
Zeeta menciptakan sebuah lingkaran dengan gabungan beberapa huruf Rune di hadapan Marianna. Lingkaran Rune itu berwarna merah kejinggaan—berbeda dari lingkaran sihir biasanya yang berwarna biru-putih. Di bagian tengah lingkaran itu terdapat Rune Jera, kemudian di sisi-sisi lingkarannya ada Raidho, Wunjo, dan Laguz.
...Rune Jera...
...Rune Laguz...
...Rune Wunjo...
...Rune Raidho...
Bermula dari bersinarnya Jera, pergerakan Marianna terikat total oleh suatu rantai merah yang tak bisa dilihatnya. Rantai ini muncul dari Rune Jera tersebut. Setelah terikat, Marianna terbelalak seperti melihat sesuatu—yang kemudian diikuti oleh bersinarnya Laguz, Wunjo, lalu Raidho.
“Ketika kau memejamkan matamu, apa gerangan yang telah kaulupakan, kuharap kaubisa beritahu aku, Mary....
“Karena ini semua ... demi mengakhiri semuanya.”
......................
Sebuah pemandangan terlihat asing untuk seseorang. Bulan menjadi satu-satunya penerangan di sebuah hamparan rerumputan yang dipisahkan oleh sungai yang membentang dengan deru lembutnya. Di seberangnya, terdapat hutan ... yang tak bisa disaksikan oleh mata orang biasa. Mata orang ini bisa melihat aura dan mana tak biasa dari hutan yang “bersembunyi” itu.
Tidak lama kemudian, ia disapa oleh sebuah suara wanita. “Oh...? Apa yang kaulakukan malam-malam begini, wahai Tuan Putri?” pemilik suara itu adalah Feline.
Seseorang yang bertemu dengan Feline tiba-tiba merasa amarahnya sangat memuncak, namun disaat yang sama, entah apa yang terjadi padanya, ia tak bisa menggerakkan tubuh—atau bahkan mulutnya untuk mengucap sepatah kata.
“Mulai dari saat inilah, rencana Si Licik ini dilancarkan padamu....”
Orang itu mendengar suara gadis ... tetapi ia tidak menemukan wujudnya.
“Aku akan membantumu!” suara ceria dengan senyum lebar dari Peri di hadapannya sama sekali tidak diragukannya.
“Kau adalah Tuan Putri yang polos, rendah hati, rajin, juga seseorang yang sangat perhatian ... persis seperti ibumu, Velvet.”
Ia sekali lagi mendengar suara yang sama—tetapi ia tetap tak mampu melakukan apapun.
Pemandangan kemudian berubah, dimana tingginya pohon Chronos menjadi pemandangan yang mengubah suasana hatinya menjadi gembira ... dan dipenuhi hamparan bunga. “Di sinilah! Di sinilah kami akan tinggal, tumbuh, dan hidup bersama tanpa ada gangguan dari Aurora!” orang itu mendengar suaranya sendiri bicara.
“Anak-anak ... Ibu pasti akan melahirkan kalian dengan selamat, merawat, menjaga, dan menuntun kalian sampai tiba waktunya kita berpisah!” orang itu dapat melihat perut hamil yang dielus dengan lembut.
Kemudian, beberapa waktu dilompati, hingga waktu dimana ia melahirkan dan bertemu suatu makhluk... yang baru pertama kali ia temui dalam hidupnya.
Seorang Dryad.
.
.
.
__ADS_1
.
“Aku tidak akan menggali lebih jauh jika kautak masalah dengan apa yang dilakukan Feline dan Morgan kepadamu, tapi....” Dryad itu berbicara padanya dalam bentuk burung hantu. “Elf, kah...? Jika kalian hendak tinggal di sini, Hutan Sihir Agung akan menyambut dan melindungi kalian! Lalu setelah itu, aku akan mengajari mereka bagaimana bisa
melindungi tanpa harus menyakiti.” Dryad itu kemudian merubah bentuk jadi seperti humanoid manusia-burung-hantu. “Uh... tanpa menyakiti mungkin sedikit salah, tapi yang pasti, Elf akan menjadi rekan dekat Dryad yang nantinya bisa bersama-sama melindungi melalui hutan!”
“Uhm! Aku dan anak-anakku akan melakukannya!”
“Kau mengira semuanya akan berjalan lancar karena telah merasa aman setelah berada di Hutan Sihir Agung...
“Tetapi … Peri-Peri nakal itu ....”
Orang itu kaget saat melihat apa yang tidak diketahuinya selama ini. Apa yang ia habiskan dalam Hutan Sihir Agung dalam kedamaian, berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di kerajaan.
......................
