Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Demi Hari Esok


__ADS_3

[Kerajaan Aurora, setelah seekor Naga berhasil diusir oleh sihir petir Ashley....]


Para bangsawan utama, Raja dan Ratu, Crescent Void yang terdiri dari Mellynda dan Gerda, disertai oleh ratusan prajurit kerajaan dan prajurit faksi (masing-masing bangsawan utama), sudah berdiri di berbagai titik—melingkari kerajaan. Tidak luput dari keikutsertaannya, ada pula Elbrecht dan Myra, Ozy, Aria, Lloyd, Jourgan dan Mintia, bahkan Hugo ikut unjuk gigi.


Kesemua ras yang hadir, melihat dengan mata kepala mereka sendiri, bagaimana lebih dari seratus Raksasa meluluh-lantakkan Bumi dengan langkah kakinya. Bersama dengan mereka, ada pula lebih dari seribu Naga dengan bermacam ukuran. Tidak, mereka tidak hanya menuju pada satu titik, dengan kata lain Aurora, namun mereka pun menarget dua negari lain, yaitu Nebula dan Seiryuu.


Banyaknya Naga dan Raksasa yang terlepas dari masing-masing dunianya, memaksa mata para Manusia yang ukurannya jauh lebih kecil, bahkan jika mereka berhasil mengalahkan SATU Raksasa atau Naga saja, sudah pasti mereka kalah jumlah.


Dari pihak Manusia yang berada di Aurora, yang segala pertahanan dan serangan dipimpin oleh Raja dan Ratu, komunikasi segera dimulai.


"Semuanya, sebelum pertempuran Akhir Dunia ini dimulai, kutegaskan satu misi yang harus diutamakan," tegas Alicia, "apapun yang terjadi, kalah atau menang, tetaplah hidup.


"Perjalanan kita sudah begitu jauh dan sebentar lagi akan menemui akhirnya. Kita adalah jembatan dari suatu zaman lama ke zaman yang baru. Entah seperti apapun zaman baru itu akan menuntun kita, jika kita hidup maka kita bisa meneruskan, menyampaikan, dan memberikan arti dari hidup kita pada generasi selanjutnya.


"Aku, Alicia Aurora XX, percaya bahwa dunia baru yang ingin diciptakan gadis yang menjadi penentu nasib Galdurheim ... adalah dunia dimana tiada ras yang menderita, menangis, dan terhapusnya diskriminasi antar Manusia dan antar ras.


"Oleh sebab itu...."


Alicia mengambil napas dalam-dalam.


"AKU TIDAK SEGAN UNTUK MEMPERSEMBAHKAN JIWAKU DEMI IKUT MEWUJUDKANNYA!


"Wasiat leluhurku yang terus digilir pada keturunannya sejak TIGA RIBU tahun yang lalu, AKAN BERAKHIR SAAT INI JUGA!


"Ini adalah PERTEMPURAN AKHIR DUNIA!


"Jangan pikirkan apapun selain untuk bertahan hidup demi hari esok!


"Tidak apa jika ingin mundur, tidak apa jika kau merasa ketakutan, tetapi camkanlah....


"BAHWA KITA SEMUA YANG ADA DI SINI, MENGEMBAN HARAPAN DARI ZEETA!


"Kendati dia lebih muda dari kita, kendati dia tertekan oleh segala tanggung jawab dan kewajibannya, dia terus menginginkan senyuman kita!


"Demi esok yang cerah...."


Semua yang hadir di Aurora kala itu bersiap dengan senjata atau sihirnya masing-masing. Mereka berapi-api oleh bara semangat yang dipicu melalui pidato sang Ratu. Mereka, demikian pula Alicia dan Hazell, melihat Raksasa dan Naga semakin mendekat ke arahnya. Mereka menghunuskan masing-masing sihir, entah itu Rune atau semburan napas.


"SERAAAAANGG!!!" jerit Alicia lantang, penanda bahwa pertempuran dimulai.


Mengetahui lawan sudah menghunuskan sihirnya, yang pertama beraksi adalah Mellynda, Mintia, dan Jourgan.


