
Sebuah taman luas yang terawat dengan baik ada di atap kediaman Levant. Dari bugenvil, bunga sepatu, palem, hingga bambu kuning, hidup di tamannya. Di sana, ada Claudia yang sedang melayang dalam pikiran. Ia duduk di sebuah bangku taman lebar, ditemani mentari hangat setelah beranjak dari waktu sarapan.
"Aku terlahir dari keluarga bangsawan terendah dalam hal kedudukan, yaitu Baron. Oleh karena itu, kami terbiasa menjadi 'pesuruh' oleh bangsawan di atas kami.
"Meski disebut bangsawan, Baron tidaklah memiliki begitu banyak aset. Jika harus gamblang, akulah aset bagi keluargaku.
"Pengetahuan luas, ketegasan, juga kemampuanku dalam bersihir adalah satu-satunya kebanggaan kami.
"Aku kenal dengan Alice ketika dia masih di Akademi Dormant, sedangkan aku belajar di sekolah biasa. Suatu ketika, Alice mendatangi kediaman kami untuk 'keperluan pribadi'-nya setelah dia mendengar kabarku dari Grand Duchess, Nyonya Ashley.
"Awalnya, aku tidak begitu ingin ikut campur dalam masalah bangsawan utama. Ini tidak berarti mereka melakukan suatu kekerasan pada kami, hanya saja kami merasa bangsawan utama tidak akan pernah melirik bangsawan rendah seperti kami.
"Aku salah total.
"'Keperluan pribadi'-nya adalah teman untuk dirinya bereksperimen sihir dari mana-nya. Ketika itu, dia sudah bertunangan dengan Kak Hazell Levant, jadi kami sering bertemu, termasuk dengan suamiku, Lowèn.
"Alice punya kekuatan yang sangat hebat, tapi dia tidak terlalu ingin menggunakannya dalam keseharian. Ia lebih tertarik untuk melakukan berbagai percobaan, bahkan guru sihirnya, Nyonya Ashley, terkadang ikut membantu.
"Harus kuakui, hasil percobaannya yang sukses selalu membuatku terpukau. Misalnya, dia bisa membuat ruang dimensi lain saat memecah sebuah botol kaca. Tekniknya untuk memakai botol dipakai Nyonya Ashley untuk keperluannya juga sebagai Grand Duchess.
"Dia adalah gadis ... sekaligus sahabat yang sangat kuhormati sejak saat itu, bahkan hingga saat ini.
"Ketika dia menceritakan ramalan Ratu Peri tentang anaknya, aku merasa begitu tidak terima. Siapa Peri itu seenaknya saja memberi ramalan? Firasatku bilang, Peri itu merencanakan sesuatu.
"Tapi aku terlalu terbawa emosi ketika aku mengetahui anak Alice dikatakan hilang oleh kedua mertuaku. Padahal aku tahu, dalam perjanjian mereka, sebelum waktunya tiba, Alice akan menghanyutkan Zeeta dengan sihirnya menuju sungai yang nanti diambil oleh mereka.
"Aku tak tahu apapun karena mereka merahasiakannya demi kesehatanku saat mengandung Edward dan Ella.
"Tapi syukurlah...."
Zeeta datang melalui pintu bersama dengan Edward yang "menguasai" tangan kanan Zeeta, sementara Ella di tangan kirinya.
"Ayolah, jangan lengket begitu, aku jadi susah berjalan.... Aku harus berpamitan dengan Bibi Chloe!" seru Zeeta.
"Eeeeh? Kalau begitu kami ikut!" celetuk Ella.
"Syukurlah kami masih bisa utuh sebagai keluarga...."
Claudia bangun dari duduknya lalu menghampiri anak-anak itu. "Kemarilah, Nak, Kak Zeeta punya tugas penting sebagai Tuan Putri," ujarnya.
"Tapi kami masih ingin maiiin! Iya, 'kan, Ed?" tanya Ella.
"Uhm." Edward manyun.
"Ahahahah, maafkan aku, tapi aku harus segera. Kalau semua keperluanku sudah selesai, aku akan main lagi dengan kalian." Zeeta mengelus kepala dua sepupunya.
