Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Sang Raksasa Teladan, Jeanne


__ADS_3

“MAAF!”


Serina dan Gerda yang masih berdiri bersebelahan, tiba-tiba didatangi oleh Reid yang menundukkan kepalanya.


“Karena ketidakpekaanku, bahasan penting kita jadi tertunda begini. Aku tahu kalau kalian memiliki kepentingan lain, tapi aku... malah...,” sambung Reid.


“Hahaha!” Gerda menepuk-nepuk keras dua bahu Reid. “Tidak mengapa. Lagi pula, aku yang menggagas ide pesta semalam. Kalau kalian menikmatinya, aku pun ikut senang.


“Sekarang....”


Wajah ceria Gerda yang mendadak serius dalam sekejap mata itu membuat Reid gugup dan menelan liur.


“Ada sesuatu yang harus kukatakan, berkaitan dengan Titania dan desa ini. Kumpulkan para orang tua, tentu saja kau juga harus ikut,” sambung Gerda.


“Baik! Akan segera kulaksanakan!” Reid dengan sigap menjalankan permintaan gadis pirang bermata hijau dan berseragam hitam ber-emblem bulan sabit pecah tersebut.


“Apa yang kaurencanakan sekarang?” tanya Serina.


“Aku sudah dilatih oleh Luna, Zeeta, dan nyonya Scarlet untuk terus senantiasa bersihir dengan atributku meskipun sihir itu kecil. Aku jadi tahu dan semakin peka karenanya, tentang apa yang sedang terjadi di sekitaran desa ini. Tumbuh-tumbuhan dan tanahnya, maksudku. Mereka sedang merasa panik dan was-was akan sesuatu yang buruk hendak menghantam dunia ini.


“Tidakkah alam juga memberitahumu hal yang sama?”


Serina menatap langit. “Iya. Jujur saja, aku merasa disaat kita membuang-buang waktu di sini, tim lain sedang bersusah payah mengamankan Batu Jiwa.”


“Membuang waktu ..., ‘kah?” Gerda tersenyum tipis. “Mungkin kau benar, mungkin juga salah.”


Serina mengernyit. “Apa maksudmu?”


Tapi, sebelum Gerda dapat kesempatan untuk menjawab, Reid sudah mengumpulkan orang-orang tua. “Ayo, kau juga ikut, Serina.” Gerda meninggalkan Serina untuk menghampiri Reid. Serinapun mengekorinya dari belakang.


......................


“Karena jumlah kalian takkan mencukupi ruang di rumah, kita akan berbincang di sini,” tutur Gerda, “tunggu sebentar.”


Para orang tua saling tatap satu sama lain—tidak mengerti apa maksud Gerda yang menyuruh mereka menunggu.


Gerda, dengan konsep yang sama seperti sebelumnya saat membuat pelindung dari akar untuk menahan hantaman besar Titania, dia membuat atap dari sihir yang sama, yang beberapa sudutnya tumbuh cabang-cabang berdaun. Tentu, dia juga membuat dindingnya dengan cara yang sama pula. Kemudian, sebagai last touch-nya, dia menciptakan sebuah medan penghalang—untuk mengedapkan suara.


“Terima kasih sudah menunggu,” kata Gerda lagi, “tolong beritahu kami lebih banyak dahulu tentang Jeanne.”


Reid memandang serius Gerda. “Akan kujelaskan. Kalian tidak keberatan, ‘kan?” para orang tua hanya mengangguk.


“Desa ini sudah diselamatkan oleh bibi Jeanne sejak lama. Orang tua dari mereka....” Reid memandang sesaat para orang tua di belakangnya. “Sudah mengetahui bibi Jeanne. Tapi, mereka tidak pernah tahu siapa sebenarnya bibi Jeanne. Mereka hanya tahu kalau dia memiliki usia panjang karena sihir.


“Sebab, dari semua penduduk desa, yang benar-benar bisa memakai sihir hanyalah bibi Jeanne. Kami selalu menyangka hal yang sama seperti itu, tanpa pernah mencurigainya.