Mellynda memakai senjata suci berbentuk senapannya dengan menembak kaki-kaki para Raksasa, yang mampu menembus dua kaki Rakasa sekaligus dan memaksanya membeku. Ulahnya membuat laju para Raksasa kacau dan mau tak mau tersandung. Rune yang telah dihunuskan pun ikut kacau, sehingga meledak melukai diri sendiri.


Jourgan segera men-javellin tombaknya ke arah para Naga. Tombak itu dilapisinya sihir agar mampu terbang kemana kedua jemarinya arahkan. Ia mampu menembus lima sayap Naga sekaligus dan memaksanya kehilangan kemampuan terbangnya.


Namun, jumlah Naga yang lebih banyak dari Raksasa itu membuat pertahanan Jourgan cukup terbuka, sehingga kendati ia berhasil menjatuhkan beberala Naga sekaligus, serangan dari Naga yang lain tak mampu dihentikannya.


Disitulah waktu bagi Mintia beraksi. Dengan empat anak panah sekaligus yang ditarik pada busur yang bertuliskan Bind Rune dari Ozy, mampu menambah daya serang dan daya tahan anak panahnya ketika ditembak. Busur panah yang diperkuat ini jadi bercahaya kuning kehijauan. Empat anak panah tersebut menembus semburan napas, bola api, petir, air, maupun kegelapan dari Naga yang mengincar Jourgan sekaligus. Anak-anak panah itu mampu memenggal Naga-Naga tersebut.


"Hebat!" seru Prajurit A, yang menyaksikan dari dekat bagaimana aksi ketiganya.

__ADS_1


"Sudah kuduga dari Crescent Void dan Pejuang Elf! Mereka kuat sekali!" sambung Prajurit B.


"Kalau begini terus, maka mungkin sa—" ucapan Prajurit C diputus oleh Jourgan.


"Jangan senang hanya karena beberapa dari mereka berhasil kita tumbangkan. Belum ada tanda-tanda dari pemimpin mereka yang datang. Bukan begitu, Ozy?"


Ketiga Manusia itu segera merasa ciut.


"Itu benar. Terus waspadalah," jawab Ozy.


Pihak Raksasa dan Naga terhenti sesaat, menjaga jarak dari para Manusia. Mereka tak menyangka, pertempuran baru dimulai beberapa menit saja, sudah ada korban jiwa dari mereka yang dapat dihitung dengan jari. Bukankah Manusia itu seharusnya makhluk yang lemah? Lantas mengapa? Mereka kebingungan sendiri.


Tetapi....


......................


"Sudah kukatakan, bukan?" Keenai sedang berbicara dengan dua pemimpin Raksasa, Fenrir dan Snjór. "Untuk memusnahkan mereka, kalian butuh kekuatan dari Nonaku." Ia menunjukkan dua butir pil bulat berwarna hitam.


Fenrir menggeram, mengangkat cakarnya menghampiri Keenai, lalu....


'ZRANGG!'


Fenrir mencakar Keenai. Cakarannya menembus hingga mampu memberi bekas hancur sayatan pada gunung di belakangnya. Kendati serangan tajam, menghancurkan, nan cepat itu, Keenai mampu menghindarinya.


"Inilah bukti kekuatannya. Tidak mungkin Manusia sepertiku mampu menghindari serangan darimu, 'kan, Fenrir? Lagi pula, dari semua Raksasa, hanya kau yang memiliki kelincahan dan kekuatan yang amat sangat besar, walau tanpa Rune sekalipun."


"Percuma, Manusia," ujar Snjór, "Insting Fenrir mengatakan kau bukanlah sekutu yang dapat diperca—"


"Aku tak peduli kalau ini akan berarti aku ada dibawah kendali seorang Manusia, namun aku tahu dan yakin kekuatannya bukanlah suatu tipuan.


"Kau yang paling tahu bahwa aku sangat benci tipuan, Snjór."


"Fenrir... kau bersungguh-sungguh? Dimana harga dirimu sebagai Raksasa?!"


"Ini adakah Ragnarok, Snjór, jangan bercanda.


"Cepat, berikan aku!"