"Apa itu sampai Kakak selesai mengatasi masalah istana?" tanya Ella.
"Uhm. Soalnya ... ada ibuku di sana!" Zeeta membalas dengan senyum sebagai bonus.
Claudia merasa terenyuh dengan senyumnya. "Betapa tegarnya anak ini meski masalahnya sebesar ini...," pikirnya.
"Kalau begitu ... apa boleh buat.... Kami tahu rasanya kesepian tanpa Mama..., ayo kau juga!" Edward menyenggol siku Ella.
Ella segera memeluk Zeeta. "Hati-hati, ya, Kak!" serunya dalam dekap.
"Tentu!" Zeeta membalas dekapan Ella.
__ADS_1
"Nah, anak-anak, kembalilah bersama Nek Aga, Mama masih harus bicara dengan Kak Zee."
Edward dan Ella mengangguk kemudian berkata, "Bye-bye, Kak Zee...." Dengan wajah lesu, mereka pergi meninggalkan atap sambil bergandengan.
......................
"Mereka imut sekali, ya, Bi?" tanya Zeeta berbasa-basi.
Tanpa menjawab Zeeta, Claudia kembali duduk ke bangku. Zeeta mengikutinya.
"Aku heran dengan kalian," kata Claudia, "kalian sangatlah berbeda dengan kesan pertamaku sebelum bertemu. Kukira Alice adalah Tuan Putri yang sombong, sedangkan kau adalah anak yang cengeng. Tapi aku salah."
"Kautahu? Aku sangat menghormati kalian. Aku tahu kita adalah keluarga, tapi aku merasa aku harus melakukan sesuatu demi rasa hormat ini."
Zeeta tersenyum kecil. "Tidak, Bibi tidaklaj salah."
"Eh...?"
"Aku memang cengeng, tapi aku bisa belajar. Kuyakin ibuku juga begitu. Dia juga belajar. Orang-orang di sekitarku selalu percaya bahwa aku mampu melakukan apapun karena mana-ku yang besar.
"Aku takut melukai dan mengkhianati rasa percaya ini, tapi seseorang berkata padaku, bahwa akulah yang memutuskan, apakah aku bisa memenuhi rasa percaya itu atau tidak.
"Aku sadar aku bisa. Aku juga selalu diajari oleh ayah angkatku untuk membantu siapapun. Kukira itu juga sama dengan keinginan ibu. Rasanya, meski kami berada jauh dan aku tak pernah bertemu dengannya, aku merasa dia melindungi dan mengawasiku melalui anting ini.
"Jadi, karena aku belajar, aku bisa seperti ini!" Zeeta melempar senyum manisnya.
Seketika, Claudia ingat sesuatu. "Kalau tidak belajar, mana bisa aku seperti ini!" pecahan ingatannya tentang Alicia muncul.
"Dasar...." Claudia tersenyum kecut. "Apa tubuhmu baik saja? Kau kehabisan mana kemarin setelah menyembuhkanku, bukan?"
"Uhm. Aku sudah terisi oleh cokelat panas dan pancake lezat dari Nenek. Lain kali, aku juga ingin makan masakan Bi—"
"Eh? Bibi tidak bisa...."
"Bisa! Aku bisa! Jangan remehkan aku! Tapi... entah kenapa hasil masakanku selalu hitam dan rasanya pahit. Padahal aku selalu mengikuti resep!"
"Uh-huh...."
"Ah, wajah ituuu! Kau tidak percaya, 'kan?"
"Ka-kalau begitu, karena aku malas guru Ashley mengomeliku, aku harus.... Zeeta berusaha kabur.
"Haaaahh... baiklah. Apa kau sudah pamit dengan kakek dan nenekmu?"
"Uhm."
"Oke. Berjuanglah. Ingat kata-kataku sebelumnya."
"Iya, terima kasih, Bi." Kemudian, Zeeta pergi dengan sihir terbangnya.
"Ah? Hei! Kau sedang pakai rok!" teriak Claudia yang telat menyadarinya.
"Tidak apa, aku akan menggantinya dengan sihirku di jalan!"
......................
