Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Apakah Ini Sebuah Tekad? Atau Hanya Tegar?


__ADS_3

Dunia tanpa batas dan dinding, dengan warna putih awan disertai taburan 'bintang-bintang jatuh', sudah tiga tahun sejak Zeeta terakhir kali mengalami ini. Terakhir kali ia berada di dunia semacam ini, adalah ketika ia mengucapkan salam perpisahan pada leluhur-leluhurnya; Clarissa, Iris, Roze, dan Velvet, sebab dirinya yang sudah berhasil mengalahkan dan 'menyegel' kebencian dua ratus tahun Marianna a.k.a Lucy.


Zeeta telentang di sana, memandangi bintang jatuh yang seakan tak ada habisnya atau bahkan jatuh melukainya. Ia teringat tentang dirinya yang lain dan apa yang hendak dilakukannya sebelum ia berakhir di sini.


"Perjalananmu masih belum berakhir, lho." Sebuah wajah mendadak masuk dalam pandangan Zeeta. Ia segera terbelalak.


"Ma-Marianna?!" Zeeta lantas bangun. "Ke-kenapa...?!"


"Karena ini adalah waktunya aku membantumu."


Zeeta tersenyum kecut. "Aku lelah." Ia kembali bertelentang.


"Hmm. Tidak mengherankan. Aku juga pasti akan begitu." Marianna duduk di sebelah Zeeta. "Berjuanglah sedikit lebih lama lagi. Kami akan membantumu."


"Kami...?"


Tidak menjawab pertanyaan Zeeta, Marianna mengucapkan, "Setelah bangun nanti, bicaralah dengan para Roh Kuno."


Kemudian, tidak lama setelah itu, dunia tanpa batas ini perlahan meredup, dan perlahan-lahan Zeeta membuka mata. Ia berada di bawah langit-langit yang ia kenali—kamarnya sendiri. Otaknya masih tidak bisa mengikuti kronologis yang menyebabkannya bisa berakhir di sini.


"Kukira kau tidak akan pernah bangun." Zeeta mendengar suara gadis yang terkesan familiar. Ia menoleh ke sumber suara.


Zeeta melihat gadis berambut hitam dengan pakaian tradisional timur. Ia menjepit rambutnya dengan sebuah sumpit besi. Gadis ini duduk santai di jendela yang dibiarkan terbuka lebar.


"Siapa?" tanya Zeeta singkat.


"Benih Yggdrasil. Yang selalu kaucari."


"Hmmm...."


"Apa? Kau tidak ingin mengamankan Batu Jiwa yang sudah berhasil kami dapatkan lagi?"


"Berikan saja itu pada Ozy."


Gadis berambut hitam itu—Hitomi Reiko—bungkam sesaat memandangi Zeeta. Kemudian, ia menatapi langit biru di siang yang menyilaukan.


"Sebelum kau benar-benar menyerah, lihatlah dulu ke luar. Aku pastikan takkan ada yang melihatmu sudah siuman begini."


Tertarik dengan ucapannya, Zeeta bangun dan melihat. Ia segera terpukau dengan pemandangan bunga-bunga bak tak ada ujungnya itu.


"Semua rekan-rekanmu yang telah menghadirkan pemandangan ini. Ada juga kakakku, Arata Akihiro, demikian pula denganku dan Roh Yggdrasil-ku."


"Begitu, ya.... Kalian memakai Vanadust."


"Kau ... sudah tahu tentang itu?"


"Ya. Seele memperlihatkannya padaku." Zeeta menyentuh anting bulannya.


"Hmm...."


Zeeta sadar tentang sesuatu setelah melihat pemandangan di luar. "Kenapa suasananya sepi?"


"Karena saat ini dunia sedang terpukau oleh hamparan bunganya. Ada yang bertamasya, ada pula yang memakai waktu mereka untuk berkabung. Kerajaan Aurora ... juga sama. Mereka memahami Tuan Putrinya yang butuh istirahat dan mereka sengaja beraktivitas menjauh dari istana."


