
Bukit hijau dengan sungai mengalir tenang di sepanjang jalan, menemani perjalanan Gerda dan Serina menuju desa yang hancur karena sesuatu. Mereka percaya, desa hancur itu sebelumnya adalah tempat dimana salah satu Batu Jiwa dijaga. Mungkin saja, harap mereka, bisa menemukan satu-dua petunjuk di sana.
“Haaah ... haaahh ... HAAAAHHH…!” Gerda menghembuskan napas berat, seolah dirinya tak terima dengan apa yang harus ia lalui sekarang. Meski begitu, Elf berambut pirang pucat yang menemaninya sama sekali tak menggubris.
"Astaga ... sebenarnya apa yang sedang kaulakukan dari tadi, Serina?” sambung Gerda, “aku menurutimu karena kaubilang kau merasa ada jejak mana yang aneh di sekitar sini, tapi ... bukankah kita hanya berputar-putar di tempat yang sama?” Gerda bertanya sambil mengekori Serina dari belakang.
Perbukitan yang mereka lalui sebenarnya bisa dilewati dengan mudah jika mereka tetap terbang di udara—cara yang digunakan sebelum Serina menyadari ada jejak mana aneh di beberapa titik bukit—yang mau tak mau harus mereka selidiki satu per satu.
“Memutar-mutar?” tanya Serina, “mungkin kau benar.”
Gerda langsung berhenti dan segera ingin meledak-ledakkan emosinya. “Jangan ber—“
“Aku tidak akan tahu adanya jejak orang negeri Timur jika kita tidak memutar-mutar.” Serina menunjukkan sebuah pecahan zirah di tanah yang tersembunyikan oleh rerumputan.
“Ba-bagaimana bisa kau mengetahui itu ada di sana?” tanya Gerda, mengambil pecahan zirah dan melihatnya lebih teliti.
“Kaubisa mengandalkan aku jika masalah pencarian seperti ini. Ini adalah bidangku. Bertarung aku pun bisa, tetapi kuharap kau tidak meninggalkanku.”
Gerda menjawabnya dengan senyuman. “Meninggalkanmu? Jika sikapmu tidak teramat sangat menyebalkan, tahu diri, dan mau menjelaskan padaku tentang hal yang sedang kaulakukan, tidak seperti seorang bangsawan yang sangat kukenali, tenanglah saja!”
Serina juga membalas Gerda dengan senyuman. “Meskipun begitu, kau tetap menyayangi Zeeta, ya.”
Gerda langsung merona. “Ha-hah?! Si-siapa bilang ini ada hubungannya dengan Zeeta?!”
Serina terkekeh mendengar jawaban Gerda. “Baiklah,” katanya, “kita sudahi bercandanya, tujuan kita masih sedikit memakan waktu. Tapi seperti yang kita duga, negeri Timur memang mengambil Batu Jiwa dari desa yang dihancurkan itu.”
“Uhm,” jawab Gerda, “aku mengerti!”
......................
[Di salah satu lokasi dimana Batu Jiwa terlihat....]
Pantai.
Laut.
Samudera yang luas.
Bagian dari Bumi yang paling mendominasi planet, adalah sesuatu yang bagaikan permata, harta karun, emas, atau barang berharga lainnya yang tak pernah dilihat sebelumnya—sehingga membuat dua orang yang berdiri di pasir yang menimbun kedua kakinya itu tak kunjung berhenti menatap betapa luasnya “hamparan air” yang ada di hadapan mereka.
Sebuah tombak menancap di sebelah kiri seseorang dari mereka—seorang wanita Elf berambut pirang panjang bergelombang. Elf tersebut memiliki banyak bekas luka di kulit dan memiliki otot yang cukup kekar untuk ukuran seorang wanita. Seorang yang lain adalah lelaki berusia delapan belas tahun dengan rambut merah panjang yang lebat.
Meskipun salah satu dari keduanya adalah lelaki, tetap saja. Apa yang mereka lihat sangatlah berharga dan pertama kali dalam hidup. Tidak heran, keduanya nyaris menitikkan air mata.
“Siapa yang menyangka...,” ujar Elf wanita, Jourgan, “air bisa ada sebaaanyak ini!”
__ADS_1
“Aku hanya tahu dari buku koleksi ibu,” jawab lelaki berambut merah, Danny, “tapi tak kusangka akan sangat seindah ini....”
Waktu pun berlalu hanya untuk keduanya mensyukuri dan menikmati apa yang mereka temukan hari ini. Lalu, barulah mereka sadar sesuatu yang sangat penting.
“Hei." Jourgan memanggil. "Bagaimana...," lanjutnya, "cara kita menuju kemana Batu Jiwa itu berada, jika kita tidak bisa berenang?”
Namun, reaksi yang diberikan Danny tidaklah searah dengan Jourgan.
“Eh?” tanya Danny.
“Eh?” Jourgan yang bingung, balik bertanya.
“Eh?”
“A-apa maksudmu?”
“Ku-kuharap aku salah karena kau adalah pejuang Elf yang sangat kuat, juga gagah berani, dan aku sangat menghormatimu, tapi jangan-jangan ... kau tak bisa berenang...?”
Jourgan merunduk segera setelah mendengarnya. Dengan cepatnya, ia mengacungkan tombaknya ke leher Danny.
