
[Kerajaan Aurora, masa kini, di ruang bawah tanah istana.]
Mereka yang ada di dalam ruangan rahasia—Klutzie, Suzy, Siren, dan Alicia—sama-sama sedang membaca Buku Harian Sang Raja Buas. Saat ini, mereka sedang membaca Bab Dua Belas.
"Tujuan kita hanya untuk mencari tahu asal-usul Nebula, tetapi justru mendapatkan banyak informasi lain...," kata Klutzie yang pikirannya sedang meledak atas semua sejarah yang baru saja dibacanya. "Meskipun ini tidak ada hubungannya dengan tujuan utamanya, Ratu Alicia, bolehkah aku bercerita sesuatu padamu?"
"Ada apa tiba-tiba begini?" tanya Alicia. Semua mata, termasuk Siren fokus pada Klutzie.
"Ini sangat mengganjal untukku dan aku merasa jika kita membaca lebih lama lagi maka jawabannya akan segera kita temukan.
"Tetapi....
"Kami tidak pernah memberitahukan ini sebelumnya, tetapi kalau sudah sejauh ini, kurasa Anda berhak mengetahuinya."
"Hei, Lutz," panggil Siren, "kauingin mengatakannya tanpa izin dari dia?!"
Klutzie menoleh pada Siren. Ia lantas mengangguk mantap. "Pria bernama L'arc ini...," sambungnya, "adalah pria yang sempat mengambil nyawa putrimu."
Alicia langsung mengernyit. "Hah...? Apa maksudmu?"
Klutzie kemudian menceritakan tentang kejadian yang melibatkannya, Siren, Marianna, Zeeta, dan L'arc, kala mereka mencoba menyelamatkan rakyat Nebula bertahun-tahun silam.
"Kami tidak pernah mencoba untuk speak up, sebab Zeeta bilang begini pada kami.
"'Yah, semuanya sudah berakhir, bukan? Rakyatmu terselamatkan, ayahmu, kakakmu....
"Meskipun ada banyak rakyatku mati disaat aku 'mati suri', tetapi jika tidak ada yang mengetahui tentang ini, mereka takkan mengendurkan rasa percayanya padaku.
"Mengertilah, Pangeran, bahwa mereka adalah tonggak aku bisa berdiri setegak ini. Bila penumpuku mulai tumpul, aku sangat ragu dengan diriku sendiri.
"Ini mungkin hanya keegoisanku ... dan aku sadar memang beginilah nyatanya, tetapi kumohon. Aku tidak ingin membuat mereka khawatir dan mengurangi kepercayaan mereka. Apalagi ... ayah dan ibuku.'"
Mendengarnya, Alicia mengepalkan kedua tangannya. Kepalanya tertunduk, giginya digertak. "Lalu, siapa sebenarnya Pria Brengsek itu?! Kenapa dia tidak mati meskipun lima ratus tahun sudah beranjak dari masanya terpilih?!"
Siren memasang wajah seriusnya. "Kemungkinan besar, itu pun merupakan sebuah kutukan."
"Kutukan...?"
"Kuluruskan dulu agar tidak terjadi kesalah-pahaman.
"Benih Yggdrasil bukanlah sesuatu yang muncul ke permukaan dunia setiap masanya. Dan kalaupun ada, Yggdrasil akan memilih tiga Wadah.
"Mengapa tiga?
"Dunia ini dilandaskan dari tiga dunia. Galdurheim, Jötunnheim, dan Drékaheim.
"Tiga Benih Yggdrasil ini ditakdirkan untuk menumbuhkan kembali Pohon Dunia dengan tujuan 'melimpahkan kedamaian lagi bagi para penghuni tiga dunia tersebut'.
"Masalahnya, dikala Zeeta bercerita saat Ifrit mengendalikan tubuhnya, L'arc ini memiliki tiga atau empat Roh Yggdrasil yang menjadi sekutunya.
"Dari sini saja, fakta bahwa dirinya mengatakan ia adalah Mantan Benih Yggdrasil, sudah berkontradiksi."
"Jadi ... maksudmu... L'arc ini hanya membual kalau ia adalah...." Klutzie menebak-nebak.
"Tidak juga.
"Kami para Roh Yggdrasil yang menjadikan kalian sebagai Wadah, bisa berkomunikasi satu sama lain dengan kekuatan kami yang disebut 'Link'. Namun, ada syarat untuk menggunakannya—ketiga dari kami harus saling setuju.
"Luna pernah bercerita, sejak ia mengetahui bahwa L'arc memiliki Roh Yggdrasil sebagai sekutunya, ia sama sekali tidak bisa berkomunikasi dengan mereka. Namun, ada tanda-tanda bahwa L'arc bisa sebaliknya.
"Dengan demikian, jawaban yang bisa ditemukan dari siapa sebenarnya L'arc, sebenarnya tidak begitu sulit, tetapi tetap saja masih menimbulkan pertanyaan."
"L'arc adalah salah satu dari keturunan Bulan atau Matahari pada masanya." Suzy menarik fokus mata dan telinga pemirsa di sana. "Ia yang mengetahui banyak fakta tentang masa lalu keturunannya, berkontak dengan Roh Yggdrasil.