Kala itu, rakyat kerajaan sedang bersuka cita menyambut Ratu baru mereka yang telah menginjak usia dua puluh empat tahunnya—menggantikan Ratu saat itu, Roze Aurora XII. Dia adalah Julia Aurora—putri sulungnya. Pakaiannya saat itu amat sangat menawan dengan warna matching pada rambut merahnya. Rambut ala “bor” yang selalu menjadi ciri khasnya sejak kecil, kini diubah menjadi ikat satu ke belakang—hanya untuk penobatan ini.
Penobatannya akan dilaksanakan ketika Julia telah sampai di depan kursi singgasana, dimana ruangan itu, khusus hari ini, ditayangkan ke seluruh penjuru kerajaan—dengan sihir yang menyerupai hologram. Di sana, sudah menunggu sang Ratu yang menunggu putrinya berjalan di atas karpet merah dari sisi lain istana, dikawal oleh adiknya, Gilbert, beberapa penjaga istana—termasuk Alexandrita, yaitu saudari sepupunya, Audrey dan Erina.
Julia akan resmi menjadi seorang Ratu Ketiga Belas ketika suatu “kebangkitan” terjadi padanya, melalui anting bulan yang dipakainya—oleh perantara Roze.
Rakyat semakin ria ketika Roze bangun dari kursi singgasananya, menyambut Julia yang sudah ada di hadapannya. Seorang penjaga istana yang terus berdiri tegap di dekat Roze sambil membawa bantal yang diatasnya terdapat kain emas, dan ditaruh sebuah anting bulan. Terpampang jelas bagaimana gugup dan gemetar dirinya dalam mengemban tugas penting ini.
Satu demi satu, Roze melepas anting "biasa" dari telinga Julia, lalu memasangkan anting bulan yang berada di kain emas. Kemudian Julia segera bertekuk lutut. Saat inilah, penobatan yang dilaksanakan malam hari—tepatnya dimulai ketika pukul tujuh—momen-momen yang paling ditunggu rakyat tiba.
Bersamaan dengan Roze yang mengulurkan tangan dan menjabarkan telapak kanannya, Roze mulai menobatkan Julia. Kalimat-kalimat yang dilontarkan Roze saat penobatannya, membuat rakyat berbinar. “Julia Aurora, wahai Putriku, wahai penerus leluhur-leluhurku. Kau yang memiliki darah bulan, bersumpahlah demi kerajaan, keluarga, dan dirimu sendiri.
"Bersumpahlah bahwa kau akan melindungi, berjalan bersama, dan terus menjadi ratu negeri yang tegas, seperti apa yang rakyat sukai dalam dirimu.
“Tegas pada rakyat—baik itu muda atau tua, atau bahkan tegas pada keluargamu sendiri.
Julia kemudian menempelkan tangan kanan pada dada kirinya seraya menjawab, “Aku, Julia Aurora, bersumpah demi kerajaan, keluarga, dan diriku sendiri, bahwa aku akan melindungi, berjalan bersama rakyatku, dan tetap akan menjadi ratu yang tegas.
“Demi anting bulan ini, aku, Julia Aurora, bersumpah akan melaksanakannya!”
Bersamaan dengan jawaban Julia, anting bulan Roze bersinar, diikuti oleh anting yang baru terpasang di telinga putrinya—juga dengan bersinarnya bulan purnama. Seolah kalah oleh penerangan kerajaan, sinar bulan saat itu menyilaukan banyak orang, yang kemudian perlahan-lahan memusat pada satu orang—yaitu Julia—tepatnya pada anting bulannya.
Setelah itu, apa yang seharusnya terjadi, adalah sorak gembira para rakyat pada Ratu baru mereka, tetapi yang sebenarnya terjadi....
Adalah teriak panik dan ketakutan.
“TIDAK BISA DIBIARKAN!”
Teriakan seseorang terdengar hingga ke dalam istana.
“A-apa yang terjadi padamu?!” tanya seorang rakyat pada orang yang berteriak tersebut. Ia ketakutan, seolah tidak pernah mengetahui orang di sebelahnya bisa semarah itu.
Orang tersebut begitu marah hingga urat kepalanya muncul, juga dengan gertakkan gigi, serta mata yang melotot. Rakyat di sekitarnya pun juga melihat orang itu dengan pandangan yang sama.
“Penobatan Ratu tidak pernah dilakukan seperti ini!
“Ini adalah kesesatan!
“Ratu Clarissa dan Ratu-Ratu sebelumnya tidak pernah melakukan penobatan seperti ini! Anda pun seharusnya mengetahui itu juga, ‘kan, Ratu Roze?!
__ADS_1
“Apa yang ingin kalian lakukan pada kami dan negeri ini?!”
Begitu rakyat mendengar orang itu—tepatnya seorang pria bicara di tengah-tengah mereka, mereka tampak semakin panik dan takut. Mereka lantas segera menjauh darinya. Terkejut dengan reaksi rakyat, orang itu kebingungan bukan kepalang.
