
Klutzie dan Siren yang menjadi tuan rumah untuk Luna dan Xennaville, tercengang kala mengetahui tujuan utama mengapa keduanya ingin menghadap.
"Alasan Feline bisa meramal Zeeta bisa menghancurkan dunia," ujar Luna, "adalah Sihir Kuno yang bisa mempermainkan ingatan.
"Dengan kata lain, itu adalah Rune.
"Tidakkah aneh bagimu, mengapa tiba-tiba Tellaura dan para keturunan Matahari di Southern Flare mulai kembali menjadi 'bintang utama'?"
Demikianlah, kalimat Luna yang masih belum tuntas seutuhnya. Kalimat ini hanya menambah pertanyaan untuk keduanya. Lantas, bertanyalah Klutzie pada Luna.
"Me-memangnya hal semacam itu bisa dilakukan?! Se-seseorang menyihir ingatan orang lain hingga—"
"Tentu saja bisa, Nak," tukas Luna, "ingatlah lagi, sebelum kau menyusup ke dalam Aurora dan tiba-tiba meminta Zeeta menjadi pasanganmu—"
Klutzie tersentak dan merona mendengarnya. Tak disangkanya sendiri jika bisa lupa hal itu
"—Zeeta baru saja mengalami hal pahit dalam hidupnya, juga baru tahu tentang identitas dirinya sendiri. Saat itu juga, adalah saat dimana ia bertemu dengan musuh pertamanya....
"Keluarga bangsawan yang pernah ada dibawah kendali Alicia dan Ashley—yang bernama Rowing.
"Mereka mencuci otak rakyat di kota sebelahnya agar tidak memberontak terhadap satu pun perintahnya. Dan kuingatkan, sihir itu bukanlah sebuah Sihir Kuno."
Siren memejamkan matanya sesaat. "Koreksikan aku bila salah," katanya, "kesimpulan dari semua yang kaukatakan ... adalah Zeeta yang lain itu telah mengacaukan arus waktu dunia ini?"
Luna mengangguk.
"Untuk menambah kepercayaan kalian padaku, lihatlah saja ke dalam ingatanku, bahwa aku pernah beberapa kali mendengar, melihat, dan bertemu dengan gadis itu.
"Kalian akan tahu bahwa gadis itu ... sama sekali berbeda dengan Zeeta dunia ini."
Luna kemudian menyihir keduanya untuk melihat ingatan yang dimaksud. Saat dia dan Zeeta yang pergi "mengintip" masa depan, saat Luna menyusul Colette atas permintaan Zeeta ke sebuah dimensi buatan—dimana di sana ia bertemu secara langsung Zeeta Alter, serta kisah Belle yang diceritakan Edouard tentang masa lalu keduanya.
Kala sihir ingatan itu usai....
"Aku serahkan keputusanku pada Wadahku. Sejak awal, aku merasa gadis itu terlalu berbahaya," pungkas Siren, yang menatapi Klutzie.
"Apa yang kauingin kami lakukan, Luna?" tanya Klutzie.
Luna tersenyum.
......................
Klutzie selesai mengkilas-balikkan alasan mengapa Lloyd diminta ke sini oleh Tellaura. Saat ini, keduanya berada di puncak istana yang berbentuk tongkat sihir, dimana oksigen di sana terasa tipis. Untungnya, Klutzie sudah mengingatkan Lloyd untuk menyihir bagian pernapasannya, sejak sebelum keduanya merasa kehabisan oksigen.
"Roh Yggdrasil ingin Elf menjadi bahan bakar untuk sihir yang akan kautembakkan?!" Lloyd berteriak.
"Hei!" bentak Klutzie, "aku bilang 'MEMBANTU'!
"Di dunia ini, hanya Elf-lah yang bisa membantu kami—menjadi pemeran utama agar bisa mewujudkan sihir ini.
