
'BYUUSHH... BYUUSSHH...!'
Bunyi kepakan sayap mirip dengan semburan api dari burung raksasa berwarna emas itu—Maayaford—pasti bisa didengar siapapun yang ada di darat. Tidak hanya dari bunyi kepakannya saja, tetapi juga dari penampilannya yang sangat mengundang perhatian.
Kendati demikian, kecepatan yang disertai oleh slipstream dari pria yang sedang menunggangi punggungnya, membuat burung itu melesat sangat-sangat cepat. Menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi pria tersebut, sebab ia juga harus mempertahankan posisinya duduk, kekuatan lengan dan kaki, supaya dirinya tidak jatuh terbanting.
Jarak yang dibutuhkan agar keduanya sampai di tujuan—kerajaan Gala—yang sebelumnya butuh satu minggu perjalanan darat, kini hanya butuh beberapa jam saja. Keduanya, Maaya dan Eizen, mendarat di hutan dekat gerbang masuk kerajaan.
"Haaah~ haaahh~ haaaahh...!" Eizen terkapar di tanah. Tangannya bergemetar hebat. Pun dengan kakinya.
"Kau tidak apa?" tanya Maaya santai.
"Tidakkah ... kaulihat ... tanganku begini? Aku ... butuh istirahat!"
"Hmmm, apa boleh buat. Padahal sudah sampai tujuan, kau malah—"
"Berisik! Jangan samakan aku dengan kalian yang memiliki kekuatan gila begitu!"
Maaya menyeringai nakal. "Hmm...."
Eizen terganggu dengan senyum yang sus itu. "Apa-apaan... senyummu itu?"
"Hehe, tidak. Aku tidak menduga kalau pria yang sempat ingin membunuhku memiliki sisi imutnya."
"Hentikanlah. Aku tidak ingin disebut begitu.
"Lagi pula, membunuh? Apa maksudmu?
"Aku datang ke Southern Flare memang dipengaruhi oleh L'arc, tetapi sedikit pun aku tak memiliki keinginan begitu. Aku hanya...."
Maaya dibuat bertanya-tanya dengan nada Eizen yang dipelankan itu, namun....
"Syukurlah kalian masih ada di sini!"
Mereka melihat sebuah bola cahaya berwarna hijau muncul dari semak-semak. Mereka saling tatap satu sama lain, sebelum akhirnya Eizen bertanya, "Siapa?".
"Aku adalah Roh Yggdrasil. Untuk saat ini, aku terikat dengan L'arc."
Begitu mendengarnya, keduanya langsung bersiaga dengan sihir dan kuda-kuda.
"Tenanglah, tenang! Aku tidak bermaksud untuk menjadi musuh bagi kalian. Aku hanya ingin kalian mendengarku. Ini mendesak."
Meski mereka tidak bisa melihat seperti apa wujud dari bola cahaya tersebut, mereka sepakat untuk mengangguk.
"Kita tidak memiliki banyak waktu, jadi kalian pasti akan terkejut. Namun, aku takkan berhenti hanya untuk menunggu kalian lebih tenang untuk bisa memercayaiku.
"Pertama, Eizen, meskipun kau tidak terlahir sebagai pewaris Matahari, kau memiliki tanggung jawab besar yang harus kaupikul. Aku tidak bisa menyebut apa itu, tetapi saat ini bukanlah waktunya bagimu iri dengan kemampuan orang lain yang bahkan tidak kau kenal!
"Kemudian, aku akan beritahu apa sebenarnya penyebab Maaya dan Barghest terkena kutukan."
__ADS_1
Keduanya terbelalak. "Siapa kau sebenarnya...?" tanya Maaya.
"Kau akan mengetahuinya nanti, tetapi sekarang dengarlah aku. Kalian harus menghentikan L'arc!"
......................
"TUNGGU...!" jerit Siren yang bersama Klutzie, di dekat Vanadust. "Kalian pernah bicara dengan Roh Yggdrasil-nya L'arc?!"
"Ya. Kenapa?"
"Kenapa, katamu?! KENAPA KAU TIDAK BERITAHU ITU PADAKU?!
"Apa kau tidak tahu seberapa penting informasi itu, meskipun hanya sedikit, untuk mengetahui siapa dan mengapa L'arc menjadi seperti itu?!"
Eizen tetap berwajah tenang. "Ha ha ha, tolong jangan lupakan kalau situasiku tidak memungkinkan saat itu. Aku keluar dari 'penjara' Jewel setelah Zeeta memukul mundurnya, 'kan?"
"Cih.... Padahal aku dan Luna tidak bisa.... Lalu, apa yang kalian bicarakan?"
......................
"Semua ini hanyalah rencana L'arc untuk mengubah masa depan. Kutukan kalian, serta jalan yang ia pilih saat ini."
"Apa maksudnya itu?" tanya Maaya.
"L'arc sudah hidup nyaris lima ratus tahun. Selama itu, dia mengembara untuk mencari seseorang yang memiliki resonansi serupa dengannya.