Ashley sudah menunggu kedatangan Zeeta di Axel's Workshop dengan menyilangkan tangan dan menggoyangkan telapak kakinya tanda tak sabar. Tak lama kemudian, ia sampai setelah mengganti celana panjang dengan roknya tepat beberapa saat sebelum mendarat.
__ADS_1
Tak butuh basa-basi, Ashley menjitak Zeeta, yang disaksikan oleh semua orang di sana, termasuk pria dan wanita yang bekerja di bengkel Axel, yang kemarin datang atas undangan Zeeta.
"Sudah kuduga kau akan datang dengan cara tanpa etika! Harus kukatakan berapa kali, kalau kedatangan resmi seperti ini pakailah kendaraan!" umpat Ashley.
"Adududuh.... Maaf, aku juga tahu, tapi—"
"Tidak ada tapi!"
"Geh~" Zeeta diam-diam menjulurkan lidah.
"Apaan 'Geh' itu, hah?! Kau itu sudah membuat Axel dan Myra menunggu lima belas menit, waktu mereka berharga juga, tahu!"
"Ah! Ma-maafkan aku! Padahal aku yang membuat janji!" Zeeta segera menundukkan kepala.
"Tidak perlu sampai seperti itu, berlebihan sekali," balas pria berbadan besar nan pendek, Axel. "Lihat, kalian sudah jadi pusat mata hanya karena ini. Konyol sekali." Ia kembali masuk ke dalam bengkelnya.
"Ah... ahahaha.... Tolong maafkan dia, cara bicaranya memang kasar, tapi dia tidak bermaksud...." Myra memberi follow untuk situasi canggung ini.
"Oke...." Ashley dan Zeeta menjawab bersamaan.
......................
Setelah Zeeta dan Ashley masuk, mereka diajak Myra turun ke ruang bawah tanah yang harus melewati tangga melingkar sampai memakan waktu lima menit.
"M-Myra?" panggil Zeeta, "kemana kita pergi? Bukankah kita akan membicarakan tentang pembuatan alat sihir?"
"Uhm. Anda benar, karena itu Axel membawa kalian ke sini," balas Myra.
"Hooh...." Zeeta mengangguk. "Ngomong-ngomong, rambut perak itu indah, ya, kau tampak menawan sekali."
"Ya ampun, terima kasih pujiannya! Aku sangat senang!" tampak gemerlap di sekitar tubuhnya.
"Apa Axel adalah suamimu?"
"Hei! Tidak sopan!" bisik Ashley.
"HAH?! Pria tua itu suamiku?! Tidaktidaktidaktidaktidak TIDAK!" gemerlap tadi berubah jadi aura gelap. Raut wajahnya juga sama sekali tidak senang.
"Hei, apa yang kalian obrolkan? Cepatlah ke sini!" teriak Axel yang sudah sampai di tujuan.
"Grrrr.... sikapmu itulah yang membuatmu tidak populer!" gumam Myra.
......................
Axel dan Myra menuntun Zeeta dan Ashley ke sebuah pintu. Ketika mereka membukanya, Ashley dan Zeeta menjatuhkan mulut.
Sebuah peradaban. Peradaban yang terdiri berbagai macam makhluk, yang membuat rumah di kedalaman tebing. Tidak hanya itu, ada juga aliran sungai yang mengalir dari air terjun, hamparan rerumputan luas, dan pepohonan tinggi. Meski di bawah tanah, langit-langitnya bercahaya selayaknya di luar dengan hangatnya matahari.
"A-apa ini...?!" tanya Zeeta.
"Penduduk Bumi. Sama seperti manusia," balas Axel singkat.
"A-aku tahu! Tapi ada berbagai macam makhluk yang belum pernah kulihat! Bi-bisakah kausebutkan?!" Zeeta sangat bersemangat.
"Tentu. Salamander, Minotaur, Slime, Half-Elf, Dwarf, dan sisanya adalah makhluk sihir buatan Ratu Alicia."
"Eh? Eh?! Ha... Half-Elf?! D... Dwarf?! Makhluk sihir buatan ibu?!
__ADS_1
"Apa aku ada di dunia lain...?!"