Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
High Elf Maniak Pertarungan, Bellaria


__ADS_3

Bellaria, atau yang sering dipanggil Aria, adalah Elf pertama yang memutuskan untuk melihat dunia luar Grandtopia. Dia memiliki kemampuan sihir samaran rata-rata, tetapi memiliki jiwa yang lebih berani dan berapi dibanding Elf kuat yang lain, seperti Volten Sisters ataupun Lloyd. Aria hanyalah Elf biasa. Dia tidak dipilih oleh alam layaknya Reina, tidak memiliki kekuatan amat besar seperti Lloyd, juga bukan ahlinya dalam berburu, seperti Volten Sisters.


Tetapi, Bellaria adalah Elf yang istimewa.


Dia adalah Elf yang mampu keluar dari lingkaran ketakutan, memilih untuk bertaruh pada apa yang dilihatnya sendiri tentang dunia, dan memutuskan sendiri apa yang akan ia lakukan setelahnya, bukan karena perintah sang Tetua, Hugo, seperti yang selama ini dilakukan oleh para Elf.


Dia telah menipu tiga ekor Peri, tetapi gagal menipu mata seekor Ratu Peri. Dia juga sempat membimbing Zeeta kecil, untuk membawanya kemanapun arahnya ingin hidup. Namun, Aria juga bersumpah pada dirinya sendiri…. Bila Zeeta, Manusia yang telah diramalkan sang Ratu Peri akan menghancurkan dunia ini, adalah Manusia yang sama seperti Manusia lain yang telah merusak, membunuh, dan melakukan banyak hal keji pada bangsanya, dia sendiri yang akan membunuhnya.


Tetapi, selama ia membimbingnya itulah, Aria malah menjadi teman untuk Zeeta. Teman ras lain pertama bagi Zeeta. Apa yang ditakutinya terjadi pada Zeeta, itu sama sekali tak terjadi. Terkadang, akan ada kecemasan timbul di dalam nuraninya, namun Zeeta selalu menangkal kecemasannya.


Aria juga memiliki teman yang sangat berharga untuknya. Teraaamat berharga. Dia adalah Ozy, seorang Raksasa dari beberapa tersisa di Galdurheim. Kehadirannya dalam kehidupan Aria, perlahan mengubah banyak pandangannya terhadap dunia. Yang semula gelap, kelabu, dan hanya sering terwarna oleh merahnya darah, tetapi perlahan Ozy membuatnya berwarna.


Pun dengan kehadiran Zeeta. Ia lebih bisa mengenal dunia luar, belajar lebih banyak pengetahuan, sihir, memperbanyak teman, dan banyak hal lainnya.


Tapi kini....


.


.


.


.


Semua warna yang telah mengubah hidupnya itu, hendak dihancurkan (lagi) oleh Manusia. Tetapi yang membuatnya lebih parah, berdasarkan kata-kata Tetuanya, dua Manusia yang sekarang sedang dalam mode Naga-nya tersebut, diperintahkan oleh seseorang yang berharga untuknya, tapi dia berasal dari dunia yang berbeda.


Seperti yang tetap dipegang teguh oleh hatinya, jika orang itu sama seperti manusia yang dibencinya, maka dia takkan segan untuk membunuhnya sendiri. Oleh karena itulah, saat ini, Bellaria....


......................


Aria berjalan gontai dengan mencengkeram kedua tangannya. Urat-urat tangan di kepalannya bahkan sampai timbul saking kencangnya ia mencengkeramnya. Dia sedang berjalan mendekat menuju Asuka dan Nanashi berada. Meskipun tinggi dan besar mereka sepuluh kali lipat berbeda satu sama lain, itu tidak menciutkan Aria.


“Demi nama Elf yang sangat kuhormati, Lucy, Jewel, dan Hugo, serta ibu mereka Marianna... akan kukalahkan kalian karena sudah mengotori tempat ini, Manusia!” ungkapan yang dilontarkan Aria itu membuat Asuka dan Nanashi mengernyit.


“Mengalahkan KAMI? Bwh-bwahahaha! Kau, yang hanya bertinggi seperti anak kecil? Coba saja kalau bisa!” Asuka menantang.


