kalau kau akan melindungi dunia! Jangan mau mati di tempat seperti....
"Ini...."
Tangan kanan itu tergeletak lemas dan pandangannya yang terbuka tidak menunjukkan tanda ia akan berkedip.
Luna tidak berhenti melotot pada tubuh Zeeta yang terus bersimbah darah. Ia tidak peduli pada tubuh berbulunya yang putih perlahan berubah merah, dan segera mencoba menutup luka di dada Wadahnya itu secepat mungkin.
"Percuma, Roh Yggdrasil," kata Si Pria, "dia hanyalah Manusia jahat yang membahayakan keselamatan dunia dengan kemampuan sihirnya. Kematiannya saat ini adalah keselamatan untuk semua!"
Dengan tangis yang bercucuran, Luna berteriak, "Siapa kau sebenarnya?!"
__ADS_1
Si Pria melototi Luna. "Tidak ada kewajiban bagiku menjawab Roh yang bersekongkol dengan penjahat!"