Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Ketakutan yang Dibalut oleh Harapan


__ADS_3

Setelah diberi pengetahuan tentang Phantasmal dan seporsi lebih banyak tentang apa yang akan mereka hadapi, orang-orang di istana Aurora dalam kesunyiannya. Seharusnya ada lebih banyak hal yang bisa mereka lakukan untuk meringankan beban Zeeta, selain menumpas Phantasmal yang tidak berakal. Jika jadinya seperti ini, tidak ada gunanya Pasukan Crescent Void dibentuk. Hal itu sempat tertanam di benak para anggotanya, tetapi Klutzie memberikan sebuah ide, yang mungkin bisa saja dilakukan.


“Siren,” panggil Klutzie, “Catastrophe Seal adalah senjata yang dibuat oleh kalian—Yggdrasil, ‘kan?” tanyanya.


“Ya,” jawab Siren, “kenapa?”


“Tak bisakah kalian membuat senjata yang berkonsep sama, tetapi dengan kekuatan yang bisa dipakai mereka?” Klutzie menunjuk anggota Crescent Void.


Luna menghampiri keduanya. “Kami bisa. Aku memang sudah merencanakannya, tetapi kedatangan mereka secepat ini tidak dalam rencanaku.


"Dalam teorinya, dengan kemampuan mereka saat ini, ditambah senjata yang kami buat dengan bantuan Axel dan Myra, Phantasmal yang pertama kali menyerang Aurora sudah bisa diatasi dengan mudah.”


"Dengan kata lain, bila mereka mendapatkan senjata itu, Phantasmal yang tidak terikat dengan dunia atau tidak memiliki pola pikir dan belum beradaptasi, hanyalah santapan pembuka."


Axel segera menyanggah Luna. “Tidak semudah itu, Roh yang Agung! Tidak masalah jika kalian ingin membuat senjata, tetapi aku pun butuh waktu untuk mengukur semua yang dibutuhkan! Membuat perlengkapan Tuan Putri Zeeta hanya untuk malam bulan baru saja membutuhkanku satu minggu lebih!”


Myra satu suara dengan Axel dengan mengangguk-angguk kepala.


“Aku tahu,” jawab Luna, “karena itulah saat ini, itu tidak mungkin. Yang bisa kita lakukan adalah menghabisi semua Phantasmal yang tidak terikat dengan dunia itu."


Alicia setuju dengan Luna lalu berkata, “Luna benar. Ini akan jadi medan pertempuran kita melawan makhluk sihir, jadi masih banyak hal yang harus dilakukan secara hati-hati. Aku benci mengakuinya, tapi kalau kita tetap terpaku pada apa yang akan terjadi di masa depan, sama saja dengan kita menyerah.


“Katakanlah padaku, semuanya! Apa kalian benar-benar akan menyerah setelah sejauh ini? Apapun yang terjadi padanya, Zeeta adalah anakku.


Dia adalah bagian dari kerajaan, sama seperti kalian. Aku tidak akan berhenti sampai di sini dan terus maju!”


“Tunggu sebentar!” seru Ashley, "aku bersyukur dan bangga karena kalian tidak mudah menyerah dengan apa yang kalian hadapi. Tetapi, sebagai orang yang pernah bertempur dengan mereka, dan mewakili Ozy yang harus melatih Zeeta, akan kukatakan saat ini.


“Mudah untuk mengatakan 'menghabisi' daripada melakukannya. Meskipun mereka tidak memiliki pola pikir, mereka tetaplah ancaman yang membahayakan. Terlebih, ada tiga Phantasmal yang memimpin.


“Aku tidak bermaksud ingin menurunkan semangat kalian yang sudah setinggi langit, tetapi hadapilah faktanya. Phantasmal yang mewujudkan diri menjadi Hell Hydra saja begitu sulit kami atasi, bagaimana dengan mereka yang belum kita ketahui seperti apa kekuatannya?


“Secara strategi, kita sudah kalah.”


“Mungkin tidak begitu juga,” ujar Klutzie, yang menarik perhatian Ashley. “Aku bisa memberikan informasi salah satu dari mereka. Agak aneh jika didengar, tetapi dia adalah kakakku, Suzy. Aku juga pernah melawannya meskipun aku kalah telak.


“Mungkin, dengan keberadaan kalian semua disini, bisa menemukan sebuah celah darinya, yang tidak bisa kudapatkan.”


Siren tersenyum. Dia senang dengan keputusan Klutzie.


......................