"Jadi begitu...." Zeeta duduk di hadapan Hitomi. "Katakan padaku. Ada banyak orang yang mati saat aku meluapkan mana-ku, bukan? Aku ingat alam merespon amarahku."


"Aku tidak tahu. Tapi, Zeeta, yang perlu kaupikirkan bukanlah berapa nyawa yang telah mati, melainkan bagaimana semuanya bisa kembali seperti ini. Kemudian, kita bertiga akan menghadapi Akhir Dunia itu."


Zeeta menyelipkan beberapa helai rambut yang tertiup angin ke balik telinga kanannya. "Aku belum siap menghadapi diriku yang lain.


"Aku mengerti kenapa dia menjadi seperti itu dan aku takut kembali meledakkan mana-ku seperti saat itu.


"Aku muak, kautahu?


"Dengan diriku sendiri ... dan mereka yang terlalu tinggi menilaiku.


"Sejak dulu, bahkan sebelum aku mengetahui siapa diriku sendiri, aku selalu menjadi orang yang penakut. Untuk mengatasi rasa takut itu, akupun menjadi kuat.


"Setelah semakin kuat, orang-orang semakin berharap padaku dan aku memang berusaha untuk menjawabnya.


"Tapi pada kenyataannya, aku hanyalah Manusia. Sihirku bisa melakukan banyak hal, tetapi aku HANYALAH Manusia.


"Aku sadar, yang mereka harapkan dariku bukanlah tentang diriku yang sebenarnya, tetapi sihirku yang kuat.


"Mereka tahu jika aku ada, sihirku pasti bisa menyelamatkan mereka.


"Dan itulah yang membuatku muak.


"Diriku yang memiliki kekuatan besar ini jugalah yang membuatku muak.


"Harapan, keputusasaan, cahaya, kegelapan, kehidupan, dan kematian.... Semua itu lama kelamaan menjadi hambar di dalam diriku.


"Aku menanggalkan semua yang kuinginkan dan menjawab apa yang dunia inginkan.


"Tapi?


"Lucunya, mereka masih berharap aku bisa melakukan sesuatu untuk mereka."


Zeeta menggertak giginya, lalu berdiri tanpa merasa takut akan ketinggian sama sekali.


"AKU INI BUKANLAH DEWI, DASAR DUNIA YANG TAK TAHU TERIMA KASIH!

__ADS_1


"AKU INI MANUSIA! AKU BUTUH ISTIRAHAT, AKU BUTUH MAKAN DAN MINUM....


"AKU JUGA INGIN PERCINTAAN!!!!


"TAPI KALIAN TIDAK INGIN AKU MERASAKANNYA, BUKAN?!


"KALIAN INGIN AKU JADI 'PENYELAMAT', MERINGANKAN BEBAN HIDUP, DAN KETAKUTAN KALIAN!


"BERPIKIRLAH SEDIKIT DENGAN OTAK UDANG KALIAN!


"KALAU AKU TIDAK BISA MELAKUKANNYA, MAKA KALIAN PASTI AKAN MENYALAHKANKU, 'KAN?!


"DASAR BODOH!!!!!"


Zeeta terengah. Sebelum duduk kembali, ia mengatur napasnya terlebih dahulu. "Asal kautahu, kau masih bertanggung jawab karena sudah mengambil nyawa ibu Titania. Kalau sesuatu terjadi padamu tentang itu, aku takkan membantumu."


Hitomi tersenyum kecil. "Aku tahu. Dan maaf, itu terjadi begitu saja karena aku begitu kagum denganmu. Mana-mu yang bisa menggores Jötunnheim kala itu, benar-benar hebat."


"Kalau Titania mendengarnya, kau pasti sudah habis. Ayo." Zeeta menyuguhkan tangannya.


"Hmm?" Hitomi menatap bingung Zeeta.


"Aku akan memasak."


Hitomi terkesiap, tak menduga mendengarnya. "Dasar...." Ia menjawab tangan Zeeta.


