
Hari yang cerah, hari yang sedang bersahabat dengan para penduduk Bumi, mulai menunjukkan perubahannya. Gelap, berangin cukup kencang, dan air membasahi dengan rintik secara perlahan. Seakan-akan, alam memberi pertanda bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk pada mereka yang sedang terlibat "kekacauan". Kepada Alicia, kepada Ashley, Willmurd, Hazell, beserta teman-temannya yang lain.
.
.
.
.
Kerajaan Aurora lima belas tahun yang lalu, sedang terjepit oleh ancaman dadakan dari makhkuk sihir yang berjumlah nyaris seratus. Mereka sedang berhadapan dengan Manusia-Manusia yang dipimpin oleh Ratu Aurora, bersama Albert muda yang masih berseragam dan berdiri di sebelah Ratu-nya dengan wajah yang amat sangat takut. Pasukan Manusia—yang terdiri dari ratusan prajurit kerajaan, telah siap di masing-masing tempat, mengelilingi tembok kerajaan dengan meriam sihir dan Buku Sihir mereka.
Makhluk-makhluk sihir tersebut—Erigona—tersenyum lebar saat merasakan begitu banyak mana besar di hadapan mereka. Tidak hanya dari Ratu dan pria muda di sebelahnya, namun dari dalam tembok kerajaan juga.
Scarlet sedang berdiri tegap menyilangkan tangannya. Ia menghela napas panjang setelah melihat langsung wujud makhluk sihir yang sedang mengancam nyawa putrinya tersebut. Sosoknya yang dijuluki Ruby Berkobar, tercermin kala itu.
Angin kencang menerpa rambut merah panjangnya, mata merahnya yang menatap musuh-musuh di langit tanpa gentar, juga dengan postur tubuhnya. Siapapun dapat merasakan bahwa Scarlet bukanlah Ratu yang bisa disepelekan.
Menanggapi hela napas panjang tersebut, salah satu Erigona terpancing emosinya. "Kau... meremehkan kami?" tanyanya.
"Albert, jika ibumu sudah pulang nanti, lekas beritahu dia agar segera temui aku. Aku kecewa dengannya," ujar Scarlet. Ia mengabaikan makhluk sihir yang nyaris membunuh tiap penduduk kerajaan yang dibawa oleh Willmurd dan Ashley. Ratu iti bahkan enggan bertatap mata dengan musuhnya.
"Ke-ke-kecewa...?! A-apa Anda akan... memecat...," Albert yang tidak berani mengucap akhir katanya, memelankan suaranya.
"Hah?! Kau ini seorang PRIA!" Scarlet memukul keras punggung Albert.
"A-aduh!" erang Albert.
"Apa kaudengar?!" Scarlet memukulnya sekali lagi.
"I-iya! Aku dengar! Aku akan memberitahu ibu!"
"Bagus." Scarlet mengangguk. "Nah, jadi sekarang... lihat aku dan contohlah aku, Albert. Jangan mengecewakan aku atau Alicia nanti ketika dia sudah jadi Ratu, apabila di masa depan kalian mengalami masalah seperti ini." Rambut merah Scarlet perlahan melawan arah gravitasi, kemudian aura merah gelap melapisi tubuhnya. Lalu, ia terbang mendekati Erigona-Erigona tersebut.
"Meskipun mereka adalah makhluk yang bisa menyerap sihir, hanya satu yang perlu kaulakukan... jangan beri mereka kesempatan untuk menyerapnya," kata Scarlet ditengah terbangnya mendekati Erigona. Ia mengatakannya dengan santai, terbangnya pun tidak tergesa-gesa, yang justru memantik kekesalan musuhnya semakin besar.
Ketika Scarlet semakin mendekati Erigona, mereka tiba-tiba tampak panik dan ketakutan—sangat berbeda dengan beberapa saat yang lalu, dan ketika mereka sedang berhadapan dengan Alicia dan rekan-rekannya.
