Zeeta Dan Dunia Sihir

Zeeta Dan Dunia Sihir
Ingatan yang Kembali


__ADS_3

[POV Tellaura.]


Semuanya terjadi begitu cepat.


Tentang bagaimana ayah dan ibu meninggalkanku dan Clarissa di dunia ini sendirian, bagaimana kuselamatkan adikku dari bahayanya seorang bangsawan, dan bagaimana seorang penyelamat hidupku tewas oleh bangsawan lainnya.


Aku tidak begitu mengerti cerita yang diberikan penyelamat hidupku, dimana dirinya bicara tentang makhluk selain manusia hidup di dunia ini. Naga? Peri? Raksasa...? Aku tidak mengerti.


Namun....


Saat melihat seperti apa cara tewasnya dia di depan mataku saat itu ... membuatku tersadar bahwa dia benar-benar jujur.


Hal semacam itu—dimana bangsawan berambut hitam itu seperti meledakkan tubuh-tubuh di dekatnya, bahkan Olav yang baru saja tiba saat itu—tidak bisa dilakukan oleh manusia biasa.


Aku juga ....


Sepertinya bukanlah manusia biasa.


Aku berhasil keluar dari penjara bawah tanah yang dijaga ketat oleh para penjaga istana yang jumlahnya lebih dari belasan orang, dengan kekuatanku sendiri. Itu semua kulakukan dengan membawa adikku yang tidak sadarkan diri.


Aku sadar aku pasti bukanlah manusia biasa.


Lalu, hal itu pun membuatku ingat kata-kata Olav yang dilontarkan pada adikku—tentang ayah dan ibu kami adalah monster.


Bila...


Bila aku ... serta adikku memanglah keturunan monster, maka mungkin bukanlah hal yang buruk jika kami ikut menyusul orang tua lebih cepat. Lagi pula, tidak ada hal yang bagus bila monster seperti kami terus hidup....


“Hei hei hei.”


Aku tidak mengenal siapa wanita yang menghalangi bangsawan di depanku ini untuk membunuh kami berdua, tetapi ... kata-katanya yang mengingatkanku pada apa yang telah kujanjikan pada adikku, terdengar seolah dia mengawasiku dari kejauhan.


Siapa dia sebenarnya...?


Tapi ... yang lebih penting dari itu, saat ini, adalah diriku membuktikan kata-kataku—janjiku pada adikku sendiri.


Dia adalah satu-satunya keluargaku, maka aku sebagai kakaknya, harus melindunginya!


Ayah, ibu, bila kalian melihatku dari alam sana, bila kalian benar-benar memiliki kekuatan, kumohon...! Bantulah aku!


......................


‘SWISH!’


Tatkala Sephiroth hendak memutarkan badan sejak perginya Wanita Pirang, Tellaura yang hendak berdiri, kemudian seakan kilat, dia menghilang.


“Sekarang... kembali ke—di-di mana bocah itu?!” Sephiroth mencari anak perempuan berambut merah ke sekeliling ruangan yang sudah berubah menjadi merah gelapnya darah.


Tidak ada.


Dia hanya melihat anak perempuan berambut ungu seleher yang sedang terlilit oleh banyaknya kain berwarna hijau.


Lalu secara mendadak....


‘BWHAM!’

__ADS_1


Pandangan Sephiroth tiba-tiba gelap. Dia merasakan sakit pada wajahnya. Bangsawan berambut hitam panjang itu ditendang keras oleh Tellaura, hingga melemparnya begitu jauh dan berakhir tersangkut pada sebuah tembok rumah lain.


“AKU... AKAN MELINDUNGI ADIKKU, APAPUN YANG TERJADI!”


“Hnggh....” Suara Clarissa menarik perhatian Tellaura.


“Risa?!”


“Kakak...? Di mana kau...?” Tellaura melihat Clarissa membuka matanya.


“Jangan lihat ke sini, Adikku! Tutuplah matamu lagi dan percayalah saja kalau aku akan melindungimu! Kita pasti akan bisa terbebas dari sini, aku bersumpah demi ayah dan ibu!”


.


.


.


.


“A-apa yang baru saja terjadi?!” batin Sephiroth. Posisinya terbalik tiga ratus enam puluh derajat dan tubuhnya sulit digerakkan. Dari posisi terbaliknya itu, mata merahnya melihat sosok Tellaura yang terselimuti oleh aura merah yang begitu tinggi dan besar.


“Ka... kau…?!” Sephiroth, terlihat ketakutan. Ia melihat potongan-potongan ingatan dirinya, ketika berhadapan dengan seseorang.


“Begitu nikmatnya kah untukmu mengambil nyawa makhluk lain, Sephiroth?


“Begitu nikmatnya kah bagimu untuk merenggut sayap orang lain?


“Kalau kebebasanmu terenggut olehku, apa kau sanggup untuk menanggungnya?


"Kubiarkan Yggdrasil menurunkan palu hukumannya padamu. Setelah itu, kuyakin kita pasti akan berjumpa lagi."


Dia melihat seorang pria berambut merah keunguan menyala. Langkah kakinya mengubah tanah menjadi bersuhu panas fantastis. Tatapan matanya seakan membawa kengerian yang merusak seluruh perbuatannya selama ini. Tubuhnya bergemetar, dia pun merangkak mundur. Di belakang pria itu terdapat pohon yang besarnya melebihi dari kata raksasa. Bahkan seorang Raksasa pun, masih kalah besar dengan pohon tersebut.