"Ngomong-ngomong," kata Zeeta kala mereka berjalan keluar, "berapa lama aku tak sadarkan diri?"


"Dua minggu."


"Geh?! Dua minggu?! Pantas saja aku sangat kelaparan....


"Baiklah, menu kali ini adalah Roasted Honey Beef ala Zeeta Aurora XXI!"


Sementara itu, tanpa diketahui Zeeta, saat ia berteriak mengeluarkan segala keluh-kesah yang tidak bisa diungkapkannya selama ini, dua adik sepupunya sedang berjalan menuju istana....


......................


Sebagai orang yang paling baru mengenal Zeeta, Hitomi tidak habis pikir dengan kelihaian Zeeta saat memasak. Memang dirinya tidak bisa menggapai mimpinya lagi ketika ia masih kecil, namun Zeeta masih menggunakan bakatnya dalam memasak itu dalam kesehariannya.


Selagi dirinya memasak, Hitomi juga menemani Zeeta dengan cerita-cerita sebelum dirinya bangun.


.


.


.


.


Tiada yang tidak bersuka cita dengan hamparan ini. Waktu juga seakan menjadi sekutu mereka, tatkala matahari menyapa mereka dengan kehangatannya. Semua yang terjadi semalam, dengan bermacam luapan emosi dari alam, bagaikan mimpi yang sangat-sangat buruk.


Kendati demikian, tetap saja ada mereka yang kehilangan. Walau bersuka cita, duka tetap menemani. Malam Neraka ... memang terjadi secara merata di Galdurheim.


Sedangkan, para Manusia belahan dunia lain ada yang menanggapi hamparan keajaiban ini dengan bermacam emosi. Mereka yang terlibat di garis depan, belum berhenti melihat keajaiban. Enam Batu Jiwa yang menyerap banyak jiwa-jiwa dari Tanah Kematian dan membentuk diri layaknya monster, ketika terkena hamparan dari Vanadust, hancur lebur dan membebaskan semua jiwa.


Tellaura, Azure, Mellynda, dan Aria melihatnya bersama, bagaimana dari salah satu monster yang sudah hancur itu, Luna seperti memasang aura pelindung pada jiwa Jourgan, Danny, Gerda, dan Serina agar tidak tertarik masuk ke dalam Tanah Kematian oleh jemputan para Flakka.


Meskipun itu merupakan hal yang bagus, tetap saja mereka yang menjadi pengecualian, jika ada yang mengetahuinya, akan terasa sangat tidak adil. Apa lagi, dengan banyaknya jumlah jiwa yang berada di Tanah Kematian, tentu saja mereka yang tinggal di dalamnya, tidak hanya para Flakka, namun juga penjaganya, Belle de Aurora.


"Hal seperti ini ... benar-benar bisa dilakukan...?" Tellaura tercengang. Ia melihat sendiri bagaimana tubuh kaku dan pucat pasi, serta luka-luka yang diterima keempat orang, juga Luna tentunya, tertutup lagi. Penutupan lukanya tidak berasal dari Luna, melainkan efek lain dari Vanadust. Tentunya, hal tersebut pun berlaku kepada Zeeta.


Tetapi, mereka yang saat ini lukanya sudah sembuh dan tetap melihat semuanya, tidak melihat adanya tanda siuman dari Zeeta—tidak seperti teman-temannya.


"Pokoknya, kita semua harus pulang dulu," saran Azure, "apa yang terjadi setelahnya, kita pikirkan nanti."


Semuanya setuju, sehingga mereka ciptakan sihir berbentuk awan kapas untuk membopong semua yang menjadi korban pulang.


Sementara itu, di sisi lain dunia, tepatnya di kerajaan bawah laut, Orsfangr, Xennaville sedang menjelaskan situasinya kepada Cynthia, sekaligus Hitomi Reiko melalui telepati.