Scarlet berhenti setelah berada tepat di depan mereka. "Kalian... apa kalian tahu gara-gara kalian, aku jadi harus melakukan hal ekstra demi keselamatan rakyatku...?
"Tidak.... Aku salah. Ini bukan salah kalian, tapi si Morgan sialan itu...."
Mendadak, tubuh-tubuh musuhnya tertarik ke tanah, namun mereka masih bisa melawan.
"Si-siapa kau sebenarnya?! A-a-apa-apaan mana gila itu?!" seru salah satu Erigona.
"Aku? Hmph." Scarlet tersenyum, kemudian ia memakai butiran sihir berwarna-warninya untuk membuat bola-bola kecil yang sewarna dengan sihirnya, sesuai jumlah Erigona yang ada.
"AKU ADALAH RATU AURORA KESEMBILAN BELAS, SCARLET!!" Kemudian Scarlet melepaskan bola-bola kecil terserebut.
Bola-bola kecil itu hinggap di titik yang sama—yaitu perut mereka—yang terdapat inti sihir. Bola itu hinggap begitu saja—menunggu "perintah" lanjutan tuannya.
Memalui pandangan mata Erigona yang masih tertarik oleh gravitasi lebih besar yang hadir pada sekitar mereka saja, mereka melihat mata Scarlet bercahaya merah yang disertai seringai lebarnya. Hal itu semakin membuat mereka ketakutan.
"Sebelum kalian lenyap, Morgan, aku tahu kau bisa melihatku dari mata mereka. Sayang sekali, ya, ini sangat tak sesuai keinginanmu!
"Apa kau sudah lupa jika aku serius, aku tak segan dengan siapapun lawanku—bahkan jika itu putriku sendiri?
"Tampaknya kau juga lupa, tanpa bulanpun, sihirku masih bisa menandingi kalian para Peri! Camkan ucapanku saat ini.
"Jangan pernah...! Jangan pernah sekalipun lagi kau menginjakkan kaki di Aurora, Morgan. Jika tidak ... kau akan terima akibatnya!"
'KLIK!'
Scarlet menjentikkan jemarinya. Perut para Erigona seakan luntur—berubah menjadi debu. Tanpa bisa berkutik, Erigona yang sebelumnya datang dengan penuh percaya diri, lenyap begitu saja oleh seorang Manusia.
__ADS_1
Demikian pula dengan prajurit sihir dan Albert yang ada di belakang mereka. Mereka telah mengukir jelas di dalam hatinya, meskipun Scarlet adalah orang yang teramat sangat galak dan sering menggelegar ketika berbicara, dialah yang paling mementingkan keselamatan rakyatnya.
Sementara itu... di sebuah hutan... Peri berambut putih pucat, bermata merah, dan bersayap enam helai, serta menjatuhkan butiran mana hitam, menggertakkan giginya terus menerus.
"Manusia... Manusia itu sungguh keterlaluan! Apanya yang 'aku lupa jika dia bisa menandingi kekuatan Peri...'?!
"Dia bahkan baru saja menunjukkannya!
"Jangan bercanda, sialan!!!
"Jadi selama ini... dia menyembunyikan sihir sebesar itu dari mataku?!
"Sial, sial, siaal!!"
Morgan, Peri laki-laki yang menjadi dalang atas kejadian Erigona berbentuk sempurna itu, tengah berkubang dalam perasaan kesal, amarah, dan tidak terima atas apa yang terjadi padanya.
"Itulah akibatnya jika kau memilih lawan yang salah," suara seseorang mengagetkan Morgan.
"Kau?!" Morgan segera menoleh ke arah suara. Ia kaget.
"Sssst...." Sosok itu memberi tanda diam dengan telunjuk di bibirnya. "Permainannya belumlah usai, Morgan."
"Heh...." Morgan tersenyum jahat.
......................
Di pertarungan Ashley dan Erigona yang asli, Ashley merasakan ledakan mana milik Scarlet. Ketika itu Ashley telah memberikan banyak luka yang tak kembali tertutup di beberapa bagian di Erigona. Diantaranya dua tanduk di kepalanya sudah patah dan batang runcing di punggung yang juga telah patah. Tubuhnya juga dipenuhi oleh luka lebam dan lecet.