"Kami bisa saja meminta Peri, tetapi karena perbuatan Marianna, mereka tidak bisa diandalkan. Bahkan aku tidak tahu apakah mereka juga merasakan kepedihan yang sedang terjadi dunia ini."
Lloyd menggertak gigi. "Sebuah sihir yang akan melahirkan kembali dunia...? Aku tidak mengerti. Sebenarnya sihir macam apa yang ingin kalian wujudkan...?"
Klutzie menunjuk ke arah dimana lima monster raksasa yang dapat dilihat dari jarak ini berada. Lloyd melihat empat yang lain tak bergerak sama sekali. Di dekat mereka, ada sebuah retakan yang ukurannya kecil dari mata mereka, namun mereka tahu ada banyak makhluk yang berusaha untuk menjebolnya.
"Dunia ini sudah berakhir, bila gerbang Drékaheim dan Jötunnheim itu ikut terbuka. Yang akan kami lakukan adalah menata kembali dunia SEBELUM makhluk-makhluk itu lahir dan memperkuatnya.
__ADS_1
"Itu sebabnya sihir ini akan dinamakan The Glimmer of World."
Lloyd meneguk liurnya—terkesan dengan sihir yang kemungkinan akan mereka lakukan, dan menatap Klutzie serius. "Apakah Elf memang benar-benar bisa membantu kalian? Maksudku, jika hanya melihat dari mata saja ... ini mustahil!"
Klutzie tersenyum. "Sudah kubilang, 'kan, kalau kalian akan membantu! Tentu saja tidak hanya kalian. Aku percaya orang-orang itu bisa menghadirkan mereka ke sini."
Lloyd mengernyit. "A-apa maksudmu...?"
"Dunia ini masih memiliki banyak kartu trufnya selain Zeeta seorang. Mungkin kau sudah sering mendengar kalimat ini, tetapi kita takkan membiarkan dia mengemban beban dunia ini sendirian.
"Saat ini, dua rekan Aurora sedang menjalankan tugasnya masing-masing tanpa permintaan para Roh Yggdrasil.
"Maksudku, dengan sendirinya, mereka akan mengetahui apa yang harus dilakukan di situasi ini."
Tiba-tiba....
"Ha ha ha ha!" suara pria tertawa terdengar di atas mereka.
"Na-Naga Elbrecht...?!" Lloyd kaget. Ia melihat keturunan Naga Perang itu bersama seorang lelaki—Arata Akihiro.
"Sudah kuduga dari seorang Benih Yggdrasil!" seru Elbrecht, "instingmu bagus dan sama sekali tidak meleset!"
Sebuah potongan kayu bertuliskan Rune Raidho meluncur cepat dan segera tertancap di dinding istana—tepat di sebelah Lloyd. Ia jumpscared karenanya.
"Tidak ada waktu lagi. Di sini kami sudah siap! Cukupkan basa-basinya setelah sihirnya selesai!" suara Ozy terdengar.
Lloyd membeliak. "Jadi begitu! Reina, apa kau dengar semua itu tadi?!"
"Ya! Tetua juga sudah mendengarnya!" balas Reina dari Grandtopia.
......................
Setelah Ozy membawa putri Jeanne, Titania, kembali ke Hutan Elf—hutan "ilusi" yang merahasiakan tempat tinggal sebenarnya para Elf—Raksasa yang masih kecil itu kembali ke dekapan keluarga desanya. Teman-temannya yang khawatir kepadanya memeluknya erat sambil saling tangis.
Ozy berhadapan dengan pemimpin warga desa itu, Reid.
"Singkat saja, aku butuh bantuan Titania." Ozy segera menunjukkan Rune yang bisa dituliskannya.
Reid tersentak, tetapi ia segera paham. "Tolong bicaralah dulu pada anak itu. Kami tak mengerti apa yang terjadi, tetapi kami berhak dan wajib melindungi keinginannya."