Sama dengan yang dilakukan Siren saat ini kepada mereka yang telah membantu Klutzie. Mereka berdua menjelaskan inti dari apa yang telah dilakukan mereka dengan menggunakan Vanadust.


"Semua ini mungkin dilakukan berkat bantuan semua ras yang ada di dunia ini, yang saling bersatu untuk mencegah ramalan kami—ramalan Yggdrasil terjadi.


"Pada suatu masa, Manusia, Peri, Naga dan Raksasa yang berpihak pada Manusia—dengan kata lain terpisah dari Drékaheim dan Jötunnheim, hidup dengan damai.


"Mereka semua tahu apa yang akan terjadi di masa depan dan Vanadust-lah buah tangan mereka.


"Namun, perpecahan terjadi kembali dan memaksa semua ras yang sudah damai itu melupakan apa yang pernah dicapai mereka. Tetapi, mereka semua paham bahwa bukti dari bersatunya mereka tidak boleh dilukai apapun risikonya.


"Mereka yang telah mengetahui ramalan kami, tahu bahwa Akhir Dunia pasti akan terjadi suatu hari nanti, dan mereka yakin akan terjadi peperangan besar. Maka, yang harus dilakukan hanyalah satu.


"'Persiapan'.


"Dengan kata lain, peperangan besar tidak bisa dihindari, maka Galdurheim harus lebih kuat. Tidak hanya dunianya saja, namun penghuninya juga.


"Vanadust hanya memberi waktu lebih, tetapi jika sudah muncul keretakan lagi pada langit, maka Ragnarok telah tiba."


......................


Piring untuk dua orang sudah habis, demikian pula gelas yang berkeringat, yang hanya menyisakan beberapa tetes sisa renjie dingin. Dua gadis dari negeri yang berbeda itu kini sedang di dapur istana tanpa ada satupun orang di sana. Mendengar semua cerita dari Hitomi, membuat Zeeta teringat lagi pesan Marianna sebelum ia sadarkan diri.

__ADS_1


"Kak Zeeta!"


Kedua gadis itu terpancing untuk menoleh ke sumber suara, yang berasal dari salah satu si kembar, Ella. Melihat kedatangannya, juga Edward yang membuntuti saudarinya, membuat Zeeta berdiri untuk menyambut. "Hai. Lama tidak bertemu, kalian berdua!" ia menunjukkan senyumnya.


Tanpa bicara apapun lagi, Ella segera mendekap erat kakak sepupunya itu. "Sudah cukup bagimu untuk terus berlagak kuat, Kak!"


Zeeta tersentak. "Kenapa kau berpikir begitu?"


"Kami mendengar jeritanmu tadi," jawab Edward, "kami khawatir padamu dan ingin menjengukmu hari ini."


Zeeta tersenyum lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ahahaha, aku ketahuan, ya...."


"Sejujurnya, Kak...." Ella mendongak, namun masih dalam posisi mendekap. "Kami harus mengatakan sesuatu yang penting padamu."


Wajah serius Ella walau ia menahan tangisnya untuk membasahi pipi, direspon serius oleh Zeeta.


"Duduklah." Zeeta mempersilakan.


Tidak membuang-buang waktu, Edward dan Ella bercerita tentang apa yang harus dilakukan mereka jika Zeeta nanti berhasil mendatangkan kemenangan atas Ragnarok.


Zeeta tersenyum, perlahan-lahan tertawa terbahak-bahak. "Hahahahahaha!


"Membunuhku...?


"Itukah tugas kalian sebagai seorang Levant? Benarkah? Hahahaha!"


Edward dan Ella saling tatap, kehabisan kata-kata melihat Zeeta tergelak seperti ini, bahkan sampai menitikkan air mata. Serupa juga dengan yang dialami Hitomi.


"Ah, maaf...." Zeeta menghapus air matanya. Dia kemudian berdiri ke hadapan dua adiknya, lalu menepuk kepala mereka. "Tidak akan kubiarkan kalian mengemban beban seperti itu. Yang harus kalian lakukan bukanlah hal menyedihkan itu, tetapi melindungi Aurora.