Disaat kerajaan Aurora semakin memperdalam diskusi mereka, Zeeta sekarang sedang berada di kediaman Reina, Elf yang selalu menjadi peran support bagi Volten Sisters. Kediaman Reina terdiri dari teras, ruang tamu yang satu ruang dengan dapur, lalu ada tangga yang mengarah ke sebuah kamar. Bufet gantung di dapurnya dipenuhi dengan stoples berisi tanaman-tanaman serta bubuk-bubuk bercahaya. Suasana ini mengingatkan Zeeta di ruang kerja Ashley yang memiliki toples serbuk sihir bercahaya juga.


“Duduklah,” kata Mintia, yang mendorong Zeeta ke kursi anyaman lalu lekas ke dapur dan mengambil piring yang terhidangkan obat pil sebanyak tiga buah berwarna biru kehijauan.


“Minumlah!” Mintia melempar sebuah pil pada Zeeta.


“Eh? Apa ini?” Zeeta menangkapnya dengan baik.


“Obat pemulih stamina. Itu dibuat dari tumbuhan yang berada di hutan. Aku tidak mengerti begitu banyak, tapi itu adalah salah satu hasil kerja keras Reina demi ‘bisa membantu’ kami.

__ADS_1


“Kau ... akan segera dilatih Ozy, ‘kan?”


Zeeta sempat teringat ketika dia baru pertama kali ke Hutan Sihir Agung, rerumputannya bisa menyembuhkannya. Kemudian, dia mengangguk. “Y-ya... tapi ... a-apa aku harus meminum ini langsung? Pa-pasti ini pahit, ‘kan?!”


“Ah. Beri saja sihirmu agar membuatnya tidak terasa pahit. Hebatnya obat-obatan dari Reina, sihir apapun yang diberikan pada obatnya, takkan berpengaruh pada efek yang dihasilkan obat.”


“Eh? Kenapa bisa begitu?”


Mintia duduk bersebelahan. “Kalau aku harus berhipotesa, kemampuannya yang dapat meracik apapun selain obat-obatan dari tanaman di hutan—apalagi ini adalah Hutan Sihir Agung, yang seharusnya tidak ada seorangpun yang dapat mengutak-atiknya, kecuali sang penjaga hutan, Maisie, atau hutan itu sendiri, adalah bentuk dari kejeniusan dan bakat alaminya.


“Hmmm....


"Kalau harus kusederhanakan, atribut sihirnya adalah hutan itu sendiri. Dia bisa membuat apapun yang diinginkannya. Sebagai contoh, dia bisa tahu tanaman mana yang cocok untuk dibuat obat, benda, atau senjata, tanpa perlu mempelajarinya terlebih dahulu. Tentu saja, untuk sampai ke titik ini, semua rintangannya sangatlah sulit.”


“U-uwah... hebat sekali!” mata Zeeta berbinar-binar.


“Mi-Mintia!” pekik Reina yang datang dari satu-satunya kamar di sana. Dia merona merah sambil memakai sebuah pakaian yang ... membuat Zeeta memiringkan kepala. “Ke-kenapa kau menyuruhku memakai ini? Juga! Ke-kenapa kau beritahu hal itu padanya?!”


“Hagghh~” Mintia menghela napas sambil mengangkat kedua tangan sambil menggeleng kepala. “Kau sendiri, ‘kan yang bilang jika kau mengagumi Zeeta?”


“He-hei—!” Reina semakin memerah, tetapi dia diacuhkan. Zeeta pun terkejut mendengar informasi mengejutkan dan mendadak serta random ini.


“Meskipun Zeeta masih anak kecil,” lanjut Mintia, “kau


mengaguminya karena dia bisa sekuat ini sehingga kaupun menjadikannya sebagai target latihanmu!


“Kau juga bilang kalau kau mengagumi cara hidup seorang tuan putri, jadi kau bermimpi agar suatu hari nanti bisa melihat seperti apa tuan putri itu, dan berteman dengannya, makanya kubuatkan kau gaun yang dipakai tuan putri.


“Dan syukurlah, tuan putri yang datang jauh lebih baik dari imajinasimu, ‘kan?


Wajah Reina semakin memerah hingga semerah tomat. “Da-da... dasar Mintia bodoh!!” secara refleks, Reina mengubah kursi anyaman yang diduduki Mintia menjadi pelontar yang menghempaskan jauh begitu saja, tanpa mempedulikan kerusakan yang dibuatnya.