“Dia adalah panutan kami, dengan semua pengetahuan, wibawa, juga karismanya. Tidak ada satupun di desa ini yang membenci atau iri terhadapnya.


“Kemudian, hari itu tiba, tiga tahun yang lalu. Semua hari-hari damai kami berubah menjadi neraka. Hampir setiap hari, alam menerjang desa kami dengan daya hancurnya yang dahsyat. Tapi, bibi Jeanne tidak pernah mengatakan kalau ternyata bencana alam itu berasal dari pertarungan antar sihir. Siapa juga yang akan menyangka kalau badai petir-api yang kami takutkan ternyata adalah salah satu bentuk dari sihir?


“Kami mengetahuinya dari seseorang yang mengunjungi bibi Jeanne dan mengatakan banyak hal tentang Aurora dan apa yang sedang dilakukan mereka, terutama Tuan Putrinya.”


Serina dan Gerda mengernyit tentang itu.


“Orang itu memakai pakaian aneh yang tidak pernah kami lihat sebelumnya, kami juga sama sekali tidak mengerti apa maksud dari semua pembicaraan mereka. Disaat yang sama, kami juga mendengar dentuman-dentuman dari belahan dunia lain. Ditengah rasa-rasa cemas dan takut itu, bibi Jeanne menyuruh kami semua, termasuk Titania untuk menjauh.


“Tapi, saat itu aku tidak bisa tinggal diam saja. Bibi Jeanne selalu menyimpan apa yang seharusnya kami ketahui. Aku tahu itu demi keselamatan kami, para warga desa, tetapi....


“Kalau kami tidak mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi atau apa yang menjadi rahasianya, kami mengerti kami takkan bisa menjadi apa-apa tanpanya. Kami selalu bergantung padanya.


“Maka dari itulah, saat itu, sendirian kukembali ke tempat desa kami sebelumnya, dimana bibi Jeanne ... sudah kehilangan nyawanya....”


“Apa kau melihat apa yang terjadi di sana?” tanya Serina.


Reid menggeleng. “Yang kulihat saat itu adalah….”


......................


Reid berlari dengan tergesa-gesa. Keringat membanjiri wajahnya. Disaat ia berlari itu, dari arah utara—kemana ia berlari—ia melihat pilar aura emas, yang menghempaskan angin kencang. Larinya sempat terhenti karena angin tersebut, tetapi ia berhasil lari lagi.


Semakin dekat dengan desa sebelumnya, Reid melihat huruf Z membentang cukup besar dan tinggi, dengan warna yang sama seperti pilar sebelumnya. Lalu, ia juga melihat apa yang ada di depan matanya.


Sosok Jeanne yang tergeletak bersimbah darah di hadapan wanita berpakaian aneh (baca: pelayan) yang berwujud mengerikan. Kepala, tangan, dan kakinya layaknya asap hitam—itu tidak berbentuk. Matanya pun merah. Dia sama sekali tak mengerti apa yang terjadi, tapi yang pasti, wanita itulah yang membunuhnya.


Reid juga menyaksikan, di tangan kanan yang berupa asap itu, terdapat batu bertuliskan sesuatu yang tidak ia kenal, berwarna hijau zamrud.


“Misi selesai, Nona Asteria. Sudah kudapatkan Batu Jiwanya.


“....


“Baik. Aku akan segera kembali.”


Wanita itu—Xennaville—menciptakan sebuah portal dan lenyap dari tempat.


Reid yang masih membatu, tak bisa mengeluarkan reaksi apapun. Pandangannya kosong. Sampai....


“Kemarilah, Reid. Aku tahu kau dis ana.”


Suara Jeanne memecah lamunannya. Ia segera menghampirinya.


“Bi-Bibi Jeanne! Ke-kenapa kaubisa....”


“Diam dan dengarkanlah saja. Aku tidak lagi memiliki waktu banyak. Lihatkah kau cahaya emas itu?” Jeanne melirik huruf Z besar dan lebar yang bersinar emas, yang berada di sebelah kirinya.