"Wuah... tamatlah riwayatku.... Scarlet sudah marah!" batin Ashley, "harus segera kuselesaikan!"
Sementara Ashley kepanikan, Erigona itu emosi. "Kenapa?! Kenapa lukaku tidak beregenerasi?! Kenapa aku tidak bisa menyerap kekuatanmu?! Kenapa kau jadi lebih kuat dari sebelumnya?!"
Tidak menjawab pertanyaan Erigona, Ashley kemudian membesarkan aura merah kejinggaannya. Setelah itu, ia membentuk jari telunjuk dan ibu jari tangan kanannya layaknya sebuah pistol, lalu ia memunculkan lingkaran sihir seukuran jarinya di depan telunjuknya.
"Inilah akhirmu, Erigona."
Ashley menembak seperti sebuah peluru ke arah perut Erigona. Perlahan-lahan, Erigona itu retak... dan terus retak.... "Sial, sial, sial! Seharusnya ini tidak terjadi!" erang Erigona sebelum benar-benar hancur berkeping-keping.
"Fuuuuh...." Ashley menghilangkan auranya. "Aku harus mendapat banyak omelan dari Scarlet...? Ogah, deh, ah...." Ashley mengatakannya sambil kembali berkumpul ke Willmurd berada bersama murid-muridnya.
......................
"APA-APAAN INIII?!" seru Ashley. Ia melihat tanah yang terbelah menjadi jurang yang sangat dalam—yang disebabkan oleh Hazell.
Alicia, Arthur, Porte, Hazell, dan yang lain sudah berkumpul. Murid-murid yang lain, Arthur, Hellen, dan Willmurd, sudah baik-baik saja setelah diberikan penyembuhan lanjutan oleh Alicia.
"SIAPAPUN PELAKUNYA, MAJU KE SINI!" teriak Ashley.
"I-itu aku, Grand Duchess...." Hazell maju dengan kepala tertunduk.
"Levant, kah?!"
"I-iya...."
"Apa kau tidak tahu sihirmu itu sangat berbahaya?! Hutan di bawahmu itu juga memiliki kehidupan tahu! Mengapa kau harus repot-repot sampai memakai sihir sebesar ini, hah?!" Ashley mengoceh habis-habisan Hazell.
"So-soal itu... aku terbawa emosi.... Maafkan aku." Hazell menyesali perbuatannya.
"Haaah...." Ashley menghela napas. "Alicia, kau baik? Tak ada yang buruk setelah melawan Erigona?"
"Ti-tidak, Guru! Aku juga ingin minta maaf. Gara-gara kenaifanku... semuanya jadi kacau...."
"Soal itu, aku takkan bilang apapun. Tapi, Scarlet takkan diam saja. Persiapkan dirimu."
"Hiiih?!" Alicia bergidik ngeri.
__ADS_1
"Baiklah, semuanya bubarkan diri kalian. Alicia, aku akan bertemu denganmu lagi. Aku juga pasti akan diomeli Scarlet."
"Ahahah.... Mari kita semangat, Guru." Alicia menjawabnya sambil menjatuhkan peluh dari pelipisnya.
"Garren, kau tetaplah di sini." Ashley berwajah serius.
"Aku tahu," jawab Garren. Ia tidak menatap Ashley, juga cemberut.
Kemudian Arthur, Hellen, dan murid lainnya, beserta Willmurd, kembali ke kerajaan dengan sihir teleportasinya Willmurd. Arthur memegang bahu Willmurd, kemudian bahu Arthur dipegang Porte, lalu dilanjutkan dengan saling memegang bahu atau tangan pada murid yang lain.
"Garren, ini semua takkan terjadi apabila kau tidak sembrono menyerang Erigona." Ashley memulai ceramahnya. "Katakan padaku, mengapa kau mengabaikan peringatanku?"
