
Guntur di balik awan gelap, meskipun malam telah tiba, di atas luasnya samudera, dan dapat dilihat dengan mata telanjang oleh banyaknya manusia dan makhluk hidup di berbagai belahan dunia, termasuk desa yang sebelumnya menerima “berkah” dari turunnya tentakel-tentakel gurita raksasa. Ketakutan dan kecemasan adalah hal yang wajar dirasakan, tetapi mereka tidak tahu apa yang menyebabkannya.
Apakah itu murni disebabkan bencana alam?
Apakah ini adalah ganjaran untuk mereka, para warga desa, setelah mengonsumsi dan memanfaatkan daging Kraken yang tiba-tiba turun dari langit?
Atau mungkin ... ini ada kaitannya dengan seorang laki-laki yang bertanya tentang pantai yang terdapat Kraken tersebut?
Tidak ada yang tahu.
Tidak ada satu pun yang tahu mengapa langit gelap, menggunturkan petir yang saling sahut menyahut—seakan beradu siapa yang paling keras dan paling menghancurkan, kecuali mereka... yang terlibat di dalamnya.
Di dalam samudera, pada salah satu titik di dalamnya, terdapat istana emas yang megah dan sangat besar. Istana tersebut memiliki beberapa ruang yang kedap air, namun sekarang, setelah kedatangan seorang Roh Kuno, seluruh istana itu ada di dalam air. Sehingga, apa yang sebelumnya ada di dalam ruang kedap air, tergerus dan terlempar ke dalam sisi lain air. Nasib yang serupa pun terjadi pada seorang jasad gadis yang seharusnya akan dibawa oleh dua orang daratan—Danny dan Jourgan—begitu keduanya kembali nanti.
Dua orang daratan itu kini harus menghadapi permintaan sang Roh Kuno yang menginginkan seorang Duyung membangkitkan lagi kekuatannya. Dengan kata lain, mereka akan menghadapi seorang penguasa lautan hanya berdua saja.
......................
Undine yang telah mengangkat trisulanya, bicara sesuatu terlebih dahulu. “Jangan pikir untuk menahan diri kalian, karena Duyung ini takkan mampu mengendalikan besar kekuatannya.” Usai mengatakannya, ketiga ujung trisulanya bersinar biru tosca, yang dilanjutkan pada bercahayanya gelembung dengan warna sinar yang sama, yang ada Cynthia di dalamnya.
Tak perlu menunggu lama, Cynthia lagi-lagi dalam mode dimana matanya bersinar putih. Tetapi bedanya, sebelumnya dia dirasuki Undine, sekarang tidak lagi demikian.
Gelembung tersebut pecah begitu saja. Dua orang daratan di hadapannya tidak mengetahui apa guna gelembung tersebut pada Cynthia, namun mereka bisa menebaknya. Kemungkinan, gelembung tersebut adalah salah satu bentuk sihir dari Undine untuk mengembalikan stamina Cynthia, sebab sebelum kejadian saat ini berlangsung, semuanya merasakan ada sesuatu yang terjadi pada Cynthia.
Undine kemudian memberikan trisulanya pada Cynthia dan kala ia memegangnya, sesuatu terjadi.
Trisulanya bersinar hingga memaksa Jourgan dan Danny melindungi mata dengan lengan untuk sesaat. Di dalam lautan tersebut, kulit mereka merasakan adanya pergerakan besar, dalam jumlah yang banyak. Hal itu seakan merespon sinar dari trisulanya.
Waspada dengan apa yang hendak terjadi, dua orang daratan itu melapisi tubuh masing-masing dengan mana-nya. Danny terlapisi oleh mana merah, sementara Jourgan berwarna hitam.
Beberapa saat kemudian, sosok yang menyebabkan pergerakan besar yang bisa dirasakan oleh kulit mereka muncul. Keduanya terkesiap. Mereka adalah makhluk-makhluk laut raksasa yang sebelumnya ditemui mereka kala turun ke dasar lautan ini. Belut raksasa bergigi tajam. Kulit licinnya seakan teralirkan listrik biru. Ada pula Dion si Buaya Raksasa dan Sion si Hiu Raksasa.