__ADS_1


“A-aku lihat....”


“Cahaya itu adalah cahaya harapan. Seseorang yang sedang mempertaruhkan keselamatan dunia, sedang bertarung saat ini. Orang itu berasal dari Aurora, dan bila ada orang-orang dari sana mendatangi kalian, sampaikanlah ini.


“'Jangan biarkan Jötunnheim terbuka apapun yang terjadi. Kalaupun itu gagal, musnahkanlah mereka, jangan beri mereka ampun. Terutama Jormungand.'


“Ingatlah selalu pesanku itu, Reid.”


“Aku akan selalu mengingatnya, jadi janganlah—“


“Sampaikan pesanku juga pada Titan.


“'Ibu menyayangimu. Janganlah menangis, karena kau adalah harga diriku. Bila kau menangisi kepergianku, maka kau malah melukai harga diriku. Kau adalah kebanggaanku. Hiduplah seperti apapun yang kauinginkan, tetapi selalu ingatlah kata-kataku. Ibu benar-benar menyayangimu.'”


Jeanne menangis, dengan pandangannya yang mulai kosong. Hal itu membuat Reid juga ikut menangis, karena ia tahu bahwa Jeanne tidak pernah menangis, sekalipun.


“Reid. Lindungilah desa. Aku tahu Aurora akan menyelamatkan kalian, tapi sampai saat itu tiba, janganlah menyerah.


“Aku ... seorang Raksasa yang sudah hidup ribuan tahun ini....


“Menyayangi kalian, Manusia.


“Maafkan aku bila aku tidak bisa ... selalu ... bersama kalian....”


Saat pandangan Jeanne mengosong, tubuhnya perlahan berubah menjadi butiran mana warna-warni. Tangis pun tumpah dari Reid dengan sangat deras. Amat deras.


......................


Reid yang saat ini bercerita, juga para orang tua yang ada di belakangnya, terbukti sangat menyayangi Jeanne, karena meskipun sudah menjadi kisah tiga tahun yang lalu, mereka menangis.


“Sekarang aku jadi mengerti kenapa Zeeta terus melatih kami dengan keras selama tiga tahun ini.


“Aku juga memiliki sesuatu yang harus kukatakan tentang Jeanne dan Titania. Ini berkaitan dengan Raksasa, dan sebagian kecil dari masalah yang secara tidak langsung melibatkan kalian.”


Gerda lalu menceritakan tentang Raksasa yang menjadi sekutu Aurora, Ozy. Dia juga bercerita tentang kemampuan Raksasa yang bisa bersihir kuno Rune. Dirinya dan Serina datang ke sini juga untuk mencari tahu kebenaran tentang Batu Jiwa yang sudah diambil itu, untuk membantu timnya yang lain yang sedang bergerak disaat yang sama, mengamankan batu-batunya.


“Memangnya kenapa batu-batu itu bisa menjadi sangat penting?” tanya Reid.


“Kami juga tidak tahu, belum ada kabar terbaru yang kami dapatkan, tetapi... orang yang menyerang Jeanne tiga tahun lalu, sudah dapat dipastikan kalau dia adalah salah seorang penghuni dari kekaisaran Seiryuu.


“Sebuah kekaisaran yang memiliki kekuatan Naga.


“Untuk informasi saja, kami pun memiliki Naga yang bersekutu, tetapi mereka hanya berjumlah dua. Sangat berbanding jauh dengan Seiryuu.


“Disinilah letak masalahnya.


“Kalian sudah ditarget oleh kekaisaran itu untuk dimusnahkan. Kalau pengamatanku selama ini tidak meleset, alasannya adalah Titania dan dua Peri yang sedari tadi menguping itu.”


“Dan mereka juga ingin kalian benar-benar lenyap agar kami tidak bisa menggali informasi tentang Batu Jiwa dan Seiryuu itu,” tambah Serina.