"Apapun yang terjadi antaranya dengan Roh Yggdrasil pada masa itu, adalah kunci yang menyebabkan ia menjadi seperti ini sekarang ... dan empat puluh dua tahun yang lalu."
Siren mengangguk—mengisyaratkan kakak dari Wadahnya itu benar.
"Dia sudah mengatakannya," sahut Alicia, yang membalik halaman buku harian ke beberapa halaman sebelumnya.
"Oh, ya! Itu karena mereka adalah manusia-manusia yang haus akan kuasa, kekuatan, dan mengatas-namakan keadilan untuk menyingkirkan yang tidak bisa sejalan dengan mereka, bahkan jika itu adalah genosida.
__ADS_1
"Kalimat inilah yang paling mencerminkan alasan dia menjadi dirinya yang sekarang."
"Tapi," balas Klutzie, "kita tetap tidak tahu mengapa ia mengaku sebagai Benih Yggdrasil."
Ada jeda waktu diam di antara mereka. Satu per satu memiliki alasannya. Ada yang tidak habis pikir tentang ayahnya yang berbuat demikian—Klutzie, ada yang masih penasaran dengan alasan ibu mereka dikutuk—Suzy, yang tidak paham kenapa makhluk yang seharusnya satu kesatuan malah seperti berbeda entitas—Siren, dan yang memikirkan dalam-dalam tentang ayah, ibu, serta anaknya—Alicia.
"Daripada itu," Siren memecah suasana, "sebentar lagi Barghest mengungkapkan lebih banyak tentang Nebula. Ayo lanjut membaca."
"Tunggu!" pinta Klutzie, "apa aku boleh tanya kapan ayah Anda ... ma-mati, Ratu Alicia...?"
"Saat usiaku tujuh. Kenapa?"
"Tidak, bukan apa-apa.... Aku hanya bingung, mengapa buku harian milik ayah Anda bisa sedetail ini menceritakan dari banyak sudut pandang. Jika begitu, maka masuk akal."
"Itu benar. Tapi, tetap saja tidak masuk akal bagiku mengapa ibuku bilang kalau raja Eizen-lah yang membunuh ayahku."
Klutzie segera ter-skak karena pertanyaannya sendiri.
"Ma-maafkan aku karena sudah lancang...." Mental Pangeran itu layu.
......................
The Beast King's Diary, Chapter XIII.
Senyum sumringah pria itu membuatku terpaku beberapa saat. Ya, ia terlihat senang, tetapi entah kenapa, aku merasa sangat takut. Perasaan ini tidak pernah kurasakan sebelumnya, namun aku masih bisa menguasai rasa takut ini.
Pernyataan yang dilontarkannya, "Dengan kekuatanmu itu, hancurkanlah Gala," membuatku mempertanyakan pendengaranku sendiri.
Ia serius?
Beberapa saat yang lalu, dia bertanya apa aku tidak tertarik untuk menyelamatkan Gala? Sekarang, ia malah....
......................
"Uuups." Suara L'arc mengejutkan Barghest yang sedang melamun. "Aku taaahu pasti apa yang sedang kaupikirkan.
"'Haaah? Kenapa? Kenapa dia mengucapkan hal yang berkontradiksi begitu? Apa dia waras?'
"Yah, dengarkanlah dulu. Aku tidak membuat permintaan jika hanya untuk membunuh massal. Aku pun bisa melakukannya sendiri—seperti yang baru saja kulakukan.
"Aku tidak memintamu membunuh orang. Manusia selalu saja berpikir dangkal. Ketika seseorang bilang menghancurkan, yang terbesit pasti banyak korban jiwa yang akan melayang.
"Aku ingin kau menjadi legenda, Bocah. Legenda yang menakutkan untuk generasi selanjutnya."
"Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu. Sebenarnya apa tujuanmu ke sini?!"
"Tenanglah, tenanglah. Tidak perlu terburu-buru begitu, aku takkan mengkhianati ucapanku sendiri.
"Seperti yang kukatakan, jika kau mau membantuku, maka semua yang menjadi pertanyaanmu, akan kujawab semua. Tapi, aku pun tahu negosiasi ini takkan berjalan bila kau tak memahami maksudku.
"Ikutlah denganku. Aku akan membiarkanmu memutuskannya sendiri. Jika kau memang memilih untuk menghancurkan Gala, maka hancurkanlah setiap jejaknya sampai tidak tersisa."
......................
Ketika Alicia yang beperan sebagai "narator" membalik halaman, mereka semua terkejut bersama-sama.
"Apa-apaan ini?!" seru Alicia, "kenapa halaman selanjutnya robek? Bahkan halaman akhirnya tidak ada!
"Suzy, apa yang kau—"
"Ti-tidak, Yang Mulia! Aku bersumpah!" Suzy menggeleng dan melambai kedua tangannya cepat.
"Cih. Kenapa ini...?"
"Apa mungkin ayah kami yang melakukannya...?" Klutzie mengatakannya pelan. "Dia kan pewaris terakhir dari Gala...."