“Bisakah kauatasi makhluk-makhluk raksasa itu, Kak Jour?” tanya Danny.
__ADS_1
“Aku memang menjuluki diri sebagai pemburu hebat, tapi aku bukanlah nelayan!”
“Kuanggap itu adalah ‘aku akan melakukan yang terbaik!’” tanpa menunggu persetujuan dari Dark Elf itu, Danny menggunakan mana yang melapisinya untuk berenang lebih cepat menuju Cynthia secara langsung.
Undine dan Xennaville yang menyaksikan dari kejauhan, mengernyitkan mata. “Hoo...,” gumam Undine, yang menyeringai kala melihat keputusan Danny.
Tidak tinggal diam begitu saja, Cynthia memutar badannya tiga ratus enam puluh derajat, dengan kaki kiri sebagai porosnya, bersamaan dengan ayunan trisula pada tangan kanannya.
‘SLASH!’
Tiga buah beam tebasan berwarna biru menerjang Danny.
“Apa?! Bisa begitu?!” Danny segera menggunakan senjata sucinya untuk menahan tiga tebasan tersebut, juga menggunakan teknik yang diajarkan Zeeta untuk menyerap kekuatan dari lawan dan membalikkannya sebagai counter.
Counter yang dilakukan Danny adalah mendorong tangan yang telah dibentuknya menyerupai huruf “X” ke bawah. Dua tebasan beam lawan dibalikkannya dengan beam serupa dan berhasil mendominasi satu lainnya, hingga berhasil menghampiri Cynthia, namun....
‘BWHAAMM!’
Ekor Sion mengibas—membuat seluruh beam yang menerjang balik kepada Cynthia tak berarti lagi, juga menghancurkan pilar-pilar istananya.
“Berisik! Kaupikir sedaritadi aku hanya diam saja?!” balas Jourgan yang ikut membentak.
Kemudian, Danny melihat dua buah lingkaran sihir besar muncul pada depan dan belakang belut raksasa. Lingkaran sihir tersebut menciptakan ruang kosong, sehingga memaksa belutnya tak memiliki tempat untuk bernapas—dengan kata lain kedap air.
“Meskipun dia lebih kecil daripada Sion dan Dion, belut itu lebih mengancam kita!”
Ruang kedap air yang menjebak belut itu kemudian terisi oleh asap berwarna ungu. Asap tersebut membuat si belut terkulai lemas. Listrik yang sebelumnya terus menerus mengancam dua makhluk daratan itu pun menghilang.
Melihat rekannya dijatuhkan seperti itu, membuat Cynthia tidak senang sama sekali. Dengan memutar-mutar trisulanya secara cepat, ia menciptakan tornado yang diarahkannya khusus pada Jourgan.
“Kaupikir aku tak bisa melakukannya?!” merasa tertantang, dengan tombaknya, Jourgan melakukan hal yang serupa.
Dua pusaran air saling beradu setelah itu. Dari sisi Jourgan, pusaran airnya berwarna biru gelap, sementara dari sisi Cynthia berwarna biru terang.
__ADS_1
Belum terbangunnya kekuatan Cynthia, membuat Jourgan mendominasinya secara sepihak. Dirinya terseret ke belakang dan harus menggertak giginya agar bisa memfokuskan diri dan lebih mengeluarkan kekuatan lagi pada lawannya.
Hendak membantu Cynthia, Dion dan Sion bergerak bersamaan untuk menyerang Jourgan yang tidak bisa melakukan apapun karena sibuk dengan lawannya. Tentu saja Danny tidak tinggal diam.
“Putri Cynthia, aku minta maaf!” Danny menebas lautan dengan teknik yang serupa saat ia melawan L’arc. Ia memanaskan suhu kedua bilahnya dengan sihir api—yang merupakan atribut sihirnya. Lautan yang tertebas itu menggeruskan dua buah tebasan bersuhu tinggi pada Dion dan Sion,
Dion dan Sion yang hendak membantu Putri mereka, harus tertebas oleh dua tebasan panas tersebut, namun keduanya tidak membiarkan diri mereka gagal menyerang begitu saja. Dion menyemburkan bola api yang sangat panas dan tetap mempertahankan bentuknya meskipun di dalam air. Sementara itu si Hiu Raksasa, Sion, melepaskan gigi-gigi runcingnya bak rudal yang tak ada habisnya.