Reid dan para orang tua termangu mendengar semuanya. Kemudian, salah satu orang tua bertanya, “Berarti, dua orang yang menyerang desa ini kemarin, adalah orang dari kekaisaran yang sama, bukan? Jika bibi Jeanne saja bisa kalah, kenapa kalian bisa dengan mudahnya menang?”


“Itu karena mereka bukanlah tandingan kami,” jawab Gerda, “dua orang kemarin hanyalah tingkatan paling bawah dari orang-orang kuat Seiryuu. Aku sangat yakin itu.


“Sebab, sebelum kami berangkat, Aurora disusupi oleh putra mahkota dari kekaisaran itu, dan dia berhasil menyeimbangi kekuatan tuan putri kami.”


“Se-seimbang...?!” Reid yang paling terkejut dari semua orang. Dia tahu betapa mengagumkannya cahaya emas yang ia lihat kala itu.


“Tapi, aku masih tidak yakin apakah putra mahkota itu memang menyeimbangi tuan putri atau tidak, karena....


“Ah, kesampingkan soal itu, aku dan Serina yakin kalau perempuan yang lari dari pertarungan kemarin, akan kembali menyerang desa ini lagi, dengan kekuatan yang jauh lebih besar.


“Karena itulah, aku memiliki saran!”


......................


“APA KAU SUDAH GILA?!” jerit Serina.


“Tidak, aku serius.” Gerda menatap polos lawan bicaranya.


“No-Nona Elf itu benar, hanya untuk kami, kenapa kau mau melakukan semua itu...?” tanya Reid.


“Zeeta sebenarnya sudah menemuiku, semalam sebelum kita berangkat. Dia bilang, dengan Rune Kaunaz-nya, dia melihat kondisi desa ini. Dia ingin aku melakukan sesuatu padanya dan menyerahkan keputusannya padaku.


“Awalnya aku sama sekali tidak mengerti sepatah katapun maksudnya, sampai aku benar-benar tiba di desa dan saling bertukar kata dengan kalian. Mungkin, menurutku, ini sebagai salah satu bentuk maafnya pada kalian karena sudah meninggalkan kalian.


“Tapi kuharap kalian mengerti terlebih dahulu, dia tidak bisa meninggalkan Aurora karena banyak hal. Jika ingin menyalahkan, tolong jangan salahkan putri itu.”


.


.


.


.


“Mana bisa kami menyalahkan kalian kalau sudah tahu semua ini,” jawab Reid, setelah beberapa saat terdiam. “Ini juga hanya membuktikan kalau ucapan bibi Jeanne sangatlah benar. Tapi, kalau kau benar-benar ingin melakukan hal yang kausebut tadi, Nona, janganlah lakukan itu semua sendirian.


“Libatkanlah kami!”


Gerda tersenyum. “Tentu saja!” dia kemudian melepas semua sihirnya. “Baiklah, karena kita punya jadwal padat, panggil semua anak-anak mudanya! Kita akan berpesta!”


“Hahahaha, betapa cerianya dirimu!” para orang tua senang dengan Gerda. Disaat yang sama, bersama dengan senyuman di wajah, Reid memanggil anak-anak muda.

__ADS_1


“Sebuah kehormatan untukku!”


“Baiklah, karena kami hanya akan menghambat, panggil saja kami jika kalian butuh sesuatu.” Para orang tua membubarkan diri.


“Terima kasih, akan kami lakukan!” Gerda melambaikan tangan.


“Mengubah dan membangun ulang desa ini menjadi lebih strategis... apa gunanya?” tanya Serina, yang berbisik. “Kita hanya tinggal menunggu Seiryuu itu datang lagi, kemudian melapor pada Alicia, semua selesai.”


“Hahaha, dari nadamu itu, kau tahu aku bohong soal Zeeta tadi?”


“Apa kau bodoh? Aku selalu ada bersamamu di malam itu. Aku pulang sesaat ke hutanku paginya untuk mengambil barang-barang.”


“Aku ingin membuat Titania tersenyum. Itu saja alasanku. Apa itu salah untukmu?”


“Kenapa kau begitu terpaku padanya?”


“Apa aku harus butuh alasan untuk itu?”