Ozy tersenyum. "Aku akan melambatkan waktu kami dengan Rune. Jadi, pembicaraan kami takkan bisa terdengar dengan jelas.
"Tanyakan padanya apa yang kuceritakan setelah semuanya berakhir saja."
Reid mengangguk. "Aku percaya kau adalah Raksasa yang baik. Aku tidak tahu apa hubunganmu dengan bibi Jeanne, tapi—"
"Hubunganku?
"Aku ini temannya. Tidakkah itu jelas? Untuk apa Raksasa lain jauh-jauh dan repot-repot mengantarkan anak kecil sepertinya ke lingkungan yang membuatnya merasa aman hanya untuk bicara?"
Reid tak bisa mengelak dari kata-kata itu, tetapi ia tersungging.
.
.
__ADS_1
.
.
Titania saat ini menatap marah Ozy. "Kenapa kau menghalangiku membalaskan dendam kak Gerda?!"
"Kau ingin membalas dendam? Itu bagus. Aku merasakan darah Raksasamu lebih kuat daripada sisi Manusiamu."
Titania mengernyit.
"Katakan padaku. Tujuan balas dendammu, apakah itu orang yang telah membunuh ibumu atau Gerda yang kausebut itu?"
Titania terbelalak. "So-soal itu...."
"Aku tahu siapa yang mendalangi kematian ibumu, tetapi apa kauyakin bisa membalaskan dendam itu disaat dunia sedang kacau seperti ini?"
Titania melihat langit. Ia lalu menunduk terdiam.
"Apa kauingin aku memberitahumu siapa pelaku itu?"
Titania mencengkeram kalungnya. "A-aku mau."
"Seorang Roh Yggdrasil."
Mata melotot—menunjukkan bahwa Titania sama sekali tidak menyangka.
"Kautahu apa itu Roh Yggdrasil?"
"Tentu saja aku tahu! Tapi, tidak mungkin makhluk semulia itu—"
"Targetmu adalah Manusia yang memintanya membunuh ibumu.
"Namun ironisnya, dunia ini begitu kacau, bahkan Manusia yang menjadi targetmu itu tidak bisa dibiarkan mati terlebih dahulu."
"Apa yang kauinginkan dariku...?"
Ozy menyeringai. "Aku senang putri temanku sepintar dan sepeka dirinya."
"Ka-kau mengenal ibuku?!"
"Aku lelah menjawab pertanyaan ini. Dengar, Nak, waktu kita terbatas, jadi aku akan langsung ke intinya. Untuk mempersingkatnya, aku akan menunjukkan semuanya dengan Rune.
"Pinjamkan aku kalung itu."
Ozy memegang kalung yang berbentuk taring yang terselimuti oleh sebuah sarung tersebut dan menuliskan Rune Ansuz diatasnya.
Titania segera melihat kejadian-kejadian yang mengarah pada malam ini, melalui sudut pandang Ozy.
"Jika kau bicara denganku begini, maka kekuatanku sangat diperlukan?" Titania meregangkan tubuhnya.
Ozy semakin melebarkan seringainya. "Aku bangga putri Jeanne berbakat seperti ini. Sepertinya aku tak perlu mengajarimu tentang dasar-dasarnya, ya...?"
Titania ikut tersenyum. "Soalnya Jeanne adalah ibuku. Aku akan hidup demi mengharumkan namanya lebih luas lagi. Tidak berhenti sampai zaman ini, bahkan sepanjang masa!"
"Hahaha! Sudah lama kulupakan sensasi berbangga diri seperti ini, tapi aku tahu kau pasti bisa!"
__ADS_1
"Jangan terlalu senang dulu, Paman Ozy. Ibu memang sudah melatihku, tetapi aku masih belum tahu apa yang harus kulakukan atau bisakah aku melakukannya!"
"Kepercayaan diri yang tinggi itulah yang kauperlukan! Titania, kau akan menjadi Raksasa pertama yang akan membawakan kembali harapan pada dunia!"