Menanggapinya, Aria justru menyeringai. “Kau tidak tahu Elf itu ahli dalam sihir apa?”


“Hah?” Asuka tidak mengerti apa yang dibahas Aria.


Sementara itu, Hugo, yang memerhatikannya dalam sembunyi bersama Reina, membisik, “Jangan-jangan...?!”


“A-apa yang akan dilakukan Aria, Tetua...?” tanya Reina.


“Asal kau tahu, wujud kecil ini hanya kupakai untuk memudahkanku berinteraksi dengan seseorang yang cengeng, tetapi ... sepertinya sekali-sekali tidak ada salahnya kuperlihatkan wujud asliku...,” sambung Aria, masih dalam seringainya.


Aria sebelumnya hanya bertinggi sepantaran dengan tinggi Zeeta kecil yang berusia delapan tahun. Jepit bunga besar biru di rambutnya, bersinar—menyilaukan pandangan Asuka dan Nanashi.


“Cih, makhluk semacammu tidak perlu melakukan apapun lagi. Cukuplah kau mati di tempat saja!” Asuka menghantam tanah dengan kakinya, meretakkan dan berniat menjatuhkan Aria ke dalamnya. “Kau juga, Nanashi!”


“Jangan perintahkan aku, Gendut!” bentak Nanashi, meskipun dia tetap menyusul serangan Asuka dengan tebasan-tebasan kilat anginnya.


‘ZRSHT!’


Darah tampak menyembur dari beberapa bagian tubuh Aria.


“He he he he he….” Kedua Naga Humanoid itu terkikih.


Tetapi...


“Sakit, tahu….” Volume suara dari tubuh Aria mendadak lebih memberat. “Kalian yang memintaku untuk mencoba membunuh, tetapi kenapa kalian yang ingin membunuhku duluan, hah? Jangan bilang ... kalian takut padaku, Manusia?!”


‘BWHAAMM!!’


Angin segera menghempaskan area sekitarnya, memerlihatkan seperti apa sosok Aria yang sekarang. Poni yang sebelumnya menutup keseluruhan keningnya, kini “tersisir” ke belakang dan menyisakan beberapa helai rambut putihnya. Tinggi dan aset tubuhnya membesar, layaknya wanita dewasa, dengan body line yang langsing dan berisi. Telinga runcingnya juga semakin memanjang dari sebelumnya. Jepit rambut bunga yang bercahaya tadi, tidak terlihat terpasang di rambutnya lagi.

__ADS_1


Mata kanan berwarna cokelat terang dan mata kiri berwarna biru darinya, menambah kontras “cantik, elegan, dan sangar” dari Aria yang sekarang. Luka yang diterimanya pun dengan mudahnya menutup sendiri.


Nanashi begitu melihatnya segera mengernyit. “Apa-apaan, kekuatanmu itu...?”


Aria menyeringai. “Aku adalah High Elf. Karena terlalu kuat, Tetua menyegel kekuatanku.”


“High Elf…?” Nanashi dan Asuka bertanya-tanya, sambil saling tatap.


“Bahahahahaha! Apa bedanya dengan Elf yang lain, kau takkan bisa menang di hadapan Naga, seperti kami ini!”


......................


“Hi... Hi... High Elf...?!” Reina mengguncang tubuh Hugo. “Elf yang memiliki kekuatan nyaris setara dengan Aurora?! Kukira itu hanyalah legenda?!”


“Se-sebuah legenda ... takkan eksis bila tidak ada suatu kejadian yang mendasarinya.... Tenanglah!” Hugo mencengkeram bahu Reina. “Aria adalah pengecualian untuk kita semua. Dia tidaklah dipilih oleh alam, tidak memiliki kekuatan seperti Lloyd, dan tidak mahir berburu layaknya Volten Sisters.


“Tetapi, Aria....”


Aria melemaskan beberapa bagian tubuhnya. Seperti kepala, punggung, lengan, dan kaki. Dia kemudian memejamkan matanya. Disaat yang sama, semua kerusakan yang ditimbulkan Asuka dan Nanashi, seketika kembali normal.