“Kau sama saja dengan Jourgan! Dasar bodoh! Tidak peka dan tidak berperasaaaaaan!!”


“Ha ha ha! Masa muda sungguh indah!” teriak Mintia ditengah ‘terbang’-nya.


“Huft... huft... huft....” Reina yang masih semerah tomat melotot pada Zeeta. Zeeta terpaksa membuang pandangannya. “Kumohon! Lupakan itu semua!” tegasnya.


“U-uhm. A-ah, aku juga minum ini sekarang, ya… te-terima kasih atas obatnya....” Setelah memberi sihir untuk menjadikan obat itu manis, Zeeta menelannya tanpa beban, ditengah suasana yang canggung. Tak lama, ia segera merasakan efek yang diterima tubuhnya.


“Ba-bagaimana? Apa sihirku bekerja?” tanya Reina.


Zeeta tersenyum. “Uhm!” ditambah dengan anggukan bersemangat. “Aku langsung merasa segar! Kalau begini, latihanku dengan Ozy mungkin bisa lancar!”


Mendengarnya, membuat Reina murung dan menimbulkan tanda tanya di kepala Zeeta. “Ada apa?” tanyanya.


“Aku selalu berpikir….”


.


.

__ADS_1


.


.


“Apa kamu … tidak takut dengan semua ini? Tidakkah kamu merasa ingin menyerah?”


.


.


.


.


“Kenapa kamu begitu berjuang sekeras ini?”


Zeeta tersenyum lagi, namun kali ini terasa kecut. “Aku ... sudah melihat masa depan,” katanya, “masa depan itu sangatlah suram. Lebih buruknya, akulah penyebabnya.


“Mendengar ini saja, apa kamu bisa membayangkan betapa takutnya aku?”


Reina serasa tersambar. Ia menyesal telah menanyakan pertanyaan itu.


“Tentu saja aku takut. Rasa takutku semakin lama semakin besar. Ancaman yang menghampiriku juga semakin berbahaya....


"Aku menerima banyak rasa percaya dan harapan dari orang-orang di sekitarku. Tetapi di saat yang sama, aku bertanya-tanya, apa itu 'percaya'?


"Apa itu 'harapan'?


"Aku memang sudah memutuskan untuk menjawab rasa percaya dan harapan itu, sekaligus ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan menjadi diriku di masa depan itu....


“Aku ... aku tak bisa melepaskan ucapan Lucy yang mengatakan aku sama saja sepertinya dari kepalaku. Aku pun sudah mengetahui alasan dia bisa menjadi Lucy yang saat ini.


"Aku sangat takut."


Zeeta memandangi tangannya. "Darah kami yang terhubung, mungkin karena itulah aku bisa sedikit yakin jika alasan diriku di masa depan, serupa dengan apa yang Lucy lakukan.


"Tapi...." Ia mengepalkan tangannya, kemudian tersenyum. Senyuman itu lebih cerah. Senyum itu adalah senyum percaya diri. Dia kemudian memukul dada kirinya dengan kepalan kanannya.


“Aku adalah Zeeta Aurora XXI! Aku adalah aku! Aku diberi kepercayaan oleh leluhur-leluhurku dengan harapan meneruskan kehidupan dunia!


“Aku memiliki rekan yang luar biasa, yang pasti bisa menjawab ketika aku membutuhkan pertolongan mereka.


“Terlebih....”


Reina penasaran dengan kelanjutannya. “Terlebih ... apa?”


“Setelah mendengar apa yang kaupikirkan tentangku, entah kenapa itu memberiku sebuah keberanian dan membuatku bisa meraih cahaya baru. Terima kasih, Reina!” Zeeta tidak menghilangkan senyumnya. “Kalau kaubisa memberiku keberanian dan kekuatan, kuharap aku juga bisa memberimu hal yang sama!


"Baiklah, aku harus segera bertemu dengan Ozy. Sampai jumpa, Reina!” Zeeta mengangkat kakinya dari sana dan segera mencari Ozy.


Reina tersenyum. Ia bersyukur dengan apa yang sudah diucapkan Zeeta.

__ADS_1


“Kuharap, kamu juga bisa melindungi apa yang ingin kamu lindungi, Zeeta!” begitulah harapan yang diungkap Reina dalam benak sambil melukiskan senyum. Namun, tak lama kemudian, dia dikunjungi Hugo.


“Aku harus bicara padamu, Nak,” kata Hugo. Ia terlihat sangat serius.


__ADS_2