“Haaah~ aku hanya tidak mengerti kenapa kau melakukan ini. Zeeta saja mungkin tidak akan sejauh yang kaulakukan.”


“Kau benar. Tapi inilah caraku.”


Serina tersenyum. “Kukira kau hanya meniru Zeeta, seperti yang kaukatakan sebelumnya padaku?”


Gerda juga jadi ikut senyum. “Aku bukanlah tipe orang yang benar-benar terpikat dengan panutanku. Aku pun memiliki cara sendiri, seperti yang sudah diajarkan Luna padaku.”


“Bagus. Aku suka itu.”


Tak lama kemudian, keduanya melihat kedatangan Titania, bersama dengan anak-anak muda—terdiri dari anak kecil hingga seusia Reid. Yang paling semangat adalah Titania. Dia berlari lurus menuju Gerda.


“Kakaaaaak!” Titania melompat lalu mendekap Gerda.


Gerda, yang tidak menyangkanya, sempat terbelalak, kemudian terjatuh. “Aduduh... kau tak apa, Tanny?”


“Uhm! Aku akan membantu Kakak membangun ulang desa ini! Katakan saja apa yang harus kulakukan!”


“Hahahaha! Aku suka semangatmu! Tapi, kita semua harus melakukan ini bersama-sama, oke?”


“Oke!”


“Serina, kau mau membantuku, ‘kan?”


Serina tersenyum dan mengangguk.


“Kalau begitu, ayo kita mulai projek besar kita bersama!”


“Yaaaaa!!” jawab semuanya bersamaan.


......................


[Sementara itu, di sebuah ruangan gelap yang hanya diterangi oleh lilin di Kekaisaran Seiryu....]


“Bunuh gadis itu. Jangan sampai gagal. Kau hanya memiliki satu kesempatan. Mengerti, Lyuu?”


“Tentu, Tuan Carl. Aku juga memiliki dendam padanya.”


Disaat yang sama, di ruang itu, datang seorang gadis beranting bulan. “Kalian akan gagal.”


Carlou mengernyit, juga menatap tajam si gadis. “Siapa kau, berani-beraninya—“


“Berisik. Jangan bicara padaku.”


‘BWHAMM!’


Carlou tiba-tiba terbanting ke tanah.


“Tu-Tuan Carlou?!” Lyuu dipaksa kaget.


“SIALAN...! Siapa kau sebe—“ begitu anting bulan dari gadis terkena cahaya dari lilin, gigi-gigi Carlou semakin meruncing.


“Tidak usah menunjukkan taring itu padaku.”


‘BWOOAM!’


Sekali lagi Carlou terbanting semakin dalam ke tanah. Takut, Lyuu tak bisa melakukan apapun.


“Aku sudah membuat kesepakatan dengan Kaisar Zero. Aku akan melakukan apapun yang kusenangi, dimanapun tempatnya, dengan bayaran diriku yang akan membantunya menyerang Aurora.


“Tapi, aku hanya tidak senang saat melihat Naga tua sepertimu tetap saja sombong, kendati zaman sudah berganti sejak lama.


“Kesombonganmu itu benar-benar membuat darahku mendidih, mengingatkanku apa yang paling kubenci di dunia ini.


“Carlou.


“Kau ada di tempat yang sama saat Ars dibunuh, bukan?


“Itulah perasaan yang kurasakan, sama seperti Gala.


“Kebencianku benar-benar sulit untuk dibendung, kapanpun melihat Naga tua sepertimu!”


Saat si gadis ingin melancarkan sihir pada Carlou, dia dihentikan oleh seseorang. “Tunggu, Penguasa Kekelaman!”


“Apa yang kauinginkan, Asteria?”

__ADS_1


“Bintang bicara padaku. Ada sesuatu yang harus kautahu.”


Gadis yang dipanggil Sang Penghakim itu tampak tak senang. “Cih, kulepaskan kau saat ini, Carlou. Tapi ingatlah kata-kataku tadi. Kau ... akan gagal!”


__ADS_2