“Aku ini High Elf, dan Majikanmu yang memerintahkan kalian menyerang juga pasti takkan tahu tentangku. Oleh karena itu, akan kuselesaikan ini dengan cepat.


“Pohon!”


Beberapa pohon Chronos di belakangnya, mementalkan batang runcing seukuran tubuh Aria secara tiba-tiba. Batang-batang runcing tersebut berjejer di belakangnya.


Melihat Aria bisa seperti itu, tentu saja mengejutkan Reina, yang selama ini mengira hanya dirinya saja yang bisa berinteraksi dengan pohon Chronos. “Dia bisa ... dengan ... pohonnya...?” Reina kehabisan kata-kata.


“Tidak, Reina. Itu bukanlah kekuatan yang sama denganmu,” sanggah Hugo.


“Memang apa bedanya? Dia meminta pohonnya untuk memberinya senjata, bukan?”


“Bukan. Itu hanyalah bagian dari bakatnya saja.”


“Ya. Sejak kecil, dia sudah memiliki bakat yang aneh. Jika dilihat secara sekilas, mungkin bakatnya mirip sepertimu, tetapi dasarnya berbeda. Dia bisa mengendalikan air, api, pohon... semua yang ada di alam ini, termasuk apapun yang ada di dalam Grandtopia.


“Tentu saja, kekuatan itu berangsur-angsur muncul selama ia tumbuh menjadi Elf dewasa.


“Tetapi, itu bukanlah atribut sihir, melainkan bakatnya.”


“Ta-tapi, jika begitu, apa Aria masih kalah kuat dengan Lloyd...?”


Hugo menatap serius Reina. “Ya. Karena mereka berdua, Grandtopia ini pernah nyaris hancur hanya karena pertengkaran mereka.”


“Si-siapa yang menang diantara mereka…?”


“Tentu saja Lloyd. Yang melatih kekuatannya adalah aku, sementara Aria itu Elf yang sangat keras kepala dan sangat ogah dilatih oleh siapapun. Dia menemukan cara bertarungnya sendiri, dari setiap pertarungannya, baik melawan Elf, ataupun pertempurannya melawan Manusia. Dengan kata lain, dia adalah....


“Maniak pertarungan!


“Makanya kusegel kekuatan tidak masuk akalnya itu.”


“Ti... tidak kusangka Aria ternyata sekuat itu....”


.


.


.


.


“Hah! Mau apa kau dengan seonggok kayu seperti itu?! Sudah cukup dengan omong kosongnya, cepatlah mati!” Asuka terpancing emosi setelah merasa diremehkan.


Dengan cepat, empat dari lima kayu yang tertancap di tanah, mendadak berubah menjadi persis seperti Aria. “Nah, sekarang, manakah diriku yang asli, Manusia? Kalau kau berhasil menebak, aku akan memberikanmu kematian yang tidak menyakitkan.”

__ADS_1


“Jangan remehkan aku! Aku adalah prajurit kebanggaan kekaisaran Seiryuu! Elf sepertimu, tak ada bandingannya dengan kekuatan yang kami miliki! Demi Seiryuu!!”


Asuka menghantam tanah untuk mementalkan kelima Aria yang ada di hadapannya. Begitu kelimanya terpental, tebing yang muncul untuk mementalkan, terpecah menjadi ratusan bebatuan runcing yang siap menujah kelimanya. Tidak hanya itu saja, Asuka memunculkan lingkaran sihir berbentuk matanya di depan kelima Aria.


“Hmph. Sudah selesai,” ujar Nanashi, yang kemudian memejamkan mata.


Lingkaran sihir berbentuk bola matanya Asuka kemudian bercahaya, mengubah kelimanya menjadi batu, setelah itu baru bebatuan runcingnya menujah secara bersamaan mereka yang telah menjadi batu.


“High Elf apanya? Hanya membual,” kata Asuka.


“Haha, kau salah tebak.” Suara di belakang keduanya, begitu mengejutkan.


“GHAK!” darah tiba-tiba muncrat dari moncong Asuka.


“Kau...?! Sejak kapan?!” Nanashi tidak menduga Aria sudah ada di atas punggung Asuka, dengan bilah pedang bercahaya panjang yang menembus kulitnya.