"Hasilnya selalulah nihil. Kami yang tidak bisa melakukan apapun selain membantunya, pada akhirnya sepakat untuk membuat keputusan sulit—menghancurkan generasi masa depan untuk menciptakan sosok yang diperlukan dunia."
"Itu benar. Tidakkah kau bertanya-tanya, mengapa seekor Naga bisa-bisanya menjadi bagian dari Manusia yang dibenci hingga ulu hati mereka?
"Kami tidak mengatakan yang kami lakukan adalah hal benar, tetapi ini adalah sesuatu yang diperlukan.
"Gala sudah sejak lama bersiap untuk kedatangan Penyelamat mereka, demikian pula dengan L'arc. Tetapi ada sebuah kejadian yang mengubahnya secara total."
"Tunggu dulu!" sela Eizen, "semua yang kauucapkan terdengar seolah L'arc berasal dari Gala. Tidak mungkin itu benar, 'kan?"
"Tidak. Itu benar."
"A-apa...?!"
"Kesampingkan soal asal-usul dia, pada intinya, dia bertemu dengan seseorang yang mencekokinya dengan kenyataan bahwa Manusia itu tidak butuh diselamatkan. Sudah menjadi nasib dan takdir kalau mereka binasa pada Akhir Dunia.
"Dan seiring berjalannya waktu, setelah semua yang dilakukannya, tujuannya tetap tidak tercapai. Malah dia semakin membenci dunia karena matanya selalu menyaksikan keburukan mereka.
"L'arc bukanlah Manusia yang pernah kami kenal lagi, namun jika kami melepasnya, itu sama saja dengan kami yang mengkhianati semua usahanya selama ini. Kami yakin, suatu saat nanti akan ada seseorang yang mampu menggulingkan dirinya.
"Oleh sebab itu, Maaya. Aku tidak meminta pengampunanmu, tetapi yang memberikan kalian berdua kutukan adalah ... kami—Roh Yggdrasil.
"Dengan semua informasi yang kami miliki, baik tentang Sephiroth, keturunan Bulan dan Matahari, serta keberadaan Southern Flare dan Gala, kami yakin suatu saat kalian akan bertemu dan kini keyakinan tersebut sudah menjadi kenyataan."
__ADS_1
......................
"Siren...." Klutzie menatap kosong sosok wanita bersayap empat di sebelahnya. "Kalian ... memiliki kemampuan seperti itu...?"
"Karena itulah, Putraku. Ketika kau kecil dulu, aku sangat marah saat tahu Roh Yggdrasil memilihmu dan ibumu menangis ketika menyadari dia telah memantaumu."
Klutzie seketika memutar kilas balik di otaknya. Bagaimana dia bergembira bersama kakaknya, sementara kedua orang tuanya tidak demikian.
"Aku sudah menduga ini kenyataannya, tapi...." Siren menatap Klutzie. "Ya. Roh Yggdrasil memang mampu melakukannya. Jangan berasumsi bahwa 'Pohon Dunia' akan selalu menghidupi dunia dengan kesama-rataan. Ada kalanya bahwa—"
"Tidak apa," tukas Klutzie, "kutukan itu bukan berasal darimu dan aku yakin ibu dan raja Barghest bersyukur dengan hal itu. Yah, setidaknya ... mungkin...."
Eizen tersenyum mendengarnya. "Itu memang benar," katanya, "Maaya mengubah kutukan itu menjadi kekuatannya. Jika dia selalu terpuruk dengan kondisinya, dia takkan mampu berdiri tegak menghadapi rakyat dan menjadi panutan negeri ini!"
......................
"Jadi," ujar Maaya, "apa yang harus kami lakukan?" ia menatap serius bola bercahaya hijau di depannya.
"Tu—! Maaya! Apa kau tidak marah dengan semua ucapannya?! Dialah yang mengutukmu dan Barghest menjadi seperti ini!"
Maaya tersenyum. "Untuk apa?"
"Eh?"
"Maksudku, jika aku tidak memiliki kutukan ini, aku bahkan ragu bisa berdiri setara dengan Putri Scarlet. Atau bahkan bertemu denganmu. Kenaifanmu sebagai Pangeran, sungguh membuatku tergelitik.
"Berkat kutukan ini juga aku tahu kalau ada orang lain yang berjuang untuk menjadi lebih kuat, untuk dirinya sendiri dan orang lain, macam Barghest.
"Makanya, apa kau tidak berpikir kalau ini adalah takdir, Eizen?"
"Takdir?"
"Kau, aku, Putri Scarlet dan teman-temannya, bertemu di bawah Bulan....
"Apa mungkin suatu saat generasi masa depan kita akan seperti ini juga, ya...? Aku yakin begitu.
"Jika yang dilakukan L'arc adalah keburukan demi esok yang cerah, maka kita hanya perlu menjadi cahaya yang berjalan bersamanya.
"Dia berjuang demi alasannya sendiri dan kita pun demikian. Cahaya dan kegelapan memang tidak pernah bisa bersatu, tetapi mereka selalu berjalan beriringan.
"Roh Yggdrasil, beritahu kami. Apa yang harus kami lakukan?"
.
.
.
.
__ADS_1
"Hancurkanlah Hollow dan selamatkan masyarakat Gala."