Alicia menutup buku tebal yang dipegangnya. "Masih ada dua orang lain yang mungkin mengetahuinya!" dengan langkahnya yang tergesa-gesa, ia pergi meninggalkan ruangan.
Keadaan di sana segera sunyi dengan perasaan yang bersalah. Terutama bagi dua bersaudara itu.
"Lutz," panggil Suzy.
__ADS_1
Klutzie yang menunduk, mengangkat pandangannya.
"Sebelum kaupergi memastikannya sendiri pada ayah, biar kukatakan apa yang menggangguku dari semua tulisan raja Barghest."
"Apa itu?"
"Buku harian ini bercerita dengan bermacam sudut pandang. Dirinya sendiri, ratu Scarlet, dan ibu. Tetapi, ia tidak pernah menulis dari sudut pandang ayah.
"Ingat dengan apa yang paling pertama dikatakannya? Ia bisa berbicara dengan hutan. Ingatlah poin ini baik-baik, oke?"
"O-oke...."
"Aku masih memegang teori kalau sudut-sudut pandang ini ditulisnya karena mereka yang terlibat, sudah menceritakannya sendiri pada raja Barghest, tetapi kupikir... teori ia menulis karena kekuatannya yang mampu bicara dengan hutan, menurutku lebih bisa dipercaya.
"Mengapa? Sebab saat ia bercerita kalau ia tahu ibu sudah lama menguping pembicaraan mereka, itu terkesan kalau raja Barghest sengaja membuat ibu muncul di depan mereka semua.
"Lalu, disaat ratu Scarlet dan nyonya Ashley masih bingung dengan banyak hal, hanya raja Barghest sendiri yang seakan sudah selangkah di depan.
"Fakta bahwa di sekitarnya ada banyak sekali tumbuhan, tidak bisa kita abaikan.
"Mengerti maksudku, Dik?
"Halaman-halaman itu ... menurutku dirobek bukan oleh ayah, tetapi karena kekuatannya sendiri."
"Ha... hah...? Apa...? Aku tidak mengerti!
"Apa hubungannya kekuatan bicara dengan hutan ... dengan halaman yang dirobek?"
"Adikku, raja Barghest telah mengatakannya di awal bab lima.
"Ia mengetahui ancaman serta bisa bertahan hidup selama dua puluh tahun di hutan seorang diri sebagai 'Manusia', adalah karena kekuatannya.
"Jika dipikir lagi, ratu Alicia bilang raja Barghest tewas saat ia berusia tujuh tahun.
"Itu berarti, sebelum ia berusia tujuh tahun, buku harian ini pasti masih lengkap dan utuh.
"Satu poin penting lainnya, kalau dugaanmu yang berpikir, 'ayahlah pelakunya, karena ia tidak ingin rahasia Gala diketahui', maka pertanyaannya, kenapa saat di bagian dirinya yang muncul di depan raja Barghest, malah tidak dirobek?
"Jika kau masih tidak mengerti Adikku....
"'Bersatunya Southern Flare dan Gala' adalah salah satu kedok untuk menyembunyikan apa yang telah diketahui raja Barghest.
"Lalu kenapa tiba-tiba raja Barghest menjadi target ayah?
"Aku sangat-sangat yakin, bahwa ini ada kaitannya dengan Zeeta.
"Memang, kuakui yang mengetahui fakta sebenarnya mungkin hanyalah raja Barghest sendiri dan istrinya, tetapi aku ragu ratu Scarlet tahu tentang ini."
Klutzie termangu dengan penjelasan panjang lebar kakaknya. "Gi... gila... kakakku memang seorang jenius...."
"Hmph." Suzy bertolak pinggang. "Tentu saja!
"Tetapi kejeniusanku ini takkan berarti kalau teoriku salah. Sebaiknya kaupastikan sendiri masalah ini dengan ayah. Aku punya sesuatu hal lain yang harus kucari tahu."
"Hmm? Apa memangnya?"
Suzy tersenyum. "Tentu saja tentang L'arc. Aurora ini seperti pusat dari tiga kerajaan itu, bukan? Siapa tahu sejarah lima ratus tahun yang lalu ada di sini."
Klutzie membalas senyum kakaknya. "Baiklah. Aku pergi dulu. Jangan sampai buat dokumennya berantakan lagi, ya, Kak!"
"Hahaha, baiklah-baiklah."
Lantas, Klutzie pergi bersama Siren—pulang ke Nebula. Saat ia sampai di hadapan ayahnya....
"Akhirnya kau datang juga, Putraku," ujar Raja Eizen seakan sudah menduga kehadirannya di ruang takhta.
"A-apa Anda sedang mencariku, Ayahanda?"
"Apa kaupikir aku tidak mengetahui kegundahanmu setelah bertahan menjadi Benih Yggdrasil? Tentu saja aku tahu apa yang sedang sangat ingin kautanyakan.
"Bila pertanyaanmu adalah, 'apa aku yang membunuh raja Barghest?'
__ADS_1
"Ya. Dengan tanganku sendirilah orang itu tewas. Darahnya mengalir deras, membasahi seluruh tubuhku."