“AKU TAKKAN MENERIMA KEKALAHAN SEPERTI ITU LAGI!”


Daerah sekitar Sephiroth hancur tak bersisa. Tubuhnya yang terbalik, perlahan kembali normal, dengan dirinya yang mendadak bisa terbang sekarang.


Mendapati bangsawan di hadapannya bisa melakukan itu, sempat membuat dirinya gentar, tetapi Tellaura tidak akan mundur lagi. Ia memutuskan untuk mengatur napasnya saja.


Baik itu Sephiroth atau Tellaura, keduanya bersiaga untuk menyerang terlebih dahulu.


‘BWOOOM!’


Cahaya bulat dengan dua warna saling beradu. Sebuah sisi merah, sisi lainnya hitam. Cahaya tersebut semakin meluas dan menimbulkan kepanikan di seluruh kerajaan.


Putri bungsu dari keturunan Southern Flare, Putri Corynna Southern Flare VI, memandang kejadian tak biasa itu dari istana. Wajahnya panik, dia tidak tahu apa itu sebenarnya. Sementara itu, tiga saudara-saudarinya yang kebetulan berada di ruang yang sama, memandang cahaya tersebut dengan cara yang berbeda. Ketiganya mengernyit.


“Corynna,” panggil seorang pria tampan berambut merah kecokelatan. Matanya hijau zamrud.


“I-iya, Kakanda Rudolph?” tanya Corynna.


“Beritahu ibunda kalau Olav dan Sephiroth sudah tiada.”


“E-eh...? Apa maksudnya itu, Kakanda...?”

__ADS_1


“Olav sudah tewas, Adinda,” balas seorang wanita berambut biru panjang. Dia menyeringai, menunjukkan bahwa dia bahagia.


“Ayunda Pyggrez...? Kenapa kaubisa tahu…?”


“Adindaku,” ujar seorang pria berambut hijau dan bermata biru serta berkaca mata. “Janganlah banyak bertanya dan carilah jawabannya sendiri. Dengan kemampuan dan kekuatanmu sendiri, masalah ini saja bisa kauungkap, ‘kan? Janganlah jadi Adinda yang payah seperti Olav, mengerti?”


Senyum sumringah terpampang di wajah Corynna. “Kakanda Theoprix...!”


Rudolph—Putra Mahkota kerajaan Southern Flare, berdiri sambil mengibaskan jubahnya. “Berbahagialah


Adikku. Dunia sebentar lagi akan mengalami perubahan! Southern Flare pasti akan semakin makmur!”


......................


[Tiga puluh menit kemudian....]


“Haaah... haaah... haaah....” Sephiroth bermandikan keringat. Rambut panjangnya tak lagi tampak, kini dia berambut hitam sepanjang tengkuknya. Jubah mantelnya juga sudah compang-camping, tubuhnya pun terluka di banyak bagian.


Tapi....


Nasib Sephiroth jauh lebih baik daripada Tellaura.


Babak belur.


Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisinya sekarang.


Tidak hanya luka lebam di sekujur tubuhnya saja, tetapi darah pun mengucur dari banyak luka sayat di tubuhnya.


“Tidak akan mungkin kubiarkan diriku kalah lagi oleh keturunan bulan! Sekarang aku ingat semuanya…!” Sephiroth ingat sebelumnya dia diajak bicara oleh seorang Wanita Pirang. “Jadi Jeanne juga memutuskan untuk berdampingan dengan Manusia?


“Cih, sekarang setelah aku mengingatnya, aku jadi benci rasku sendiri karena Orsted dan Schrutz pun berpihak pada manusia rendahan seperti mereka!


“Harus benar-benar kuakhiri keturunan mereka ini!”


Sephiroth hendak menghabisi Tellaura dengan napas api dari mulutnya. Namun, begitu dia menembakkannya, sebuah tulisan Rune muncul di atas Tellaura dan adiknya disaat yang bersamaan.


“Rune Kuno?!” batin Sephiroth. “Jeanne...! Kau menghalangiku...!”


.


.


.


.


[Di suatu hutan....]


“Ya ampun, tidak kusangka seorang anak kecil sepertinya bahkan bisa menyudutkan Naga. Kalau kekuatannya sudah bangkit, kuyakin dia hanya jadi santapan pembuka. Yah, aku ragu dia akan tumbuh menjadi Manusia yang seperti itu, tapi....” Disaat Jeanne—Wanita Pirang yang sejak awal sudah mengawasi Tellaura sedang menggumam sendiri, tulisan Rune yang sama muncul di depan tanah dirinya berdiri sekarang. Dua anak kecil terpindahkan ke hadapannya.


Jeanne lalu berjongkok di depan Tellaura. “Bangunlah, Nak. Aku tidak bisa mengobatimu lebih jauh dari luka sayatan ini, karena nanti Rune-ku bisa memengaruhimu.”


Tidak lama kemudian, Tellaura sadar. “Di-di mana aku?!”


“Hutan Terlarang, Tir Na Nog.”

__ADS_1


“Ti-Tir Na Nog...?!”


__ADS_2