“U-uwah!” erang Danny begitu menghindar. “A-apa yang kaulakukan? Bahaya, tahu!”
“Be-berisik!" Jourgan menyembunyikan rona merah pipi dengan rambutnya. “Apa salahnya jika aku tidak bisa satu atau dua hal?!
“Lagi pula, jika ingin masuk ke dalam airnya, kita hanya perlu melapisi tubuh dengan sihir seperti gelembung saja, bukan?”
“Mungkin kau dan aku bisa mengalahkan Kraken itu, tetapi jangan lupakan adanya kemungkinan bahwa ialah yang melindungi Batu Jiwa-nya!”
“Gnnn....” Jourgan terdesak. “Kau benar. Kita tidak bisa sembarangan mengatasi masalah ini. Maafkan aku.”
“A-aku juga minta maaf, karena tidak peka.... Seharusnya aku tidak mengucapkan jika kau tak bisa bere—“
“Sudah, lupakan saja tentang itu!” tukas Jourgan.
......................
[Di tempat yang lain, Colette dan Lloyd....]
Keduanya berdiri mematung saat melihat lokasi dimana Batu Jiwa tujuan mereka berada—yaitu sebuah gua dengan kedalaman yang tidak berujung dan gelap gulita. Terlebih, mereka sampai di depan gua itu ketika hari menjelang malam, suhu yang dingin bukan main—yang tidak hanya datang dari angin, juga dari arah gua, entah apa alasannya, mau tak mau menyerang keduanya.
“Tidak ada cara lain,” ujar Lloyd memberi ide, “aku akan membuat medan penghalang di bagian sana.” Ia menunjuk ke bagian dalam gua. “Dan kau akan membuatnya di sini." Ia menunjuk tempat mereka berdiri. “Kita akan bermalam dulu,” pungkasnya.
“Ide bagus. Ayo lakukan,” jawab Colette, “tak kupikir jarak tempuhnya amat jauh ke selatan Aurora. Pantas saja Putri Zeeta selalu memaksa kami untuk punya stamina yang lebih....”
.
__ADS_1
.
.
.
Di saat yang sama, Novalius, Marcus, dan Mintia, berada di tempat yang cukup aneh. Tanah yang mereka pijaki saat ini tak ada bedanya dengan yang biasa mereka injak, namun satu langkah ke depan saja, semua adalah salju. Tak hanya itu, langit pun seolah terbelah dua. Dimana senja disatu sisi dan sisi lainnya adalah langit dengan warna kabut yang menyelimuti. Angin kencang yang meniup salju pun juga menambah kesan ekstrem di sana.
“Apa kalian memikirkan apa yang kupikirkan?” tanya Mintia.
“Jebakan,” jawab Marcus singkat.
“Atau mungkin saja memang iklimnya seperti ini,” tambah Novalius.
Mintia mengangguk. “Keduanya sangat mungkin, tetapi....” Ia berjongkok lalu mencermati saljunya
dengan sebuah cubitan lalu mengusap-usapnya. “Entah seperti apa hal yang menunggu kita di depan sana, tak salah lagi kita akan sulit untuk berkomunikasi atau berharap untuk bisa keluar dan menginjak tanah ini jika tidak berhati-hati.
“Laporkanlah ini, aku akan mempersiapkan apa yang setidaknya kita butuhkan di sana.”
Marcus dan Novalius mengangguk, segera melaksanakan perintah teman mereka. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang menyadari... bahwa dari kejauhan di dalam badai saljunya, ada sepasang mata merah yang sedang mengawasi.
.
.
.
.
Malam hari, adalah waktu dimana Mellynda dan Azure tiba di tujuan mereka, yaitu tempat creepy, yang membuat bulu kuduk langsung berdiri begitu melihatnya. Tak hanya tiadanya jejak kehidupan di dalam desa yang mereka temukan, hawa dingin yang menghembus pun menemani seramnya tempat itu.
“Ka-Kak Azure...?” panggil Mellynda. Ia mendekap lengan kiri Azure dengan sangat erat, seakan-akan tidak ingin lepas darinya.
“Apa?” tanya Azure, yang sama sekali tidak terpengaruh oleh suasana mencekamnya.
“A-a-a-apa benar tujuan kita ada di sini? Ti-tidakkah kaupikir ini terlalu aneh untuk menempatkan Batu Jiwa di tempat menyeramkan begini?”
“Kau benar. Ini aneh.” Azure melirik kanan dan kirinya. “Tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali ... desa ini seperti ditinggalkan selama puluhan tahun....”
“Na-naah... ka-kalau begitu, ayo kita mundur dulu, bermalam, lalu kembali lagi besok, bagaimana? Ma-malam-malam begini, dengan dingin seperti ini, kuyakin akan menyulitkan pencarian kita....”
Azure mengernyit, melirik lagi kanan dan kirinya. “... ya .... kau benar.”
Tidak lama kemudian, mereka berbalik dan mencari tempat untuk bermalam. Begitu mereka mulai berjalan, keduanya mendengar tawa yang terkekeh. Meresponnya, Mellynda langsung histeris—berteriak sekencang-kencangnya dan berlari terbirit-birit meninggalkan Azure sendirian.
__ADS_1
Seolah tak terpengaruh, Azure hanya berjalan seperti biasa meninggalkan desa super creepy itu.