“Sial!” gerutu Danny, yang tidak sempat menghindar.
Melihat Dion dan Sion yang perlahan lemas serta mengucurkan darah, membuat kekuatan yang dikeluarkan Cynthia melemah. Namun, hal yang tak begitu berbeda pun dialami Jourgan. “Hei, Danny! Kau baik?!” pekiknya khawatir. Ia tahu serangan itu sangatlah berbahaya.
Dalam sudut pandang Cynthia kali ini, semuanya mendadak gelap. Ia mengingat kilas balik hari-harinya bersama hiu dan buaya itu. Tetapi, karena hal inilah yang membuatnya lengah dan membiarkan Jourgan benar-benar berhasil mendominasinya dan mendaratkan luka-luka sayatan padanya. Tidak hanya itu, Cynthia juga sampai terhempas sedikit ke belakang. Dirinya tidak melakukan apa-apa—seakan pasrah begitu saja.
“Apa ini akan berakhir?” tanya Xennaville. Ia juga melirik pada Undine.
Undine balas melirik Roh Yggdrasil di sebelahnya itu. “Belum tentu.”
......................
Di sisi lain, Jourgan yang telah memiliki kesempatan, segera menghampiri Danny untuk memeriksa kondisinya. Dan benar saja, meskipun Manusia berambut merah kecokelatan itu telah disembuhkan luka-luka dari pertempuran sebelumnya oleh Sugar, dia belumlah berada di kondisi puncaknya. Sehingga, serangan yang seharusnya bisa dihindarinya, malah membuatnya semakin parah.
Luka bakar dan sayatan di beberapa bagian tubuhnya, telah “menghiasi”-nya. Saat itu juga, Jourgan sadar akan sesuatu yang harus cepat-cepat dilakukannya. Sebab jika tidak, kondisi Danny bisa semakin buruk, terlepas dia adalah pasukan khusus kerajaan atau bukan.
“Meskipun kami diizinkan bernapas di dalam air oleh Cynthia, tetapi jika begini terus, kulit kami....” Baru saja menggumam, ia merasakan firasat yang buruk. Ia segera memanggul Danny yang tak sadarkan diri. Setelahnya, ia menancapkan tombaknya ke pasir—dengan bilah tajamnya ke atas. Tangan kanan yang memegangnya, begitu erat seakan tak ingin melepaskannya.
Tak lama kemudian....
“Dion, Sion!” suara jeritan Cynthia terdengar, tapi kini terdengar lebih menggema. Menyusul pekikannya, terdengar lagi sebuah suara—yaitu jentikan jemari. Putri Ketiga itu mengedapkan ruang pada pergelangan tangan kanannya, untuk memungkinkan dirinya menjentikkan jemari.
Merespon jentikan jarinya, sesuai dugaan Jourgan, dirinya kehilangan kemampuan untuk bernapas. Karena hal itu, juga ditambah dengan posisi mereka ada di kedalaman laut, membuat tekanan air benar-benar menyulitkannya untuk bergerak sedikitpun, bahkan untuk membuka matanya. Mata itu saja sudah memerah beberapa saat setelah Cynthia “mencabut izin”-nya.
Saat itu, Jourgan sempat melihat kemarahan Cynthia yang menerjang keduanya dengan trisula di tangannya. Tak hanya itu, Dark Elf itu juga sadar tubuh Duyung tersebut membesar. Namun, ia tahu betul tak bisa lama-lama di dalam sini, oleh karena itu....
__ADS_1
“SEGEL, LEPAS!”
Tombaknya bersinar hitam dan membutakan mata Cynthia, serta dua makhluk “besar” di belakang Cynthia yang menjadi penonton....