“Dari mana ... kaudapatkan ... senjata semacam ... itu... ghk?!” Asuka kembali memuntahkan darah.


“Kalian ini sudah tidak bisa membaca pergerakan mana, juga tidak belajar dari kesalahan. Kalian itu selalu saja terpaku pada apa yang dilihat mata.


“Apakah jika kukatakan bagaimana caraku bisa ke sini, akan menyelamatkan kalian? Tentu saja tidak.


“Nah, sekarang, karena kau sudah salah tebak, nikmatilah rasa sakit kematianmu, Manusia.”


Di akhir kata-katanya, tatapan mata Aria menjadi kosong. Tanpa menggenggam bilah pedang raksasa yang menembus Asuka itu, perlahan, sedikit demi sedikit, bilahnya melebar, membelah dua dirinya. Disaat yang sama, jeritan dan teriakan minta tolong oleh Asuka, memutarbalikkan keadaan beberapa menit yang lalu, yang menimpa para Elf.


Setelah Asuka terbelah dua, untuk memastikan dia tidak hidup kembali, inilah yang dilakukan Aria. Dia menempelkan tangan kirinya pada tubuh terbelah Asuka, kemudian bilang, “Tanah!”, yang akhirnya membatukan seluruh tubuh Asuka. Tidak lama setelah pembatuannya, dia berubah menjadi debu.


“Sekarang, giliranmu.” Aria menatap tajam Nanashi.


“Sial! Sialsialsialsial!” Nanashi masih berusaha untuk kabur, beradu kecepatan untuk menerbangkan sayapnya.


“Sudah terlambat!” Aria membentuk bola api hitam dari telapak tangan kanannya, sambil berteriak, “Api!” setelah itu dia melempar bola api seukuran baseball itu menuju Nanashi.


Tidak diberi kesempatan untuk berteriak, tubuh Nanashi seketika itu juga meledak dan hangus menjadi abu. Dampak dari ledakannya begitu besar, hingga memaksa Hugo dan Reina berlindung dibalik pohon Chronos selama tujuh detik.


“Haaaah....” Aria menghela napas panjang. “Sudah berapa ratus tahun aku tidak serius begini?” dia mengayun-ayunkan tangan kanannya untuk menghilangkan bara api hitam yang masih tersisa. “Kalian sudah boleh keluar. Inti sihir pembangkit yang tertanam di tubuh mereka sudah kupastikan hancur.”


Satu per satu Elf yang terluka dan bersembunyi yang masih selamat, keluar dari persembunyiannya. Demikian pula dengan Reina dan Hugo.


“GIII... LAAA!” seru Reina, sembari menghampiri Aria. “Kenapa aku tidak kauberitahu soal ini? Kukira High Elf hanyalah legenda!”


“Hahahaha, begitu ya? Kau salah menilaiku, ‘kan?”


“Uhm!” mata Aria berbinar-binar. “Tapi, kata Tetua, kau masih lebih lemah daripada Lloyd. Apa itu benar...?”


“HAH?! AKU? LEBIH LEMAH DARI LLOYD?!


“Tetua! Kebohongan apa yang telah kaujejalkan pada Reina? Tentu saja AKU yang lebih kuat dari dia!”


“Eh? Yang benar? A-aku benar-benar tidak tahu lagi mana yang bohong, mana yang benar....” Reina dibuat pusing


“Tentu saja kau akan lebih memilih percaya padaku, ‘kan? Karena AKU-lah yang akan selalu menjagamu!”


“Sudahlah Aria,” ujar Hugo, “yang lebih penting, mereka yang terluka.” Hugo tersenyum kecil.


“Ah. Baik. Maafkan aku.


“Semua, berbarislah! Dan jangan berebut!”


Kemudian, Ariapun menyembuhkan mereka yang selamat satu per satu, dari yang terparah. Begitu pula dengan yang terjebak sihir pembatuan dari Asuka.


“Setelah kalian selesai,” ujar Hugo lagi, “kita akan adakan upacara perpisahan.”


Semuanya mengangguk tanpa suara....

__ADS_1


__ADS_2