"Dengan senang hati." Keenai melempar sebutir pil ke arah Fenrir dan ia segera melahapnya.


.


.


.


.


'BWHAAAMM!!!'


Mana Fenrir meningkat drastis, yang secara bersamaan mementalkan mereka yang ada di dekatnya, termasuk rekan serasnya, Snjór. "A-apa-apaan mana ini?!" tanyanya, "apa ini mungkin? Hanya sebutir sihir dari seorang Manusia?! Siapa sebenarnya Nonamu itu, Manusia?!"

__ADS_1


Keenai yang ikut terpental, mampu mengendalikan tubuhnya kembali dan mendarat di tanah. "Seorang yang menyebut dirinya Penguasa Kekelaman."


"Na-nama itu...." Snjór berwajah tidak senang. "Maaf, tapi aku tidak sudi menelan sihir darinya! Aku akan tetap menyerang Manusia dengan caraku sendiri!"


"Tentu! Tentu saja tidak apa. Lagi pula...." Keenai menoleh ke arah Fenrir.


Geramannya meneteskan liur. Liur yang terjatuh ke tanah mengubahnya menjadi portal yang mewujudkan Hollow dan segera maju ke arah Aurora.


"Hollow?!" Snjór membatin. Ia tak percaya dan keningnya meneteskan peluh.


"Awooooo!" Fenrir mengaum, menandakan untuk pasukannya segera maju. Kala itu, Snjór juga menyadari perubahan dari pasukan Raksasa berkaki empat yang dibawa Fenrir. Mereka bermata merah dan menunjukkan ekspresi marahnya. Sama seperti pemimpinnya, mereka pun meneteskan liur dari mulut bergigi-gigi tajamnya.


Tak lama kemudian, di langit, muncul lingkaran sihir yang menjatuhkan meteor-meteor yang ukurannya jauh lebih besar daripada Raksasa itu sendiri. Namun, Snjór menyadarinya, bahwa meteor-meteor tersebut tiada yang mengarah pada mereka....


......................


"Lapor, Yang Mulia!" Porte memberi hormat pada Alicia dan Hazell. Wajahnya pucat, napasnya tak beraturan.


"Ada apa?" tanya Alicia, dengan nada yang tenang. "Kau sudah melihat dengan sihir kristalmu?"


"I-iya ... dan aku membawa berita buruk....


"Bala bantuan musuh telah tiba. Mereka.... Mereka...."


Porte mencengkeram tangannya. Ia juga menutup erat-erat matanya.


"Apa yang terjadi, Porte?!" bentak Hazell.


"Ho-Hollow muncul dengan jumlahnya yang tidak terhitung! Selain itu, langit—"


Mereka melihat sendiri bagaimana langit tiba-tiba dipenuhi oleh lingkaran sihir dari lawan yang menghujaninya dengan meteor.


"Gadis itu...." Alicia mencengkeram kedua tangannya. Urat kepalanya timbul.


"Ya-Yang Mulia!" seorang prajurit yang datang dari arah berlawanan setelah bertempur melawan Raksasa, terengah-engah. "Berita buruk, Yang Mulia!


"No-nona Jourgan mengatakan kalau ini sudah diluar kendali dan nalarnya!


"Para Raksasa dari bala bantuan saling justru menyerang Raksasa lainnya dan ... memaksa mereka memakai sihir kegelapan!


"Si-sihir dari mereka terus memuntahkan Hollow dan kami tidak bisa—"


"Tsk. Hazell, ini sudah waktunya untuk—"


"Tidak perlu, Yang Mulia." Gerda datang menghampiri.


"Gerda? Apa kau punya rencana?" tanya Alicia.


"Tentu saja. Aku adalah teman masa kecil Zeeta. Cara berpikirnya aku sangat mengetahuinya. Entah dja dari masa yang berbeda atau bukan, Zeeta adalah Zeeta, jadi aku sudah mengantisipasi ini.


"Tariklah mundur semua yang ada di garis depan dan biarkan aku, Mellynda, dan Aria yang ada di sana." Wajah penuh yakin dari Gerda ini mampu membawa ketenangan bagi mereka yang panik....

__ADS_1


__ADS_2