"Cih... aku tidak mengabaikannya! Aku hanya berpikir jika air dalam jumlah banyak pasti tidak bisa diserapnya, itu saja!" Garren tetap tak mau bertatap mata dengan Ashley.
"Bukankah kau sudah belajar, apapun yang dibentuk oleh sihir, tetaplah sebuh sihir yang mengandung mana?"
"Sudah."
"Lalu kenapa?"
"Baiklah, baiklah! Aku mengaku ini salahku. Aku lalai karena sudah menyerangnya tanpa berpikir!"
"Begitu. Kau sudah berjuang dengan baik, Nak Garren. Kembalilah ke kediamanmu, orang tuamu pasti khawatir."
"Aku tahu."
Tanpa disadari mereka, dari kejauhan, Morgan memandangi perilaku Garren. Ia tersenyum lebar.
......................
"Dan... tamat. Begitulah bagaimana kisahku bisa jatuh cinta dengan Arthur." Hellen, tiga puluh dua tahun, single, dan seorang kepala bangsawan Cloxzar, telah bercerita nyaris tiga jam penuh.
"Jadi... sebenarnya Erigona itu mudah diatasi meskipun dalam bentuk sempurnanya?" tanya Zeeta.
"Yah... untuk pemula, sih, sangat sulit. Kecepatan tubuhnya ketika bergerak, kecepatan regenerasinya, serta kuatnya sihir yang dikeluarkan, tentu saja membuat kami kewalahan.
"Namun, yang membuat ratu Scarlet, nenek Anda sangat marah, adalah nyonya Ashley gagal melindungi kami dan membuat kami terluka padahal nyonya Ashley, jika serius, ia bahkan bisa menghancurkan lima buah pulau besar yang dipenuhi Erigona itu sekaligus!"
"Eeh?! Guru Ashley sekuat itu?!" Zeeta terkejut, begitu juga dengan wajah Selen.
"Tapi, Nyonya Ashley masih bukan tandingan Ratu Scarlet. Pokoknya, beliau benar-benar... SANGAT... bahkan diluar nalar kuatnya!"
"Waah... entah kenapa aku jadi takut.... Tapi, dimana nenekku sekarang berada? Apa dia juga terkurung di istana?"
"Tidak." Raut wajah Hellen yang riang langsung murung. "Ratu Scarlet ... tiba-tiba saja hilang tiga tahun setelah kejadian Erigona itu."
"Eh...? Hilang...?"
"Ya. Aku tahu kejadian itu," tukas Selen menimbrung. "Waktu itu aku masih lima tahun, Kak Hellen baru saja pulang setelah menghadiri pernikahan Ratu Alicia. Aku masih ingat dengan jelas, tiba-tiba saja, di atas istana muncul sebuah lingkaran hitam yang sangat besar.
"Lingkaran hitam itu menyerap apapun yang ada dibawahnya. Anehnya, orang-orang tidak terangkat namun hanya seperti kaca, pepohonan, dan barang-barang istana saja!"
"Ya. Lingkaran hitam itu kami sebut Portal Hitam. Satu-satunya orang yang hilang dihisapnya adalah Ratu Scarlet," tukas Hellen.
"Begitu, ya...." Zeeta tampak murung. Padahal ia sudah berharap untuk bertemu dengan keluarga kandungnya yang terdengar sangat memukau itu.
"Baiklah, kalau begitu ayo lekas tidur. Anda belum pernah tidur bersama dua wanita cantik, bukan?"
"Eheheh... kau benar! Aku justru bersemangat sekarang!" Hellen berhasil mengalihkan pikiran Zeeta.
Zeeta lekas tidur di kasurnya lalu menarik selimut, disusul oleh Selen tidur di sebelah kiri, dan Hellen di sebelah kanan Zeeta.
Hellen mengangkat kedua tangannya, kemudian bertepuk dua kali. Chandelier-nya mati dengan sendirinya.
"Selamat tidur, Hellen, Selen." Zeeta mengatakannya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Ya, selamat tidur, Yang Mulia." Hellen dan Selen mengucapkannya bergantian.