"Dunia yang kudambakan tidak terlihat oleh visi leluhur Levant. Anggap saja seperti itu. Lagi pula, sumpah kalian tercipta karena orang-orang lampau itu, bukan?


"Tapi pahamilah ini. Kalianlah Levant di masa ini. Kalian bukan lagi anak-anak dan aku yakin sudah bisa membuat keputusan. Jangan biarkan ada yang mengatur layar kehidupan kalian! Putuskanlah sendiri!


"Juga, tentang kutukan yang mengekang kalian saat dua belas tahun?


"Hah! Kalian cukup ganti kutukan itu menjadi kekuatan!"


"Ba-bagaimana caranya kami bisa melakukannya?" tanya Ella.


Zeeta menyeringai. "Jika aku memberitahunya, itu tidak akan menjadi alasan kalian untuk bertarung, bukan? Temukanlah jawabannya bukan untukku, tapi untuk kalian sendiri.


"Jika selama ini kalian bisa lebih kuat tanpa aku, maka aku percaya jawaban itu pun bisa kalian dapat!"


Zeeta benar-benar memberi senyumnya yang seperti biasa. Mata adik-adiknya berbinar, keduanya sangat mengagumi Zeeta.


"Sekarang, kembalilah. Aku akan menyusul kalian setelah bebersih diri, oke?"


"Uhm! Sampai nanti, Kak Zee!" seru Ella semangat.


"Sampai nanti!" sambung Edward senada.


"Ya, sampai nanti!" Zeeta melambaikan tangannya. Ketika keduanya sudah dirasa cukup menjauh....


"Hitomi," panggil Zeeta.


"Hmm?" tanya Hitomi yang tersenyum setelah melihat interaksi antar keluarga di depannya itu.


"Aku akan bersiap." Matanya yang menyipit, yang segera dibalas anggukan oleh Hitomi.


"Baiklah."


"Aku tidak tahu kapan persiapanku ini bisa selesai, tapi aku butuh waktu. Jika sampai saat itu tiba, aku belum...."


Hitomi mengerti maksudnya. "Akan kuusahakan.... Tidak, KAMI usahakan. Apapun yang kauperlukan ... selesaikanlah."


Zeeta tersenyum. "Terima kasih. Sampai jumpa." Zeeta lalu berjalan meninggalkan Hitomi.


"Ah, tunggu!" cegat Hitomi, yang terlihat kelupaan sesuatu.


"Hmm?"


"Tolong, katakan padaku.... Andaikan....


"Andaikan kita memang berhasil memenangkan Ragnarok dan menumbuhkan kembali Yggdrasil, apa yang ingin kaucapai?"


Zeeta membalik tubuhnya, mengatakan semuanya tanpa merahasiakan apapun.


Hitomi lantas senang mendengarnya. "Begitu, ya.... Uhm. Itu indah sekali."


"Sudah, 'kan? Kalau begitu, sampai jumpa, Hitomi."


"Ya, sampai jumpa," balas Hitomi, yang kemudian mengubah ekspresinya. Ia menunduk, mencengkeram tangannya. "Dia benar-benar kuat.... Setelah semua itu, dia masih berusaha untuk tetap tegar? Tapi, apa memang iya...?


"Jika begitu, aku harus benar-benar bisa menjawab permintaannya.


"Kuakui, aku salah. Pemikiranku yang ingin memaksa Galdurheim berubah setelah diserbu Jötunnheim, tidak lagi berlaku. Mau seperti apapun dipaksa untuk berubah, Manusia akan selalu tetap menjadi Manusia.


"Mereka arogan, kasar, jahat, tidak memiliki hati, kejam ... tetapi selalu saja ada yang berbanding terbalik....


"Aku ingin membuktikan kalau Zeeta memanglah harapan yang dibutuhkan dunia! Oleh sebab itu, aku pun harus ikut semakin kuat!"

__ADS_1


__ADS_2