“Ti... tidak mungkin...,” ujar rakyat A.
“Jadi ... benar kata Putri Jul—Ratu Julia... kalau malam ini...,” sambung rakyat B.
“Ada seorang penipu diantara kita...!” seru rakyat C.
Ditengah kepanikan warga, Julia berdiri ke balkon yang berada di ruang takhta. “Tenanglah rakyatku semua!” serunya dengan sihir pengeras suara di depan mulutnya. “Lakukanlah apa yang telah kita semua rencanakan bersama dan jangan panik!
“Sekarang, katakan siapa sebenarnya dirimu, Penipu!
“Apa yang INGIN kaulakukan pada negeri ini?”
Pria itu merasa semakin terpojok begitu melihat sekumpulan penjaga istana, ikut juga Erina di sana, berlari menuju dirinya. Julia pun sama sekali tidak memindahkan pandangan mata darinya.
“Cih. Tidak kusangka.”
Rakyat mendengar apa yang diucapkannya yang disertai seringai sumringahnya.
“Sudah terlambat! Rencana kami sudah berjalan!” Pria itu memunculkan lingkaran hitam keunguan yang perlahan muncul dua orang yang amat sangat dikenal seluruh Aurora. Melihatnya, Julia tercengang.
“Bi... Bibi Velvet...? Paman Elhart...?” tanya Julia. Ia bergemetar.
Para penjaga istana yang sedang berlari pun terhenti sambil tetap siaga dengan senjata mereka. “Sialan... apa yang ingin kaulakukan pada mereka?!” seru Erina yang berada di barisan paling depan, “lepaskan mereka sekarang juga!”
Kondisi Velvet dan Elhart tak sadarkan diri dengan kaki dan tangan yang terikat rantai sihir.
“Kalian menyebutku penipu, tapi merekalah penipu yang sebenarnya!” ujar Pria itu, “Ratu baru itu pun juga telah menipu kalian semua, dasar Manusia-Manusia bodoh dan naif!
“Dua orang ini telah menyembunyikan anak monster mereka di dalam hutan, yang telah memiliki keturunannya sendiri, yang bahkan jauh lebih monster dari anak mereka sendiri....”
“Apa yang kaumaksud? Apa yang ingin kaukatakan?!” Erina mengacungkan senjatanya pada orang itu.
“Fufufuhahahaha....” Tawa pria itu terdengar sangat percaya diri. “Kalian semua pikir ... Marianna telah tewas saat berpergian di hutan...? Tidak mungkin! Janganlah pikir kekuatan bangsawan kerajaan selemah itu untuk melindungi dirinya sendiri, apalagi MONSTER sepertinya....”
“Keparat...! Apa yang baru saja kaukatakan tentangnya…?!” Erina terpancing emosi.
“Hentikanlah, Erina!” suara Audrey datang dari belakang. Ia memegang bahu kiri adiknya. “Terhasut adalah hal yang sangat berbahaya di situasi ini.
“Kau.” Audrey mengernyitkan alis—memfokuskan pandangannya pada mata orang di hadapannya. “Katakanlah saja inti bicaramu. Apa yang ingin kaulakukan?”
Dengan senyum sumringah yang tidak lekas dilepasnya, ia menjawab, “Kuingin semua Aurora mati!”
Bahkan untuk Audrey, alisnya berkedut. Ia masih berusaha untuk tidak terpancing emosi. Sementara rakyat serta semua yang ada di dekatnya sudah merasa emosi. Jika tak ada Audrey sekarang, entah hal sembrono apa yang akan dilakukan mereka.
“Tidakkah kalian tahu, bahwa keturunan mereka jauh di masa depan akan menghancurkan dunia ini?” sambung Pria itu—yang langsung disambut sesuatu yang tidak disadarinya.
Lehernya telah dicengkeram oleh Audrey. Kakinya bahkan sudah beberapa senti di atas tanah. “Jangan main-main dengan ucapanmu,” ujar Audrey.
“Kuhahahaha....” Orang itu memunculkan bibir di telapak kirinya. “Tentu saja kalian tidak mengetahui ini, karena monster-monster yang menyebut diri mereka BANGSAWAN ini, melindungi sesama monster seperti mereka yang nantinya akan meluluh lantakkan kalian semua!”
“No ... Nona Audrey... Nona Erina... ap-apakah itu benar?” tanya rakyat, yang bermata ragu. Pria itu menyeringai puas dari pertanyaan ini.
__ADS_1
“Audrey, lepaskan orang itu. Aku sudah berkeputusan!” seru Julia dengan sihir pengeras suaranya.
“Aku akan mengeksekusi mereka berdua,” sambungnya.